Hail The Freedom Day

Yihaaa, i have a good news. Tomorrow will be the last day of C-Terrible-Programming-Class. Hihihihi. I love it. Basically, im interested to learn C or others programming languages, but not in this way (i cant tell you bout this). Im not a fast learner, and i need time to understand a thing.

To celebrate the freedom, i’ll watch movies, read novel and comics that i neglected during attendance the C Class. I expect nothing from the C final test, which will be held tomorrow. But i’ll give my effort on it.

Other news, i heard that Angel and Demon movie will be launched on May 15th. Im very very exited to watch it in movie theater even though i havent finished read the novel. It would be better if i watch it in XXI Cinema hihii.

Woman and Career

Until this time, i am still confused about the boundaries of women emancipation, the issue that’s used by women to get the same right especially on career field. 21th April is commemorated as Kartini Day, the woman who fought for the women emancipation.

Previously, on Raden Ayu Kartini era, women didn’t have right to get a good education. They just stayed at home and belong to bedroom, kitchen and draw-well. You can read about Kartini on this link. I am writing this, just want to share my opinion, no offense. I just want to write something from my thought, as a woman.

Nowadays, many men are asking about the natural tendency of a woman, because there’re a lot of career women. Is it right to choose for being a career woman than being a housewife? I can’t give you a good answer, because it depends on the person and the situation. I’ll give you some reasons why i need to have my own job, especially my own earning.

  1. I need to have a community and environmental associations. I mean, if I just be a housewife, I can’t get much information and experiences about many things. In office, me and my friends can share our thought and vision about something.
  2. There’s no guarantee from my future husband to fulfill the household necessities. Then, I have to stand and support my (future) husband. I don’t want something bad to happen neither to my children nor my marriage that’s caused by my weak financial foundation.
  3. There’re already a lot of cases that bother me, a husband can leave his wife and children just for another or others woman. Nice case that scare me, some women are married by jerks. Then, the wife will be taking care of the children, and covering all of the needs including the education’s cost. What will happen if the wife doesn’t have a job?.
  4. If I have an earning, I can spend it to do many things without bothering my (future) husband earning that will be used to cover the household necessities. I don’t want to add burden on his solder to fund my shopping expenses.
  5. If I have a job from now on and keep it going, I can fight for reaching a better career and better earning. Then, when my children are growing up in the next several years, I already have a good job and earning, I hope. And, I can take care of them without the feeling of guilty or worry about their future.
  6. As long as I am single, I can help others or try to make my family happy with what I’ve got.

Yap, that’s all. But, it’s not right if a woman just focus to her career, and ignore her family.

Don’t go against the nature as a woman.

In The Morning Sun

Sunday morning, im sitting down on the terrace. The sun appears and shed the light, give me warmth. The wind blows my face softly. What a beautiful life..

Today is the last day of my long weekend. I woke up earlier (at 6.30 am ^0^ ), and bring my laptop to the terrace. I want to sunbathe, and browse for songs on youtube. I get one beautiful song from Ricardo Munoz (again), the title is “In The Morning Sun”. I recommend you to listen this song ^^.

I love to wake up in the morning and breath in the fresh air. I can feel the might of God, the fineness of nature and sky. Outside, i can get better internet connection too ^_*.

Happy holiday everybody. I keep playing with my laptop and browsing, maybe i can find the way to join with a social community. One of my dream..

My Personality

Click to view my Personality Profile page

Ahahaha, am i a social butterfly? I really love it ^_*.

ESFJ – The “Supporter”

ESFJs are social butterflies that value relationships, supporting and nurturing others. Never one to shy away from social events, they are often the host. They are great encouragers of teamwork. ESFJs are responsible, dutiful, observe traditions and follow rules. ESFJs have a deep concern for others and often end up as caretakers. They are sensitive to criticism and have a need to be appreciated for the good they do for others. ESFJs are understanding, generous, have a quick wit and a knack for composition and beautification.

Harapan Itu..

Jadi juga hari minggu kemaren maen ke Dharmais Cancer Hospital bersama beberapa teman untuk mengunjungi adek-adek di sana. Kami membawa kaos polos dan cat supaya mereka bisa menggambar di atas kaos itu.  Ini pertama kalinya aku melakukan kegiatan seperti ini. Rasanya…. sungguh membahagiakan.

Melihat tangan mereka digelayuti selang infus, miris rasanya, iba. Tapi mereka sungguh luar biasa. Di usia semuda itu, sudah merasakan berjuang melawan maut. Sedangkan di luar sana, banyak orang yang menyia-nyiakan kesempatan hidupnya dan berfikir bahwa dia sedang menanggung beban berat, lebih berat dari siapapun. Yang sesungguhnya beban itu gada apa-apanya dibanding dengan perjuangan hidup mati adek-adek di Dharmais.

Sherly, balita 3 tahuanan yang sedang lucu-lucunya. Harusnya anak seusia dia tengah senang-senangnya berlarian ke sana sini. Tapi kenyataan berkata lain, dia harus menjalani waktu bermainnya dengan ditemani kain masker di lorong ruangan anak Dharmais.

Ada juga Ikhsan. Kira-kira udah SMP. Waktu kami dateng, Ikhsan baru kelar di kemo. Badannya kurus, ga bisa ngomong juga. Kulit di sekitar lehernya juga mengelupas. Kata mas Deny (volunteer di sana) efek kemo itu juga memberikan dampak negatif lain bagi penderita, seperti rambut rontok dan sariawan yang bejibun di mulut sampai ke tenggorokan. Bayangin aja, 1 sariawan di bibir aja udah perih rasanya, trus gimana rasa sakit yang tengah dihadapi Ikhsan.

I just want to hug them, stroke their hair, and say “everything is gonna be okay, dont worry…”.

Orang tua adek-adek itu pun sungguh-sungguh luar biasa. Ada seorang bapak bercerita gimana usahanya mencari 30 kantong darah untuk anaknya yang baru kelar di kemo. Si bapak menghubungi rekan-rekan dan saudaranya, sayangnya hanya 15 orang yang bisa menyumbangkan darah untuk sang anak. Lalu si bapak pergi ke PMI, mencari kantong-kantong darah yang memberikan sedikit harapan untuk memperpanjang kebersamaannya dengan sang anak di dunia. Jika kalian punya kesempatan untuk mendonorkan darah, donorkanlah. Karena kantong-kantong darah itu akan menyelamatkan nyawa orang lain.

Aku juga melihat foto-foto yang ditempel di sana. Ada 1 bagian yang bertuliskan “In Memoriam”. Aku berusaha memahami apa yang mereka rasakan saat melihat satu persatu temannya meninggalkan mereka, kemudian fotonya dipajang di sana. Seperti antrian, bahwa suatu saat (mungkin) tiba juga giliran mereka. Aku tak mampu membayangkan, ketakutan seperti apa yang tengah mereka lawan. Harapan dan semangat hidup adalah obat yang cukup mujarab untuk memperpanjang sampai entah ke titik mana keberadaan mereka di tengah-tengah keluarga.

Dan kehangatan mereka menyambut kami di tengah kesulitan dan kesedihan yang teramat, membuatku ingin kembali ke sana. Mereka sangat hangat, santun. Aku hampir melinangkan air mata saat berpamitan dan memberikan kotakan-kotakan kue kecil itu. Satu persatu dari mereka mencium tangan kami dan mengucapkan terima kasih. Padahal kami tidak melakukan sesuatu yang berharga.

“I have cancer, but the cancer doesn’t have me.

img_4772

img_4774

img_4783

img_4797

img_4788

img_4812

img_48131

Rencana Akhir Pekan

Yiiiihaaa besok minggu, I LOVE SUNDAY. Minggu kemaren udah diiisi dengan acara arisan di Plaza Semanggi dan jalan-jalan ke Kota Tua. Cukup melelahkan dan menyenangkan. Besok, aku dan beberapa rekan kerja (aish, temen di kantor maksudku) akan berkunjung ke RS Darmais untuk bermain dengan adik-adik di sana.

Ini tadi Mbak Lala, seniorku, mendapat kabar dari pihak RS, katanya si kami bisa membawa beberapa kaos putih polos yang nantinya akan kami warnai bersama adik-adik di tempat perawatan kanker di sana. Dari dulu banget ini salah satu impianku, bisa jadi relawan untuk kegiatan sosial. Alhamdulillaah mulai dibukakan jalan ke sana.

Aku ga sabar untuk bertemu dengan mereka, berbagi kebahagiaan yang kami miliki. Ah rasanya malu sekali jika aku harus berkeluh kesah karena bosan atau lelah bekerja, karna sesungguhnya aku dikaruniai umur dan kesehatan yang tak ternilai harganya.

Pray for me guys, semoga aku ga nangis di sana dan bisa menghibur mereka (walo sedikit).

Sedang Bosan

Lagi merasa bosan mampus di kantor. Ga tau mau ngapain biar bosennya bisa hilang. Padahal ga terlalu cape si, kemaren juga pulang (agak) sore jam 17.30. Tidur awal juga. Harusnya hari ini badan seger.

Tapi gtau, mood lagi jelek kali ya jadi bawaannya malas dan bosan huhuhu. Enaknya ngapain si kalo bosan gini?

Just My Dreams

Kalo mau dilist, mimpi-mimpiku tu banyak banget. Biar ga lupa, sebagian ditaroh di sini aja. Maklum, IQ ku tiarap jadi jangan berharap banyak ahahahah.

  1. pengen belajar tentang bisnis ato komunikasi publik ato apalah yang diperlukan untuk menjadi seorang PR. Maklum, aku amatiran dalam masalah ini. Progress: nyari-nyari jurusan program pasca sarjana di beberapa universitas lokal.
  2. someday pengen jualan produk Indonesia ke luar negeri, semacam batik ato kerajinan tradisional. Biar mereka tau kalo Indonesia itu ada. Progress: belum ada^^.
  3. pengen berkecimpung di dunia tulis menulis ato broadcast hehehe (hope someday i will be a writer *ngayal*). Progress: nulis blog, baca-baca blog atau buku macem-macem, liat-liat lowongan editor ^^.

Sementara itu aja dulu, kalo kebanyakan ntar malah tidak terlaksana satupun (amit-amit). Smangat!

Gada salahnya kan bermimpi? Semua itu berawal dari mimpi dan keinginan. Tuhan juga ga akan mengubah nasip suatu kaum kalo mreka sendiri ga ingin mengubahnya. Entah nanti tercapai atau tidak, yang penting udah berusaha 🙂 .

Mukena

Aku suka heran, heran banget malah. Soal mukena.

Biasanya orang selalu berlomba-lomba untuk membeli pakaian mahal, parfum, perhiasan emas, kosmetik, dan sebangsanya, hanya untuk mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari orang lain. Biar dianggap modis, cantik, gaya, gaul, keren, dan entah apa lainnya.

Ratusan ribu dihabiskan untuk membeli sebuah atasan baru yang lagi tren. Untuk bawahannya, dihabiskannyalah lagi ratusan ribu yang lainnya. Setiap hendak pergi ke mall atau main dengan temannya, dikenakanlah pakaian-pakaian beserta perlengkapan mahal itu. Disertai dengan parfum supaya komplit. Masih kurang, diumbarlah ratusan ribu lagi untuk mentraktir teman-temannya, agar eksistensinya kian tak terbantahkan.

Lalu, datanglah saat untuk menunaikan solat fardhu.

Bergantilah dia dengan baju tidur yang lusuh, butut dan berlubang. Bau keringat yang menyeruak dari ketiak pun tak dihiraukan. Hanya sekedar berwudhu dan mengenakan mukena dianggap telah pantas untuk menghadap Sang Pencipta dan Pemilik.

Diambillah mukena bau yang lama tidak dicuci. Berjamur dibagian kepala dan dagu karena tak sempat menjemurnya selepas sholat. Mukena yang telah dikenakan 2 tahun dan kendur di bagian karet pinggangnya, jadi perlu peniti atau ditali dulu sebelum dipakai agar tidak melorot di tengah-tengah rakaat.

Aku, bukanlah orang yang alim dan santun pada Tuhanku. Bukan orang yang mematuhi segala perintahNya. Aku tau itu. Dan dengan ini aku juga tidak berniat menghakimi atau menceramahi siapapun. Tapi hanya untuk bercermin dan menasehati diri sendiri.

Tidakkah hal yang aku ceritakan di atas adalah salah? Mengapa kita selalu berlomba untuk mendapatkan nilai plus di mata mahlukNya, dan tidak berlomba untuk tampil cantik, harum dan rupawan dihadapanNya? Pantaskah mukena berjamur itu dikenakan untuk meminta keselamatan dunia akhirat? Pantaskah mukena bau itu digunakan untuk memohon agar kita diberi rezeki berlimpah yang bisa digunakan untuk membeli baju baru (lagi)? Pantaskah kita pergi ke FO kenamaan untuk sebuah kaos ketat mengumbar aurat yang menghabiskan dua ratus ribu, dan pergi ke pasar becek untuk mendapatkan mukena dengan harga termurah?

Ya Allah, bimbinglah hatiku dan saudaraku untuk selalu mengingat dan menyembahMu dengan segala yang terbaik dari apa yang kami miliki. Hingga kami menjadi mahluk mulia dalam pandanganMu. Amiin.

Wahai saudaraku, periksa lagi sarung dan mukenamu. Adakah yang perlu diperbaiki di situ? 🙂

My First Day with 8 am

Yaaaa, first monday with the new rules in my office is such a disaster.

Biasanya masuk kerja jam 7 pagi, dan bis jemputan dateng jam 6.20, ideal banget mengingat perjalanan dari kos ke kantor hanya memerlukan waktu 10-15 menit. Dan sekarang ada kebijakan baru,  demi cost down perusahaan meningkatkan taraf hidup karyawan dan efektifitas jam kerja, maka mulai hari ini jadi masuk jam 8 pagi. Okelah. Enak juga bisa minum susu, liat infotainment pagi (mental ibu rumah tangga) dan bermalas-malas di pagi hari. Tapi, the powerful rules menyebutkan bahwa: bis jemputan tetep dateng jam 6.30 WIB!.

Tadinya udah mulai bermalas-malasan, bangun jam 6 trus mandi. Maunya berangkat jam 7.30 nebeng temen biar ga kelamaan nunggu bel masuk. Eh ternyata takdir berkata lain, hujan deras dari tadi malem ga berenti. Terpaksa jam 6.50 keluar kos menuju gerbang tempat bisnya mangkal, dari pada naek motor dan mandi untuk kedua kalinya. Dan bis berangkat 20 menit kemudian karena menunggu anak-anak lain yang belum juga dateng.

The next disaster was begun waktu turun dari bis dan ngantri nyecan id card. Antrian yang naujubilah dan dalam keadaan hujan kayak gitu, mesin scannya juga ngadat. Ckckckc, what a great work place!. Clana dan sepatu basah. Untung aja bawa sandal yang baru dibeli kemaren dan mirip dengan sandal kantor. Ga jadi masuk angin deh ^^.

Oh iya, metal detector juga udah dipasang. Masih lengkap dengan plastik pembungkusnya. Umm, atap koridor sepanjang penempatan metal detector itu bocor lo. Dan kenapa ga dibenerin dulu atep plastik yang bocor sebelum metal detector nan mahal dan anggun itu dipasang?