Tentang Wanita: Belajar dari Bea

Minggu lalu saya bertemu dengan seorang teman baru. Wanita bongsor berperawakan seperti Adele, dengan usia awal tiga puluh. Dari penampilannya terlihat jelas bahwa dia pandai, memiliki style, dan rasa percaya diri yang tinggi. Selain cantik, apa yang akan dijelaskannya kepada saya dan beberapa teman peserta training lainnya adalah hal yang sangat ia kuasai; teknologi dari sebuah perusahaan IT multinasional terkemuka.

Dia tidak bisa berbahasa Indonesia, karena dia berkebangsaan Filipina yang saat ini sedang tinggal di Singapura. Sebut saja namanya Bea.

Sejak pertama, saya sudah jatuh hati padanya. Saya mengagumi wanita yang mandiri dan cerdas. Saya suka caranya berbicara yang bersemangat. Saya suka aksen inggris-filipinnya. Saya mengagumi wanita yang menguasai IT, yang terkadang menjadi momok bagi sebagian lainnya.

Bisa kita sepakati bahwa Bea memiliki karir yang cemerlang, hingga perusahaan multinasional tersebut menempatkannya di Singapura dan mempercayakannya memberikan support kepada clients di berbagai negara.

Di siang terakhir pertemuan kami selama lima hari, Bea berbagi sedikit tentang kisahnya. Sambil menyantap makan siang, dia bercerita telah kehilangan ayahnya lima bulan lalu dan hal ini mengubah pandangan hidupnya. Kehilangan tersebut mengubah Bea dari seorang workaholic menjadi pribadi yang lebih memperhatikan diri dan keluarga.

Sebagai seorang anak pertama dari dua bersaudara, Bea yang [mungkin] memiliki segala kualitas untuk dicintai oleh pria masih memilih untuk menyandang status “sendiri”.

I have to take care of my mom, she feels so lonely since my dad passed away. She gets used to have him around her all this time, because she’s a housewife..

Bea mengajarkan saya agar lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga dan orang-orang yang saya cinta, mengisi waktu tidak hanya dengan kerja melulu tapi juga dengan traveling dan melakukan aktivitas lain yang saya suka.

Bea juga mengajarkan bahwa status adalah pilihan, dengan segala konsekuensinya. Mungkin Bea lebih beruntung karena tinggal di Singapura sehingga terhindar dari pertanyaan “kapan menikah?”.

Get Married in Paris

Every (beautiful) thing has its own time

20 thoughts on “Tentang Wanita: Belajar dari Bea

  1. denaldd berkata:

    Ceritanya sama banget dengan pengalamanku Fit, beberapa waktu lalu pernah tak tulis diblog. Sama dibagian memilih lebih mendekatkan diri ke keluarga. Bedanya aku memilih melepaskan karier untuk menguatkan ibu setelah bapak meninggal secara mendadak dan karena pada saat itu ibu juga mendapatkan kecelakaan parah. Karenanya aku memilih meninggalkan Jakarta, meninggalkan karier, balik ke Sby untuk kuliah supaya dekat dengan ibu dan adik2. Memang hidup itu penuh pilihan, dan hanya kita sendiri yang paham mana yang terbaik. Benar, nikmati hidup semaksimal mungkin, tapi jangan lupa untuk tetap menyediakan banyak waktu buat keluarga tercinta.

    • Safitri Sudarno berkata:

      *hugs* Iya, aku baca postinganmu di dlm kereta aja sama berkaca-kaca. Wanita yg katanya hatinya lembut, kadang juga bisa menjadi kuat melampaui yg terbayangkan. Keputusan2 yg baik memang ga pernah mudah. Dan yg paling penting, keluarga dan orang2 dekat yang dicinta harus saling menguatkan

  2. febridwicahya berkata:

    Mbak Bea inspiratif ya :’) jadi pengen sering dirumah aja deh kalau weekend dan nggak kuliah :”) soalnya bener loh, aku pulang-pulangan malem terus kalau ngampus gitu kadang kangen sama bapak ibuk adek :))

Habis maen komen dong :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s