Seratus Tujuh Puluh Dua Hari, Tanpa Garansi

Ditulis sambil mendengarkan Gravity by Sara Bareilles.

Dear kamu yang berlarian di kepalaku,

Lewat sudah larut malam. Cahaya kota yang memudar memberikan pilihan bagiku untuk menguasai salah satu sudutnya, sekedar duduk menuliskan kerinduanku padamu dalam beberapa halaman. Jemariku seakan menari di atas keyboard, mencoba menjadi pelukis yang berusaha memagut objeknya yang sedang kelu: hatiku.

Jika cinta tidak pernah mengetuk pada pintu yang salah, akankah kau muncul dari balik pintumu dan menyambutku?

Dear kamu yang selalu mengusik jam kerjaku,

Aku takkan pernah menyatakan ini berlebihan. Lebih sudah seratus tujuh puluh dua hari kamu berada di rongga dadaku, di dalam kepalaku, berdiam di sana dan membangun istana. Sesekali kamu memacu jantungku cepat, lain kali kamu serasa mengucurkan air jeruk pada lukanya.

Seratus tujuh puluh dua hari, ya…

Dan di mana garis finish dari hitungan ini, aku tak pernah tahu dan tak berencana untuk meramalkannya. Puluhan hari berlalu, dan aku gagal mencari pengganti atau sekedar menyita istana dan mengusirmu dengan paksa dari kepalaku.

Satu jam, dua jam berlalu, di satu sudut kota aku terpaku seperti kamus yang kehilangan kosakata. Entah terlalu banyak yang aku simpan ataukah memang tak sedikitpun ada yang ingin aku sampaikan. Mungkin akan lebih mudah bagiku jika kamu ada di sini. Aku berjanji akan mengisahkan belasan ribu hikayat, sebanyak hari yang ingin aku lalui bersamamu. Mungkin.

Kamu yang selalu aku tunggu kehadirannya,

Tak pernah terlintas dalam pikiranku to make myself fall into your gravity. Pertemuan-pertemuan kita tidak pernah istimewa. Kamu bukan sosok tampan menjulang yang menghipnotis, bukan pula sosok pria yang bersisi romantis. Aku akan menyalahkan konspirasi feromon, volume aura kecerdasanmu yang berlebihan dan keramahanmu yang memperdaya.

Masih ingatkah ketika aku berniat menyaksikan kepergianmu karena mutasi? Airport sepertinya memang dilahirkan dengan dua sisi; hal yang membahagiakan karena mengantarkan kita pada tempat impian, atau hal yang menyisakan kepedihan karena memisahkan kita dengan orang yang kita sayang.

Aku merasa tersesat di sana pagi itu, jika kamu peduli. Tersesat di tengah lautan manusia yang sarat akan ekspresi. Aku tersesat pada perasaanku sendiri. Aku takkan pernah tahu kapan kamu kembali, namun aku juga tak punya keberanian untuk berlari ke arahmu dan berkata “cepatlah pulang, aku menanti”.

Kamu yang menjadi inspirasi,

Karenamu, banyak cerita yang aku kisahkan, banyak puisi yang aku tuliskan, aku juga jadi mencintai kata “belajar”. Jika saja dengan melalui seratus tujuh puluh dua hari tanpa garansi aku bisa membukukan semuanya, tentu saja saat ini aku telah kaya.

Tapi jika ada pilihan, aku ingin menjadi penutur cerita, bukan pujangga. Aku ingin menceritakan apa yang aku rasakan di depanmu, dengan menggenggam tanganmu, menatap matamu yang binarnya telah mengalahkan rasa cintaku pada lampu-lampu malam ibu kota, bukan melalui tulisan yang tak pernah tersampaikan.

Kamu yang aku cintai selama seratus tujuh puluh dua hari dan tanpa garansi,

Jika ada satu kesempatan yang mengantarkan surat ini kepadamu, entah esok atau berbulan lagi, yang aku tahu aku mencintaimu sejak seratus tujuh puluh dua hari lalu hingga kini, saat aku menyelesaikan surat ini. Meski tanpa garansi, aku tak bisa memilih di mana hatiku jatuh dan berdiam membangun mimpinya.

Kamu yang selalu menarik dengan mengenakan kemeja berwarna biru, hijau, abu-abu, atau apapun itu dengan senyum menghangatkan aku yang kedinginan di ruang kerja dan nyaris beku.

Jika takdir berpihak padaku, tentu saja kita bertemu sebelum kamu menikahi istrimu dan memangku manja putramu yang rupawan. Tak ada yang bisa ku berikan kecuali janji, janji untuk menyimpan rasa ini sendiri. Karena seberapa pun besarnya rasa yang ingin ku sampaikan padamu, aku tetaplah seorang wanita, sama seperti dia yang kau pilih jadi pendampingmu.

Dari aku yang masih menghitung hari untuk meruntuhkan istanamu dari rongga dadaku.

Dear God, this is mere fiction. Don’t take this serious, please. From me, someone who wants my prince charming is available and not taken.


5 thoughts on “Seratus Tujuh Puluh Dua Hari, Tanpa Garansi

Habis maen komen dong :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s