“Congratulation!!”

Alhamdulillaah si email yang ditunggu datang juga pagi ini.

Greetings,

CONGRATULATION!!

Starting January 31st 2009, you are officially become Permanent Employees.

Begitulah sebagian isinya.

Alhamdulillaah masih ada yang bisa aku kerjakan sehari-hari. Dan alhamdulillaah masih punya penghasilan tetap di saat keadaan ekonomi sedang buruk begini.Alhamdulillaah juga aku tidak menambahi beban bapak dan ibu.

Alhamdulillaah ya Allah 🙂 .

Menunggu Email, Sebuah Email..

Ah, email keparat itu belum juga dateng. Email dari HRD yang isinya pemberitahuan apa aku bakal jadi karyawan tetap atau bakal diakhiri sampai di sini masa internshipku.

Memasuki hari kedua.

Email laknat itu tak jua muncul. Malah email yang berbunyi “Besok sore aerobic yaaa” yang memenuhi inbox-ku.

Ah, aku BENCI menunggu. Aku benci berharap. Karena keduanya senantiasa mengecewakan. Bagiku.

Menurutku, skali lagi menurutku, apapun yang aku dapatkan bukanlah karena campur tangan harapan. Tapi karena doa dan sebuah kerja keras. Ya, doa dan kerja keras!

Mintalah hanya pada Tuhanmu, karena hanya Dia yang tak pernah mengecewakan..

You Belong To Me

Ahh ini lagu menyayat hati. Cari aja di youtube. Lagu lama si, by Jason Wade buat soundtrack Shrek.

Buat orang-orang yang kesepian. You’re not alone 🙂 .

Jason Wade – You Belong to Me Lyrics

See the pyramids around the Nile
Watch the sun rise
From the tropic isle
Just remember darling
All the while
You belong to me

See the market place
In old Algiers
Send me photographs and souvenirs
Just remember
When a dream appears
You belong to me

And I’ll be so alone without you
Maybe you’ll be lonesome too

Fly the ocean
In a silver plane
See the jungle
When it’s wet with rain
Just remember till
You’re home again
You belong to me

Oh I’ll be so alone without you
Maybe you’ll be lonesome too

Fly the ocean
In a silver plane
See the jungle
When it’s wet with rain
Just remember till
You’re home again
You belong to me

Flu

Lagi kena flu, tapi aku ga mau minum obat dulu biar sembuh secara alami. Mulai kemaren udah memenuhi asupan gizi (buseeeet, asupan gizi katanya mwhahahaha).

Susu beruang (Bear Brand ato apa si namanya?), You C1000, Koko Krunch + susu, milo, makan nasi, buah (semangka doang adanya di kantor), roti panggang, nutrisari. Ah banyak deh yang udah aku makan. Tadi malem juga makan sup kambing, enak 😀 .

Eh kenapa si ingus malah keluar ya? Kalo misal idung buntu gitu kan masi bisa dilakukan tindakan preventif. La kalo udah mulai meler-meler gini…..

Kata orang, obat biar cepet baekan tu istirahat ma makan yang banyak. Walo ga sakit, selera makanku juga norak abiiis (not really ding 😀 ). Kemaren juga udah gajian, jadi hati cukup senang. Tapi belum baekan juga ini.

Duuuh, pengen tiduran di kamar bermalas-malas dan makan.

Serupa tapi menyiksa

Pagi-pagi sarapan di kantor, hanya diterangi oleh cahaya dari layar monitor dan dengan tergesa-gesa adalah musibah. Sekali lagi, MUSIBAH saudara-saudara!

Bentuknya mirip, apa lagi pas gelap-gelap gitu cuma keliatan ijo aja. Mana lagi laper, belum cuci gelas dan bel untuk senam pagi kurang 5 menit lagi. Iya, senam pagi!. Ga salah baca kok.

Pas enak-enak makan, tau-tau #$%@#$. Oh sial, yang aku makan bukan buncis tapi cabe rawit ijo. *nangis*

Bertahun (Lagi)

Lebih dari 3 tahun ya perjalanan kita? Hmm, ga terasa. Aku pikir baru beberapa bulan berselang saja, karena masih banyak yang harus ku pahami tentangmu 🙂 .

Masih inget ga jaman-jaman kita masih (sama-sama) kuliah?

Lebih sering menikmati dinginnya udara malam Malang dan lampu-lampu terang itu, dari pada menikmati minuman hangat di warung makan atau cafe. Iya, karena duit kita pas-pasan, malah kadang ga punya duit 😀 .

Jaman-jaman kita mengerjakan tugas kuliah, dan aku harus memaksamu untuk ngerjain Pemrograman Internet karena aku ga bisa. Masih inget? Kita berteduh di teras orang di depan masjid sambil membawa monitor, main tebak-tebakan kata: kita harus menemukan di mana kata itu berada. Masih aja bisa ketawa-ketawa tanpa beban, padahal kita keujanan deras, dingin banget.

Jaman-jaman dirimu selalu akan muncul di depan pintu kosku kalau kita sedang berselisih. Entah hujan entah panas. Entah dateng dengan selamat atau degan goresan-goresan luka karena kecelakaan di jalan, dengan baju kering atau basah kuyup tanpa mantel. Cuman untuk memastikan kita bisa tertawa lagi, saling bercerita hal lucu dan sederhana tapi hangat. Masih inget?

Aah, 3 tahun.

Kita pun terus bergerak, berusaha untuk bersama, nantinya.

Ku lihat dirimu masih sama, selalu muncul di depanku jika kita berselisih. Walaupun sekarang bukan 7 atau 8 Km lagi yang musti ditempuh, tapi 900 Km lebih. Dan masih saja kau melakukan hal yang sama 🙂 .

Kita sekarang juga sudah bisa mencari penghasilan yang baik. Bisa makan di tempat yang kita inginkan, mencicipi beraneka makanan. Kita bisa membeli ini itu. Bukankah kita seharusnya tak henti-henti bersyukur akan semua ini?

Aah, 3 tahun rasanya hanya sekejap mata. Aku masih ingin lagi, berlipat-lipat tiga tahun lagi. Memenuhi buku harian kita, dan membeli selusin yang baru lagi untuk terus diisi dan diwarnai. Sebagai bahan cerita kita nanti, saat kau berada di sampingku menikmati bintang atau air hujan yang turun. Dari balik jendela.

Wanita Tangguh

Pagi ini kakakku mengirimkan pesan singkat, yang sangat singkat. Berisi kegagalannya dalam tes masuk salah satu departemen di negara ini. Ini bukan pertama, kedua, kelima atau kesepuluh kegagalan yang diterimanya.

Entah apa yang berkecamuk di batinnya. Aku pun tak pernah tau. Kereta api, bis, mengantarnya dalam menjalani satu persatu tes keparat itu. Kegagalan demi kegagalanlah berita yang selalu diterimanya.

Puluhan atau mungkin lebih dari seratus map coklat itu telah dikirimnya ke berbagai tempat. Untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya, walaupun dia juga telah memiliki pekerjaan saat ini.

Dan dia tak pernah lelah untuk mencoba dan mencoba lagi. Wanita tangguh, pikirku. Karena aku (mungkin) takkan mampu menerima sebagian kegagalannya dengan segala kemudahan yang aku terima dari dulu hingga sekarang.

Teruslah berusaha, kami mendoakanmu 🙂 .

Sang Wajah Teduh

Sang wajah teduh.

Aku menemuinya di lantai atas Blok M Plaza, di tempat yang kurang layak untuk dijadikan tempat beribadah pada sebuah pusat perbelanjaan. Ya, aku menemui pemilik wajah teduh di tengah hiruk-pikuk ibukota.

Bukan di tempat mahal, dan bahkan mungkin terlupakan oleh orang yang sibuk berbelanja dan bekerja. Musholla.

Sang wajah teduh.

Bukan pengunjung yang sedang menunaikan kewajibannya di tempat itu. Beliau adalah penjaga lusinan pasang sandal kayu yang tak baru. Yang layu karena disiram air oleh ribuan kaki yang singgah.

Ku titipkan sepasang sandalku padanya. Beliau tersenyum santun dan ramah.

Ku berikan secarik kertas bertuliskan angka “55” dengan selembar uang seribu. Beliau memberikan sandalku dengan hati-hati, sandal bututku yang dijaganya penuh amanah. Sambil tetap menebarkan senyum ikhlasnya, seikhlas angin yang menyejukkan Jakarta siang itu.

Berat hati beranjak. Tapi aku harus pulang. Banyak yang ingin ku tanyakan padanya. Mendengarnya bercerita tentang kisah-kisahnya, tak akan aku bosan bertanya.

Aku pergi. Dari balik kacamata, ku berusaha memandang wajahnya lagi. Wajah yang, ahhh aku gagal menggambarkannya. Yang luar biasa. Sungguh.

Beliau menata uang ribuan tadi, dengan penuh syukur dan senyum yang tak lekang oleh materi.

Aku iri.

Saturday Morning Activities

Habis ngambil minum di dispenser yang letaknya 20 langkah dari mejaku. Pas jalan sekalian melihat-lihat sekeliling, pengen tau: lagi pada ngapain si orang-orang ini kok pada anteng di mejanya?. Hari Sabtu kan emang bukan hari wajib kerja. Tapi kalo mau dapet penghasilan lebih (lembur/over time), para senior berpesan:

masuklah di hari Sabtu 😀

Hasil pengamatanku:

  1. ada yang liat film sendiri/rame-rame
  2. ada yang browsing entah membuka halaman apa
  3. ada yang nyanyi-nyanyi ga jelas sama dengerin mp3
  4. ada yang ngitung gaji pake “salary counter” di excel
  5. ada yang ngegame
  6. ada yang chatting
  7. ada yang lagi telpon

dan hampir semua dari mereka menampilkan full screen (pada monitor) form atau source code kerjaan ahahahaha. Wallpaper yang menipu :p

(Aku sendiri sedang posting dan menampilkan hal yang sama di monitorku ahahaha..)

Otak Pria

RIZKA: tau ga sub??
RIZKA: otak pria ituh 80% porno
RIZKA: dan 20% sisanya sangatlah porno…
RIZKA: itu statemen dari temenku
RIZKA: wkwkwkkwkwkw
SAFITRI: ahahahha
SAFITRI: masa gitu semua?
SAFITRI: ato “otak sebagian pria?”
RIZKA: emang dasar dia yg porno
RIZKA: hahahahaha
RIZKA: mene ketehe lah
SAFITRI: hahahahah

Hei pria, katakanlah sesuatu 🙂