Ketika Merasa Berat Ke Kantor, Coba Lakukan 10 Cara Ini!

tips semangat dan produktif di kantor

Apa hal-hal yang bikin kamu berat hati ke kantor? Kalau saya biasanya ketika kelelahan, sedang PMS yang bikin badan seperti habis digebukin orang, masih banyak email dengan bendera merah yang perlu di-follow up, ketika transportasi ke kantor lagi kurang bersahabat, atau ketika ada yang ga ingin ditemui :P. Hal-hal tersebut merusak mood di kantor, bisa-bisa berujung menjadi tidak produktif seharian dan bikin stres.

Ada juga hal lain yang bikin nyesek yakni ketika rasanya sudah kelelahan bekerja, tapi ga kelihatan hasilnya. Duh, berasa buang-buang waktu saja!

Setelah membaca beberapa atrikel, ngobrol dengan teman di kantor, dan tentu saja hasil observasi pribadi, saya menemukan beberapa hal yang bisa membuat saya jadi lebih bersemangat ke kantor dan [merasa] lebih produktif. Baca lebih lanjut

Iklan

Random Thought: Tentang Bekerja

Berbicara tentang bekerja, pengalaman saya memang masih seujung kuku kelingking bayi semut. Iya, saya tau semut tidak punya kuku, tapi intinya masih sangat sedikit sekali :D. Saya pernah bekerja di perusahaan manufaktur asing berskala multinasional yang gadget produksinya menguasai pasaran, dan sekarang saya bekerja di perusahaan nasional yang ingin bersaing di skala internasional. Jika ditanya bagaimana rasanya bekerja di kedua perusahaan tersebut? Many lessons learned :).

Apa yang saya tuliskan adalah self note yang daripada disimpan di kepala dan nanti akan lupa, maka saya tuliskan di sini. Baca lebih lanjut

Branding

Belakangan sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya tuliskan di blog ini. Selain untuk pengingat diri, mengurangi apa yang ada di kepala, juga sekaligus untuk berbagi. Oke, mari dimulai dari branding.

Setelah membaca buku 99 Cahaya di Langit Eropa, saya baru benar-benar memikirkan soal branding. Di sana diceritakan mengenai Fatma, seorang wanita Turki yang hijrah ke Eropa (saya membaca 15 bab dari buku ini di Gramedia GI bersama teman saya, and I think we had a quality weekend there. Dan akhirnya saya juga membeli buku ini). Di Eropa, dengan hijabnya, Fatma kesulitan mendapatkan pekerjaan. Akhirnya dia mengisi waktunya dengan belajar bahasa Jerman, yang merupakan bahasa lokal di Austria.

Diceritakan bahwa ketika Fatma dan Mbak Hanum (sang pengarang buku) sedang makan di salah satu tempat makan, ada tiga pengunjung lain yang membicarakan tentang roti croissant. Baca lebih lanjut

Desember 2011 dan Berkahnya

Terhitung Mulai Tanggal (TMT) 1 Desember 2011 ini saya resmi diangkat menjadi pekerja di kantor saya setelah 1 tahun sebelumnya saja menjalani berbagai macam tahapan pendidikan. Rasanya? Lega! Akhirnya kalau ditanya orang saya bekerja di mana, saya bisa memberikan jawaban pasti “Pertamina” :D.

Transformasi ID Card

Dengan bergantinya status dari peserta pendidikan menjadi pekerja, maka saya juga mendapatkan perlengkapan seperti seragam, syal, ID Card dan juga harus mengisi berlembar-lembar form baik untuk data perusahaan maupun fasilitas seperti Corporate Card (credit card untuk pekerja), asuransi kesehatan, Dana Pensiun Lembaga Keuangan, Jamsostek, NPWP, dll. Baca lebih lanjut

Bacalah, Iqra!

Emang ya Allah itu Maha Tahu *yaiyalah, ke mana aja neng?*, udah dari jaman nabi dan rasul disuruh “Iqra, iqra, iqra”.

Sahabat saya tau persis my excessive feeling of worry mengenai pemahaman saya seputar pekerjaan. My current job desc is totally new thing for me, since I never touched SAP and business process before (including accounting thing). Maka, jadilah saya beberapa waktu lalu curhat mengenai kedudulan dan kelambatan saya dalam menguasai materi. You know the worry feeling, ketika kita harus meeting atau berhadapan dengan (katakanlah) klien atau user dan kita sendiri tidak menguasai bidang pekerjaan kita, pasti yang tadi nyalinya segede macan blesteran bule yang rajin fitness berubah menjadi kucing kampung kurang gizi kecemplung got. Drastis!

Saya tau persis kapasitas otak saya yang menganut pakem jawa “alon-alon asal kelakon” , yang membuat saya harus make sure my understanding and hands on untuk memahami pelajaran baru. Sahabat saya mengatakan sepertinya saya hanya kurang porsi untuk membaca, berasa ditabok memang. Kebetulan saya punya konsultan baru, cewek yang umurnya nggak beda jauh dari saya, memberikan kitab untuk dipelajari yang menjadi trigger saya kembali ke kehidupan mahasiswa beberapa hari belakangan: begadang ayo begadang. Bedanya dengan jaman kuliah adalah kalau dulu siang bisa dipakai beristirahat, sementara sekarang saya harus bekerja sampai sore.

Alasan cape pulang kerja itu memang sesuatu banget, sesuatu yang sungguh menenggelamkan niat belajar. Ya bagaimana, kalau badan sudah nempel di kasur kok ya ndak mau LDR an barang beberapa jam saja. Boro-boro ya mau belajar, mandi aja sukur-sukur kalo sadar :p. Intinya, saya ingin segera mandiri, at least saya tahu apa yang saya hadapi setiap hari. Kadang kalo saya pikir orang pdkt selama 6 bulan pastinya harus ada kemajuan dong ya, tau apa makanan kesukaan yang di-pdkt-in misalnya, masa iya saya pdkt sama si kerjaan saya ini ga ada kemajuannya, malu ah.

Membaca, selain meningkatkan pengetahuan juga bisa meningkatkan rasa percaya diri. Jika pemahaman kita kurang, bukan berarti IQ kita lebih rendah, tapi dikarenakan jam terbang yang masih sedikit. Untuk meningkatkan jam terbang: begadanglah! :p

Mungkin ada yang mau baca atau butuh tips mengenai How To Study, bisa mampir ke sini.

 Lah, katanya belajar, kok malah nulis blog *ditoyor*. 

Welcoming Ramadhan 1432 H

Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan all, semoga kita bisa memanfaatkan Ramadhan ini semaksimal mungkin. Iya saya tau, udah rada telat sih tapi kan masih awal Ramadhan juga :p *ngeyel*.

Tahun ini adalah Ramadhan pertama saya di Jakarta setelah tiga Ramadhan sebelumnya saya habiskan di Cikarang. Banyak yang berbeda memang: tempat kerja, teman, lingkungan, suasana dsb. Mana yang lebih enak? Semua ada tempatnya masing-masing :). Somehow I wonder, what would happen if I didn’t take the chance to move here. Oh iya, keluarga kami juga kedatangan member baru, kenalkan faeyza keponakan yang paling saya cinta (belum ada tandingannya sih:p).

Pengen nggigit aja kalo liat dia

Ngomong-ngomong soal Ramadhan, tiga hari kemarin saya sholat tarawih di tiga tempat berbeda demi mendapatkan tempat yang GTP (Great Tarawih Place) *maksa*. Pertama, di masjid dekat kos: bacaan sholatnya oke, rakaat oke, cuma sayang banyak anak kecilnya yang bikin berisik. Hari kedua di Istiqlal, dengan pertimbangan selemparan batu dari kantor. Tapi ternyata kondisi aktualnya tidak seperti yang diharapkan. Hari ketiga, saya ke masjid yang agak jauhan. Sayang sekali, di sana lebih mirip SKJ daripada sholat jamaah. Dan hari ini saya kembali ke masjid pertama, subhanallah bacaan imamnya merduuuuu banget sampai berhasil membuat saya berkaca-kaca dan ibu di sebelah saya menangis.

Di sini selama bulan puasa saya bisa pulang mulai jam 15.30, jadi pekerjaan harus diselesaikan sebelumnya biar bisa buka puasa di kos. Macet? Jangan ditanya. Tapi so far sampai di Kuningan sekitar jam 5 sore, not too bad :).

Hal yang bikin puasa tidak terasa ketika di kantor adalah pekerjaan dan rekan kerja yang rada-rada kurang waras kocaknya minta ampun. Yang menyenangkan juga adalah setiap hari mulai jam 11.30 ada tausiah dari ustad yang berbeda-beda dan sholat dzuhur berjamaah. Hari ini yang datang adalah Ust. Ahmad al Habsyi (semoga saya tidak salah menulis namanya).

Tadi ustad bilang, malaikat Jibril berdoa yang diamini oleh orang yang paling dicintai Allah: nabi Muhammad SAW. Salah satu dari ketiga doa malaikat adalah agar Allah melaknat orang-orang yang membiarkan bulan Ramadhan terlewat begitu saja. Bisa dibayangkan ijabahnya doa ini. Semoga saya dan kalian semua tidak termasuk di dalamnya. Semoga hati kita dimudahkan untuk menerima tausiah-tausiah dan tuntunan pada kebaikan, karena di bulan ini Allah sedang mengobral besar-besaran pahalaNya. Semoga kita tidak termasuk orang yang memajukan shaf jamaah tarawih di masjid ketika menjelang lebaran. Semoga kita bersemangat dalam berlomba untuk mendapatkan berkah Ramadhan.

Semoga saya dan Anda bisa menyambut Idul Fitri dengan penuh suka cita atas apa yang kita kerjakan selama Ramadhan :). Amin.

See ya on the next post :*.

SAP MM Module (Part 1)

This time I want to re-write from many sources about Material Management Module in SAP. Caused by my short term (and long term) memory doesn’t work well, so I decided to copy and paste some tutorials about MM Module here.

What is SAP MM Module?

SAP MM Module is a part of logistics and it helps end to end procurements and logistics business process. Main features of this module are requisitions, purchase orders, goods receipt, accounts payable, inventory management, BOM’s and master raw material, finished goods, etc.

Requisitions in SAP MM module is a document created for purchase of goods or services, it is sent to procurement office for the issuance of purchase orders. Requisitions exceeding certain amount need vendor verification in SAP MM module. There are two ways of placing requisition either through SAPGUI or SAP web.

Purchase orders are legal document issued as commitment to the vendor to supply mentioned material in the specified quantity along with shipping details and specification. The authorized vendors list is displayed while creating purchase order as per material and plant of the organization.

Goods receipt in SAP MM module is made against the purchase order issued to the vendor. The goods receipt affects warehouse, inventory management, and FI and CO modules of SAP.

Accounts payable component of SAP MM module handles accounting data of all vendors by recording the transaction of goods. Deliveries and invoices are managed according to vendors and this component is an integral part of sales management and cash management, it keeps them updated by making automatic postings of all the transactions. Inventory management helps the user in managing inventory as per items purchased, manufactured, sold and kept in stock. It provides optimum support for business processes and handles creation of orders, delivery notes and outgoing invoices. It also automatically updates price, create sales units and calculating gross profit.

Taken from http://www.erpchronicle.com/sap-mm-module.htm

According to this site, procure to pay business process associated with SAP MM module can be described as below (click to enlarge image):

In master record, there are two kinds of record that needed: material and vendor master.

Material master:

The material master contains information on all the materials that a company procures or produces, stores, and sells. It is the company’s central source for retrieving material-specific data. This information is stored in individual material master records. Source.

Vendor master:

Data in vendor master records controls how transaction data is posted and processed for a vendor. The vendor master record also contains all the data you require to do business with your vendors.

The master record is used not only in Accounting but also in Materials Management. By storing vendor master data centrally and sharing it throughout your organization, you only need to enter it once. You can prevent inconsistencies in master data by maintaining it centrally. If one of your vendors changes their address, you only have to enter this change once, and your accounting and purchasing departments will always have up-to-date information.

A vendor master record contains:

  • Vendor’s name, address, language, and phone numbers
  • Tax numbers
  • Bank details
  • Account control data like the number of the G/L reconciliation account for the vendor account
  • Payment methods and terms of payment set up with the vendor
  • Purchasing data

If you implement Materials Management(MM), you will need purchasing data. For more information on this, see the documentation for Materials Management. In Materials Management, vendors are represented as suppliers. Source.

-To be continued-

Buried

Jadi ceritanya saya yang fakir bandwidth ini, merasa riang gembira setelah menemukan shared folder di kantor yang berisi film.

Lhoh, ini kan hari sabtu, kok ke kantor? | Iya, saya juga kaget waktu diberitahu kalau hari ini harus ke kantor jam 7 pagi sampai sore, untuk melakukan UAT di switch over system. Dan setelah opening meeting, saya menyadari bahwa tidak ada perempuan di sana selain saya -___-. I think I must get used to this and I think they are nice.

Sebenarnya porsi pekerjaan saya itu tidak banyak. Tapi karena saya baru bisa bekerja setelah menunggu bagian-bagian lain menyelesaikan pekerjaannya, dan sudah terlanjur membatalkan rencana pemalakan masal ke Pancious Pancake, jadilah saya mati gaya di kantor *sigh*.

Beberapa hari lalu, saya ngobrol dengan mas ini soal film dan dia bilang kalau dia tidak berani menonton Buried dengan alasan phobia. Jadilah saya penasaran, dan voila hihi ternyata ada di shared folder. Sampai di kos, saya mematikan lampu dan mulai menonton dengan menggunakan speaker biar efek suaranya lebih terasa.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kesan pertama: masnya ganteng :D. Lalu saya bertanya-tanya berapakah budget pembuatan film ini karena aktor yang tampak secara nyata di layar laptop saya bisa dihitung dengan jari tangan kanan atau kiri saja, tidak dengan keduanya. Atau ditambah 1 deh kalau ular termasuk hitungan aktor.

Over all I think this movie is good enough, meskipun saya penyuka film action sejenis Jason Bourne. Dan ini? Masnya hanya bergerak-gerak secara tidak dinamis dan tidak beraturan di sebuah peti yang dikubur. Film ini menceritakan seorang supir truk berkewarganegaraan Amerika Serikat yang bekerja di sebuah perusahaan Amerika juga. Dia ditugaskan ke Iraq dan truknya dilempari batu oleh anak-anak kecil di sana. Ketika dia sadar, dia sudah berada dalam sebuah peti.

The film revolves around Iraq-based American truck driver Paul Conroy (Reynolds), who, after being attacked, finds himself buried alive in a wooden coffin, with only a lighter, flask, flash light, knife, glowsticks and a mobile phone to help him escape before the oxygen in the coffin runs out. wikipedia

Monggo ditonton saja, daripada saya dilempari batu oleh teman-teman anti-spoiler :D.

Inti dari postingan ini adalah pergi ke kantor di hari sabtu isn’t not that bad, selain untuk belajar, menambah kenalan, menambah pengalaman dan perbaikan gizi (tentunya), juga bisa menambah koleksi film ;).

Mei 2011 dan Sharing Seputar PDKT di Kantor Baru

So, what happen on May 2011?

Di awal bulan ini ada beberapa kejadian yang pertama kalinya saya alami: pertama kalinya mengetikkan sesuatu di file KKW (semacam mini skripsi untuk syarat kelulusan BPS), pertama kalinya lembur di kantor (dan malam ini adalah malam yang kedua), pertama kalinya ke pasar sebelum berangkat ke kantor, pertama kalinya banyak teman-teman yang menanyakan soal tes masuk saya dulu ke kantor yang sekarang and asked for helps and prayers (of course I do it happily ;)), dan pertama kalinya HARUS mulai rajin menuliskan pengeluaran (karena saya diancam oleh dia, tapi karena menurut saya hal ini memang baik jadi saya ikut saja :p). Mungkin masih ada lagi, tapi saya lupa.

Berbicara mengenai kantor, bulan ini memasuki bulan ketiga dari 8 bulan total masa OJT saya. Rasanya? Sejauh ini I feel excited, apalagi belakangan banyak hal yang bisa saya lakukan. Kalau dipikir-pikir, mungkin di antara teman-teman sekelas, saya adalah orang yang paling sering berkirim-kiriman email dengan mentor (asmen) dan analis di tempat saya OJT.

Kadang saya bercanda dengan menyebutkan diri saya adalah wanita agresif karena sering mengirim email. Tapi agresif demi mendapat ilmu lebih, sah-sah aja kan ya ;). Dan belakangan saya juga sering ditelpon oleh sang konsultan karena ada pekerjaan yang cukup menyita waktu dan konsentrasi yang di assign beliau kepada saya. Oh ya, tim kami hanya beranggotakan seorang asmen, seorang analis, seorang konsultan SAP, dan saya sendiri.

Awalnya saya merasa sungkan dan deg-degan karena tidak terbiasa berkomunikasi menggunakan email untuk masalah pekerjaan, takut mereka merasa terganggu atau takut kecewa karena email saya tidak dibalas. Tapi karena menyadari kesibukan bapak-bapak tsb, dan sang asmen sendiri pernah menyatakan kepada saya jika ada keperluan apapun silakan mengirim email kepada beliau, karena beliau pasti akan membacanya meskipun tidak selalu bisa merespon dengan cepat, akhirnya sekarang saya selalu menyingkirkan rasa sungkan itu setiap kali saya telah kehabisan meteri untuk belajar atau sudah merasa bosan membaca HELP SAPBaca lebih lanjut