Belajar Kehidupan di Jalanan

Suara gemuruh di langit Jakarta sore ini membuat saya bergegas memesan Uber agar bisa segera pulang dari rumah teman di Jakarta Timur. Sebenarnya ada hal yang bikin saya was-was ketika naik taksi online ataupun konvensional sendirian, suasana awkward kalo lagi berdua dengan driver-nya dan diem-dieman kayak orang musuhan. Tapi yang lebih menyebalkan adalah ketika dapat driver yang “berisik” dan bikin saya males nanggepin. Dari titik ini saya menyadari bahwa mendapatkan driver yang asik adalah sebuah rejeki.

Demikian halnya dengan hari ini.

Driver saya adalah seorang mas-mas berusia sekitar early 30s. Obrolan kami diawali dengan tema macetnya jalan tol sekitar TMII yang akan kami lewati, dan pertanyaan “sudah berkeluarga Mba?”. Sebenarnya saya ga paham kenapa sering mendapatkan pertanyaan seperti ini. Sebagai seorang perempuan lajang, berdua bersama stranger, diberikan pertanyaan ini sejatinya mengusik ketenangan saya selama berada di dalam mobil. Baca lebih lanjut

Tentang Wanita: Belajar dari Bea

Minggu lalu saya bertemu dengan seorang teman baru. Wanita bongsor berperawakan seperti Adele, dengan usia awal tiga puluh. Dari penampilannya terlihat jelas bahwa dia pandai, memiliki style, dan rasa percaya diri yang tinggi. Selain cantik, apa yang akan dijelaskannya kepada saya dan beberapa teman peserta training lainnya adalah hal yang sangat ia kuasai; teknologi dari sebuah perusahaan IT multinasional terkemuka.

Dia tidak bisa berbahasa Indonesia, karena dia berkebangsaan Filipina yang saat ini sedang tinggal di Singapura. Sebut saja namanya Bea.

Baca lebih lanjut

Live as You Want To Be Remembered When You Die

Baru kali ini saya membaca tulisan Ester dan ingin menangis karena apa yang diceritakan di sana. Umur adalah rahasia Allah dan yang bisa saya perbuat dengan itu hanyalah mempergunakannya dengan baik. Jika Damar (yang diceritakan pada blog post tersebut) meninggal pada usia 28 tahun, berarti saya hanya punya sisa waktu 1 tahun. Iya kalau umur saya sepanjang umurnya Damar, kalau enggak?

Selain membaca tulisan Ester, saya juga membaca blog post dari @beriozka yang menceritakan kisah @anggatirta dalam pencarian ayahnya yang menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat Sukhoi di Gunung Salak (silakan dibaca sebagai refleksi diri). Ketika membaca post tersebut ada rasa iri yang menyelinap. Iri pada Angga yang memiliki kemampuan komunikasi batin dengan ayahnya, sehingga membawa Angga bisa menemukan tempat jatuhnya pesawat tersebut, yang artinya Angga memiliki hati yang bersih. Sementara saya?

Persamaan dari kedua post tersebut adalah bagaimana orang yang meninggal dikenang oleh mereka yang pernah menghabiskan waktu bersamanya selama masih hidup. Adalah hal yang mengerikan ketika ketidakhadiran kita adalah kebahagiaan bagi orang lain, ketika kita meninggal justru menjadi sumber suka cita bagi yang ditinggalkan.

Cerita tentang Angga mengingatkan saya tentang banyak hal. Tentang seberapa dekatkah saya dengan keluarga, seperti apakah perasaan keluarga saya ketika saya meninggal, apa yang akan dikenang oleh orang-orang yang pernah saya kenal sewaktu saya masih hidup, apakah cukup bekal saya ketika urutan antrian panggilan Allah sudah datang, dan banyak refleksi lainnya. Sesungguhnya seburuk apapun suatu peristiwa, adalah baik ketika memberikan pelajaran bagi yang lainnya. Baca lebih lanjut

Karena Pendidikan Adalah Hal Yang Istimewa (2)

Melanjutkan cerita sebelumnya. Sebenarnya, ada rasa enggan untuk menuliskan cerita demi cerita Karena Pendidikan Adalah Hal Yang Istimewa ini. Saya enggan untuk membuka kembali ingatan saya akan masa-masa itu. Tapi saya tidak ingin lupa akan apa yang telah dilakukan oleh orang tua saya, apa yang telah berhasil kami lewati bersama. Mungkin suatu saat anak-anak atau keponakan saya akan membaca halaman ini dan lebih mengenal kakek neneknya, belajar memaknai sebuah perjuangan dan mensyukuri apa yang mereka dapatkan.

Setelah saya menerima ijazah SD, dan secara resmi menyelesaikan pendidikan dasar saya di Singkawang (SDN 18 Pasiran, Singkawang), saya dan keluarga kembali ke kampung halaman, ke sebuah desa kecil yang terletak di bawah keagungan Gunung Kelud yang masyur itu. Terlalu sedihkah atau terlalu hilang harapan bahwa kami nantinya masih memiliki kesempatan untuk bertemu lagi, yang membuat saya urung menyampaikan kata perpisahan kepada teman-teman saat itu, saya pun sudah lupa.

Ketika kembali ke Jawa, kakak kedua saya masuk ke SMA bersamaan dengan saya yang masuk SMP, sementara kakak pertama saya naik ke kelas 2 SMA. Bapak dan ibu memutuskan untuk menggunakan uang yang selama ini mereka kumpulkan untuk biaya sekolah kami, anak-anaknya, dan modal usaha bapak. Rumah yang sudah tua, yang dibeli mereka sejak saya belum lahir, diabaikan keperluan renovasinya.

Ketika hujan deras, tak jarang ibu sibuk mencari baskom atau apapun yang bisa menampung air hujan yang masuk dari celah-celah genteng rumah. Jangankan air hujan yang masuk melalui genteng, rumah kebanjiran karena tanahnya yang lebih rendah dari jalan raya di depan rumah juga pernah saya alami. Sehingga ketika tetangga tidur lelap karena udara dingin hujan di malam buta, saya dan ibu (karena hanya kami berdua saja yang di rumah saat itu) harus terbangun dan membereskan banyak hal. Ternyata keluarga yang menyewa rumah kami selama kami tinggalkan, tidak merawatnya dengan baik. Baca lebih lanjut

Branding

Belakangan sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya tuliskan di blog ini. Selain untuk pengingat diri, mengurangi apa yang ada di kepala, juga sekaligus untuk berbagi. Oke, mari dimulai dari branding.

Setelah membaca buku 99 Cahaya di Langit Eropa, saya baru benar-benar memikirkan soal branding. Di sana diceritakan mengenai Fatma, seorang wanita Turki yang hijrah ke Eropa (saya membaca 15 bab dari buku ini di Gramedia GI bersama teman saya, and I think we had a quality weekend there. Dan akhirnya saya juga membeli buku ini). Di Eropa, dengan hijabnya, Fatma kesulitan mendapatkan pekerjaan. Akhirnya dia mengisi waktunya dengan belajar bahasa Jerman, yang merupakan bahasa lokal di Austria.

Diceritakan bahwa ketika Fatma dan Mbak Hanum (sang pengarang buku) sedang makan di salah satu tempat makan, ada tiga pengunjung lain yang membicarakan tentang roti croissant. Baca lebih lanjut

Kartini, Berdirilah di Kaki Sendiri

Ini adalah pertama kalinya saya merasakan peringatan Hari Kartini yang membekas di hati. Di kantor saya, bisa dibilang, peringatan Hari Kartini dikemas secara apik. Dengan begitu saya merasakan lingkungan yang benar-benar memaknai dan menghargai kehadiran perempuan dalam dunia kerja, meskipun jumlah perempuan yang bekerja di kantor saya ternyata tidak lebih dari 10% saja dari keseluruhan pekerja.

Pada peringatan kali ini temanya adalah Super Women @Work dan ada sesi talk show dengan narasumber para perampuan yang bisa dikatakan memiliki outstanding achievement. Mereka adalah Christine Hakim, Karen Agustiawan, Evita Legowo, Ratih Ibrahim, dan Anny Ratnawati. Melihat prestasi mereka saja saya merinding dan bangga menjadi perempuan Indonesia :).

Kelebihan yang diberikan Tuhan kepada para perempuan, yakni kemampuan multitasking, bisa dimanfaatkan untuk memaksimalkan peran mereka baik sebagai istri dan ibu, maupun sebagai pekerja. Di tengah-tengah kesibukan pekerjaan yang menyita waktu, tenaga dan pikiran, para perempuan masih bisa memberikan perhatian kepada keluarga dan orang-orang yang dikasihinya dengan mengirim sms, BBM, telpon dsb.

Baca lebih lanjut

Lie To Me

Finally, here I can enjoy watching TV Series again ^___^ *dancing all around*. I got “Lie To Me” files from my friend, from season 1 until 2. Actually, from something like TV series, I can learn to improve my listening skill (yeah, I hope so, yang ada malah sering ketiduran kalo kelamaan nonton -___-).

I’ve got many lessons from “Lie To Me”. I like to learn and observe about people. I think this lessons are very useful, so I can start practising and guessing when people are honest or lying, when they are trying to fake and be nice (actually they’re not), or they are hiding something. Hmm, interesting, right?

So, be careful :p.

Lie To Me

 

Virtue Conquers All (The Virtuous Mr. Bai Fang Li)

I feel terrible when I read this article. I found it at 3.30 a.m when I opened and scrolled down on Paulo Coelho’s Blog..

And I realize that doesn’t need that much money to start giving. We don’t have to get rich first so that we have the ability to help other. We don’t need to wait until we grow old so we started to care surround.

Suggested by Mia Tantina

Using the money he earned from peddling trishaw, Mr. Bai Fang Li has contributed to finance more than 300 poor students in their tuition fees and living expenses, helping them to complete their studies.

His daughter recalls “He suffers throughout his life, saving on food and drinks, stitching his torn pants over and over again. When you throw away his old pants and buy new ones for him, not only that he does not want to wear them but he also gets angry.”

When the elder peddles trishaw, his clothes, shoes and hates all do not match, as if he is a beggar.
“I had never bought any clothes before. You see, the clothes that I wear are all picked up from the clothes people threw away. Look at my shoes, they are different, even the socks inside are different! The same applies to my hat; it was also collected from dumpsites.” he said.
His family members who could not resist looking him like that have advised him but to no avail.
In response to that, he simply picked up a bun and said to his children
“What is so hard about this? This bun is the product of the farmers’ hard work. People throw it away; I pick it up and eat it; isn’t this a way to reduce wastage?”

It has been calculated that, over years, Mr. Bai Fang Li has peddled equivalent to going round the Earth’s equator for 18 (times?). Mr. Bai has never thought to be rewarded.

Somebody attempted to find the list of students sponsored by Mr. Bai but he only found a photograph of him with a few children, and that is the only photograph ever taken. When asked about what he expected of the children, his humble reply was “I only want them to study hard, get a good job, be a good person and to give back to the country.”

In 2001, Mr. Bai Fang Li donated the last sum of money. Nearly 90 years old, he was unable to peddle trishaws anymore.
Instead, he looked after people’s car at the station and saved up to 500 yuan before he donated the money.
After giving out his last sum of money, he said “I cannot work anymore, I can no longer donate money to others!” and that was the first time in her life his daughter Bai Jin Feng had ever heard her father saying that.

Mr. Bai passed away on September 23, 2005, in a hospital. Hundreds turned up at his funeral.

Source: Chung Hua Cultural Education Centre

Thank you Mr Bang Fang Li for having taught lesson that is not taught intensively in school.

What A Woman Should Have and Know

This post is a side effect from woke up earlier, pursued answers to questions that were filled my brain. Yap, thanks to God for having created Maya Angelou ;).

A WOMAN SHOULD HAVE…
enough money within her control to move out
and rent a place of her own,
even if she never wants to or needs to…

A WOMAN SHOULD HAVE …
something perfect to wear if the employer,
or date of her dreams wants to see her in an hour…

A WOMAN SHOULD HAVE ..
a youth she’s content to leave behind….

A WOMAN SHOULD HAVE …
a past juicy enough that she’s looking forward to
retelling it in her old age….

A WOMAN SHOULD HAVE ..
a set of screwdrivers, a cordless drill, and a black lace bra…

A WOMAN SHOULD HAVE …
one friend who always makes her laugh… and one who lets her cry…

A WOMAN SHOULD HAVE ….
a good piece of furniture not previously owned by anyone else in her family…

A WOMAN SHOULD HAVE …
eight matching plates, wine glasses with stems,
and a recipe for a meal,
that will make her guests feel honored…

A WOMAN SHOULD HAVE …
a feeling of control over her destiny…

EVERY WOMAN SHOULD KNOW…
how to fall in love without losing herself..

EVERY WOMAN SHOULD KNOW…
how to quit a job,
break up with a lover,
and confront a friend without;
ruining the friendship… Baca lebih lanjut