Komunikasi ala LDR: Jauh di Mata Dekat di Hati

Menjalani LDR mungkin memang hal yang tidak diimpikan setiap orang, tapi ada kalanya kita harus menghadapi hidup yang tidak menyediakan banyak pilihan. Bagi para pelaku LDR pasti paham betul kondisi jauh dari significant other beserta kendala yang harus dihadapi sebagai konsekuensi jarak hingga perbedaan waktu.

Menurut saya sih jarak, LDR ataupun enggak, komunikasi yang baik adalah hal yang penting dalam menjalin sebuah hubungan. Ga jarang yang deket lebih sering ribut daripada yang jauhan. Ya gimana pinter-pinternya para pelaku dalam menjalin komunikasi aja sih. Nah, sebagai pelaku LDR yang beda negara, lintas benua dan samudra, dengan selisih waktu dua belas jam (waktunya di Jakarta tidur di sana sedang lunch, dan sebaliknya), kami perlu memanfaatkan kemudahan yang diberikan oleh teknologi untuk berkomunikasi yang tentunya dikombinasikan dengan cara-cara konservatif agar tetap bisa mengamalkan “jauh di mata dekat di hati” tanpa harus berat di dompet :p.

Gitu deh 😀

Gambar diambil dari sini
Baca lebih lanjut

Komunikasi, Yuk!

Pernah ga sih ngrasa “horor” ketika ingin berkomunikasi dengan seseorang? Parno aja gitu bawaannya. Sebenarnya bukan karena orang yang ingin diajak komunikasi tersebut menyeramkan, tapi kadang saya merasa tidak siap dengan penolakan.

Masih dalam rangkaian persiapan solo trip ke Eropa di bulan Agustus mendatang, tanggal 24 Juni 2015 saya mendapatkan jadwal untuk pembuatan visa di Kedutaan Belanda di Jakarta setelah mendaftar online sebulan lalu. All was well until my new boss decided to reschedule a meeting to the date, padahal awalnya meeting [yang seharusnya saya hadiri juga untuk mendampingi beliau] tersebut diadakan pada tanggal 23 Juni 2015. Kegalauan pun terjadi. Oleh karenanya, saya menyiapkan beberapa opsi sebagai upaya ikhtiar.

Opsi pertama, melobi jadwal. Awalnya saya mencoba melobi mbak-mbak sekretaris di kantor yang terlibat untuk mengatur jadwal bos saya dan bosnya bos saya agar saya bisa hadir di meeting dan juga bisa dapet visa. Berhasil? Tentu tidak, karena bosnya bos saya sudah padat jadwalnya. Coret opsi pertama *sigh*. Baca lebih lanjut