Cuti Sakit Hati

Jika ada buku Garis-Garis Besar Perbincangan dengan Lajang, aku jamin ada bab tentang ‘Pertanyaan yang Haram Diajukan’. Pasti banyak deh yang merasakan dihujani pertanyaan laknat ‘itu’ bertubi-tubi.

Kapan nyusul? Kapan nikah?

Andai saja yang menanyakannya bisa dikenakan pasal ‘merusak kebahagiaan orang lain’ dan diberikan hukuman membersihkan toilet seluruh stasiun di Jakarta, aku optimis PT KAI akan menjadi lebih baik!

Selain pertanyaan laknat itu, masih ada satu hal lagi yang tak ubahnya peran dementor di film Harry Potter bagi para lajang, sang mantan! Persaingan yang nyata di antara pasangan yang baru saja berpisah adalah siapa yang berhasil move on duluan. Jika pemenangnya ditentukan dengan siapa yang mendapatkan pasangan duluan, maka aku kalah telak dari mantan.

Delapan tahun sejak aku dan mantan memutuskan memilih jalan yang berbeda, sudah beberapa kali aku mendengar kabar dia berganti pasangan sementara aku masih terhanyut dengan pekerjaan, jalan dengan teman-teman, dan melanjutkan pendidikan. Ya hitungannya itu ikhtiar mencari jodoh juga lah ya, menambah pergaulan.

Yang paling ga lucu itu kalau ga sengaja bertemu dengan mantan. Sari-sari kebahagiaan rasanya dihisapnya tanpa sisa. Demikian juga kejadian sore ini…

Aku duduk di sofa yang memang biasa aku tempati di cafe ini, di sudut ruangan dan tepat di samping kaca yang dapat memuaskan mataku memandang secuplik jalanan Jakarta. Aku dan vanilla latte sering menghabiskan waktu intim kami di sini.

Musim hujan telah tiba, aku mengerjakan beberapa tulisan di laptop dengan diiringi lagu dari salah satu stasiun radio. James Morrison dengan Broken Strings-nya terdengar dari seberang sana. Hujan Jakarta dan lagu yang merana, sepertinya hatiku terbawa suasana. Mataku melihat sekitar, mencari tahu adakah orang lain yang juga bernasib sama.

Tiba-tiba, tidak jauh dari tempatku berada, aku melihat mantan! Delapan tahun berlalu tidak menjamin hilangnya kelu. Jika di Indonesia ini ada 17000 pulau, kenapa kami masih saja harus bertemu muka?

Aku berusaha fokus pada layar laptop, mempertahankan kebahagiaan agar tidak dihisap sang dementor. Namun sayang, aku bukan aktris peraih piala citra yang pandai berpura-pura.

‘Hai Al..’, mantan sudah di depanku dan mengulurkan tangannya.

‘Ohh, Aldi, ada di sini juga?’, aku berusaha berpura-pura terkejut akan kehadirannya.

‘Apa kabar Al? Sendirian aja?’

‘Aku lagi nunggu orang kok..’

Aldi, pria yang pernah memenuhi hari dan harapanku tidak kurang dari empat tahun. Dengan alasan standar hidupku terlalu tinggi, dia mengajak kami untuk berpisah jalan. Wajar kan ya kalau kita menginginkan punya kehidupan yang lebih baik?

Dia menarik kursi di depanku, seperti berusaha mengajak berbincang lebih lama. Ah Tuhan, aku tidak mau kembali ke jaman purba, menikmati melankoli suasana hujan dan sedikit kenangan dengannya. Tidak!

Tak perlu waktu lama untuk berdoa, Tuhan memang luar biasa!

Aku melambaikan tangan ke arah pintu. Priaku telah tiba! Aksa datang dengan kaos polo putih dan jeans birunya, yang membuat dia tampak sangat menawan dibanding mantan.

‘Kenalin, ini Aksa..’, aku memperkenalkan Aksa pada Aldi.

‘Temen kantor?’, Aldi bertanya padaku. Pertanyaan bodoh.

‘Masa depanku..’, aku menjawab pertanyaan Aldi dan tersenyum pada Aksa.

Maaf kenangan, aku cuti sakit hati.

Depok, January 16th 2013

Iklan

Orang Ketiga Pertama

35__Hold_my_hand_by_becauseIRnutty (1)

Aku merasa berkelimpahan. Tuhan dan tangan-Nya bekerja dengan cara yang luar biasa. Aku bersyukur berkali-kali sambil memandangi rumah bergantian dengan pohon-pohon dari balik jendela, diiringi suara kereta menderu membelah pulau Jawa yang belum juga mengantarkanku sampai ke Jakarta.

Aku masih teringat kejadian kejar-kejaran dengan orang yang merampas tasku di pagi buta tadi. Aku lega, tasku gagal diambilnya. Hatiku juga tak bisa menyembunyikan rasa gembira ketika membaca pesan whatsapp dari Aksa. Pria yang tak sempurna itu, membuat hidupku berwarna.

‘Cepatlah tiba..’

Hanya dua kata, namun aku merasa tidak perlu sarapan dibuatnya. Perutku kenyang karena bahagia. Aksa adalah keajaiban Tuhan yang datang ketika aku lelah mencari pemilik rusuk ini. Sempat terpikir mungkin rusuk yang aku miliki bukanlah barang ori, sehingga si jodoh kesulitan mendiagnosa keasliannya.

Aksa tidak sempurna. Namun kehadirannya seperti vanilla latte dari cafe langgananku. Rasanya pas, membuatku tidak pernah merasa cukup untuk menginginkannya lagi dan lagi. Selalu berhasil membuat pagi yang buruk terasa menjanjikan siang yang lebih optimis.

Aksa dan cincin di jari manis kirinya adalah satu paket, tidak bisa dibeli terpisah. Hal ini yang membuat ibu urung memberikan restu. Mungkin ibu belum menyadari, bahwa anak perempuan satu-satunya telah menanti pria itu selama delapan tahun dari terakhir dia dikecewakan pria. 

‘Nduk, apa ga ada tho yang ga duda gitu?’ , ibuku bertanya.

Aku tersenyum.

‘Bu, ibu taukan kalau perusahaan akan memberikan gaji yang lebih besar bagi para pelamar yang sudah berpengalaman?’ , aku meledeknya.

‘Buktinya, Alia sekarang mendapatkan gaji dua kali lipat dari perusahaan yang lama. Ya itu, karena Alia sudah berpengalaman hehe..’

Ibu bergeming mendengar pembelaanku yang tampak sekenanya.

Aku masih sulit menerima, apa salahnya memilih menjalani sisa usia dengan seorang duda? Aku adalah orang yang percaya bahwa hidup, mati dan jodoh adalah takdir yang sudah digariskan. Demikian juga dengan Aksa yang datang dengan sendirinya dalam lembar kehidupanku. Aku tidak mencarinya ke manapun, dia hadir begitu saja di depan mata. Dan aku meyakini, ini adalah takdir kami.

***

Akhirnya kereta tiba juga di Stasiun Gambir. Satu tas wanita, satu ransel dan satu kardus, aku angkat sendiri keluar pintu kereta. Belum lama menginjakkan kaki di sana, ada tangan yang berusaha mengambil alih kardusku yang berisi makanan. Aku memegang tali kardus itu lebih erat, tak ingin kehilangan. Kejadian di pagi buta tadi jangan sampai terulang kembali!

‘Yakin nih, ga mau dibawain kardusnya?’, aku mengenal suaranya. Aksa muncul dari belakangku.

Menatap wajahnya, membuatku merasa penantian selama ini tidak sia-sia. Aku tidak menyalahkan ibu yang masih belum menghadiahi kami restunya. Tidak ada yang salah. Kami hanya perlu bersabar, sedikit lebih lama. Aksa adalah orang ketiga pertama di antara aku dan ibu. Dan aku berharap tidak akan ada orang ketiga berikutnya.

Kami meninggalkan stasiun. Dia menggenggam tanganku, lebih erat dari biasa. Kami siap menghadapi dunia!

Depok, January 15th 2013

Pukul Dua Dini Hari

royalty-free-robber-clipart-illustration-60234Pukul dua dini hari.

Kereta masih saja menjejakkan roda besinya mendekati Stasiun Tugu Jogjakarta. Setidaknya hal itu yang diinformasikan oleh aplikasi Maps di hpku. Aku sibak gorden yang persis di sebelah kananku. Gelap, hanya beberapa lampu dari rumah penduduk yang tampak.

Kepulangan kali ini khusus untuk mengunjungi bapak ibu dan mengobati rindu akan bakso Malang. Udara yang dingin dan kota yang belum terlalu sesak itu selalu saja membuatku ingin kembali segera, setelah sesampainya aku di Jakarta.

Satu buah tas wanita, satu tas ransel dan satu kardus adalah barang yang aku bawa dari Malang, berisi sedikit pakaian dan sisanya tentu saja makanan. Tas ransel dan kardus aku letakkan di bawah kaki. Ya, aku cukup malas untuk berjinjit-jinjit dan meletakkan barang di rak yang ada di atas kepala karena tinggiku yang hanya setara kurcaci.

Aku mengambil iPod yang ada di tas yang aku pangku dan earphone-nya. Setiap kali dalam perjalanan jauh, aku memiliki lagu pengiring sendiri. Alasannya sederhana, ketika aku memutar lagu itu lagi maka ingatanku akan kembali mengenang perjalanannya.

Ku lihat sekeliling, hanya ada satu dua orang yang terbangun dengan malas dan memainkan hpnya. Siapa juga yang tidak mengantuk di pagi buta begini?

Aku pun tergoda segera memejamkan mata. Rasa kantuk ini harus dituntaskan agar tidak perlu dilanjutkan di toilet kantor. Lagipula, masih ada berjam-jam lagi untuk tiba di Jakarta.

Kereta terasa melambat ketika aku setengah terlelap. ‘Mungkin hampir sampai Stasiun Tugu.’  Tas yang ada di pangkuan pun aku peluk lebih erat. Aku tak ingin terulang kejadian kecopetan yang pernah aku alami dua tahun lalu.

Baru saja beberapa menit berlalu setelah aku mengeratkan pelukan pada tasku, tiba-tiba ada hentakan keras yang menarik tanganku. Aku segera terbangun dan berdiri. Berpikir cepat memahami yang tengah terjadi.

Ya! Tasku dirampas orang!

Aku berlari mengejar penjahat tadi menembus lorong-lorong kereta di pagi buta. Aku tak akan mungkin berhasil jika mengejarnya sendiri.

‘Rampoook! Tolong ada rampoook!’

Aku terus berlari dan mengulang-ulang ucapanku tadi. Tentu saja agar lebih banyak orang yang terbangun dan membantu mengembalikan tasku tadi. Si penjahat itu telah melewati gerbong kelima, sementara aku baru masuk pintu penghubung gerbong keempat dan kelima.

Aku berlari sambil terus berdoa.

‘Tuhan, jangan biarkan dia mengambil tas dan isi di dalamnya. Aku terlalu malas mengurus KTP ke kelurahan!’

Aku mengiba.

Napasku tersengal-sengal. Beginilah jika jarang olahraga! Yang aku butuhkan sekarang bukan tenaga, tapi keajaiban.

BRUUKKK!

Aku mendengar suara tumbukan yang cukup keras. Beberapa orang terlihat menoleh ke arahku mencari tahu siapa yang membangunkan mereka di pagi buta. Sebagian lagi membantu untuk mengejar penjahat itu.

Aku segera menuju pintu keluar gerbong kelima, tempat di mana suara tumbukan tadi berasal. Seorang pria telah tertelungkup di depan pintu masuk kereta, di kelilingi beberapa penumpang lainnya. Entah dia terjatuh atau seseorang berhasil mengalahkan kecepatan larinya. Aku tak peduli, setidaknya saat ini.

Aku meletakkan kedua telapak tangan di lutut, berusaha mengatur napas dan mengumpulkan tenaga.

BRUK! BRUK! BRUKKK!

Aku tak bisa memendam rasa gemasku kepada penjahat tadi. Aku memukulinya dengan tenaga yang tersisa. Tentunya yang tak seberapa karena aku melewatkan makan malam dan telah berlarian entah melewati berapa gerbong kereta.

Aku segera mengambil tasku yang ada di sebelah kepalanya, yang masih tertelungkup di lantai Stasiun Tugu Jogjakarta.

‘THIS IS PRADA!’

Teriakku pada penjahat itu, tepat di depan wajahnya.

Depok, January 14th 2013

Kenalan, Yuk!

coffee-caffeine-withdrawal

Aku lupa memperhatikan sekitar. Bukan, aku bukan penderita amnesia. Namun terlalu banyak hal yang perlu aku ingat dan diprioritaskan apalagi ketika aku memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah, mewujudkan impian lama.

Kerja dan kuliah setelahnya, bukanlah hal mudah. Tapi aku sudah memutuskan. Hanya dengan sebuah alasan, aku tidak ingin suatu hari ketika aku terbangun menemui diriku menyesal. Wajar kan jika kemudian aku tidak begitu memperhatikan sekitar, terutama jika tidak berkaitan dengan pekerjaan ataupun tugas kuliah yang seakan tidak rela membiarkan aku memiliki sedikit waktu luang?

Hingga di sebuah sore ketika aku membereskan laptop dan benda-benda lain yang tergeletak di atas meja kerja, seraya memandang ke luar jendela yang memamerkan pesona dengan sinar matahari Jakarta berwarna jingga cerah, seorang teman memberitahukan tentang eksistensi idola barunya di kantor.

‘Al, akhirnya ada juga yang bisa dijadikan obat mata lelah di kantor!’, ucap Tia, yang baru saja selesai rapat ketika lewat di belakang kursiku.

‘Kamu nggak salah liat kan? Ingat Aldi..’. Aku tertawa mendengarnya.

‘Inget sih sama Aldi. Cuma mas ini pinter banget. Bahasa inggrisnya keren waktu kemarin dia presentasi’, Tia berkilah.

Beberapa kali memang kepintaran seorang pria mampu menghipnotisku. Rasanya aku rela berlama-lama dan mengisi ulang gelas vanilla latte yang telah kosong untuk berbincang dengan mereka.

Aku memandang sekitar, sambil mengunci laci dan menyiapkan tas untuk bergegas pulang.

‘Mana sih Ti? Emang ada yang kayak gitu di kantor?’

‘Lah, yang tiap hari duduk di belakangku. Ga heran kalau kamu sampai sekarang juga masih lajang, ada barang bagus aja juga masih kalah dengan paper-papermu itu..’, Tia mengoceh dan meletakkan laptop di atas mejanya, persis berhadapan dengan mejaku. Di belakang Tia memang beberapa bulan ini ada meja tambahan, yang diisi oleh konsultan yang sedang mengerjakan proyek di kantor tempatku bekerja. Namun rasanya tidak ada seperti yang diucapkan oleh Tia.

‘Tapi sayang dia memakai cincin, di jari manis kirinya..’ lanjut Tia.

Cerita tentang pria yang tak bernama tidak pernah lagi terlintas dalam pikiranku, karena pekerjaan di kantor dan ujian akhir semester seperti atlet yang sedang di arena maraton, saling berkejaran meminta perhatian. Lagi pula, harapan sirna bersama keberadaan cincinnya.

‘Itu loh Al..’

Tia berbisik dan memberikan kode kepadaku yang sedang mengambil air putih dari dispenser di sebelah kanannya, sementara matanya melirik kepada pria yang tak bernama yang duduk di belakang kirinya. Aku manggut-manggut, menandakan aku sudah paham apa yang dimaksudkannya.

Meskipun duduk berdekatan, tak pernah ada sapaan karena memang kami tidak ada kepentingan. Setelah Tia menyadarkanku atas keberadaan pria yang tak bernama, ketika aku lelah memandang laptop, maka pandanganku mengarah kepadanya untuk menilai selera Tia.

Aku mengurangi intensitas kebiasaan baruku itu, karena beberapa kali aku menemukan mata kami saling beradu. Aku tidak ingin ketahuan. Ada rasa yang tak biasa, memang. Dan aku tidak menyukai hal itu. Deg-degan, seperti mencoba kopi selain vanilla latte pertama kali. Aku juga tidak ingin flirting dengan pasangan orang.

***

Siang itu aku membuka laptop di sebuah café, memandang hujan dari balik jendela.

‘Mbak, ini vanilla latte-nya..’, tiba-tiba seorang pelayan menaruh segelas vanilla latte, kopi kesukaanku, di atas meja.

‘Mas, maaf, mas keliru sepertinya. Saya baru datang kok, belum order juga..’, aku menjelaskan padanya.

‘Mbak, Mbak Alia kan?’

‘Iya, saya..’

‘Berarti saya tidak salah. Ini dari Mas itu..’ si pelayan menunjuk ke arah kasir. Ada sosok yang sepertinya aku kenal jika melihatnya dari samping.

Detak jantungku berlarian. Pria yang tak bernama ada di café ini! Aku canggung.

‘Boleh duduk di sini? Terima kasih sudah menunggu..’, dia menarik kursi dan mengumbar senyumnya, oke harus aku akui, yang memikat.

Aku hanya diam, mencerna apa yang sedang terjadi.

‘Kok diam saja?’ dia melanjutkan.

‘Hmm…’, aku mencoba menenangkan diri dengan meminum latte ku, tanpa didahului dengan ucapan terima kasih atas traktirannya.

‘Enak kopinya?’

‘Oh ya, terima kasih’, aku masih menyembunyikan wajahku yang memerah di balik cangkir kopi.

Aku tersenyum.

‘Terima kasih sudah menungguku sampai hari ini. Aku kan yang kamu maksud dengan pria tak bernama yang duduk di belakang temanmu..?’

Pede banget! Tapi dia benar.

Aku terkesiap dan memikirkan siapa yang membocorkan rahasia kecil ini. Rasanya menjawab soal ujian lebih mudah daripada menjawab pertanyaannya. Tuhan, aku memilih UAS sekarang!

‘Aku Aksa. Aku membaca tweet-mu..’ dia tersenyum memandangku sambil meminum kopinya.

Aku terdiam. Menyesal, mungkin, telah melupakan esensi social media. Namun aku senang dia telah membawa Aksa datang.

Depok, January 13th 2013

anomali coffee

Sebuah Catatan (Penerus Kartini)

Sebuah cerpen untuk perempuan Indonesia yang percaya pada mimpi dan kebaikan hati mereka. Enjoy.

Kopi. Laptop. Hujan.

Entah rasa cinta pada siapa yang bisa mengalahkan kecintaanku pada suasana seperti ini. Seperti dua jemari berbeda yang saling mengisi selanya. Sempurna.

Mungkin hanya seorang pemberani yang mau melakukan apa yang tengah aku lakukan sekarang. Menjejaki masa lalu. Bukan, bukan karena bernostalgia dengan cerita yang pernah aku miliki di tempat ini, tapi mungkin ada kerinduan untuk sekedar duduk dan memandang hiruk pikuk dan lampu jalanan Jakarta dari sudut kafe ini. Menyaksikan gedung mencakar langit yang seakan angkuh berkata “aku mampu menguasai dunia”.

Coffee brule latte dari barista yang berbeda, tak mengurangi esensinya. Masih tetap sama seperti yang aku nikmati bertahun lalu. Tiga? Empat? Atau lima tahun lalu? Entahlah. Aku terlalu sibuk memikirkan hal lain daripada sekedar menghitung bulan dan tahun.

“Mommy, I can’t finish this game..”

Bocah laki-laki dengan mata hijau kecoklatan membuyarkan lamunanku. Dia menyodorkan permainan yang tak bisa diselesaikannya sejak kemarin. Aku belai rambut dan menciumi kepalanya yang bau shampoo aroma anggur.

“Why honey? Should I help you…”

“No mommy, I want to finish it by myself. So you can keep writing”

Ah malaikat kecil ini, selalu membahagiakan hatiku. Mengisi celah-celahnya hingga tak bersisa untuk kesedihan sekecil apapun. Malaikat kecilku, Diego, kembali duduk ke bangku yang ada di depanku dan melanjutkan kesibukan dengan mainannya.

Cintaku pada Diego mungkin sama dengan cintaku kepada kopi, atau lebih malah. Entahlah, hanya saja rasanya tak terukur. Baca lebih lanjut

Seratus Tujuh Puluh Dua Hari, Tanpa Garansi

Ditulis sambil mendengarkan Gravity by Sara Bareilles.

Dear kamu yang berlarian di kepalaku,

Lewat sudah larut malam. Cahaya kota yang memudar memberikan pilihan bagiku untuk menguasai salah satu sudutnya, sekedar duduk menuliskan kerinduanku padamu dalam beberapa halaman. Jemariku seakan menari di atas keyboard, mencoba menjadi pelukis yang berusaha memagut objeknya yang sedang kelu: hatiku.

Jika cinta tidak pernah mengetuk pada pintu yang salah, akankah kau muncul dari balik pintumu dan menyambutku?

Dear kamu yang selalu mengusik jam kerjaku,

Aku takkan pernah menyatakan ini berlebihan. Lebih sudah seratus tujuh puluh dua hari kamu berada di rongga dadaku, di dalam kepalaku, berdiam di sana dan membangun istana. Sesekali kamu memacu jantungku cepat, lain kali kamu serasa mengucurkan air jeruk pada lukanya.

Seratus tujuh puluh dua hari, ya…

Dan di mana garis finish dari hitungan ini, aku tak pernah tahu dan tak berencana untuk meramalkannya. Puluhan hari berlalu, dan aku gagal mencari pengganti atau sekedar menyita istana dan mengusirmu dengan paksa dari kepalaku.

Satu jam, dua jam berlalu, di satu sudut kota aku terpaku seperti kamus yang kehilangan kosakata. Entah terlalu banyak yang aku simpan ataukah memang tak sedikitpun ada yang ingin aku sampaikan. Mungkin akan lebih mudah bagiku jika kamu ada di sini. Aku berjanji akan mengisahkan belasan ribu hikayat, sebanyak hari yang ingin aku lalui bersamamu. Mungkin. Baca lebih lanjut

Picture Perfect Memories

He was the handkerchief that swept her tears away. He was the candy who sweetened her gloomy days. He was the umbrella when the sun shined too bright and hurt her. He did everything more than everyone could imagine to make her days seemed right.

She was his everything, a pensive which could be used to tell his secrets, a mom who could cuddle him,
a friend to share weird thought of him, a brother, a sister, a living partner, and many other things.

Theirs was perfect.

But she kept walking away far from the orbit, the place where she should stay. She ran faster than he could do. They were separated by fate, by the path that was chosen before. They had broken hearts that needed a new line to make a start. They promised to meet 2 years later at a shelter in the down town. They needed time to heal the hurt feeling.

Time passed by. “No one came here” the shelter took the stand, broken vow was made there. Her dreams cost separation.

Baca lebih lanjut

You’re The Risk That I Was Glad To Take

Tepat 5 tahun yang lalu, aku memutuskan untuk pergi ke negaramu. Entah firasat apa yang merasukiku, sehingga aku tanpa basa basi langsung membeli tiket murah sebuah maskapai penerbangan satu hari sebelum keberangkatanku.

Hanya sebuah tas ransel saja berisi pakaian secukupnya, mukena, sikat gigi, sabun cair, odol, peralatan make up ala kadarnya, sebuah buku dan kamera saku yang mendampingi. Aku pamit pada ibu yang terus saja meyakinkanku untuk tidak pergi sendiri. Ku cium tangannya, “si bontot udah gede, bunda. Mau nyari mantu buat bunda” jawabku asal. Aku tertawa melihat raut wajah ibu yang penuh rasa khawatir dan mencium pipinya.

Ku nyalakan iPod dan memutar lagu-lagu yang aku siapkan sebagai soundtrack perjalanan. Tujuannya? Agar ketika suatu saat aku mendengar lagu yang sama, aku bisa menyusupkan kembail cerita itu pada pikiranku.

If I could fall into the sky
Do you think time would pass me by
‘Cause you know I’d walk a thousand miles
If I could just see you
Tonight

Thousands Miles membawaku terbang meninggalkan bandara Soekarno Hatta. Dua setengah jam kemudian, kakiku pertama kalinya berpijak di Changi International Airport. Perjalanan yang tak pernah ku kira sebagai garis start takdir kita.

Aku begitu menikmati perjalanan solo yang tak pernah ingkar memfasilitasiku dengan porsi jumbo waktu untuk melihat, merasa dan berfikir. Ada sebuah paket kedamaian, yang sering ku rindukan di weekdays yang selalu berkejaran dengan deadline. Tak ada yang kurang ketika perjalanan ditemani dengan iPod, kamera saku dan buku Paulo Coelho. Tapi, akan lebih lengkap jika ada jari-jari lain yang menyusup memenuhi sela jariku. Baca lebih lanjut

Di Bawah Hujan Jakarta

Ini adalah tulisan yang mau aku kirim ke Proyek Hujan. Masih males mau ngedit ^^V. Ah, hujan memang inspirasi. Enjoy ;).

Sajak Hujan

Aku tengah berkisah
tentang hujan dan tanah basah
tempatku menari dan menikmati
tetes yang tak kunjung henti
sementara,
ku biarkan dirimu
menikmati tarian hujan
yang tak berima atau berpola
dari balik jendela kaca.

Dingin?
tak mengapa bagiku
karna,
sinar mentari yang aku punya
telah ku selipkan pada jalanmu
agar kau tak kelu
saat menanti pancaroba.

Dan dalam sunyi malam-malammu
ku bisikkan satu dua lagu
yang jauh dari merdu
hingga pendarmu
perlahan sirna.

Jika hujan telah reda
berganti pelangi dan cuaca
akan ku ambil jejakku
pada hatimu,
menaruhnya di lemari
yang kuncinya
ku kuburkan di tanah tak tergali.

Karna,
mungkin berkat doaku
hujan desember atau februari
berganti pelangi.

Masih ingatkah 495 hari yang lalu pernah ku kirimkan Sajak Hujan padamu? Bukan karena ditulis dengan tinta atau kertas berlapis emas yang membuatnya istimewa. Namun karena kamu, ya kamu. Mungkin memang kamu adalah inspirasi, yang bisa menyelipkan seulas senyuman di pagi hari, yang membuat orang rela pergi ke puncak gunung tertinggi, ke tengah lautan hingga menepi, ataupun bersemedi.  Bukankah setiap orang selalu merindukanmu, wahai inspirasi?

God created pain along with its cures, begitu kata temanku. Atas luka yang pernah mewarnai masa lalu, aku kira kamu adalah obatnya, antibiotik yang bisa membuat penyakit malas menjamahiku, atau seperti obat cacing yang dengan gagah beraninya akan membunuh cacing yang berniat melukaiku. Aku mengundangmu di saat yang tepat. Oh koreksi, kamu datang di saat yang tepat.

Pernah kita susuri jalanan tol kota dengan diiringi lagu Please Don’t Stop The Rain. Suara merdu James Morrison menjadi soundtrack perjalanan kita malam itu. Masih ingatkah? Atau terlalu banyak  hal lain yang lebih layak untuk mendapatkan porsi pantas di kepalamu? Dan, hujan deras di luar kaca mobil apa kabarnya? Ah… tampaknya mreka hanya cameo belaka. Lampu-lampu jalanan yang memantulkan sinarnya semakin mempercantik wajahmu. Bak seorang artis, kamu sungguh menguasai panggung pikiran dan perasaanku. Baca lebih lanjut

Kamu

Ini adalah hasil berestafet di minggu pagi bersama Agnes, enjoy ;).

Hanya perlu 43 hari untukku kecanduan merasa rindu padamu, dari hari pertama kedatanganmu bertamu pada hari-hariku. Bukan cuma sulit untuk tidak kugubris, rasa rindu itu melekat seperti bayangan yang memeluk erat. Halusinasi kebodohan dikarenakan oleh “jatuh hati” mulai melanda, aku sering melihat orang yang mirip kamu, dan semua hal yang aku sentuh secara kebetulan berhubungan denganmu, makanan favoritemu, buku favoritemu, warna favoritemu, mutlak sudah aku terjerat…pada kamu; pria pendiam pemilik senyuman rupawan.

Berlebihankah jika aku mentahtakanmu as my living caffeine? Well aku bukan pecandu kopi, but yess aku mencandu dirimu. Serupa mereka semua pecinta kopi yang merasa harinya tidak lengkap tanpa kehadiran kopi kesayangan berikut caffeine di dalamnya. Hari mereka sempurna saat sudah menyesap secangkir kopi nikmat dan hariku sempurna saat kamu menyapa.

Kamu adalah coklat yang bisa mengembalikan moodku yang rusak ke garis edarnya semula. Bagaimana bisa kamu melakukannya dengan nyaris sempurna, padahal kita hanya bertatap mata tiga kali jika aku tidak salah menghitungnya? Bagaimana bisa kamu membuat kurva bibirku membentuk senyuman dari balik layar laptopku padahal kita berjarak dan jarang bertemu?

Aku berusaha mencari tahu “apa”, “kenapa” dan berujung pada pertanyaan “lalu bagaimana”. Jujur aku menikmatinya. Setelah sekian lama tidak menikmati sensasi seperti ini dan bahkan sudah mengubur jauh – jauh harapan untuk menikmatinya lagi malah dirimu datang, sepaket dengan tatapan ramah dan pribadi yang menyenangkan. Lagi – lagi aku tersenyum.

Masih ingatkah kamu ketika kita menghabiskan malam melewati jalanan kota? Kamu layaknya bintang yang bersinar paling terang pada malam itu, bahkan cahaya dari lampu jalan terasa seperti pelengkap sinar auramu yang memang sudah terlalu terang di mataku. Aku hanya bisa tersenyum setuju. Aku ingin waktu berhenti saat itu. Hanya kamu, aku, dan jalanan itu.

Jika cinta memang tidak pernah mengetuk pada pintu yang salah, bolehkah aku berharap bahwa kali ini pintu itu akan terbuka? Aku berharap kali ini ketukan di pintu hatiku adalah cinta yang sebenarnya.

Sesungguhnya aku hampir lupa apakah kamu mengetuk dulu atau malah kamu masuk begitu saja tanpa permisi? Rasanya semua tidak terasa penting lagi, kehadiranmu tak pernah kusesali.