Special in My Eyes

Belakangan saya senang mendengarkan salah satu stasiun radio di Jakarta karena it comes with good and nice songs. Saya memutar lagu ini berulang-ulang :D. Bisa dijadikan soundtrack sebagai pengingat masa-masa akhir pendidikan saya selama 1 tahun ini ^^. Hope you like it too.

Special in my eyes
since you’re in my life
always on my mind
so special in my eyes

everyday and night
i feel i found home
and singing you this song
you never be alone
special in my eyes

My heart’s a stereo
It beats for you, so listen close
Hear my thoughts in every no-o-o-te
Make me your radio
And turn me up when you feel low
This melody was meant for you
Just sing along to my stereo

 

 

Beautiful Farewell

This is what I saw from my desk, and I thought it’d be a loss if I didn’t take a picture of it.

Sometimes things are more beautiful than usual at the end of their presence, because there is no guarantee for the next day. There is no guarantee that they will emit the same rays.

Don’t go, I’ll show you what it’s like to be loved

Student’s Room

It’s been a while, as I remember, since the last time I woke up in the middle of the night only for a reason: to learn. And today, I do this again because tomorrow I have to present a presentation as a simulation before I face my test next month.

When I was in college, learning means there are a lot of papers strewn on both of my table and bed. But nowadays, this is a capture of things that lie on my small table..

And what’s on my bed? Sebastian only :p.

Have a nice day all :*.

Time Flies So Fast

Setelah membaca postingan teman saya ini, saya jadi menghitung kembali sudah berapa bulan yang saya lewati untuk menempuh masa pendidikan saya selama 1 tahun. Dan ternyata, sudah 11 bulan! When I look back, I can say “time flies so fast“. Banyak yang terjadi selama 11 bulan ini tentunya, new born babies dari keluarga dan teman, pernikahan, kehamilan, rasa pengen jalan-jalan yang sudah sedemikian ditahan-tahan, dan masih banyak lagi.

Selain segala keterbatasan dan kehidupan yang awalnya seperti roller coaster, saya juga mendapatkan banyak pengalaman, ilmu dan teman baru tentunya, priceless. Satu ramadhan juga sudah saya lewati di sini, entah bagaimana ramadhan selanjutnya :). Rasanya saya sekarang sedang antri untuk mendapatkan tiket menuju pintu ke mana saja, yang bisa memberi saya kebebasan untuk jalan-jalan di hari libur tanpa perlu menunggu memo atau surat ijin hehe, menyenangkan. Meskipun tiketnya harus dibayar dengan paper dan presentasinya.

Memang benar keputusan saya dan teman saya ini untuk pindah memang keputusan besar. Awalnya ketika masih dalam tahapan tes-tes, saya juga tidak terbayang bisa terbiasa dengan uang saku yang jumlahnya tidak sebanyak gaji saya di perusahaan lama. But money isn’t everything, rejeki sudah ada yang mengatur dan tak pernah tertukar :). Malam sebelum saya pergi menandatangani surat persetujuan mengikuti pendidikan, saya malah nangis sesenggukan ketika ditelpon bapak. Bapak saya malah ketawa “kenapa kamu nangis? Padahal kamu dikasih kesempatan baik”. Beda sih ya perempuan sama laki-laki, saya kan banyak memakai perasaan :p.

Tanggal 10 November 2011 saya akan kembali ke asrama di Simprug, meninggalkan hiruk pikuk persaingan mendapatkan kursi di Kopaja. Saya akan kembali di classroom, menghadapi serangkaian uji saji, yudisium, dan keputusan kelulusan. Semoga mendapatkan hasil yang baik, baik hasil kelulusan maupun penempatan, bagi saya dan semua teman sebatch yang sudah berjuang bersama-sama.

Oh ya buat yang butuh move on, pindah tempat kerja bisa dipertimbangkan lo ^^.

Block, Unfollow, Remove Friend from Circle, Unsubscribe

Walaupun istilahnya beda-beda: Block, Unfollow, Remove Friend from Circle, Unsubscribe, tapi intinya tetep satu yakni cara agar news feed, status atau timeline orang tertentu tidak terbaca oleh kita.

I don't want to follow you

Emang sih ya namanya juga social media, orang bebas mengutarakan pendapatnya, pikirannya. Lantas rulenya? Entahlah, saya juga tidak paham, jujur saja. Tapi ketika ada status atau TL yang sengaja atau tidak sengaja terbaca dan menimbulkan penyakit hati, memang sudah saatnya menggunakan fasilitas yang disediakan oleh social media tersebut. Kita tidak punya hak untuk mengekang orang berpendapat, namun kita bisa menggunakan hak kita untuk meminimalisir efek buruknya.

Sorry to say,

Judging people will not make you look either cooler or smarter #justsaying. And though you’ve had a higher grade, it doesn’t mean you have skill or respect to other #tendangjauhjauh.

Bacalah, Iqra!

Emang ya Allah itu Maha Tahu *yaiyalah, ke mana aja neng?*, udah dari jaman nabi dan rasul disuruh “Iqra, iqra, iqra”.

Sahabat saya tau persis my excessive feeling of worry mengenai pemahaman saya seputar pekerjaan. My current job desc is totally new thing for me, since I never touched SAP and business process before (including accounting thing). Maka, jadilah saya beberapa waktu lalu curhat mengenai kedudulan dan kelambatan saya dalam menguasai materi. You know the worry feeling, ketika kita harus meeting atau berhadapan dengan (katakanlah) klien atau user dan kita sendiri tidak menguasai bidang pekerjaan kita, pasti yang tadi nyalinya segede macan blesteran bule yang rajin fitness berubah menjadi kucing kampung kurang gizi kecemplung got. Drastis!

Saya tau persis kapasitas otak saya yang menganut pakem jawa “alon-alon asal kelakon” , yang membuat saya harus make sure my understanding and hands on untuk memahami pelajaran baru. Sahabat saya mengatakan sepertinya saya hanya kurang porsi untuk membaca, berasa ditabok memang. Kebetulan saya punya konsultan baru, cewek yang umurnya nggak beda jauh dari saya, memberikan kitab untuk dipelajari yang menjadi trigger saya kembali ke kehidupan mahasiswa beberapa hari belakangan: begadang ayo begadang. Bedanya dengan jaman kuliah adalah kalau dulu siang bisa dipakai beristirahat, sementara sekarang saya harus bekerja sampai sore.

Alasan cape pulang kerja itu memang sesuatu banget, sesuatu yang sungguh menenggelamkan niat belajar. Ya bagaimana, kalau badan sudah nempel di kasur kok ya ndak mau LDR an barang beberapa jam saja. Boro-boro ya mau belajar, mandi aja sukur-sukur kalo sadar :p. Intinya, saya ingin segera mandiri, at least saya tahu apa yang saya hadapi setiap hari. Kadang kalo saya pikir orang pdkt selama 6 bulan pastinya harus ada kemajuan dong ya, tau apa makanan kesukaan yang di-pdkt-in misalnya, masa iya saya pdkt sama si kerjaan saya ini ga ada kemajuannya, malu ah.

Membaca, selain meningkatkan pengetahuan juga bisa meningkatkan rasa percaya diri. Jika pemahaman kita kurang, bukan berarti IQ kita lebih rendah, tapi dikarenakan jam terbang yang masih sedikit. Untuk meningkatkan jam terbang: begadanglah! :p

Mungkin ada yang mau baca atau butuh tips mengenai How To Study, bisa mampir ke sini.

 Lah, katanya belajar, kok malah nulis blog *ditoyor*. 

Di Antara Jalanan Jakarta

Judulnya oke banget buat judul film :p. Kali ini saya akan bercerita pengalaman saya selama berada di Jakarta dan menggunakan transportasi umumnya.

Kos saya ada di daerah Karbela, jadi lebih dekat dari halte busway sekitar Kuningan daripada deretan Setia Budi. Kalau hari kerja saya akan naik P20 ke arah Senen, sedangkan kalau liburan akan naik P66 yang ke arah Blok M (keliatan bener mainnya ke mana :p). Nah saya yang sudah terbiasa hunting sendiri awalnya ya cuek saja naik P66 sampai suatu hari ketika saya bertemu dengan oknum anak jalanan yang naik ke kopaja yang saya tumpangi. Mereka berdua, dengan gaya bicara berkecepatan tinggi, kurang lebihnya mengatakan:

bapak-bapak dan ibu-ibu ya, kami di sini mencari sesuap nasi ya bapak ibu ya, kami tidak ingin mencopet maupun menjambret blablabla, sebagai sesama manusia sudah selayaknya kita saling menolong bapak ibu ya blablabla…

Ya intinya seperti itu. Sekali lagi, mereka datang dengan berbicara dalam kecepatan tinggi tanpa berusaha untuk sekedar mengamen atau yang lain. Kemudian mereka menyodorkan tangan ke penumpang. Masalahnya adalah ketika saya tidak ingin memberi uang, maka tangan dia akan semakin di arahkan ke badan saya. Otomatis saya akan berusaha melindungi diri dengan menjauhkan badan saya dari jangkauannya. Tapi namanya kopaja bisa sejauh apa menghindarnya sih? Semakin saya berusaha menjauh, maka tangannya disodorkan semakin mendekat. Hal ini membuat saya merasa diancam. Oke, memang mereka tidak membawa senjata, tapi perilaku seperti ini membuat orang merasa tidak aman. Bukan juga karena saya pelit, should I give them? Baca selebihnya »

Friends Are The Siblings God Never Gave Us

Feels like home mungkin deskripsi perasaan saya ketika berada di kantor. Ya bukan berarti bisa tidur-tiduran gulung sana sini juga, cuma betah aja so far. Kurang lebih sudah 7,5 bulan saya OJT di kantor ini, dan 10,5 bulan saya menjalani masa pendidikan dari total 12 bulan (dipotong 1 minggu untuk libur pendidikan).

Awal masa menghadapi OJT saya mengalami keparnoan to the max, membayangkan situasi kerja yang masih absurd dan yang pasti akan berbeda dengan kultur di kantor saya sebelumnya, bagaimana kalau saya tidak bisa mengikuti ritme kerja, susah menyesuaikan diri dsb. Ternyata lagi-lagi God knows us well 🙂 *yaeyalah*. Masa-masa ini saya merasakan:

The future is scary but you can’t just run back to the past because it’s familiar. Yes it’s tempting, but it’s a mistake – HIMYM

God gives me best partners and seniors, ya meskipun saya dibully secara lisan dulu :p. Tidak hanya urusan pekerjaan saja, kami juga berteman dalam hal berburu makanan.

Posisi meja di kantor itu berhadap-hadapan dengan pembatas rendah, ada untung dan ruginya sih. Keuntungannya akan lebih memudahkan untuk berkomunikasi, membajak makanan, pinjam telpon kantor, dan ceng-cengan. Kerugiannya ya bakal eneg ngeliat yang duduk di depan kita :p. Kebetulan satu booth saya itu berisi 4 orang, sisa lajang di dalam tim. Untuk lebih memudahkan, saya perkenalkan ketiga rekan kerja dan teman saya.Baca selebihnya »

French or Deutsch?

Sungkem-sungkem dulu sama yang baca deh sebelum posting. Mohon maaf lahir batin ya teman-teman, walau pun memang agak telat tapi kan ini masih bulan Syawal *maksa*.

Sudah lama ingin cerita ini itu di sini, tapi kalau memang tidak diiringi niat yang kuat ya tidak akan terwujud. How’s life? I hope it is as colorful as rainbow. Eh udah September ya, alhamdulillah, masa OJT tinggal 2 bulan lagi insya Allah *kayang kegirangan*. Hari ini saya juga menerima hasil penilaian periode ketiga dari asisten manager saya, senang karena nilainya meningkat. Final paper saya (Kertas Kerja Wajib) juga bisa dikatakan 80% selesai, semoga tidak ada revisi yang mengkhawatirkan ketenangan saya dalam menonton drama korea #salahfokus.

Bagaimana dengan mudik kalian? Mudik saya kemarin seperti tur antar kota antar propinsi: Jakarta – Jogja – Kediri – Nganjuk – Mojokerto – Pare – Kediri – Jogja – Jakarta. Walaupun melelahkan, tapi menyenangkan sekali rasanya berkumpul dengan keluarga dan bermain dengan keponakan baru saya. Waktu berkumpul dengan keluarga, kakak saya yang mendapat giliran untuk dijodoh-jodohkan :p. Lalu saya bertanya ke bapak, kok saya nggak sekalian. Habis ngobrol sana sini, obrolan kami menyimpulkan profesi pria dengan penghasilannya. Kata bapak, profesi yang sekarang bisa memiliki penghasilan tinggi adalah *jeng jeng jeng* pemain bola :lol:.

Tadi siang saya mendapat komen dari pembaca yang nyasar ke blog ini. Menyenangkan sekali rasanya membaca komen tersebut, sampai-sampai bisa mengalahkan rasa malas saya untuk memposting sesuatu di sini. Beberapa waktu lalu saya memang sempat galau *halah* karena waktu kelulusan semakin dekat. Jika sudah selesai masa pendidikan ini, saya ingin kembali ke bangku perkursusan bahasa. Akhir tahun lalu saya mangkir dari ujian kenaikan tingkat di CCF dikarenakan saya harus masuk asrama dan dikirim ke belantara Cibodas. Dan, saya menyadari satu hal: les bahasa prancis itu ngangenin, tanpa mempedulikan seberapa begonya saya di kelas.

Kata si mas:

Bonjour,
votre niveau de français est très honorable.
Je vous suggère de voir le film d’Amélie Poulain ou de “bienvenue chez les chti” qui sont des grands succès internationaux.
En lecture, les auteurs classiques ne manquent pas, c’est facile de trouver ce qu’il vous plait sur l’Internet.

Bon courage pour la suite.

Philippe

Intinya kemampuan bahasa prancis saya very honorable :”>. Kasihan, masnya nggak tahu kalau saya menggunakan bantuan google translate saat menulis posting dalam bahasa prancis. Tadinya saya berencana untuk berpaling ke Gothe, karena saya merasa perlu belajar bahasa jerman dengan alasan yang tidak perlu saya tuliskan di sini. Tapi karena kerinduan saya untuk belajar bahasa prancis dan komentar di atas, membuat saya menjadi galau. 

Yang mana sebenarnya yang harus dipilih? Apakah yang kita sukai atau yang kita butuhkan? French or Deutsch? Ya sudahlah akan saya pikirkan lagi, sekarang waktunya menghadapi kenyataan: meneruskan mengerjakan KKW :p.

 

49 Days

Ini adalah 20 episode serial drama korea yang saya lihat weekend kemarin. Sekilas drama ini tidak ada bedanya dengan serial drama korea yang lainnya: stylish, fashionable, nice setting places, nice soundtrack etc. Awalnya saya kecewa sih karena aktornya tidak setampan Lee Min Ho, tapi saya tetap menonton karena penasaran akan ceritanya.

Serial ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Ji Hyun yang memiliki kehidupan 9/10, seems perfect: orang tua yang menyayangi dia, cantik, materi berkecukupan, calon suami yang keren dan mencintainya, she has the dream world. Dia pewaris tunggal perusahaan orang tuanya. Sang calon suami, Kang Min Ho, looks like a hard to find guy dan akan menjadi pimpinan perusahaan orang tua Ji Hyun setelah mereka menikah.

Namun sayang beberapa hari sebelum pernikahannya, Ji Hyun mengalami kecelakaan mobil beruntun akibat ada Song Yi Kyung, seorang perempuan yang ingin bunuh diri dengan menyeberangi jalan dan berusaha menabrakkan dirinya pada truk yang melintas. Song Yi Kyung berhasil diselamatkan oleh dokter yang selama ini memang memberikan perhatian kepadanya, namun sayang ruh Ji Hyun lepas dari jiwanya yang menyebabkan dia berada dalam keadaan koma.

Ji Hyun bertemu scheduler, sosok yang digambarkan sebagai pihak yang memastikan bahwa orang-orang mati pada waktu dan saat yang telah ditentukan oleh schedule takdir. Ji Hyun diberikan waktu 49 hari oleh scheduler untuk mengumpulkan 3 air mata dari orang-orang yang tulus mencintainya, selain mereka yang memiliki ikatan keluarga, untuk bisa hidup kembali. Sementara sang scheduler sendiri meninggal pada usia 23 tahun dan voluntary menjadi scheduler agar bisa mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan urusan dunianya yang belum terselesaikan ketika dia meninggal. Ringkasan cerita bisa dibaca di sini.

Drama ini membuat saya berfikir, what if I were in Ji Hyun’s position.

Saya tidak pernah tahu kapan saya akan mati, saya juga tidak tahu apakah akan ada yang menangisi saya dengan tulus jika saya sedang koma. Respon orang ketika saya mengalami musibah atau mungkin dalam keadaan koma/mati sebenarnya menjadi pembuktian whether I have lived well or not, how deep I left my footprints or how much I was coloring their life.

Saya jadi menyadari kalau saya banyak menyia-nyiakan waktu, menggunakannya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan mengaburkan fokus saya atas apa yang seharusnya saya lakukan di dunia. Saya juga jarang atau kurang show my feeling for my family and people around me about how I love them and thankful for having them in my life. Hal-hal yang terlihat sepele dan feeble (atau istilah kerennya menye-menye) yang biasanya justru menyesakkan ketika saya menyadari bahwa saya belum menyampaikan dan melakukannya, selain ibadah dan bekal untuk hari penghakiman kelak tentunya.

Mungkin dengan membayangkan dengan berada pada akhir batas waktu kita hidup di dunia and we take a look back what we’ve done bisa menjadi cermin tentang what should we do and how to live this life well. Setelah menonton 49 days saya juga jadi lebih berhati-hati menyeberangi jalan dan berharap punya Han Kang.

Have a good life, pals.