Karena Hidup adalah Tentang Apa yang Kita Putuskan

Ada yang bilang kalau hidup adalah pilihan, menurut saya hidup adalah keputusan. Entah itu keputusan kecil (yang sekedar mau makan siang atau hadir di suatu acara) atau keputusan besar, semua yang diputuskan akan membawa kepada alur takdir yang berbeda. Semakin bertambah usia, semakin banyak pula keputusan yang perlu dibuat, yang sulit ataupun yang mudah.

Bulan lalu, saya memberi kado sebagai hadiah ulang tahun kepada…..diri saya sendiri *kok melas gitu kalo dibaca* berupa “tiket masuk” ke sebuah universitas untuk melanjutkan pendidikan (bisa dibaca di sini). Hasil tesnya diumumkan pada tanggal 20 Mei 2012 kemarin, ketika saya sedang di Belitung. Saat itu teman sekamar saya @magicaelly dan @LuluMaeez di tengah malam buta membuat keributan di kamar karena mereka mau menonton final Liga Champion. Saya kemudian ikut terbangun, bukan untuk menonton final tetapi untuk melihat pengumuman. Deg-degan. Diterima ataupun tidak, saya tetap deg-degan karena ada konsekuensinya masing-masing. Alhamdulillah saya diterima ^^.

Baca selebihnya »

Iklan

Live as You Want To Be Remembered When You Die

Baru kali ini saya membaca tulisan Ester dan ingin menangis karena apa yang diceritakan di sana. Umur adalah rahasia Allah dan yang bisa saya perbuat dengan itu hanyalah mempergunakannya dengan baik. Jika Damar (yang diceritakan pada blog post tersebut) meninggal pada usia 28 tahun, berarti saya hanya punya sisa waktu 1 tahun. Iya kalau umur saya sepanjang umurnya Damar, kalau enggak?

Selain membaca tulisan Ester, saya juga membaca blog post dari @beriozka yang menceritakan kisah @anggatirta dalam pencarian ayahnya yang menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat Sukhoi di Gunung Salak (silakan dibaca sebagai refleksi diri). Ketika membaca post tersebut ada rasa iri yang menyelinap. Iri pada Angga yang memiliki kemampuan komunikasi batin dengan ayahnya, sehingga membawa Angga bisa menemukan tempat jatuhnya pesawat tersebut, yang artinya Angga memiliki hati yang bersih. Sementara saya?

Persamaan dari kedua post tersebut adalah bagaimana orang yang meninggal dikenang oleh mereka yang pernah menghabiskan waktu bersamanya selama masih hidup. Adalah hal yang mengerikan ketika ketidakhadiran kita adalah kebahagiaan bagi orang lain, ketika kita meninggal justru menjadi sumber suka cita bagi yang ditinggalkan.

Cerita tentang Angga mengingatkan saya tentang banyak hal. Tentang seberapa dekatkah saya dengan keluarga, seperti apakah perasaan keluarga saya ketika saya meninggal, apa yang akan dikenang oleh orang-orang yang pernah saya kenal sewaktu saya masih hidup, apakah cukup bekal saya ketika urutan antrian panggilan Allah sudah datang, dan banyak refleksi lainnya. Sesungguhnya seburuk apapun suatu peristiwa, adalah baik ketika memberikan pelajaran bagi yang lainnya.Baca selebihnya »

Buku, Buku, Buku….

Beberapa hari yang lalu saya membulatkan tekad untuk mengunjungi dokter mata. Selain untuk memeriksakan mata yang terasa mulai kabur dengan kacamata yang sedang saya pakai saat itu, saya juga bermaksud untuk memanfaatkan jatah claim kacamata dari asuransi kantor yang nominalnya cukup lumayan.

Setelah memeriksakan mata di RS Aini, ternyata oh ternyata, dengan berbesar hati saya menerima hasil dari sang dokter bahwa minus mata saya bertambah. Kali ini, jumlah pertambahannya bisa dibilang cukup banyak (kurang lebih 0,5 untuk setiap mata) *nangis meminta maaf pada mata*. Sekarang mata saya berminus 3,25 dan 3.

Setelah dipikir-pikir, mungkin ini diakibatkan oleh semakin meningkatnya kecanduan saya untuk membaca buku. Sering kali belakangan saya memanfaatkan weekend dan menargetkan untuk menyelesaikan membaca setidaknya satu buah buku. Dimulai dari jumat malam (kalau tidak berkebutuhan tidur awal karena sakit), saya akan mulai begadang untuk membaca atau menulis. Terkadang saya tidur setelah jam tiga dini hari, dan akan melanjutkan membaca setelah tidur.

Rasanya….ada kepuasan yang sulit untuk diucapkan setiap kali menyelesaikan membaca sebuah buku setiap weekend. Dari buku yang saya pilih, selalu ada pengalaman imajinatif yang menguatkan, informasi yang mengayakan, traveling baik jiwa maupun pikiran. Setiap menyelesaikannya, rasanya saya siap menghadapi hari senin dengan semangat baru. Saya lebih rela untuk menghabiskan weekend untuk membaca daripada nonton film di bioskop (karena tiket weekend harganya mahal, dan lebih senang nonton ketika weekdays :p).

Sekarang saya sedang menyelesaikan Berjalan Menembus Batas (buku yang saya peroleh dari talk show Kick Andy pada peringatan Hari Kartini di kantor) dan Travelers Tales Belok Kanan: Barcelona! (yang saya pinjam dari perpustakaan kantor).

Dan akhirnya, SAYA INGIN JALAN-JALAAAAAAAN!