Cerita si Lajang

Udah lama ga ngeblog, sekali nongol malah curcol :p

Jadi ceritanya tadi malam saya blogwalking ke blognya Mbak Okke yang membahas tentang Teori Jodoh dan Label Perempuan Lajang. I couldn’t agree more with these posts. Ternyata masalah perempuan lajang ini menjamur yah, jadi saya ga perlu merasa khawatir sendirian *dadah-dadah ke perempuan lajang lainnya*.

Faktor lingkungan memang luar biasa berpengaruh dalam pola pikir seseorang, apalagi kalau orang itu tidak punya visi khusus terhadap hidupnya sendiri. Beberapa waktu lalu saya sempat “dicekokin” berbagai teori tentang pernikahan. Intinya sih jangan terlalu picky dalam memilih jodoh, ntar malah ga nikah-nikah. Hal ini belum seberapa kalau lajang lain di sekitar adalah mereka yang sedang ngebet nikah hihi.. Padahal beli lele yang sama hitam dan kumisan di pasar aja perlu milih, lah ini urusan dunia akhirat yang ga bisa di-trial and error masa ga milih sih? Non sense :p Baca lebih lanjut

Iklan

Berangkat Pagi, Hemat Energi!

Tahukah kamu kalau Indonesia akhirnya memutuskan keluar dari OPEC (Organization of The Petroleum Exporting Countries) pada tahun 2008, setelah bergabung sejak 1962, karena resmi menjadi net importer minyak? Berdasarkan data dari BPPT dalam Outlook Energi Indonesia 2011, proyeksi laju produksi minyak mentah Indonesia menurun rata-rata sebesar 6.6% per tahun dari 346 juta barel pada tahun 2009 menjadi 265 juta barel pada 2014, sementara pertumbuhan tahunan rata-rata atas permintaan BBM menurut Indonesia Energy Outlook 2010 adalah 5.4%. Dengan data-data tersebut, diperkirakan pada tahun 2027, Indonesia menjadi net energy importer dikarenakan pesatnya kenaikan permintaan energi.

Peningkatan permintaan atas energi adalah dampak dari pertumbuhan dan mobilitas penduduk, serta industri yang menjadi bagian dari fenomena negara berkembang. Penduduk yang mengalami kenaikan taraf hidup akan melakukan konsumsi energi yang lebih besar daripada sebelumnya, dikarenakan telah memiliki kemampuan untuk membeli alat transportasi ataupun elektronik yang tadinya tidak terbeli. Mobil, motor, tv, komputer, ac, kompor, hp adalah sebagian contoh dari barang sehari-hari yang ada di sekeliling kita dan memerlukan energi.

Bisa membayangkan bagaimana jika negara kita mengalami krisis energi?

BBM yang langka bisa memicu konflik (seperti yang sering kita lihat di berita-berita ketika terjadi kelangkaan BBM di beberapa daerah maka akan terjadi antrian panjang yang tak jarang berujung pada aksi demo), kereta yang tidak terpenuhi energi listriknya tidak dapat beroperasi, rumah dan kantor-kantor akan gelap dan tidak bisa beraktivitas karena ketiadaan listrik, tidak dapat memasak kecuali menggunakan kayu bakar, tidak ada lampu di malam hari, hp yang lowbat tidak dapat di recharge, jalur komunikasi terputus dan segala keadaan tadi akan menimbulkan kerusuhan yang membahayakan stabilitas negara serta kelangsungan hidup kita sendiri. Seringkali kita menganggap remeh atas apa yang mudah kita temukan sehari-hari, padahal hal tersebut sangat krusial dan kita akan “lumpuh” tanpa kehadirannya: energi.

Nah, sebenarnya kita sangat bisa turut berpartisipasi untuk menghambat laju konsumsi energi. Ingat: every small act counts dan semuanya berawal dari diri sendiri! Para pengguna kereta atau lebih sering disebut roker (rombongan kereta), saya termasuk di dalamnya, dan pengguna sarana transportasi publik adalah mereka yang turut serta melakukan penghematan konsumsi BBM. Diperkirakan dalam sehari Commuter Line (CL) mengangkut 400.000 penumpang. Bagaimana jika penumpang CL ini memutuskan untuk menggunakan kendaraan pribadi? Selain macet, maka polusi dan konsumsi BBM juga pasti meningkat drastis!

Tidak bisa dipungkiri jika sarana transportasi publik di Indonesia masih perlu melakukan banyak perbaikan. Namun demikian, bukan menjadi alasan bagi kita untuk tidak andil dalam menghemat energi. “Kalau naik kereta pasti desak-desakan”, pasti sering kan mendengar komentar seperti itu? Dengan berangkat lebih pagi sebenarnya dapat dikatakan “sekali dayung dua pulau terlampaui”, semakin pagi kita meninggalkan kamar/rumah, maka konsumsi energi di rumah juga menurun karena kita mematikan lampu dan alat elektronik lainnya lebih awal. Selain itu, kereta dan transportasi publik lainnya juga pasti lebih lengang jika kita berangkat lebih pagi :).

Kalau kata Mahatma Gandhi sih

Be the change you want to see in the world”.

Mari menjadi agen perubahan untuk Indonesia yang lebih baik. Kurangi konsumsi energi, kurangi beban negara!

*Gambar diambil dari kenney-mencher.blogspot.com

Opini Pribadi: Aksi Protes PPI Berlin – Jerman

Saya pertama kali melihat video youtube mengenai aksi protes PPI Berlin – Jerman atas kunjungan DPR Komisi I ke Jerman beberapa waktu yang lalu adalah ketika salah satu kelompok di kelas sedang melakukan presentasi untuk mata kuliah Metode Penelitian HI. Video yang berdurasi 9 menit 40 detik itu menggambarkan cuplikan kegiatan anggota dewan selama di Jerman dan sikap protes yang dilakukan oleh PPI di sana.

Pada awalnya saya merasa antusias, akhirnya mahasiswa berbuat sesuatu untuk mengingatkan anggota dewan atas urgensi, analisa, dan solusi mengenai alasan dan pelaksanaan kunjungan anggota dewan ke Jerman yang menghabiskan dana yang tidak sedikit dan memakai uang rakyat, sementara para mahasiswa yang menimba ilmu mungkin sebagian besar malah menggunakan uang sendiri, uang orang tua atau beasiswa dari negara lain dan masih banyak hal yang bisa diperbaiki dengan uang 2M.

Saya, pribadi, juga cukup jengah dan lelah mendengar berita mengenai sikap yang kurang bijak, kurang berempati dari anggota dewan untuk studi banding ke luar negeri, yang seringkali dilakukan dengan sistem bedol desa (berbondong-bondong bersama sanak keluarga) tanpa adanya transparansi dana, program, hasil capaian selama kegiatan tersebut berlangsung. Apakah anggota dewan yang terhormat masih belum cukup belajar dari kejadian-kejadian yang telah lalu?

Mengenai point yang diutarakan oleh pewakilan PPI Berlin – Jerman, saya cenderung sependapat. Namun, aksi walkout tersebut bukanlah aksi heroik dan fair. Menurut saya, seorang mahasiswa porsinya adalah mampu memberi dan menerima kritik, mau didengarkan dan mendengarkan, bukan secara sepihak membombardir “dosa” dan meninggalkan “ruang pengadilan” begitu saja tanpa mendengarkan penjelasan dari “tersangka”. That’s not fair at all. Dan tidak dapat disalahkan jika kemudian timbul opini-opini yang menduga aksi PPI Berlin – Jerman ditunggangi oleh kepentingan lain.

Selamat berjuang mahasiswa!

Tentang Sedekah

*nyapu-nyapu blog, udah lama ditinggal empunya*

Apa kabar saudara-saudara? Jadi kagok karena kelamaan nggak nulis. Jadi kali ini saya akan membagikan cerita tentang sedekah.

Untuk yang punya twitter dan follow ustad atau orang-orang yang terus menyebarkan tentang sedekah dan manfaatnya, pasti sudah sering membaca kredo

Belilah kesusahan dan mimpimu dengan sedekah

Yang belum follow @yusuf_mansur, @aagym dan @muhammadassad mari di follow. Mendekatlah dengan hal yang positif, agar ketularan juga 🙂

Jadi ceritanya sejak pertengahan februari, kerjaan di kantor mulai mengular antriannya mirip antrian di depan loket KA yang tidak kunjung dibuka; banyak dan tidak habis-habis. Sampai-sampai saya “cuti” dari dunia per YM an, dan teman saya menanyakan keberadaan saya :D.

Sebenarnya kalau pekerjaan banyak dan lingkungan kerja kondusif secara terus menerus sih tidak ada masalah. Namun namanya juga manusia, beda kepala beda isi hati, tekanan pekerjaan juga bisa mempengaruhi emosi, akhirnya muncul juga yang namanya “gesekan-gesekan” yang sungguh tidak mengenakkan karena menguras pikiran dan emosi tentunya. Menguras air mata juga? Pasti! *eh curcol* *fokus-fokus* Baca lebih lanjut

Block, Unfollow, Remove Friend from Circle, Unsubscribe

Walaupun istilahnya beda-beda: Block, Unfollow, Remove Friend from Circle, Unsubscribe, tapi intinya tetep satu yakni cara agar news feed, status atau timeline orang tertentu tidak terbaca oleh kita.

I don't want to follow you

Emang sih ya namanya juga social media, orang bebas mengutarakan pendapatnya, pikirannya. Lantas rulenya? Entahlah, saya juga tidak paham, jujur saja. Tapi ketika ada status atau TL yang sengaja atau tidak sengaja terbaca dan menimbulkan penyakit hati, memang sudah saatnya menggunakan fasilitas yang disediakan oleh social media tersebut. Kita tidak punya hak untuk mengekang orang berpendapat, namun kita bisa menggunakan hak kita untuk meminimalisir efek buruknya.

Sorry to say,

Judging people will not make you look either cooler or smarter #justsaying. And though you’ve had a higher grade, it doesn’t mean you have skill or respect to other #tendangjauhjauh.

Di Antara Jalanan Jakarta

Judulnya oke banget buat judul film :p. Kali ini saya akan bercerita pengalaman saya selama berada di Jakarta dan menggunakan transportasi umumnya.

Kos saya ada di daerah Karbela, jadi lebih dekat dari halte busway sekitar Kuningan daripada deretan Setia Budi. Kalau hari kerja saya akan naik P20 ke arah Senen, sedangkan kalau liburan akan naik P66 yang ke arah Blok M (keliatan bener mainnya ke mana :p). Nah saya yang sudah terbiasa hunting sendiri awalnya ya cuek saja naik P66 sampai suatu hari ketika saya bertemu dengan oknum anak jalanan yang naik ke kopaja yang saya tumpangi. Mereka berdua, dengan gaya bicara berkecepatan tinggi, kurang lebihnya mengatakan:

bapak-bapak dan ibu-ibu ya, kami di sini mencari sesuap nasi ya bapak ibu ya, kami tidak ingin mencopet maupun menjambret blablabla, sebagai sesama manusia sudah selayaknya kita saling menolong bapak ibu ya blablabla…

Ya intinya seperti itu. Sekali lagi, mereka datang dengan berbicara dalam kecepatan tinggi tanpa berusaha untuk sekedar mengamen atau yang lain. Kemudian mereka menyodorkan tangan ke penumpang. Masalahnya adalah ketika saya tidak ingin memberi uang, maka tangan dia akan semakin di arahkan ke badan saya. Otomatis saya akan berusaha melindungi diri dengan menjauhkan badan saya dari jangkauannya. Tapi namanya kopaja bisa sejauh apa menghindarnya sih? Semakin saya berusaha menjauh, maka tangannya disodorkan semakin mendekat. Hal ini membuat saya merasa diancam. Oke, memang mereka tidak membawa senjata, tapi perilaku seperti ini membuat orang merasa tidak aman. Bukan juga karena saya pelit, should I give them?  Baca lebih lanjut

Umur

Saya hanya ingin menuliskan fenomena yang selama ini saya amati. Ya mungkin things have changed dan hal ini merupakan salah satu respon bagi mereka yang ada di dalamnya *duh kok berat bahasanya*.

Jadi gini, saya merasa kalo saya sedang berada di lingkungan yang mempermasalahkan umur. Menurut saya sih ya (mengingat Indonesia (konon kabarnya) adalah negara demokratis, boleh dong saya punya pendapat), we can’t stop adding ages karena itu merupakan proses alamiah, we are human.

Nah yang membuat saya bingung adalah mengapa umur menjadi masalah ketika orang belum menikah? Mungkin emang culture, I accept it. But when I find younger people make jokes to the older one, yang saya pikirkan adalah belum tentu lo yang lebih muda bisa merasakan dan melewati umur yang sama dengan yang lebih tua :p. You can make jokes about someone’s age, but there’s no guarantee you’ll pass her/him current age. 

Dan yang lebih tua, is it that hard to accept your actual age? Menurut saya yang sebenarnya menjadi masalah adalah your achievement or what you have done not only for your self but also for your surroundings.

I am 26 yo and still being a single. So? 😉

“Pernikahan Masa Kini dan Melajang Terlalu Lama”

FIMELA LUNCHEON; Pernikahan Masa Kini dan Melajang Terlalu Lama | FIMELA – Indonesian Online Fashion & Lifestyle Magazine.

Padahal mata sudah mengantuk, tetapi internet masih serasa memukau hingga pada akhirnya saya menemukan artikel ini. Saya juga heran sih ya, sini yang belum menikah, tapi kok ya situ yang repot. Mungkin terlalu peduli pada kehidupan kami-kami ini yang masih melajang, padahal kami ini ya menikmati kok. Tapi, makasih lo ya yang sudah pada khawatir :D.

Sepertinya memang sudah menjadi budaya, kutukan, kebiasaan, atau apa ya nama yang pas untuk menyebutnya, jika umur sudah 25++ dan masih terlihat melajang, pasti akan mengalami masa you have to be creative to answer the same question. Jawaban saya cukup variatif sih sampai sekarang, apalagi kalo mood saya sedang bagus. Kalau tidak, hehehe, monggo dicoba, yang keluar asap naga mungkin :lol:.

Biasanya kalau ditanya soal “kapan nyusul”, “kapan nikah” dsb, saya akan menjawab:

  • Doakan deh segera *edisi kalem*.
  • Carikan sekalian mas-mas yang oke deh ya *edisi agresif*.
  • Oh, segera kok. Si mas sedang mengurus visa biar bisa tinggal di Indonesia *edisi doa*.
  • Sebentar lagi, masnya sedang dalam perjalanan kemari *edisi realistis*.
  • Ibu/Bapak punya anak atau keponakan yang keren yang seumuran atau lebih tua dari saya? *edisi usaha*
  • Sayang sekali kita tidak compatible makanya saya memilih untuk mencari pria lain *edisi sadis*.
  • Menunggu masa pendidikan selesai *edisi jawaban ala BPS*.
  • Masnya sedang menyelesaikan kuliah/business trip *edisi doa*.
  • Oooh, tenang, kalau ingat pasti akan saya undang kok 😉 *edisi shut your mouth*.
  • Ah nanti kalau saya menikah kamu bakal minder, karena suami saya lebih keren dari situ/suamimu :p *edisi doa orang teraniaya dan semoga dikabulkan*
  • Ini sedang direncanakan *edisi wedding planner*
  • Kasihan kamu nanti kalau patah hati melihat saya dinikahi pria lain *edisi kepedean*.
Yah begitulah, dan serentetan jawaban kreatif lainnya. Welcome to the club 😉

The beauty of a view depends on the position where we stand.
 

For all single ladies in the world, keep being positive and enjoying your ride..

Sweets For Kids

Sweets for Kids adalah project pribadi yang terfikirkan ketika aku sedang menikmati me-time (baca: glebakan di kasur sambil laptopan) sepulang melaksanakan aktivitas minggu yang luar biasa menyenangkan: menemani adik-adik Taman Ilmu belajar.

Aku merasa bahwa rasa peduli itu perlu ditumbuhkan, kebaikan-kebaikan kecil perlu dibiasakan. Kakakku pernah menceritakan sebuah kisah tentang seseorang yang senantiasa mengantongi permen atau makanan kecil, dan makanan tersebut akan dibagikan kepada anak-anak kecil yang dijumpainya di jalan. Dan hal ini membukakan salah satu pintu surga baginya. Luar biasa bukan?

Tujuan dari project ini adalah untuk mengetahui seberapa besar kepedulianku secara praktis pada lingkungan sekitar. Sering kali aku kepikiran kalau ingin melakukan hal ini adalah “nggak ah, ntar dikira penculik anak yang mengiming-imingi permen ke anak-anak kecil” >.<. Memang banyak kasus yang diberitakan di tv mengenai tindakan kriminal yang diawali dengan memberi iming-iming jajan pada anak-anak. Kepikiran juga, "trus ntar kalo aku disinisin orang tuanya gimana?". Tapi ya sudahlah, pikiran-pikiran seperti itu yang akan menghambat untuk berbuat sesuatu.

Seperti kata Mahatma Gandhi Be the change you want to see in the world,” so do something even though a small thing and no one see it.

Small thing that you do could brighten someone's day


Jadi yang perlu aku lakukan adalah ketika aku pergi aku harus membawa makanan kecil apapun bentuknya, dan makanan tersebut akan aku berikan kepada anak yang aku temui di jalan. Aku sangat tertarik untuk melihat reaksi mereka. Jika ada di antara reader yang membaca dan melakukan hal serupa, diposting yaaa dan diberi tag SweetsForKids jadinya kita bisa saling berbagi pengalaman ;).

We’ve already accepted many things, so it’s time to start giving :).

Culture Shock

Hari ini adalah hari keduaku berada di “dunia lain”, sejak memutuskan resign dari perusahaan terdahulu. Kalo ditanya apa yang berbeda antara perusahaan lama dan yang sekarang, maka jawabannya adalah lumayan.

Wajar saja si awal-awal pasti banyak adaptasi dan rasa shock, la masih sehari di sini :D. Kalo ngantor di Cikarang, brangkat ngantor jam 7, pake seragam kaos dan clana, alas kakinya? bebas selama bukan sandal, dan memakai jeans itu legal. Pas jam makan, bakal antri, porsi diambilin sama pihak vendor yang melayani.

Dan di sini? Pake celana kain dan hem (oke masih wajar, karena perkantoran) untuk kegiatan sehari-hari. Yang bikin beda adalah *drum roll* waktu makan juga musti pake celana kain, baju berkerah dan bersepatu, tidak boleh sepatu sandal -_-, celana jeans juga ilegal (berlaku untuk setiap kali makan, meski itu hari libur). Aku yang sebelumnya amat sangat jarang memakai hem (punya juga cuma 2), waktu boyongan ke sini cuma bawa 2 hem putih untuk kegiatan training, kemarin sampe gempor muterin ITC Permata Hijau buat nyari hem yang dipake buat makan.

Suasana makan lebih mirip kondangan; pakaian rapi dan prasmanan. Hari ini kegiatan dimulai jam 9 untuk penandatanganan kontrak, dan jam sarapan adalah jam 6 – 7 pagi. Maka aku dan 2 orang teman sekamarku (Pipit dan Gita, fotonya aku upload belakangan aja karena belum sempet foto-foto), memutuskan untuk makan dulu dan setelah makan baru naik lagi ke kamar (yang di lantai 6) untuk mandi :lol:.

Di mana bumi dipijak, di situ langit di junjung. Dan semoga jam 5 sudah bisa balik ke kamar untuk nonton Gu Jun Pyo beristirahat dan membaca novel belajar.

Aku masih mengalami Cikarangsick, kalo homesick uda terbiasa si :p.