Karena Pendidikan Adalah Hal Yang Istimewa (2)

Melanjutkan cerita sebelumnya. Sebenarnya, ada rasa enggan untuk menuliskan cerita demi cerita Karena Pendidikan Adalah Hal Yang Istimewa ini. Saya enggan untuk membuka kembali ingatan saya akan masa-masa itu. Tapi saya tidak ingin lupa akan apa yang telah dilakukan oleh orang tua saya, apa yang telah berhasil kami lewati bersama. Mungkin suatu saat anak-anak atau keponakan saya akan membaca halaman ini dan lebih mengenal kakek neneknya, belajar memaknai sebuah perjuangan dan mensyukuri apa yang mereka dapatkan.

Setelah saya menerima ijazah SD, dan secara resmi menyelesaikan pendidikan dasar saya di Singkawang (SDN 18 Pasiran, Singkawang), saya dan keluarga kembali ke kampung halaman, ke sebuah desa kecil yang terletak di bawah keagungan Gunung Kelud yang masyur itu. Terlalu sedihkah atau terlalu hilang harapan bahwa kami nantinya masih memiliki kesempatan untuk bertemu lagi, yang membuat saya urung menyampaikan kata perpisahan kepada teman-teman saat itu, saya pun sudah lupa.

Ketika kembali ke Jawa, kakak kedua saya masuk ke SMA bersamaan dengan saya yang masuk SMP, sementara kakak pertama saya naik ke kelas 2 SMA. Bapak dan ibu memutuskan untuk menggunakan uang yang selama ini mereka kumpulkan untuk biaya sekolah kami, anak-anaknya, dan modal usaha bapak. Rumah yang sudah tua, yang dibeli mereka sejak saya belum lahir, diabaikan keperluan renovasinya.

Ketika hujan deras, tak jarang ibu sibuk mencari baskom atau apapun yang bisa menampung air hujan yang masuk dari celah-celah genteng rumah. Jangankan air hujan yang masuk melalui genteng, rumah kebanjiran karena tanahnya yang lebih rendah dari jalan raya di depan rumah juga pernah saya alami. Sehingga ketika tetangga tidur lelap karena udara dingin hujan di malam buta, saya dan ibu (karena hanya kami berdua saja yang di rumah saat itu) harus terbangun dan membereskan banyak hal. Ternyata keluarga yang menyewa rumah kami selama kami tinggalkan, tidak merawatnya dengan baik.Baca selebihnya »

Iklan

Pintu

Mungkin pada jalan-jalan sepi, yang acap kali menemani, adalah jalan yang saya pilih. Jalan yang menjanjikan kebebasan tanpa pesan basa-basi, yang seharusnya tidak perlu disisakan padanya tempat istimewa di kepala, apalagi di hati. Tidak sama sekali.

Tidak, saya tidak membenci mereka yang telah memilih pintu ini untuk diketuk dan didatangi. Tetapi bukankah saya juga memiliki hak untuk memilih? Berlari menggapai atau sekedar mengabaikannya.

Mungkin, saya memerlukan ketukan dari mereka yang telah selesai dengan dirinya. Mereka yang menyadari bahwa hidup kami bukan hanya saya dan dia, bukan hanya rumah, mobil dan segala sisanya.

Jadi, tunggu apa lagi? Jangan membuang waktumu di sini!

Karena Pendidikan Adalah Hal Yang Istimewa (1)

Saya ingin bercerita tentang masa kecil dan masa-masa saya memperjuangkan keinginan untuk mendapatkan pendidikan. Maybe I am nothing, but I hope my writing can bring something..

Ketika dipikir ulang, sepertinya saya sudah terbiasa dengan bekerja keras untuk mendapatkan apa yang saya inginkan. Ketika kecil, saya ikut bersama kedua orang tua saya untuk tinggal di manapun bapak ditugaskan. Bapak adalah seorang karyawan swasta yang menguasai alat-alat lapangan, gampangnya katakanlah bapak seorang teknisi atau operator.

Bapak hanya lulusan STM. Tapi yang saya salutkan dari beliau adalah semasa mudanya bapak sudah pernah merantau sampai ke jazirah Arab dan memiliki anak buah WNA yang juga merantau di sana. Foto-foto bapak semasa muda, berdiri di depan pesawat, mobil dengan plat negara-negara Arab, di dalam kapal atau sekedar hang out bersama teman-temannya masih tersimpan rapi di rumah. Hal ini sebagai bukti masa-masa “kejayaan”nya. Kalung emas yang bapak beli dulu sampai sekarang juga masih saya pakai. Ketika kami kesulitan uang, Ibu pun enggan untuk menjualnya, “sayang, untuk kenang-kenangan” katanya.

Setelah menikah, ibu tidak berkenan jika bapak merantau jauh ke luar negeri. Alasannya? Ibu seorang wanita, dan saya juga. Mungkin saya tidak perlu menanyakannya :). Meskipun janji akan limpahan materi ada di depan mata saat itu, tapi orang tua saya memilih pilihan lain, yakni tetap bekerja di Indonesia. Seingat saya, dan dari beberapa cerita yang pernah ibu sampaikan, sejak saya lahir kami sudah berpindah-pindah mulai dari Cilacap, Pangkal Pinang, Bangka, hingga ke Monterado.Baca selebihnya »

Sign?

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it. – Paulo Coelho

Pernahkan memiliki keinginan atas sesuatu? Membayangkannya terwujud rasanya akan enlighten the way. Jadi ketika kamu sedang menginginkan sesuatu, ke manapun pandanganmu beralih, kamu merasa selalu diingatkan akan keinginan tersebut. Pernah nggak?

Jadi ceritanya saya sedang memiliki sebuah keinginan. Untuk mencapai keinginan tersebut, ada beberapa step yang harus saya lalui. First step nya ada di depan mata. Nah belakangan, sejak saya tahu bahwa saya harus memutuskan untuk mengambil first step tersebut, saya merasakan banyak hal yang kebetulan terlihat oleh mata dan mengingatkan saya akan hal ini.

Entah buku yang saya baca (padahal saya membaca banyak buku yang berbeda, setidaknya yang saya ingat ada tiga buku. Di ketiga buku tersebut menyebutkan hal yang mengacu pada si first step dan keinginan saya), telpon yang saya dapatkan, stiker, dan masih banyak hal lain yang mengingatkan saya. Jika memang ini adalah pertanda, semoga pertanda baik dariNya.

Yasudahlah, kita lihat saja nanti :).

anomali coffee

Sebuah Catatan (Penerus Kartini)

Sebuah cerpen untuk perempuan Indonesia yang percaya pada mimpi dan kebaikan hati mereka. Enjoy.

Kopi. Laptop. Hujan.

Entah rasa cinta pada siapa yang bisa mengalahkan kecintaanku pada suasana seperti ini. Seperti dua jemari berbeda yang saling mengisi selanya. Sempurna.

Mungkin hanya seorang pemberani yang mau melakukan apa yang tengah aku lakukan sekarang. Menjejaki masa lalu. Bukan, bukan karena bernostalgia dengan cerita yang pernah aku miliki di tempat ini, tapi mungkin ada kerinduan untuk sekedar duduk dan memandang hiruk pikuk dan lampu jalanan Jakarta dari sudut kafe ini. Menyaksikan gedung mencakar langit yang seakan angkuh berkata “aku mampu menguasai dunia”.

Coffee brule latte dari barista yang berbeda, tak mengurangi esensinya. Masih tetap sama seperti yang aku nikmati bertahun lalu. Tiga? Empat? Atau lima tahun lalu? Entahlah. Aku terlalu sibuk memikirkan hal lain daripada sekedar menghitung bulan dan tahun.

“Mommy, I can’t finish this game..”

Bocah laki-laki dengan mata hijau kecoklatan membuyarkan lamunanku. Dia menyodorkan permainan yang tak bisa diselesaikannya sejak kemarin. Aku belai rambut dan menciumi kepalanya yang bau shampoo aroma anggur.

“Why honey? Should I help you…”

“No mommy, I want to finish it by myself. So you can keep writing”

Ah malaikat kecil ini, selalu membahagiakan hatiku. Mengisi celah-celahnya hingga tak bersisa untuk kesedihan sekecil apapun. Malaikat kecilku, Diego, kembali duduk ke bangku yang ada di depanku dan melanjutkan kesibukan dengan mainannya.

Cintaku pada Diego mungkin sama dengan cintaku kepada kopi, atau lebih malah. Entahlah, hanya saja rasanya tak terukur.Baca selebihnya »

Live This Month To The Fullest

I warn you, maybe you’ll read a random post about my thought, or things I do with my life.

First, thank you for keep reading. No matter who you are, with purpose or not by dropping your self here, and even though you’re totally stranger who spend your leisure because don’t have any better idea to fill it with.

Some say that you should write something, because when you die you’ll leave nothing to be remembered. Or, at least with humility by your writing, you’ll give lesson learned for somebody else. So, keep writing!

#1. Gift for me

This year, I gave myself as a birthday gift a passport to catch my dream. Either I pass the test or not, at least I give my shot to make it happen. Wish me luck, wish me luck :).

About the test, my dad is the one who was very excited on this. Maybe he doesn’t know what kind of “pain in the ass” that I will have if I pass it :D. I hope I can pass it, and if I don’t (maybe) I’ll try on the next semester.

oke, kembali ke bahasa ibu saja :p

Jadi ceritanya, hari sabtu lalu saya harus pergi ke Kampus UI Depok untuk melakukan survey lapangan lokasi ujian. Hari itu pertama kalinya saya naik Commuter Line, jadi ya ndeso gitu deh. Berangkat ke Depok, saya ditemani seorang teman. Tapi dia tidak bisa menemani saya ke UI. Alhasil, saya turun di Stasiun UI dan mengandalkan tukang ojek yang pastinya menguasai lapangan :D.

Saya diantarkan ke Fakultas Teknik di mana lokasi ujian berada. Selanjutnya, dengan menanyakan kepada satpam di sana saya akhirnya menemukan Gedung K ruang K 207 dengan selamat. Melihat lokasi ujian pada H-1 memang sangat disarankan, karena ujian pada tanggal 15 April kemarin dilaksanakan pada jam 07.00 sehingga bisa langsung menuju TKP yang tepat tanpa membuang waktu *yang seharusnya saya bisa berleha-leha bangun siang di weekend >.<*.

Setelah selesai, saya menunggu @magicaelly di Starbucks Margo City demi mendapatkan tempat penampungan untuk bermalam. Thanks to her, karena sudah bersedia bangun di minggu pagi untuk mengantarkan saya ke UI juga *terharu*. Pada hari yang sama, saya juga menghadiri (separuh acara) talk show oleh Asma Nadia & Helvy Tiana Rosa dan Muhammad Assad. Finally, bisa melihat penampakan Assad live :D.

Perfect Match
Assad 🙂

Baca selebihnya »

Not Ordinary Weekend

Beberapa minggu belakangan, saya tengah menikmati melakukan hal-hal di luar kebiasaan ketika mengisi weekend atau liburan. Biasanya kalau liburan bakalan mengunjungi mall (untuk sekedar makan, ke toko buku, atau nonton) atau cafe untuk bekerja. Dalam rangka penghematan, liburan tidak membeli tiket pulang atau pelesir dan meminimalisir nge-mall, jadi saya (dan kadang dibuntutin oleh @neng_rizka :p) melakukan hal-hal baru. Selain untuk coloring my days, kegiatan seperti ini juga akan menambah pengalaman dan kalimat “…oooh ada toh…” atau “ealah, di sini toh tempatnya” yang bakal keluar dari mulut kami.

Trigger dari hal ini adalah untuk menikmati weekend, get a life. Sebelumnya saya sering menyelesaikan (menyicil menyelesaikan tepatnya) pekerjaan yang tidak terselesaikan di kantor. Setiap weekend kok masih dihantui pekerjaan, mau mengerjakan hal lain saja masih terasa dihantui. Padahal ketika itu saya sudah melebihkan waktu kerja (baca: lembur aka melakukan kegiatan sosial karena memang tidak berbayar :D) dan ketika jam kerja juga tidak chatting bahkan browsing untuk hal di luar pekerjaan. Saya sudah sangat jarang menulis, membaca buku atau blog walking. Dan ketika saya pikir-pikir lagi, kok saya mulai tidak memiliki life balance. And at the time I decided I have to go home on time or as soon as possible and enjoy the weekend. I don’t want to be a machine.

Menurut saya, rutinitas pekerjaan, dan ketika saya tenggelam di arusnya, akan membuat saya kehilangan esensi dan rasa excited dari bekerja itu sendiri. Saya sudah merasakan malasnya berangkat ke kantor, karena mungkin merasa terlalu monoton dan tidak seimbangnya aktivitas otak kiri dan kanan saya. Working is not merely about getting money. Pekerjaan yang menarik adalah yang bisa membuat saya bersemangat ketika bangun pagi, menikmati ketika mengerjakannya, dan ketika jam pulang saya akan mengatakan “..cepet amat udah sore”. Namun ketika saya tidak merasakan hal tersebut, saya merasa perlu untuk mengkaji ulang apa yang saya lakukan. Pekerjaan, menurut saya, seharusnya hanya memakan sebagian porsi dari kehidupan. Sisanya masih ada ibadah, keluarga, hobi, passion, cita-cita dan lain-lain. Penghasilan yang didapat dari pekerjaan-lah yang digunakan sebagai alat untuk memenuhinya.

Okay, cukup intermezzo dan curcolnya 😀

Pada postingan kali ini saya akan menceritakan sedikit tempat atau kegiatan yang saya lakukan. Beberapa di antaranya sempat didokumentasikan melalui kamera hp saya. Enjoy 🙂

TransJakarta Tour

Karena kami (saya dan @neng_rizka) sepakat untuk menghindari mall, jadi kami memutuskan untuk melakukan tour dengan menggunakan Transjakarta. Ngapain itu? Ya mengelilingi Jakarta dengan menggunakan TransJakarta. Total damage-nya tidak lebih dari Rp 20000. Mungkin ada yang bakal bilang kami ini kurang  kerjaan, but we enjoyed it! Jadi duduk atau berdiri aja di dalam TJ dan melihat Jakarta ^^.

Peta jalur TransJakarta

Museum Tour

Selain untuk mencicil pelajaran sejarah, kanjungan ke museum ini bertujuan untuk mengambil pelajaran dari apapun yang disajikannya. Museum yang sempat kami kunjungi adalah Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia dan Museum Fatahillah. Ketiganya berada di Kota Tua.Baca selebihnya »