Why Running (?)

Saat ini olahraga lari memang jadi trend di Indonesia, err…lebih tepatnya di Jakarta kali ya. Hal ini merupakan berita baik buat saya yang memang sudah mulai lari ketika masih tinggal di Cikarang. Namun sejak pindah dari Cikarang pada akhir tahun 2010, udah jarang banget lari dengan berbagai alasan.

Dulu, saya keluar dari kos jam 5 subuh saat jalanan masih sepi. Kadang takut juga sih ada yang jahilin di jalan *halah*. Berbekal mp3 player dan earphone, saya lebih sering lari sendirian. Kalaupun lari bareng sama temen, ujung-ujungnya juga misah karena ada yang tetep lari dan ada yang jalan.

Apa sih sebenernya yang bisa didapetin dari lari?

Ada perasaan yang ga bisa didapetin dari aktivitas olahraga lain yang pernah saya lakukan, walaupun saya bukan pelari beneran, ya yang ecek-ecek gitu lah yang ga ngejar pace atau apapun. Buat saya, lari itu mirip fase mengejar impian dan building state of mind.

Beratnya lari itu terasa banget di awal-awal menit setelah start, sama juga saat kita memutuskan untuk membuat sebuah impian. Banyak hal yang harus dipertimbangkan, nanti kalau begini bagaimana, kalau begitu bagaimana, yang cenderung akan membuat orang mengurungkan niatnya untuk melangkah karena otomatis one they decided they will get out from their comfort zone. Enakan juga tidur atau pagi sarapan di rumah kan ya daripada lari :p

Lari pasti ada finish line-nya. Sama juga dengan kondisi ketika kita menginginkan sesuatu. Tentukan targetnya, pegang dengan sepenuh hati, dan terima konsekuensinya. Sering banget baru beberapa menit lari udah pengen berhenti aja karena cape dan ngos-ngosan. Tapi di sini saya seakan belajar berkomitmen dan menerima konsekuensi atas keputusan saya. Terus aja lari karena saya tau setiap langkah akan membawa saya semakin dekat dengan finish line.

Untuk menuju finish line, sering juga harus memelankan langkah karena kelelahan. Begitu juga jalan menuju impian, pasti ga mudah. Kalau memang mudah, coba direview lagi karena mungkin kita terlalu cetek dalam memasang target atau impian itu hanya setinggi langit-langit kamar😀. Ada masa-masanya kita merasa lelah dalam proses, tapi bukan berarti boleh kita berhenti. Take your time to refuel your energy, but don’t take too long because time is waiting for no one.

Dan ketika mencapai finish line ada kepuasan yang teramat sangat saat merasakan kucuran keringat yang mengalir di badan, ketika melihat ke belakang seberapa jauh jarak yang telah ditempuh yang tadinya invisible dan terlihat berat ternyata dapat dilewati juga, dan ketika meraih medali yang merupakan reward atas upaya kita. Semua jerih payah terbayar lunas. Dengan lari, saya merasa bisa menggapai apapun yang saya impikan.

Terakhir, semakin sering lari, maka akan semakin jauh jarak yang bisa diselesaikan🙂.

Beat yourself, because comfort doesn’t bring you anywhere. Finish what you’ve started because you ever thought that you can. And don’t stop because you’re tired, but stop when you’re done.

It-Pains-Me-To-Continue-But-It-Hurts-Much-Worse-To-Stop

 

Ditulis di Terminal 3 Soekarno Hatta Int’ Airport, nunggu boarding untuk SCM Singapore.

Habis maen komen dong :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s