Komunikasi ala LDR: Jauh di Mata Dekat di Hati

Menjalani LDR mungkin memang hal yang tidak diimpikan setiap orang, tapi ada kalanya kita harus menghadapi hidup yang tidak menyediakan banyak pilihan. Bagi para pelaku LDR pasti paham betul kondisi jauh dari significant other beserta kendala yang harus dihadapi sebagai konsekuensi jarak hingga perbedaan waktu.

Menurut saya sih jarak, LDR ataupun enggak, komunikasi yang baik adalah hal yang penting dalam menjalin sebuah hubungan. Ga jarang yang deket lebih sering ribut daripada yang jauhan. Ya gimana pinter-pinternya para pelaku dalam menjalin komunikasi aja sih. Nah, sebagai pelaku LDR yang beda negara, lintas benua dan samudra, dengan selisih waktu dua belas jam (waktunya di Jakarta tidur di sana sedang lunch, dan sebaliknya), kami perlu memanfaatkan kemudahan yang diberikan oleh teknologi untuk berkomunikasi yang tentunya dikombinasikan dengan cara-cara konservatif agar tetap bisa mengamalkan “jauh di mata dekat di hati” tanpa harus berat di dompet :p.

Gitu deh😀

Gambar diambil dari sini

Koneksi Internet

Fondasi dari segala asas pemanfaatan kecanggihan teknologi adalah koneksi internet yang lancar. Kalau pas voice/video call putus-putus gitu kan bisa bikin emosi dan pengen banting hp tapi diurungkan karena cicilan belum lunas. Sebelumnya saya yang menggunakan im3 memilih untuk berlangganan paket internet kuota yang 200ribuan sebulan. Kadang segitu juga masih kurang sih, jadi beli kuota tambahan. Kalau perlu kerja menggunakan laptop, hp bisa dipakai untuk tethering juga. Tapi dengan cara seperti ini kasian hp yang gampang panas dan baterainya juga gampang habis.

Atas rekomendasi dari teman, akhirnya saya mencoba untuk berlangganan GIG dengan jaringan fiber optic dari Indosat yang unlimited dan dikenakan tarif 275ribu sebulan untuk kecepatan 5 Mbps. Dunia emang terasa lebih indah dengan koneksi internet yang stabil dan ga putus-putus, termasuk buat steaming nonton film. Karena kalau di rumah udah bisa pake wifi GIG ini, maka pilihan paket internet untuk hp dikurangi jadi yang 50-100ribuan aja biar irit dan tiap hari terpacu untuk menjalankan arahan Mario Teng-Go “pulanglah segera setelah selesai jam kerja”.

Whatsapp

Gambar diambil dari sini 

Aplikasi jutaan umat ini pasti menjadi salah satu pilihan utama bagi mereka yang perlu berkomunikasi dengan murah dan cepat. Selain untuk chatting, whatsapp sejak awal 2015 menyediakan fitur untuk melakukan panggilan berupa voice call yang “free” atau dibayar dengan menggunakan kuota internet. Selama ini saya ga pernah ngecek berapa kuota yang dihabiskan setiap kali menggunakan fitur ini, tapi pasti harganya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan tarif SLI (Sambungan Langsung Internasional) apalagi kalau call-nya berjam-jam :p.

Sejauh ini Whatsapp menjadi aplikasi favorit kami untuk berkomunikasi jika menggunakan gadget berupa handphone.

Google Hangout

Selain untuk chat, dan voice call, Hangout juga menyediakan fitur video call. Dibandingkan dengan Skype, berdasarkan pengalaman kami, Hangout lebih less demanding terhadap kecepatan akses internet. And I can say that we love Hangout more than Skype. Belakangan kami juga udah ga pernah skype-an lagi sih.

Facetime

Bagi para pengguna produk Apple, Facetime bisa digunakan untuk voice dan video call. Menurut Sandi sih kualitas gambar dan suaranya lebih baik dibandingkan aplikasi lain yang pernah kami gunakan. Setelah ada Facetime, kami mulai berpaling dari Hangout deh😀. Kesetiaan emang ada harganya, yakni pelayanan yang memuaskan dan tiadanya pilihan lain :p

Email

Email juga jadi alternatif komunikasi terutama bagi mereka yang “jam edarnya” di dunia maya berbeda karena keterbatasan akses internet. Email juga bisa lebih memorable karena kita bisa membaca secara lengkap apa yang diutarakan oleh lawan bicara, beda dengan chat yang sepotong-sepotong dan bersifat obrolan harian.

Surat/Kartu Pos

Jaman dulu ketika internet belum membumi seperti sekarang, surat menjadi alat komunikasi bagi mereka yang tinggalnya berjauhan. Sabar-sabar ya orang jaman dulu😀.

post card

Lovely post card

Meskipun lama dan bikin orang nunggu-nunggu, surat/kartu pos ini bikin seneng si penerima karena pasti ada effort tambah bagi pengirim untuk membuktikan niat dan kesabarannya. Bayangin aja dimulai dengan membeli kartu pos, nulis dengan tangan dan mikirin apa yang akan dituliskan di situ, trus musti ke kantor pos atau tempat-tempat tertentu buat ngiriminnya. Saya sendiri seneng banget ketika ditelpon mbak resepsionis di apartement dan diberitahu kalau ada kartu pos buat saya. Kalau lagi kangen apa berantem kan bisa dibaca lagi atau diijadikan bahan pengingat manisnya waktu rukun😀.

SMS

Emang udah agak ga jaman lagi sih ya mengirimkan pesan dengan menggunakan sms selama ada koneksi internet. Tapi ketika gada internet, sms juga membantu. Hal ini terjadi ketika saya sedang solo trip dan tidak ada wifi. Meskipun mahal karena dikenakan tarif roaming internasional (kalau ga salah 7500 sekali sms), ya tetap saya gunakan karena tidak ada alternatif lain.

Hingga saat ini sih saya belum bisa menggunakan telepati jadi masih mengandalkan fasilitas yang sudah saya tuliskan di atas😀. Kalau kamu, biasanya berkomunikasi menggunakan apa?

31 thoughts on “Komunikasi ala LDR: Jauh di Mata Dekat di Hati

  1. denaldd berkata:

    Aku selama LDR dan LDM an, ga pernah sekalipun skype-an, face time an, pokoknya ngobrol muka ketemu muka ga pernah. Kami berdua memang tipe konvensional. Cuman bermodal whatsapp, telpon dan email2an saja. Line pun kami tak ada. Meskipun komunikasi baik, bukan berarti jauh dari “cakar2an lho” ada saja yang bikin cranky *ini aku haha.
    Kawin itu murah kok. Gratis kalo senin sampai jumat dikantor KUA. Bayar 600rb kalo sabtu-minggu dilakukan dirumah. Ngundang saudara seperlunya saja.
    -testimoni veteran LDM dan LDR 😅😅😅

  2. Muhammad Akbar berkata:

    LDR beda negara emang banyak masalah yang dihadapi, tapi bagaimana yang LDRan beda dunia, kebayang gak tuh rumitnya.

    Sebagai pelaku LDR yang pernah gagal dan sekarang menjalani lagi LDR, yang paling penting itu memang komunikasi sih, selain itu rasa saling percaya. Percuma komunikasi lancar tapi kalau tidak ada percaya dengan pasangannya masing2 sama saja bohong, pasti tiap harinya curiga terus.

    *kok curhat sih*

    • Safitri Sudarno berkata:

      *kasih tisu ke Akbar* Sabar yaaa :p
      Eh LDR beda dunia tuh yang gimana? Kok horor sih =))

      Iya bener, aku baru kepikiran juga ttg poin saling percaya. Bener banget! Kamu pasti udah banyak pengalaman LDR ya?😀

  3. Asop berkata:

    Btw saya baru tau ada istilah SO atau significant other pas saya ngikutin 9gag.:mrgreen:
    Temen2 saya yang bukan 9gagger ga ada yang tau SO itu apa. Tahunya sebatas spouse.😆

    Aih… ngebahas LDR…
    Kalo mbahas LDR, memang kembali ke rasa percaya ke masing2 dan rasa cintanya.
    Kalo memang mereka saling cinta, maka pasangan LDR itu ga akan pernah mau selingkuh.
    Tapi memang namanya godaan itu ada… untung aja saya ga pernah LDR. Tapi dari semua kawan saya yang berpengalaman LDR (tapi ga sampe lintas benua kayak Mbak Fit) dalam negeri, 9 dari 10 orang mengaku gagal. Mereka gak tahan gak bertemu dalam waktu lama. Dan mereka mengakui godaan datang silih berganti (ga cuma cowok, tapi cewek juga tergoda).
    Satu orang dari 10 itu yang berhasil karena ia melamar ceweknya, karena ga tahan hidup berjauhan.😆

Habis maen komen dong :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s