Hug

I woke up earlier this morning. The morning silence perfectly can bring an atmosphere that drag me to realize what i feel indeed. I was searching an article and suddenly i found a Free Hugs video on the site. I watched it, and i cried.

Lately, i work harder to make the distance between me and my dreams closer. I feel enthusiastic, but deep down inside i feel scared for sure. There’s no another word beside “what if”. The scare wrapped my heart for one minute or two, and i think a free hug can make me feel better.  Baca lebih lanjut

Iklan

Mamah Ga Boleh Gitu Lagi

Beberapa hari yang lalu menjelang jam 11 malam, aku masih terbangun dan mendengar pembicaraan antara mbak penjaga kosku dan anak laki-lakinya yang berusia 3 tahun.

Si Mamah tanpa sengaja menyenggol mainan si anak hingga terjatuh dari kasur. Sambil terkantuk-kantuk beranjak untuk membuatkan sebotol susu.

Si anak : Mah, mamah harus minta maaf dulu. Maah..

Si mamah : Iya.. Sedikit tidak menggubris karna sudah sangat mengantuk dan tetep mengaduk susu.

Si anak : Mamah kan salah, jadi harus minta maaf dulu.. Maenan Danu kok dijatuhin.

Si mamah : Iya, mamah minta maaf.

Si anak : Nah gitu. Lain kali jangan gitu lagi ya Mah..

Dan aku pun tersenyum lebar dari dalam kamar.
Anak sekecil inipun menuntut keadilan. Tauladan yang baik, tak akan segan untuk meminta maaf dan mengaku salah.

Terima kasih atas pelajaran kali ini, mbak.

God Rescues Me..

Mau disadari atau tidak, Allah selalu memberikan keajaiban-keajaiban padaku. Dari small things sampe yang besar. Dan aku bersyukur atas semuanya (dan semoga ga lupa untuk slalu bersyukur).

Mulai dari waktu aku mudik lebaran kemarin.

  1. God saved me in the airport shuttle bus. Waktu itu busnya penuh banget. Dan hanya tersisa 1 seat. Sebenernya ada orang yang lebih dulu dateng dari aku, tapi dia keluar lagi dari busnya karna ngeliat busnya sesek. Trus aku masuk dan celingukan, emang penuh kayaknya. Dan aku tanyakan pada supirnya, masi ada seat apa ga. Kata supirnya coba liat di belakang. Ternyata bener, masi ada 1. Dan penumpang setelah aku? Mereka berdiri ato duduk di tangga.
  2. Pesawatnya pas udah sampe Malang (aku turun di Malang), harus muter2 di atas agak lama dulu dan sempet ga stabil karna banyak awan. Rasanya udah pasrah aja, kalo emang takdir mengatakan pesawatnya harus jatuh. But God saved me. Pesawatnya landing dengan selamat.
  3. Karna rumah orang tuaku di Kediri, jadinya harus naik bus lagi atau naik travel biar bisa sampe rumah. Waktu itu aku putuskan untuk ngebus, karna kalo naek travel bakal kemaleman sampe rumah. Akirnya aku buru-buru ke terminal dan ternyata yang aku naiki adalah bus terakir yang berangkat ke Kediri untuk sore itu. God saved me again. Alhamdulillah.

Itu untuk hal-hal yang bisa dilihat mata. Dan masih ada lagi.

Ketika aku ngrasa sesek karna masalah relationshipku, God gives me some help. Make me realize that He’s the best place to rely on.

  1. I have nice people around. Mulai dari temen kantor, temen kuliah dan keluarga. They make me feel better. Thanks anyway.
  2. Hari pertama masuk kerja, leaderku membagi pengalamannya dalam urusan hati dan jodoh. Ringkasannya:  beliau menjalin hubungan (pacaran) selama 8 tahun. Awalnya sang kekasih belum memakai jilbab, sampai pada akhirnya memakai cadar dan agamanya makin kuat. Mungkin ini juga karna doa beliau yang meminta pada Allah agar sang kekasih tadi dijadikan lebih baik. Karna tidak berjumpa selama 1-2 minggu dan permasalahan lain (termasuk takdir), sang kekasih dilamar pria lain. Dan bukan sang kekasih tadi yang kini menjadi istrinya. Aku jadi berfikir, walo nyesek, rasanya 3,5 tahun belum apa-apa dibanding 8 tahun.
  3. Masa up and down masi ada hingga tadi malam. I did a lot of mistakes to him. And make me feel guitly somehow. Rasa sakit ketika mengetahui semua rencana, harapan dan janji menguap gitu aja di depan mata. Rasa sakit mengingat telah kehilangan orang yang disayangi datang lagi. Dan hari ini lagi-lagi God rescues me, lewat Tifa yang mempostkan quotes dari film He’s just not into you:

    Girls are taught a lot of stuff growing up.
    If a guy punches you he likes you.
    Never try to trim your own bangs and someday you will meet a wonderful guy and get your very own happy ending.

    Every movie we see, Every story we’re told implores us to wait for it, the third act twist, the unexpected declaration of love, the exception to the rule.

    But sometimes we’re so focused on finding our happy ending we don’t learn how to read the signs.
    How to tell from the ones who want us and the ones who don’t, the ones who will stay and the ones who will leave.

    And maybe a happy ending doesn’t include a guy, maybe… it’s you, on your own, picking up the pieces and starting over, freeing yourself up for something better in the future.

    Maybe the happy ending is… just… moving on.
    Or maybe the happy ending is this, knowing after all the unreturned phone calls, broken-hearts, through the blunders and misread signals, through all the pain and embarrassment you never gave up hope.

    (He’s just not into you – quote – movie)

    Dan aku menyadari, di pintuMu aku bersimpuh dan tersungkur. Lagi.

Sing For Mom..

This song makes me deep down inside, to realize that i miss my mom so much. She’s the best place to rely on beside God, she’s the warmest home.

Chinese by Lily Allen

I see you from the sky
And I wonder how long it will take me to get home
I wait for an hour or so at the carousel
I have a cigarette to pass the time
Cause the traffic’s hell

I don’t want anything more
Than to see your face when you open the door
You’ll make me beans on toast and a nice cup of tea
And we’ll get a Chinese and watch TV
Tomorrow we’ll take the dog for a walk
And in the afternoon then maybe we’ll talk
I’ll be exhausted so I’ll probably sleep
And we’ll get a Chinese and watch TV

You wipe the tears from my eye
And you say that all that it takes is a phone call
I cry at the thought of being alone and then
I wonder how long it will take til I’m home again

I don’t want anything more
Than to see your face when you open the door
You’ll make me beans on toast and a nice cup of tea
And we’ll get a Chinese and watch TV
Tomorrow we’ll take the dog for a walk
And in the afternoon then maybe we’ll talk
I’ll be exhausted so I’ll probably sleep
And we’ll get a Chinese and watch TV

I know it doesn’t seem so fair
But I’ll send you a postcard when I get there

I don’t want anything more
Than to see your face when you open the door
You’ll make me beans on toast and a nice cup of tea
And we’ll get a Chinese and watch TV
Tomorrow we’ll take the dog for a walk
And in the afternoon then maybe we’ll talk
I’ll be exhausted so I’ll probably sleep
And we’ll get a Chinese and watch TV

Woman and Career

Until this time, i am still confused about the boundaries of women emancipation, the issue that’s used by women to get the same right especially on career field. 21th April is commemorated as Kartini Day, the woman who fought for the women emancipation.

Previously, on Raden Ayu Kartini era, women didn’t have right to get a good education. They just stayed at home and belong to bedroom, kitchen and draw-well. You can read about Kartini on this link. I am writing this, just want to share my opinion, no offense. I just want to write something from my thought, as a woman.

Nowadays, many men are asking about the natural tendency of a woman, because there’re a lot of career women. Is it right to choose for being a career woman than being a housewife? I can’t give you a good answer, because it depends on the person and the situation. I’ll give you some reasons why i need to have my own job, especially my own earning.

  1. I need to have a community and environmental associations. I mean, if I just be a housewife, I can’t get much information and experiences about many things. In office, me and my friends can share our thought and vision about something.
  2. There’s no guarantee from my future husband to fulfill the household necessities. Then, I have to stand and support my (future) husband. I don’t want something bad to happen neither to my children nor my marriage that’s caused by my weak financial foundation.
  3. There’re already a lot of cases that bother me, a husband can leave his wife and children just for another or others woman. Nice case that scare me, some women are married by jerks. Then, the wife will be taking care of the children, and covering all of the needs including the education’s cost. What will happen if the wife doesn’t have a job?.
  4. If I have an earning, I can spend it to do many things without bothering my (future) husband earning that will be used to cover the household necessities. I don’t want to add burden on his solder to fund my shopping expenses.
  5. If I have a job from now on and keep it going, I can fight for reaching a better career and better earning. Then, when my children are growing up in the next several years, I already have a good job and earning, I hope. And, I can take care of them without the feeling of guilty or worry about their future.
  6. As long as I am single, I can help others or try to make my family happy with what I’ve got.

Yap, that’s all. But, it’s not right if a woman just focus to her career, and ignore her family.

Don’t go against the nature as a woman.

Harapan Itu..

Jadi juga hari minggu kemaren maen ke Dharmais Cancer Hospital bersama beberapa teman untuk mengunjungi adek-adek di sana. Kami membawa kaos polos dan cat supaya mereka bisa menggambar di atas kaos itu.  Ini pertama kalinya aku melakukan kegiatan seperti ini. Rasanya…. sungguh membahagiakan.

Melihat tangan mereka digelayuti selang infus, miris rasanya, iba. Tapi mereka sungguh luar biasa. Di usia semuda itu, sudah merasakan berjuang melawan maut. Sedangkan di luar sana, banyak orang yang menyia-nyiakan kesempatan hidupnya dan berfikir bahwa dia sedang menanggung beban berat, lebih berat dari siapapun. Yang sesungguhnya beban itu gada apa-apanya dibanding dengan perjuangan hidup mati adek-adek di Dharmais.

Sherly, balita 3 tahuanan yang sedang lucu-lucunya. Harusnya anak seusia dia tengah senang-senangnya berlarian ke sana sini. Tapi kenyataan berkata lain, dia harus menjalani waktu bermainnya dengan ditemani kain masker di lorong ruangan anak Dharmais.

Ada juga Ikhsan. Kira-kira udah SMP. Waktu kami dateng, Ikhsan baru kelar di kemo. Badannya kurus, ga bisa ngomong juga. Kulit di sekitar lehernya juga mengelupas. Kata mas Deny (volunteer di sana) efek kemo itu juga memberikan dampak negatif lain bagi penderita, seperti rambut rontok dan sariawan yang bejibun di mulut sampai ke tenggorokan. Bayangin aja, 1 sariawan di bibir aja udah perih rasanya, trus gimana rasa sakit yang tengah dihadapi Ikhsan.

I just want to hug them, stroke their hair, and say “everything is gonna be okay, dont worry…”.

Orang tua adek-adek itu pun sungguh-sungguh luar biasa. Ada seorang bapak bercerita gimana usahanya mencari 30 kantong darah untuk anaknya yang baru kelar di kemo. Si bapak menghubungi rekan-rekan dan saudaranya, sayangnya hanya 15 orang yang bisa menyumbangkan darah untuk sang anak. Lalu si bapak pergi ke PMI, mencari kantong-kantong darah yang memberikan sedikit harapan untuk memperpanjang kebersamaannya dengan sang anak di dunia. Jika kalian punya kesempatan untuk mendonorkan darah, donorkanlah. Karena kantong-kantong darah itu akan menyelamatkan nyawa orang lain.

Aku juga melihat foto-foto yang ditempel di sana. Ada 1 bagian yang bertuliskan “In Memoriam”. Aku berusaha memahami apa yang mereka rasakan saat melihat satu persatu temannya meninggalkan mereka, kemudian fotonya dipajang di sana. Seperti antrian, bahwa suatu saat (mungkin) tiba juga giliran mereka. Aku tak mampu membayangkan, ketakutan seperti apa yang tengah mereka lawan. Harapan dan semangat hidup adalah obat yang cukup mujarab untuk memperpanjang sampai entah ke titik mana keberadaan mereka di tengah-tengah keluarga.

Dan kehangatan mereka menyambut kami di tengah kesulitan dan kesedihan yang teramat, membuatku ingin kembali ke sana. Mereka sangat hangat, santun. Aku hampir melinangkan air mata saat berpamitan dan memberikan kotakan-kotakan kue kecil itu. Satu persatu dari mereka mencium tangan kami dan mengucapkan terima kasih. Padahal kami tidak melakukan sesuatu yang berharga.

“I have cancer, but the cancer doesn’t have me.

img_4772

img_4774

img_4783

img_4797

img_4788

img_4812

img_48131

Wanita Tangguh

Pagi ini kakakku mengirimkan pesan singkat, yang sangat singkat. Berisi kegagalannya dalam tes masuk salah satu departemen di negara ini. Ini bukan pertama, kedua, kelima atau kesepuluh kegagalan yang diterimanya.

Entah apa yang berkecamuk di batinnya. Aku pun tak pernah tau. Kereta api, bis, mengantarnya dalam menjalani satu persatu tes keparat itu. Kegagalan demi kegagalanlah berita yang selalu diterimanya.

Puluhan atau mungkin lebih dari seratus map coklat itu telah dikirimnya ke berbagai tempat. Untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya, walaupun dia juga telah memiliki pekerjaan saat ini.

Dan dia tak pernah lelah untuk mencoba dan mencoba lagi. Wanita tangguh, pikirku. Karena aku (mungkin) takkan mampu menerima sebagian kegagalannya dengan segala kemudahan yang aku terima dari dulu hingga sekarang.

Teruslah berusaha, kami mendoakanmu 🙂 .

Sang Wajah Teduh

Sang wajah teduh.

Aku menemuinya di lantai atas Blok M Plaza, di tempat yang kurang layak untuk dijadikan tempat beribadah pada sebuah pusat perbelanjaan. Ya, aku menemui pemilik wajah teduh di tengah hiruk-pikuk ibukota.

Bukan di tempat mahal, dan bahkan mungkin terlupakan oleh orang yang sibuk berbelanja dan bekerja. Musholla.

Sang wajah teduh.

Bukan pengunjung yang sedang menunaikan kewajibannya di tempat itu. Beliau adalah penjaga lusinan pasang sandal kayu yang tak baru. Yang layu karena disiram air oleh ribuan kaki yang singgah.

Ku titipkan sepasang sandalku padanya. Beliau tersenyum santun dan ramah.

Ku berikan secarik kertas bertuliskan angka “55” dengan selembar uang seribu. Beliau memberikan sandalku dengan hati-hati, sandal bututku yang dijaganya penuh amanah. Sambil tetap menebarkan senyum ikhlasnya, seikhlas angin yang menyejukkan Jakarta siang itu.

Berat hati beranjak. Tapi aku harus pulang. Banyak yang ingin ku tanyakan padanya. Mendengarnya bercerita tentang kisah-kisahnya, tak akan aku bosan bertanya.

Aku pergi. Dari balik kacamata, ku berusaha memandang wajahnya lagi. Wajah yang, ahhh aku gagal menggambarkannya. Yang luar biasa. Sungguh.

Beliau menata uang ribuan tadi, dengan penuh syukur dan senyum yang tak lekang oleh materi.

Aku iri.