LDM di Kala Pandemi dan Cerita Bertemu Marriage Counselor

Bagi sebagian orang, Long Distance Marriage mungkin bukan pilihan. Tapi bagi kami yang dari awal berhubungan juga sudah dimulai dengan LDR, sementara sebelum menikah suami juga belum mendapatkan pekerjaan yang cocok di Jakarta, maka LDM adalah pilihan yang terbaik saat itu. Saat hidup masih baik-baik saja tanpa Covid. Saat suami bisa pulang ke Jakarta setiap weekend.

Bagaimana rasanya LDM di saat pandemi seperti sekarang? Berat di dua minggu pertama, karena kami punya kebiasaan untuk merapikan seprai bersama. Rasa kehilangan, ada yang kurang lengkap, muncul ketika aku harus merapikan seprai sendirian. Sedih banget sih rasanya saat itu, tapi ya musti dijalani. Baca lebih lanjut

Persiapan Sebelum Menikah

Mumpung masih satu setengah tahun menikah, aku mau share list yang masuk ke bagian persiapan menikah kami. List ini di luar hiruk pikuk keribetan mengurus printilan untuk hari H, karena kami udah menyerahkannya ke WO dan minta bantuan keluarga. Maklum, aku dan Sandi sama-sama jauh dari lokasi pernikahan, sebisanya minta ke WO untuk ngurusin macem-macem.  Alhamdulillah dapet WO yang enak banget diajak kerja sama. Baca lebih lanjut

Hikmah dari Sebuah Film: Me Before You

Bagi jamaah Game of Thrones, pasti kenal dengan perempuan berambut panjang dan pirang, yang tunggangannya anti macet dan anti mainstream: naga. Yup, Emilia Clarke! Berbanding terbalik dengan sosok Daenerys Targaryen yang diperankannya dalam serial GoT, Emilia pada Me Before You memerankan perempuan manis, chatty dengan selera fashion yang nyentrik, yang  bernama Louisa Clark (Lou).

Film ini diawali dengan adegan kruntelan di selimut putih yang hangat, pada jam 6.15 a.m yang membuat saya iri. Selain ada Mas Sam Claflin (Will Traynor) di kasur, dengan senyum manisnya yang bisa bikin diabetes, karena kok ya jam segitu masih pada kruntelan dan belum berangkat ke kantor. Saya jam segitu mah sudah siap-siap memesan ojek *sigh*, terus masih LDR-an pulak *yah curhat*.

me before you

Baca lebih lanjut

Berjodoh adalah Pilihan

relationship

Menjadi lajang di usia 25+ banyak suka dukanya. Setidaknya ini berdasarkan pengalaman yang saya rasakan. Hal yang tidak mengenakkan sih biasanya ketika pergi ke kondangan atau lebaran, dengan tidak membawa pasangan. Risih saja kalau ditanya “kapan nyusul menikah nih?”. Padahal pernikahan bukanlah lomba yang dimenangkan oleh siapa yang mencapai depan penghulu duluan.

Entah banyak yang menyadari atau tidak, namun bagi saya hal yang paling membuat sedih menjadi lajang adalah ketika tagihan bulanan datang. Saya harus membayarnya sendirian *kekepin dompet* :P.

Di samping hal-hal tidak enak di atas, sebenarnya ada banyak privilege yang dimiliki seorang lajang. Saya bisa menyelesaikan kuliah pasca sarjana tanpa harus memikirkan biaya membeli susu dan popok. Saya bisa traveling ke tempat yang sebelumnya hanya bisa saya lihat di kartu pos atau Instagram travelers lain, dengan pengeluaran hanya untuk satu orang. Saya bisa pergi ke sana kemari dan membangun networking dengan lebih fleksibel. Baca lebih lanjut

Menemukan Cinta

menemukan cinta

Saya setuju dengan yang dituliskan Tirta di blognya “Semakin kita tua, rasanya semakin sulit untuk jatuh cinta.” Mungkin pernyataan ini sifatnya subjektif, tetapi setidaknya saya juga merasakan hal yang sama. Mengingat hingga sekarang saya belum juga menikah.

Semakin tua, saya merasa semakin realistis. Mungkin karena sudah ditempa dengan berbagai kekecewaan atas ekspektasi yang tidak terpenuhi, janji yang tidak ditepati, atau sudah takut dan lelah dengan rasa sakit hati. Beda dengan ketika masih umur belasan hingga awal dua puluhan, dilirik oleh lawan jenis yang rupawan saja bisa deg-degan susah tidur semalaman. Baca lebih lanjut

Cerita si Lajang

Udah lama ga ngeblog, sekali nongol malah curcol :p

Jadi ceritanya tadi malam saya blogwalking ke blognya Mbak Okke yang membahas tentang Teori Jodoh dan Label Perempuan Lajang. I couldn’t agree more with these posts. Ternyata masalah perempuan lajang ini menjamur yah, jadi saya ga perlu merasa khawatir sendirian *dadah-dadah ke perempuan lajang lainnya*.

Faktor lingkungan memang luar biasa berpengaruh dalam pola pikir seseorang, apalagi kalau orang itu tidak punya visi khusus terhadap hidupnya sendiri. Beberapa waktu lalu saya sempat “dicekokin” berbagai teori tentang pernikahan. Intinya sih jangan terlalu picky dalam memilih jodoh, ntar malah ga nikah-nikah. Hal ini belum seberapa kalau lajang lain di sekitar adalah mereka yang sedang ngebet nikah hihi.. Padahal beli lele yang sama hitam dan kumisan di pasar aja perlu milih, lah ini urusan dunia akhirat yang ga bisa di-trial and error masa ga milih sih? Non sense :p Baca lebih lanjut

Komplemen

Kemarin aku membicarakan sedikit soal lajang dan karir bersama teman. Temanku ini dikasih wejangan sama seniornya untuk segera mencari pasangan *emang puntung rokok di jalan, bisa dicari -___-*. Kata si senior ada teori yang berhembus bahwa “semakin tinggi karir si perempuan maka akan semakin tinggi pula kriterianya dalam memilih pasangan”. Meskipun teori ini jika sekiranya memang eksis, ga adil kalo digeneralisasi ke semua perempuan :).

Dan pagi ini aku mendengar percakapan antara 2 orang perempuan, yang 1 lajang satunya sudah menikah *sambil pura-pura konsen ke laptop, aku ikut menyimak karena sepertinya menarik :D*

Si lajang: mbak, kamu kok kurusan?

Mbak menikah: ah masa si? Aku 2 malam ga makan. Kesian banget ga sih?

Si lajang: lah kenapa coba ga makan? Diet?

Mbak menikah: nggak. Tragis ga sih, 2 hari kemaren suamiku ngurusin catering dan sibuk banget sama cateringnya. Trus gada makanan pas aku pulang. Kesian ya? Hahahah. Dia nanyain “mau dimasakin apa nggak?” Aku bilang “nggak usah deh”

Si lajang: Kok kebalik sih mbak, harusnya kan kamu yang ngurusin makan suami?

Mbak menikah: Aku kan ga bisa masak. Eh tapi jangan salah, yang ke bengkel tuh aku. Kamu tanya semua urusan mobil, aku TAU.

*mereka tertawa* *Aku ikutan deh senyum2*

Nice, indeed :).

Complement:

  • (n) Something added to complete or make perfect
  • (n) Either of two parts that mutually complete each other

How To Make Them Feel Loved

Hiyaah, karena ym error, mari kita posting saja.

I don’t know why, but suddenly my heart is feeling warm, smiling and it makes me want to share something with you guys.

Actually, many things can be done to make woman feel loved. And I realize it more when I read this article. You can practice it to someone you love or you care about ^^. Good luck ;).

7 Hal Sepele yang Bikin Wanita Jatuh Cinta

VIVAnews – Hal-hal kecil seringkali bisa menimbulkan dampak besar. Istilah ini seringkali benar dalam hal hubungan asmara. Kebiasaan kecil yang dilakukan pasangan bisa membuat kita merasa dicintai.

Berikut ini aksi sepele yang bisa membuat hati wanita berbunga-bunga, seperti dikutip dari laman She Knows:

– Membawakan barang-barang

Ketika wanita sedang membawa barang-barang yang berat, seperti kantung belanja, dan pria langsung mengajukan bantuan, wanita akan sangat menghargai hal ini.

– Memuji meski Anda mengenakan baju tidur

Minggu pagi, ketika Anda sarapan masih mengenakan baju tidur, suami memuji Anda. Ketika suami berkata, “Kamu tetap terlihat cantik dalam busana apapun”, tentunya bisa membuat hati wanita melambung.

– Memikirkan hal-hal kecil

Ketika gula atau kopi habis, tanpa diminta si dia sudah membelikannya untuk Anda. Ketika si dia ingat hal-hal yang Anda lupa, Anda akan makin cinta padanya.

– Mendengarkan keluhan

Setelah sepanjang hari bekerja, Anda pun ingin mengeluarkan uneg-uneg. Ketika pasangan bersedia mendengarkan keluhan Anda, Anda akan merasa memiliki seseorang yang mengerti Anda tanpa menghakimi.

– Membuatkan teh

Biasanya pria paling suka jika pasangannya menyajikan teh untuknya. Tapi, jika pria sesekali menyediakan teh untuk wanita, dijamin akan membuat wanita tersenyum.

– Menjemput di kantor

Kemacetan di jalan, dan kendaraan umum yang penuh sesak akan menimbulkan stres. Karena itu, wanita akan sangat menghargai pasangannya, jika bersedia menjemputnya.

– Memasakkan makanan favorit

Memberikan kejutan dengan menyediakan masakannya untuk Anda, tentu akan membuat hati Anda ‘melayang’. Sesekali dilayani pasangan membuat wanita merasa sangat dihargai dan dicintai.

Taken from here

Spouse Candidate or Career?

Eaaaa, what if you have to choose one of the options? Will you choose spouse candidate or you’ll ignore them because you have assigned contract that isn’t allowed you to marry with your partner in office?

In my current office, there is a point in the contract that one employee can’t marry with other unless one of them resign and if the working period hasn’t reached 5 years yet, the person has to pay 300% of education cost to the company and it takes about 210 million rupiah $_$.

Caused by high intensity of meeting for about 3 months, it can be possible if “love affair” occurs. This case actually happens to my friends ^^. It’s like eating simalakama fruit, if you eat it your mom will die but if you don’t your father will.

It will be better to prevent the thing happen, because it’s like hard options to be chosen. These are some opinions of mine:

  1. Put a clear line and build a wall between friendship and personal life, especially with your opposite friends.
  2. Love can occur because a high intensity of communication and interaction, so beware.
  3. Open yourself in making a new friendship or relationship with new environment.

Before you’re blinded by love and controlled by your feeling, be realistic first and keep thinking over and over about that again. If you’ve already made a decision, no matter what it takes, you should undergo the consequences gracefully and make sure to make it count ;).

Keep smiling ;).