Unforgettable 2015

Tahun 2015 sudah berlalu. Rasanya baru kemarin saya mendekam berhari-hari di kamar mengisi liburan Natal 2014 dengan maraton membaca novel Ika Natassa, Twivortiare dan Twivortiare 2. Kemudian mengunjungi rumah orang tua menghabiskan liburan Tahun Baru 2015. Time flies.

parents house kediri

2015 memang tahun yang sangat berkesan, karena banyak hal terjadi di tahun ini. Baca lebih lanjut

Solo Trip ke Eropa #6: Belgia, ABG (Antwerp, Bruges, Ghent) yang Misterius dan Menawan

Bulan madu saya dengan Amsterdam berakhir pada tanggal 19 Agustus 2015. Saya harus pindah ke destinasi selanjutnya yakni ke Belgia. Berat banget meninggalkan kota ini, dengan segala kemudahan transportasi, kesejukan udara, dan keindahan kotanya. Karena saya akan menggunakan kereta jam 07.10 dan mengingat para Meneer ini on time, jadi saya setidaknya jam 6 sudah keluar hotel.

Amsterdam Canal

Rumah mungil dari perahu di kanal Amsterdam

Permasalahan selanjutnya adalah pagi-pagi gitu saya harus naik apa ke Amsterdam Centraal? Ketika saya cek di website, tram pertama baru mulai beroperasi jam 7. Sama Sandi sudah disuruh install aplikasi buat pesen taxi sih buat antisipasi kalau perlu. Daripada pusing-pusing, ketika check out saya nanya ke mas-mas resepsionisnya dan mendapatkan kabar gembira bahwa tram pertama yang lewat di tram station depan hotel ada di jam 06.08. Senang bukan kepalang! Baca lebih lanjut

Solo Trip ke Eropa #1

Tahun ini saya mendapatkan cuti besar tiga tahunan dari kantor. Di tahun normal, sebagai corporate slave akan mendapatkan 12 hari cuti ditambah 2 hari perjalanan, jadi totalnya sekitar 14 hari. Untuk cuti tiga tahunan ini, kalau ga salah saya mendapat 24 hari ditambah 2 hari perjalanan. Dalam upaya memastikan cuti terpakai dengan seksama dan sebaik-baiknya, dan mengingat rencana kuliah master kedua masih di awang-awang, saya putuskan untuk traveling dulu.

Awalnya saya pengen umroh plus ke Turki. Tapi setelah ngobrol sama senior di kantor dan saya diharuskan umroh bersama mahrom, akhirnya saya merencanakan mencari mahrom di traveling ke Eropa. Baca sana sini, saya sempat tergoda untuk ikut tour trip yang berisi 30 orang. Namun setelah dipertimbangkan, saya yang ga suka bergerombol dan basa basi, akhirnya memilih solo trip. Dengan solo traveling atau dengan grup dalam jumlah kecil, saya pikir bisa lebih bebas menentukan agenda dan tentunya akan lebih banyak berinteraksi dengan stranger(s). Baca lebih lanjut