Let’s Help Others

Morning all..

Thank you for reading this post. With humility, i would like to invite you to share our lucks, happiness and cheerfulness. Maybe, you haven’t found a way to give your charity to the right place. Hereby, i am glad to let you know this links (c3friend and YSDF) and hopefully we can do something for our unlucky brothers and sisters outside.

Just look at their sincere faces, which are filled with hope for you kindness and attentions. If you have time, just visit them. You can spend your time together for once, and you’ll want it much more :). Our burdens are nothing, you’ll get unsaid happiness ever.

In The Morning Sun

Sunday morning, im sitting down on the terrace. The sun appears and shed the light, give me warmth. The wind blows my face softly. What a beautiful life..

Today is the last day of my long weekend. I woke up earlier (at 6.30 am ^0^ ), and bring my laptop to the terrace. I want to sunbathe, and browse for songs on youtube. I get one beautiful song from Ricardo Munoz (again), the title is “In The Morning Sun”. I recommend you to listen this song ^^.

I love to wake up in the morning and breath in the fresh air. I can feel the might of God, the fineness of nature and sky. Outside, i can get better internet connection too ^_*.

Happy holiday everybody. I keep playing with my laptop and browsing, maybe i can find the way to join with a social community. One of my dream..

Harapan Itu..

Jadi juga hari minggu kemaren maen ke Dharmais Cancer Hospital bersama beberapa teman untuk mengunjungi adek-adek di sana. Kami membawa kaos polos dan cat supaya mereka bisa menggambar di atas kaos itu.  Ini pertama kalinya aku melakukan kegiatan seperti ini. Rasanya…. sungguh membahagiakan.

Melihat tangan mereka digelayuti selang infus, miris rasanya, iba. Tapi mereka sungguh luar biasa. Di usia semuda itu, sudah merasakan berjuang melawan maut. Sedangkan di luar sana, banyak orang yang menyia-nyiakan kesempatan hidupnya dan berfikir bahwa dia sedang menanggung beban berat, lebih berat dari siapapun. Yang sesungguhnya beban itu gada apa-apanya dibanding dengan perjuangan hidup mati adek-adek di Dharmais.

Sherly, balita 3 tahuanan yang sedang lucu-lucunya. Harusnya anak seusia dia tengah senang-senangnya berlarian ke sana sini. Tapi kenyataan berkata lain, dia harus menjalani waktu bermainnya dengan ditemani kain masker di lorong ruangan anak Dharmais.

Ada juga Ikhsan. Kira-kira udah SMP. Waktu kami dateng, Ikhsan baru kelar di kemo. Badannya kurus, ga bisa ngomong juga. Kulit di sekitar lehernya juga mengelupas. Kata mas Deny (volunteer di sana) efek kemo itu juga memberikan dampak negatif lain bagi penderita, seperti rambut rontok dan sariawan yang bejibun di mulut sampai ke tenggorokan. Bayangin aja, 1 sariawan di bibir aja udah perih rasanya, trus gimana rasa sakit yang tengah dihadapi Ikhsan.

I just want to hug them, stroke their hair, and say “everything is gonna be okay, dont worry…”.

Orang tua adek-adek itu pun sungguh-sungguh luar biasa. Ada seorang bapak bercerita gimana usahanya mencari 30 kantong darah untuk anaknya yang baru kelar di kemo. Si bapak menghubungi rekan-rekan dan saudaranya, sayangnya hanya 15 orang yang bisa menyumbangkan darah untuk sang anak. Lalu si bapak pergi ke PMI, mencari kantong-kantong darah yang memberikan sedikit harapan untuk memperpanjang kebersamaannya dengan sang anak di dunia. Jika kalian punya kesempatan untuk mendonorkan darah, donorkanlah. Karena kantong-kantong darah itu akan menyelamatkan nyawa orang lain.

Aku juga melihat foto-foto yang ditempel di sana. Ada 1 bagian yang bertuliskan “In Memoriam”. Aku berusaha memahami apa yang mereka rasakan saat melihat satu persatu temannya meninggalkan mereka, kemudian fotonya dipajang di sana. Seperti antrian, bahwa suatu saat (mungkin) tiba juga giliran mereka. Aku tak mampu membayangkan, ketakutan seperti apa yang tengah mereka lawan. Harapan dan semangat hidup adalah obat yang cukup mujarab untuk memperpanjang sampai entah ke titik mana keberadaan mereka di tengah-tengah keluarga.

Dan kehangatan mereka menyambut kami di tengah kesulitan dan kesedihan yang teramat, membuatku ingin kembali ke sana. Mereka sangat hangat, santun. Aku hampir melinangkan air mata saat berpamitan dan memberikan kotakan-kotakan kue kecil itu. Satu persatu dari mereka mencium tangan kami dan mengucapkan terima kasih. Padahal kami tidak melakukan sesuatu yang berharga.

“I have cancer, but the cancer doesn’t have me.

img_4772

img_4774

img_4783

img_4797

img_4788

img_4812

img_48131

Rencana Akhir Pekan

Yiiiihaaa besok minggu, I LOVE SUNDAY. Minggu kemaren udah diiisi dengan acara arisan di Plaza Semanggi dan jalan-jalan ke Kota Tua. Cukup melelahkan dan menyenangkan. Besok, aku dan beberapa rekan kerja (aish, temen di kantor maksudku) akan berkunjung ke RS Darmais untuk bermain dengan adik-adik di sana.

Ini tadi Mbak Lala, seniorku, mendapat kabar dari pihak RS, katanya si kami bisa membawa beberapa kaos putih polos yang nantinya akan kami warnai bersama adik-adik di tempat perawatan kanker di sana. Dari dulu banget ini salah satu impianku, bisa jadi relawan untuk kegiatan sosial. Alhamdulillaah mulai dibukakan jalan ke sana.

Aku ga sabar untuk bertemu dengan mereka, berbagi kebahagiaan yang kami miliki. Ah rasanya malu sekali jika aku harus berkeluh kesah karena bosan atau lelah bekerja, karna sesungguhnya aku dikaruniai umur dan kesehatan yang tak ternilai harganya.

Pray for me guys, semoga aku ga nangis di sana dan bisa menghibur mereka (walo sedikit).

Just My Dreams

Kalo mau dilist, mimpi-mimpiku tu banyak banget. Biar ga lupa, sebagian ditaroh di sini aja. Maklum, IQ ku tiarap jadi jangan berharap banyak ahahahah.

  1. pengen belajar tentang bisnis ato komunikasi publik ato apalah yang diperlukan untuk menjadi seorang PR. Maklum, aku amatiran dalam masalah ini. Progress: nyari-nyari jurusan program pasca sarjana di beberapa universitas lokal.
  2. someday pengen jualan produk Indonesia ke luar negeri, semacam batik ato kerajinan tradisional. Biar mereka tau kalo Indonesia itu ada. Progress: belum ada^^.
  3. pengen berkecimpung di dunia tulis menulis ato broadcast hehehe (hope someday i will be a writer *ngayal*). Progress: nulis blog, baca-baca blog atau buku macem-macem, liat-liat lowongan editor ^^.

Sementara itu aja dulu, kalo kebanyakan ntar malah tidak terlaksana satupun (amit-amit). Smangat!

Gada salahnya kan bermimpi? Semua itu berawal dari mimpi dan keinginan. Tuhan juga ga akan mengubah nasip suatu kaum kalo mreka sendiri ga ingin mengubahnya. Entah nanti tercapai atau tidak, yang penting udah berusaha 🙂 .

Bertahun (Lagi)

Lebih dari 3 tahun ya perjalanan kita? Hmm, ga terasa. Aku pikir baru beberapa bulan berselang saja, karena masih banyak yang harus ku pahami tentangmu 🙂 .

Masih inget ga jaman-jaman kita masih (sama-sama) kuliah?

Lebih sering menikmati dinginnya udara malam Malang dan lampu-lampu terang itu, dari pada menikmati minuman hangat di warung makan atau cafe. Iya, karena duit kita pas-pasan, malah kadang ga punya duit 😀 .

Jaman-jaman kita mengerjakan tugas kuliah, dan aku harus memaksamu untuk ngerjain Pemrograman Internet karena aku ga bisa. Masih inget? Kita berteduh di teras orang di depan masjid sambil membawa monitor, main tebak-tebakan kata: kita harus menemukan di mana kata itu berada. Masih aja bisa ketawa-ketawa tanpa beban, padahal kita keujanan deras, dingin banget.

Jaman-jaman dirimu selalu akan muncul di depan pintu kosku kalau kita sedang berselisih. Entah hujan entah panas. Entah dateng dengan selamat atau degan goresan-goresan luka karena kecelakaan di jalan, dengan baju kering atau basah kuyup tanpa mantel. Cuman untuk memastikan kita bisa tertawa lagi, saling bercerita hal lucu dan sederhana tapi hangat. Masih inget?

Aah, 3 tahun.

Kita pun terus bergerak, berusaha untuk bersama, nantinya.

Ku lihat dirimu masih sama, selalu muncul di depanku jika kita berselisih. Walaupun sekarang bukan 7 atau 8 Km lagi yang musti ditempuh, tapi 900 Km lebih. Dan masih saja kau melakukan hal yang sama 🙂 .

Kita sekarang juga sudah bisa mencari penghasilan yang baik. Bisa makan di tempat yang kita inginkan, mencicipi beraneka makanan. Kita bisa membeli ini itu. Bukankah kita seharusnya tak henti-henti bersyukur akan semua ini?

Aah, 3 tahun rasanya hanya sekejap mata. Aku masih ingin lagi, berlipat-lipat tiga tahun lagi. Memenuhi buku harian kita, dan membeli selusin yang baru lagi untuk terus diisi dan diwarnai. Sebagai bahan cerita kita nanti, saat kau berada di sampingku menikmati bintang atau air hujan yang turun. Dari balik jendela.

Tak Ingin Jadi Robot

Sebelum terjun bebas ke pekerjaan yang aku jalani sekarang, aku ditraining dulu oleh orang-orang yang tergabung di MI (Management Innovation). Ada 1 hal yang disampaikan oleh salah satu orang MI saat mengisi materi training di sebuah penghujung sore yang aku ingat terus sampai sekarang:

“janganlah kalian menjadi budak manufaktur. Tetaplah menjadi manusia..”

Yap, kurang lebih seperti itu.

Awalnya aku merasa itu bukanlah hal penting untuk diingat, apalagi diresapi maknanya. Belakangan aku tau bahwa itu bukanlah sekedar pesan biasa, namun pesan yang akan bisa membuatku tetap menjadi manusia, selayaknya.

Mungkin sudah jadi sebuah kelumrahan bagi sebagian besar penduduk metropolitan untuk mengabdikan dirinya pada pekerjaan dan mencapai materi sebanyak-banyaknya, dengan bekerja mulai pagi hingga malam, saat matahari belum terbit hingga matahari terbenam. Aku pun ikut larut dalam fenomena ini. Mulai dari Senin hingga Sabtu melakukan hal yang serupa: bangun pagi, ke kantor (pabrik lebih tepatnya), setelah malam tiba baru pulang dan beristirahat.

Dengan segala rutinitas itu, membuatku jarang melihat dunia luar. Tiap hari aku hanya menenggelamkan diri di balik layar monitor, televisi dan beberapa set DVD player untuk menyelesaikan pekerjaan.  Dan hari minggu aku habiskan dengan tiduran di kamar untuk membayar semua kelelahan atau pergi ke mall untuk berbelanja.

Namun, minggu pagi ini berbeda. Aku pergi untuk membeli sarapan dan harus berjalan di perkampungan penduduk di sekitar tempat kosku. Walau baru jam 8 pagi, panas matahari terasa menyiksa kulit. Aku melewati pasar yang berbau “khas”, melewati jalan kecil berbatu yang aspalnya pun terlihat rapuh, melihat para pekerja keras dengan raut muka letih dan penuh pengharapan untuk mendapat rezeki hari ini.

Aku membeli lontong sayur. Lontong sayur biasa, dipenjual biasa, dengan gerobak biasa. Namun entah mengapa saat menulis ini membuatku jadi merasa tak biasa. 3000 rupiah, semangkok lontong sayur. 3000 rupiah yang dicari dengan susah payah, mendorong gerobak dari ujung jalan hingga menemui ujung yang lainnya.

Jika dibandingkan dengan kelelahanku saat duduk bekerja, rasanya aku hanya seorang amatiran dalam memaknai apa arti “perjuangan hidup dan kerja keras”. Apalagi jika mengingat keluhan-keluhan yang sempat aku keluarkan karena masalah yang ada di kantor atau sekedar lelah dan mengantuk, padahal aku dibayar dengan pantas dan pasti tiap bulannya, aku merasa malu.

Betapa aku kurang rasa syukur padaNya, apalagi menyadari bahwa apa yang aku punya dan dititipkanNya padaku belum sempat dinikmati juga oleh mereka yang sarat akan derita di sebuah tempat lain.Apalagi setelah aku membaca blog ini dan ini.

Yah, aku ingin menjadi manusia, bukan robot, bukan budak manufaktur. Aku ingin melihat dunia, dunia yang sebenarnya. Aku ingin membuat satu, dua orang bisa tersenyum dan bahagia akan kehadiranku. Aku ingin.. Hanya keinginan sederhana.

I hope..