(Nobody Wants To Be) The Man Who Hardly To Be Moved

Sepertinya lagu “The Man Who Can’t Be Moved” milik The Script adalah lagu kebangsaan sejuta umat \m/.

Seriously, moving on for some  people is an agony. But we have to believe, every effort is useful stride and not a wild goose. Ya ya, kadang rasanya seperti sebelah kaki kita berniat untuk melangkah ke depan,  tapi kaki yang satunya terjebak dalam perangkap tikus yang entah dipasang oleh siapa. Sakit? Tentu saja ^^.

Time will heal, of course. Masalahnya adalah berapa lama waktu yang diperlukan untuk benar-benar bisa move on? Sehari, seminggu, sebulan, setahun ato satu dekade? *ngetok meja 3x, amit-amit de*.

Dalam proses healing inilah masalah dan (yah untuk kerennya katakanlah) tantangan akan bermunculan. Yang perlu dipersiapkan adalah mental, tissue dan beberapa perangkat lain tentunya (yang akan aku sebutkan di bawah). Ga jarang, proses ini menimbulkan perang batin yang melelahkan yang mungkin terjadi antara keadaan sadar vs perasaan *alaaah*. Untuk lebih gampangnya, aku akan menyebut orang yang perlu untuk move on ini sebagai “penderita” dan pihak yang menyebabkan adanya penderita disebut saja dengan jerk “tersangka”.

Berdasarkan pengalaman *halah curcol*, ada beberapa step yang bakal dilalui oleh penderita dalam proses healing:

  1. Bleeding scars, ini adalah step awal. Rasa nyerinya luar biasa😆. Karena kalo diumpamakan, maka ini adalah luka baru yang muncul setelah penderita terkena kecelakaan (misalnya). Belum diobati apapun, masih berdarah-darah dan melepuh *ouch*.
  2. Unstoppable tears. Jelas, ini adalah efek manusiawi dari step pertama. Hati terasa berat untuk dibawa ngapa-ngapain, pengennya tiduran ato menyepi. Pada tahap ini, penderita bisa nangis di manapun dan kapanpun setiap kali bertemu dengan hal yang mengingatkan pada tersangka. Hal-hal tersebut bisa berupa: sms, foto, facebook, lagu, aroma parfum, makanan kesukaan tersangka, harta gono-gini pemberian tersangka, tempat yang pernah dikunjungi, film, dan banyak lagi. Dalam step ini, tiba-tiba akan sangat banyak hal yang bisa mewakili perasaan penderita dan mengingatkan penderita pada tersangka. Dan satu-satunya alasan yang masuk akal untuk menjelaskan mengenai fenomena alam ini adalah: kepala penderita masih dipenuhi oleh tersangka, rasa benci, dendam, sakit hati dsb. Sebaiknya kendalikan diri untuk memecahkan barang-barang atau apapun yang bersifat destruktif, karena hanya akan menambah kerugian materiil semata😀.
  3. Perang batin. Setelah penderita merasa bosan oleh looping yang dilakukannya pada step ke-2, maka otak sadarnya akan mengajaknya untuk mulai move on. Pada tahap ini, kebanyakan penderita akan berada pada keadaan yang labil baik emosi maupun mood. Di satu sisi dia ingin sekali untuk membuktikan kekuatan dirinya bahwa s/he is still fine without him/her dan di sisi lain ada luka yang belum kering yang masih menyisakan nyeri dan senantiasa mengajak untuk meratap, maka penderita bisa diumpamakan sebagai orang yang sedang belajar jalan. Berdiri dan jatuh. Pada tahap ini sebaiknya penderita merenung, melakukan dialog dengan dirinya sendiri, menanyakan apa yang sebenarnya dia inginkan dan apa yang seharusnya dia lakukan. Perang batin ini rasanya juga menyakitkan, maka berdamai dengan diri sendiri menjadi hal yang penting untuk kelanjutan proses healing.
  4. Recovery. Untuk dapat sampai pada proses ini maka penderita perlu beberapa perangkat untuk menyukseskan usahanya, seperti: tissue/kaos sendiri atau orang lain untuk ngelap ingus dan air mata tentunya, bantal untuk meredam suaranya ketika menangis :p, berbagai macam hobi dan kesenangan ataupun orang yang bisa menjadi distraction.
  5. Move on. Penderita sudah bisa ketawa-ketawa dan menertawakan masa lalunya, finally, setelah proses yang panjang :p.

Bersyukurlah jika distraction yang sangat ampuh datang dalam waktu yang dekat, maka penderita tidak perlu suffer in pain for a long time *ketawa setan*. Melakukan hobi seperti membaca, menonton film, belajar (ada gituh yang hobi belajar?), berhaha hihi dengan teman-teman, pergi bareng sahabat dan keluarga, berolah raga, memanjakan diri ke salon atau spa mungkin bisa menjadi alternatif distraction yang baik selain fishing tentunya😆.

A broken heart will heal. And the next time around, it will be stronger. #DamnItsTrue

You never know how strong you are, until being strong is the only choice you have. #DamnItsTrue

So, be strong ^^ and don’t be the man/woman who hardly to be moved😉.

9 thoughts on “(Nobody Wants To Be) The Man Who Hardly To Be Moved

  1. nyumnyun berkata:

    sini2 nak, perginya sekalian biztrip ajah, dapet USD, bole jalan2, kerjanya beda suasanya, yg bikin sepet mata jg ngga bakal seliweran..*amien!!* pluuus jalan2 dong ah..hahahahah.

    kalo ada orang tertentu yg komen aneh2 di post ini, pengen tak habisi sekalian..*ngasah golok sambil nongolin taring*

    • fitri berkata:

      Gyahaha, proses healing yang menyenangkan ya Tan? Semoga lekas berakhir *sambil baca mantra*😆

      2 solutions when you’re down: “Dig a hole and bury yourself alive or get up and move on with life!” #DamnItsTrue

  2. anggriawan berkata:

    fishing itu salah satu cara paling ampuh untuk move on.. apalagi kalau cepet dapetnya :p .. oya, dan sebaiknya hindari lagu-lagu mellow semacam lagu yg dipost di atas =D haha..

Habis maen komen dong :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s