Persiapan Sebelum Menikah

Tumben pagi ini saya sudah blog walking setelah merasa cape’ mengemasi beberapa barang, karena saya berencana untuk pindah weekend ini. Kalau sekarang masih tahap pindah kos-kosan, semoga pindahan berikutnya bisa pindah rumah :p. Eh, perkataan itu wujud doa kan ya? Hehehe.

Klik sana klik sini, scroll up and down, akhirnya kembali ke blog suamigila yang sudah lama tidak saya kunjungi. Setelah baca-baca saya memutuskan untuk repost karena saya merasa tulisannya sangat bermanfaat, terutama bagi lajang seperti saya supaya ingat menabung dan belajar berinvestasi kalau sudah punya gaji tetap. Enjoy😉.

Persiapan Sebelum Menikah

May 16th, 2011

Baru-baru ini nemu kasus di mana seseorang, katakanlah X dan Y menikah. Agak miris juga sih. Sampai sekarang mereka hepi-hepi aja. Tapi mereka berada dalam beberapa masalah praktikal seperti, mau DP rumah tapi salary gabungan kurang cukup. DPnya juga kurang cukup. Mau DP pun anak sedang dikandung. Intinya they wanted to progress tapi ternyata ada beberapa hal yang sebaiknya mereka miiki sebelum nikah, belum mereka miliki sampai mereka telah menikah dan sedang mengandung anak.

I’m not an expert in finance but I do intend to share what I know. Semoga bisa jadi bahan rujukan adik-adik kita yang sedang berjalan menuju stage ini.

Gue rasa di jaman susah gini, gak ada salahnya pasangan yang akan menikah duduk bareng dan buka-bukaan soal uang. And as an individual, we want to be the part of the solution kan, bukan part of the problem.

Things you might want to check before marriage:

Debts
1.a. Pastikan kita sendiri gak punya CC debt. CC debt akan menurunkan credit score kita di BI. Ini akan bermasalah ketika pasangan akan membeli rumah. Bisa jadi pasangan kita bersih, eh credit score kita buruk. Kalo udah gini, kasian pasangan kita apalagi kalo dia udah mati-matian nabung.

1.b. Pastikan calon pasangan gak punya CC debt. Sebaliknya juga berlaku, dia harus kasian juga dong sama kita kalo kitanya yang udah hemat kiri kanan buat beli rumah, tapi KPRnya ditolak bank.

2.a. Pastikan bahwa selain CC, kita juga gak punya utang apa pun, berapa pun, dalam bentuk apa pun. Menikah adalah kegiatan di mana reputasi finansial (credit score) dan daya beli 2 individu menjadi satu. Menikah juga adalah titik di mana kita bukan lagi menjadi tertanggung namun menjadi penanggung dan penanggungan ini pertanggunjawabannya juga ditanya di akhirat nanti. So we might want to be ready and make sure there is no minus in our bank account before we start. Kita ingin memulai rumah tangga setidaknya dari titik nol, bukan dari titik minus. Jika masih minus, tidak apa-apa. That doesn’t make us a bad person. Tapi sebaiknya dibereskan dulu.

Mungkin ada beberapa lajang yang nyicil mobil. This is fine. Meski sebaiknya dilunasi dulu atau setidaknya jika belum, bisa lunas saat menikah, benar-benar didata dulu sebelum nikah. Konsekwensinya, cicilan mobil ini akan mengurangi daya cicil kita dalam mencicil rumah.

2.b. Pastikan kondisi utang pasangan juga sehat.

Dua hal di atas sangat realistis untuk dilakukan. Ini pasti bisa dilakukan semua orang.

Tanggungan
3.a. Data semua tanggungan sebelum nikah. Di sini mungkin orang mulai variatif. Mungkin ada orang yang bukan punya utang namun punya tanggungan seperti biaya kuliah adik, biaya sakit orang tua, atau kita mensupport orang tua. Ini jangan dihitung sebagai hutang namun sebagai tertanggung. Jangan juga dihitung sebagai beban. Mereka darah daging kita juga kan. Kalo gak ada mereka belum tentu kita seperti ini.
Yang jelas, tertanggung ini sebaiknya didata aja untuk memanage expectation.

Contoh kasusnya. Waktu pacaran, istri gak bilang bahwa biaya rumah sakit bapaknya 5 juta sebulan. Padahal suami sangat ingin beli rumah perdana. Setelah menikah, rencana itu terpaksa tertunda. Marahan. Dengan mendata tanggungan, pasangan bisa memanage expectation.

OK, 3 perihal pertama adalah tentang tanggungan dan yang minus-minusan ya.

Aset

4. Disarankan untuk memiliki asset, bukan liability (maaf terdengar seperti Robert Kiyosaki). Aset ini bisa semua hal definisi dari asset dari mulai jumlah tabungan yang cukup, atau saham, LM atau rumah. Kalo bisa beli rumah dari gaji single sendiri, itu fantastic. Malah sebaiknya beli rumah itu gak perlu nunggu nikah kok. Dan gak harus cowok yang beli rumah. Khusus untuk laki-laki, beli rumah sendiri berguna jadi mas kawin. Ntar kalo nikah bisa dijual, jadikan DP dan bersama salary istri beli rumah yang lebih besar. Perempuan juga begitu.

5. Disarankan untuk convert semua liability jadi asset. Ada temen yang realistis. Dia punya mobil kesayangan waktu dulu kuliah. Pas nikah, itu mobil dia jual, jadiin DP rumah dan dia+istri naek motor. Heart breaking? Yes. Tapi dia bilang that was the best decision of his life karena dia melihat harga mobilnya seidkit demi sedikit turun sedangkan harga rumah naik terus.

6. Buat cowok (dan muslim – maaf), biasakan beli emas sedikit demi sedikit dari awal kerja sampai menikah. Sunnah nabi menyatakan bahwa sebaiknya mas kawin dari pria utnuk wanita adalah sesuatu yang memiliki nilai gadai. Ini agar jika terjadi sesuatu, mas kawin itu bisa digadaikan dan membantu keuangan. Baiknya sih emas atau apa terserah (yang jelas bukan pompa aer). Yang jelas, sajadah dan seperangkat alat shalat, meski memiliki nilai agama yang tinggi, tidak memiliki nilai jual.

Let’s review how realistic the above 3 are. Semua mungkin, asal hitungannya dingin dan tidak pakai emosi. There is no such thing as mobil kesayangan. Yang ada hanya mobil. Atau mungkin dengan gaji 5-6 juta kita belum bisa cicil rumah 1.2 M. tapi gaji segitu bisa kok cicil rumah 40/90 di depok yang harganya 90-150 juta.

Lebih baik investasi kecil yang riil tapi naik ketimbang keinginan yang hanya tinggal keinginan.

Lebih baik murah dan sederhana tapi kebeli ketimbang yang jetset dan highclsss tapi gak kebeli-beli.

Meski kecil dan jauh, valuenya naik. Bisa jadi mas kawin, dan bisa jual dengan profit setelah menikah untuk beli rumah baru.

Finance

7. Ini untuk menjawab, berapa sih nilai tabungan+asset kertas yang sebaiknya seseorang miliki sebelum menikah? Di sini pasti jawabannya variatif dan secara nominal berbeda. Maka dari itu mungkin rumus ini bekerja:

Nilai tabungan+asset kertas minimum = ½ ongkos nikah + ½ DP rumah (jika belum punya rumah) + ½ ongkos melahirkan Caesar + 6 bulan biaya hidup

Semuanya ½ dengan asumsi pasangan kita akan cover setengahnya lagi. Atau dalam kasus ongkos melahirkan Caesar, dicover asuransi kantor.

DP rumah masuk rumus ini jika belum punya rumah. Memang bisa ngontrak atau bareng orang tua. Tapi alasan kenapa kita tinggal bareng orang tua atau ngontrak adalah karena kita mengumpulkan uang untuk suatu saat beli rumah sendiri kan? Jika pun bukan itu alasannya (mungkin untuk menemani orang tua), kepemilikan rumah oleh sebuah rumah tangga cukup penting sebagai tabungan asset keras. Malah jadi lebih untung akrena saat kita menemani orang tua di rumahnya, rumah itu kita kontrakkan dan autofinance dengans endirinya.

Ongkos melahirkan masuk sana just in case kita subur wakakak. Seriously, ada beberapa orang yang tokcer dan gelagepan juga. Alasan kenapa ongkos melahirkan masuk sana juga karena ini: Kalo baru nikah dan ngejar beli rumah, ngejar lunasi CC, ngejar beli motor atau mobil. Biasanya untuk melahirkan itu suka aja kelupaan.

Kayaknya 7 faktor ini juga udah cukup ya for now. Gue sengaja segeneric mungkin karena gak mau menggambarakan betapa horornya menikah itu.

Semua factor ini ada dengan asumsi kita tidak diberi bekal oleh orang tua. Memang pasti orang tua berusaha memberikan yang terbaik ya. Ada yang bayarin nikahan, ada yang beliin rumah atau mobil. Tapi ketujuh factor ini gue pikirkan dengan asumsi kita tidak mendapat pertolongan dari orang tua atau mertua. Pemberian itu gak salah malah kita harus bersyukur ada yang meringankan. However, tetap gak ada salahnya seseorang mengambil prinsip:

waktu kecil gak nyusahin orang tua, udah tua gak nyusahin anak.

Gue sendiri gak ada satu pun yang lulus ketika gue menikah huahaha. But I was lucky to go to Africa. Kalo belum nikah gue pribadi akan memertimbangkan yang di atas.

Pertanyaan kedua mungkin adalah, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjaga 7 faktor di atas? Regret there is a time frame for this.

55 adalah usia kita pensiun.

21 adalah usia anak terakhir lulus kuliah. Plus + 1 tahun in case dia gak naik kelas.

1 tahun adalah mengandung anak terakhir (kecuali hamil sebelum nikah).

Sediakan 1 tahun in case proses punya momongan gak terlalu tokcer.

55-21-1-1-1 = 31 tahun.

Time span seseorang untuk mengumpulkan 7 faktor di atas adalah dari dia mulai lulus kuliah usia 21-22 tahun, sampai umur dia 31 tahun. Sekitar 10-11 tahun. Jika ingin punya 2 anak, then time span is shorter.

Semoga bermanfaat. I’m not an expert on this. I just intend to share.

Taken from suamigila.


Habis maen komen dong :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s