Criteria

Last night I attended my 1st Pertamina Toastmaster Club Speech Contest and I took humorous category. Actually, I prepared a script before this one, but I wasn’t sure I can deliver it in funny ways. After got feedback too, I was so sure to find a new topic for my humorous speech. So, this is the speech I delivered and I won the 1st place. Actually, I did some improvisations on stage, because I forgot many things :D. Some lines are inspired by Toastmasters rules. So if you don’t get my jokes, you can come and join with us 🙂 Anyway, feedback is welcome 🙂 Hope can do much better for next competition. Baca lebih lanjut

Mencoreti Impian Tahun 2014

Bulan Juni tahun 2014 ini sungguh bulan yang luar biasa buat saya, terutama dalam 2 minggu terakhir. Banyak hal-hal penting dan menarik yang terjadi, hal yang selama ini saya tunggu dan dambakan. Setelah bisa short escape ke Samosir, sementara badan belum selesai lelahnya, saya kembali ke Jakarta. Selain ditunggu oleh list pekerjaan, list impian saya di tahun ini juga menanti untuk dicoret. Yay! ^^

Sebenarnya saya lelah secara fisik dan mental, saat ini saja saya sedang flu yang sepertinya sebagai akibat kurang istirahat dan kurang makan. Hari minggu saya sampai di kosan, kembali dari Medan, pada jam 23.00 WIB. Besoknya sudah bekerja lagi dan harus pulang malam karena ke kampus dulu untuk menyerahkan tesis kepada dosen penguji ahli, serta ke toko kue untuk menyiapkan konsumsi bagi para dosen yang hadir di sidang tesis saya pada hari Selasa. Dengan badan yang lelah sangat, file presentasi pun saya buat pada hari Selasa jam 01.30 WIB. Deadliner sejati 😐

Pas mau sidang rasanya hati dan pikiran ga karuan. Tapi alhamdulillah dinyatakan lulus walaupun harus dengan revisi :D. Akhirnya ujung dari perjuangan selama dua tahun terlihat sudah. Dua tahun yang luar biasa karena saya harus banyak menolak ajakan teman-teman untuk ngumpul bareng dan traveling :(. Berat banget melihat yang lain upload foto liburan sementara saya di warung kopi mengerjakan tugas kuliah. Selalu ada harga yang dibayar untuk setiap cita-cita! 🙂

Wajah bahagia setelah sidang

Wajah bahagia setelah sidang

Baca lebih lanjut

September 2012 dan Kehidupan Baru

Ternyata saya sudah melewatkan beberapa bulan tanpa meninggalkan jejak cerita di sini 😀 #lebay. Sebenarnya postingan itu berguna bagi saya ketika menoleh ke belakang, melihat lagi apa saja hal yang pernah saya lakukan pada bulan dan tahun tertentu. Footprints gitu ceritanya :).

Awal bulan September tahun 2012 ini menjadi milestone yang penting bagi saya: meninggalkan comfort zone. Rutinitas yang tadinya berangkat mandi setengah enam pagi (atau lebih), ke kantor dekat, pulang kerja bisa seenaknya saja mau ngapain, weekend bisa main dengan teman-teman dan masih banyak lagi privilege dengan after office hours yang saya miliki.

Pindah ke Depok dan kuliah (seperti yang saya ceritakan di sini) berarti harus mengubah pola hidup, jauh berbeda dari sebelumnya. Saya mulai membiasakan diri untuk bangun setidak-tidaknya jam empat pagi (bisa jadi ke depannya lebih pagi lagi untuk mengerjakan tugas). Kemudian keluar dari kosan jam enam kurang untuk menuju ke stasiun. Seringanya sih bukan jalan ke stasiun, tapi jalan cepat setengah lari karna takut ketinggalan kereta :p.

Masalah belum selesai sampai di situ. Kalau menggunakan kereta Bogor – Stasiun Kota, sering kali jadi jantungan, deg-degan antara bisa masuk kereta apa enggak. Selama setelah lebaran, kereta makin sesak dan pintu CL (Commuter Line) semakin banyak yang tidak tertutup saking penuhnya. Akhirnya hal ini disiasati dengan naik kereta yang datang sebelumnya dengan tujuan Tanah Abang, turun di Tebet. Nah kalau sudah sampai Tebet bisa dibilang kereta Bogor – Stasiun Kota lebih longgar karena banyak yang turun di Cawang dan Tebet. Bisa keangkut kereta aja udah syukur, jadi kalau sampai bisa duduk itu adalah keajaiban :D.

Pulang kerja kembali berlari-lari supaya bisa ikut kereta jam setengah lima sore. Kebijakan PT KAI yang tidak menghentikan CL di stasiun Gambir sangat memberatkan. Padahal kalo berenti di Gambir, tinggal nyeberang aja udah sampai di kantor :(. Ga heran kalau berat badan saya yang tadinya di kisaran 52-54 Kg, belakangan ini stabil di angka 49 Kg. Baca lebih lanjut

Live as You Want To Be Remembered When You Die

Baru kali ini saya membaca tulisan Ester dan ingin menangis karena apa yang diceritakan di sana. Umur adalah rahasia Allah dan yang bisa saya perbuat dengan itu hanyalah mempergunakannya dengan baik. Jika Damar (yang diceritakan pada blog post tersebut) meninggal pada usia 28 tahun, berarti saya hanya punya sisa waktu 1 tahun. Iya kalau umur saya sepanjang umurnya Damar, kalau enggak?

Selain membaca tulisan Ester, saya juga membaca blog post dari @beriozka yang menceritakan kisah @anggatirta dalam pencarian ayahnya yang menjadi salah satu korban kecelakaan pesawat Sukhoi di Gunung Salak (silakan dibaca sebagai refleksi diri). Ketika membaca post tersebut ada rasa iri yang menyelinap. Iri pada Angga yang memiliki kemampuan komunikasi batin dengan ayahnya, sehingga membawa Angga bisa menemukan tempat jatuhnya pesawat tersebut, yang artinya Angga memiliki hati yang bersih. Sementara saya?

Persamaan dari kedua post tersebut adalah bagaimana orang yang meninggal dikenang oleh mereka yang pernah menghabiskan waktu bersamanya selama masih hidup. Adalah hal yang mengerikan ketika ketidakhadiran kita adalah kebahagiaan bagi orang lain, ketika kita meninggal justru menjadi sumber suka cita bagi yang ditinggalkan.

Cerita tentang Angga mengingatkan saya tentang banyak hal. Tentang seberapa dekatkah saya dengan keluarga, seperti apakah perasaan keluarga saya ketika saya meninggal, apa yang akan dikenang oleh orang-orang yang pernah saya kenal sewaktu saya masih hidup, apakah cukup bekal saya ketika urutan antrian panggilan Allah sudah datang, dan banyak refleksi lainnya. Sesungguhnya seburuk apapun suatu peristiwa, adalah baik ketika memberikan pelajaran bagi yang lainnya. Baca lebih lanjut

No, I Won’t Give In

Life is a choice. Remembering what we want to be, for me, is the best way to make us realize that we still have unfinished business to be done.

Sometimes we’ll feel alone, keep on walking without companion. No matter how hard the road in front of us, at least we will give our best shot.

You’re not alone, together we stand. I’ll be by your side, you know I’ll take your hand. When it gets cold and it feels like the end, there’s no place to go, you know I won’t give in.

No, I won’t give in

Keep holding on, cause you know we’ll make it through. Just stay strong, cause you know I’m here for you.

There’s nothing you could say nothing you could do, there’s no other way when it comes to the truth. So keep holding on, cause you know we’ll make it through.

So far away, I wish you were here before it’s too late this could all disappear, before the door’s closed and it comes to an end. With you by my side I will fight and defend.

French or Deutsch?

Sungkem-sungkem dulu sama yang baca deh sebelum posting. Mohon maaf lahir batin ya teman-teman, walau pun memang agak telat tapi kan ini masih bulan Syawal *maksa*.

Sudah lama ingin cerita ini itu di sini, tapi kalau memang tidak diiringi niat yang kuat ya tidak akan terwujud. How’s life? I hope it is as colorful as rainbow. Eh udah September ya, alhamdulillah, masa OJT tinggal 2 bulan lagi insya Allah *kayang kegirangan*. Hari ini saya juga menerima hasil penilaian periode ketiga dari asisten manager saya, senang karena nilainya meningkat. Final paper saya (Kertas Kerja Wajib) juga bisa dikatakan 80% selesai, semoga tidak ada revisi yang mengkhawatirkan ketenangan saya dalam menonton drama korea #salahfokus.

Bagaimana dengan mudik kalian? Mudik saya kemarin seperti tur antar kota antar propinsi: Jakarta – Jogja – Kediri – Nganjuk – Mojokerto – Pare – Kediri – Jogja – Jakarta. Walaupun melelahkan, tapi menyenangkan sekali rasanya berkumpul dengan keluarga dan bermain dengan keponakan baru saya. Waktu berkumpul dengan keluarga, kakak saya yang mendapat giliran untuk dijodoh-jodohkan :p. Lalu saya bertanya ke bapak, kok saya nggak sekalian. Habis ngobrol sana sini, obrolan kami menyimpulkan profesi pria dengan penghasilannya. Kata bapak, profesi yang sekarang bisa memiliki penghasilan tinggi adalah *jeng jeng jeng* pemain bola :lol:.

Tadi siang saya mendapat komen dari pembaca yang nyasar ke blog ini. Menyenangkan sekali rasanya membaca komen tersebut, sampai-sampai bisa mengalahkan rasa malas saya untuk memposting sesuatu di sini. Beberapa waktu lalu saya memang sempat galau *halah* karena waktu kelulusan semakin dekat. Jika sudah selesai masa pendidikan ini, saya ingin kembali ke bangku perkursusan bahasa. Akhir tahun lalu saya mangkir dari ujian kenaikan tingkat di CCF dikarenakan saya harus masuk asrama dan dikirim ke belantara Cibodas. Dan, saya menyadari satu hal: les bahasa prancis itu ngangenin, tanpa mempedulikan seberapa begonya saya di kelas.

Kata si mas:

Bonjour,
votre niveau de français est très honorable.
Je vous suggère de voir le film d’Amélie Poulain ou de “bienvenue chez les chti” qui sont des grands succès internationaux.
En lecture, les auteurs classiques ne manquent pas, c’est facile de trouver ce qu’il vous plait sur l’Internet.

Bon courage pour la suite.

Philippe

Intinya kemampuan bahasa prancis saya very honorable :”>. Kasihan, masnya nggak tahu kalau saya menggunakan bantuan google translate saat menulis posting dalam bahasa prancis. Tadinya saya berencana untuk berpaling ke Gothe, karena saya merasa perlu belajar bahasa jerman dengan alasan yang tidak perlu saya tuliskan di sini. Tapi karena kerinduan saya untuk belajar bahasa prancis dan komentar di atas, membuat saya menjadi galau. 

Yang mana sebenarnya yang harus dipilih? Apakah yang kita sukai atau yang kita butuhkan? French or Deutsch? Ya sudahlah akan saya pikirkan lagi, sekarang waktunya menghadapi kenyataan: meneruskan mengerjakan KKW :p.

 

Be Careful With Your Words, God Hears.

Warning: tulisan yang lumayan panjang, dan (mungkin) membosankan ;).

Saya memandang langit Jakarta dari lantai tiga gedung menjulang yang tampak kokoh dengan logo tiga warnanya yang membuat orang mengenal gedung ini dengan mudah. Saya begitu menikmati posisi duduk ini, 3 minggu. Bersebelahan dengan kaca, membuat saya bisa melihat satu sisi Jakarta dengan leluasa. Mendung, terik, hujan, deretan mobil yang di parkir, Istiqlal dengan menara yang menjulang bersanding mesra dengan Katedral. Mereka berjarak, namun dekat.

Tiap kali menjadi penumpang TransJakarta yang menuju ke Harmoni, ada satu titik di mana pemandangan yang terlihat di depan saya hanya ada 3 bangunan menjulang: gedung yang sekarang saya tempati, gedung Kwarnas dan Monas. Teringat pula ketika saya harus merasakan berdiri berdesakan menjadi penumpang TransJakarta menuju Ratu Plaza, yang kontras dengan bis jemputan yang setia menjemput di hari kerja: leluasa, tak perlu berdiri ataupun membayar.

8 bulan lalu, saya mengantar dua orang teman untuk membeli tiket kereta mudik lebaran. Lalu kami berjalan menuju halte TransJakarta Gambir 2 untuk menuju Kuningan. Kami menengadahkan kepala memandang gedung perkantoran menjulang di sekitar sana. Entah siapa yang menyeletuk “kantor impian”, sambil terkekeh geli dan memandang gedung di mana saya berada sekarang. Dan ketika itu saya hanya menimpali “iyah, kapan bisa ngantor di situ ya?” dengan asal.

Entah apa yang mendorong saya, ketika saya sedang di rawat inap karena gejala tipes, untuk memasukkan lamaran online ke perusahaan ini. Iseng? Penasaran? Mungkin lebih ke keingintahuan tentang seberapa besar kompetensi yang saya miliki, karena sebelumnya saya pernah mencoba mengikuti tes di sebuah departemen dan saya dilepeh begitu saja. Mungkin Tuhan takut saya akan korupsi di sana. Mungkin.

Saya ingat betul, tes pertama adalah awal Ramadhan. Berat sekali rasanya setelah sahur harus berangkat ke Jakarta di pagi buta. Ketika itu saya berkata “Ya Allah, bolehkah jika saya memilih untuk puas dengan berada di sini saja?”. Namun teman-teman sekos saya tidak merestuinya, dan berangkatlah saya.

Tes pertama saya lalui tanpa persiapan apa-apa. Ngeprint CV pun saya lakukan sebelum berangkat dan atas kebaikan hati Mbak ini saya bertamu ke rumahnya jam 5 pagi. “Kan memang ingin mengetahui kemampuan saja”, alasan saya tidak belajar apapun waktu itu. Hasil tes ternyata diumumkan pada hari yang sama. Deg-degan? Iya. Karena walaupun nothing to loose, ini adalah kompetisi. Saya, bagaimanapun juga, enggan untuk kalah jika memang saya bisa mendapatkan yang baik. Saya lolos. Dan saya bingung, harus berkelit apa kepada atasan saya, 2 hari ijin kerja? Yang benar saja! Baca lebih lanjut

Hold My Hand

I’d like to dedicate this song for everyone that I love, who already have known me since years ago or just for a while: my family, my dearest friends who spend their time to read this post, blog walker, and you.

Yes, you. I don’t want you feel lonely, without companion. I know that feeling wouldn’t make us feel comfortable at all.

“Be the change you want to see in the world.” Mahatma Gandhi

Because I hate for being lonely and I hope there’s always someone or several people that care whatever my condition is, so here I’m with my urge to make you feel warmer dedicate this song for all of you :).

This life don’t last forever (hold my hand)
So tell me what we’re waitin for (hold my hand)
Better off being together (hold my hand)
Than being miserable alone (hold my hand)

Cause I’ve been there before
And you’ve been there before
But together we can be alright.
Cause when it gets dark and when it gets cold
We can just hold each other till we see the sunlight

So if you just hold my hand
Baby I promise that I’ll do all I can
Things will get better if you just hold my hand
Nothing can come in between us if you just hold, hold my, hold my, hold my hand.

The nights are getting darker (hold my hand)
And there’s no peace inside (hold my hand)
So why make our lives harder (hold my hand)
By fighting love, tonight.

Teaching Kindergarten

Finally, I made it! \(^0^)/

Previous sunday was my first time to teach some kindergarten children. It felt delightful ^^. My friend in BPS, Johan, was one of the founder of Taman Ilmu Setia Budi. When I knew he has been doing a great job, teaching there every sunday for free, I decided to join in his program.

Actually, I had no idea how to teach kids. 10 kids came into kindergarten class. They are so nice, cute and wonderful. Some of them are very excited, but there are still some kids that can’t write. The most difficult thing is I have to find ways to make them excited, because kids get bored easily :).

The lovely class ^^

I teach english, and I felt nervous because I never did such thing before. When I told what I felt, si mas said:

him: your students are elementary kids..you can just easily fool them lol. just kidding though

me: juahaaaat 😆

I think I have to learn some kids songs ^^, because they love songs and it will make them easier to learn and remember new english vocabularies. Wish me luck ^^.

And I think I’ve found great thing to replace my sunday routine before, went to francais class, and this is one of my dream ^^.

So, if you read this and want to join with us, please be our guest ^^.

Small Things for A Better Living

Belakangan aku memperhatikan kalau semakin hari rasa kepedulian kita terhadap sesama semakin berkurang. Entah ini hanya dari aku saja yang berubah, atau mungkin memang demikian adanya. Hal ini bisa juga dipengaruhi oleh faktor geografis di mana kita tinggal, apakah di kota besar atau di pedesaan dan kota kecil.

Sebagai contohnya aku akan membandingkan Jakarta dan Jogjakarta. Sebagai pelanggan tetap TransJakarta, baik yang berwarna abu-abu maupun orange, aku sering memperhatikan perilaku baik dari penumpang maupun dari pihak TransJakarta. Aku terkagum-kagum sekali ketika menggunakan TransJogja, perbedaannya 180 derajat.

Di TransJakarta, orang akan berlomba-lomba untuk mendapatkan bangku, jarang saling melemparkan senyuman apalagi berinteraksi, yang ada malah memasang tampang garang dan muka ditekuk jika orang lain tidak sengaja menyenggol atau melukai badannya (yang sebenarnya hal ini tidak dapat dielakkan mengingat TransJakarta seringkali padat dan direm mendadak). Petugasnya pun kadang emosi karena penumpangnya kurang tertib, dan aku pernah melihat sendiri si petugas sampai membentak penumpang karena tidak mau menggeser posisi berdirinya. Intinya: TransJakarta kurang ramah.

Sementara TransJogja, setiap akan berhenti di shelter maka petugas akan memberitahukan kepada penumpang dengan kalimat yang dihafal di luar kepala dengan ramah dan lengkap. Kurang lebihnya seperti ini:

Pemberhentian selanjutnya adalah Halte Malioboro 1. Perhatikan barang bawaan Anda, berhati-hatilah melangkah dan kami ucapkan terima kasih.

Kalimat di atas akan semakin panjang jika keadaan bus sedang sesak, karena petugas akan mengingatkan penumpang untuk menjaga barang bawaannya dan berjaga dari pencopet. Para petugas juga dengan ramah akan menjelaskan rute yang ditanyakan penumpang untuk menuju ke suatu tempat.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kota di mana kita tinggal, tapi pembawaan masing-masing individu yang akan menentukan warna dan suasana dari kota tersebut.

Aku pernah memposting hal sejenis di sini, dan beberapa hari lalu aku teringat pernah membaca (kalau tidak salah) tulisan seorang teman yang ingin melakukan 10 kebaikan kecil setiap harinya *sorry, I’m not good in remembering something*. Great idea indeed ^^. Aku pernah membaca juga, jika kita memiliki niat baik, Allah akan mencatatnya walaupun kita belum merealisasikannya. Wonderful!

Tidak ada sedikitpun niat untuk menggurui di sini, karena aku tau kecepatan mulutku lebih cepat daripada otakku sehingga aku sadar aku banyak melukai perasaan orang lain *jedotin kepala*. Dan siapapun yang membaca postingan ini, yang pernah aku sakiti baik sengaja maupun tidak, aku minta maaf dengan tulus 🙂 *mohon dimaafkan segala kebodohan dan kekhilafanku*.

Hal-hal kecil yang bisa dilakukan for a better living, yang terlihat sepele namun bisa memberikan dampak yang luar biasa adalah:

  1. Tersenyum, mengucapkan: salam, maaf, terima kasih, dan tolong. Aku tau mukaku memang ada garis galaknya, tapi kalau sudah kenal, aku cukup ramah kok ^^.

    damncoolpics.blogspot.com

  2. Mari biasakan untuk membuang sampah pada tempatnya. Jangan hanya sekedar melemparkan keirian atas kebersihan negara lain, mari awali dari diri sendiri ^^. Jika mereka bisa, kenapa kita tidak?
  3. Jika sedang not in a good mood, katakan saja kepada orang di sekitar dengan baik-baik untuk menghindari keluarnya kata-kata yang akan disesali kemudian 🙂 *pengalaman pribadi*.
  4. Minimalisir mengomentari urusan orang lain, apalagi yang menyangkut hal-hal yang sensitif: misal berat badan, status, dan lainnya. Bukankah kita masih banyak urusan yang perlu diselesaikan daripada sekedar menghabiskan waktu untuk mengurusi urusan orang lain? Jika sekiranya hendak melontarkan kalimat yang menyakiti orang lain, tutup mulut dengan telapak tangan, tahan sebentar dan jika sudah “tertelan” lagi baru lepaskan ^^.
  5. Meminimalisir menggunjingkan orang. Konon kabarnya hal-hal seperti ini yang banyak menjerumuskan para wanita ke neraka >_<.
  6. Berbagi dengan sekitar walaupun itu hanya sedikit, misalnya: makanan, uang. Sedekah tak akan membuat kita miskin :).
  7. Belajar berhemat *ini susah sekali*, membedakan antara lapar mata, keperluan dan keinginan. Sifat hemat ini ga bisa muncul secara instan, tapi harus dibiasakan. 
  8. Menghormati orang lain. Secara teori sih seperti membalikkan telapak tangan, tapi jika kita lihat lagi rasanya ini menjadi hal yang mulai dilupakan urgensinya.
  9. Meluangkan waktu untuk membantu orang lain. Ga perlu jauh-jauh, misalnya ada yang butuh “tong sampah” dan orang untuk mendengarkan, luangkan lah waktu sejenak karena it means a lot for them ^^.
  10. Belajar berlapang dada jika mendapatkan kritik *susaaaah ini >_<*.
  11. Membaca doa setiap akan melakukan kegiatan (yang baik) dan mengucap syukur (alhamdulillah) ketika mendapatkan rezeki meskipun sedikit. Hal ini berguna untuk mengingatkan kita akan banyaknya nikmat yang diberikan Allah dan jarang kita syukuri.
  12. Memanfaatkan waktu luang untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat, misal melakukan hobi, istirahat, membaca.
  13. Menjalin hubungan baik dengan tetangga, karena merekalah yang akan menolong kita jika kita mendapat kesulitan dan jauh dari keluarga.

Dan masih banyak lagi. Karena ada hal kecil, maka hal besar itu nyata.

CMIIW.

A better world is possible. And we’ll make it, because we care :).