Solo Trip ke Eropa #1

Tahun ini saya mendapatkan cuti besar tiga tahunan dari kantor. Di tahun normal, sebagai corporate slave akan mendapatkan 12 hari cuti ditambah 2 hari perjalanan, jadi totalnya sekitar 14 hari. Untuk cuti tiga tahunan ini, kalau ga salah saya mendapat 24 hari ditambah 2 hari perjalanan. Dalam upaya memastikan cuti terpakai dengan seksama dan sebaik-baiknya, dan mengingat rencana kuliah master kedua masih di awang-awang, saya putuskan untuk traveling dulu.

Awalnya saya pengen umroh plus ke Turki. Tapi setelah ngobrol sama senior di kantor dan saya diharuskan umroh bersama mahrom, akhirnya saya merencanakan mencari mahrom di traveling ke Eropa. Baca sana sini, saya sempat tergoda untuk ikut tour trip yang berisi 30 orang. Namun setelah dipertimbangkan, saya yang ga suka bergerombol dan basa basi, akhirnya memilih solo trip. Dengan solo traveling atau dengan grup dalam jumlah kecil, saya pikir bisa lebih bebas menentukan agenda dan tentunya akan lebih banyak berinteraksi dengan stranger(s).

i-can

Gambar diambil dari sini.

Urusan persiapan traveling yang banyak printilannya sementara kerjaan kantor enggak ada habisnya, saya ikutan Europe on A Budget aja dan langsung ngasih nomor wa untuk dihubungi oleh Kenny dari Kartu Pos. Check list yang musti diurus untuk trip ini adalah:

  1. Menentukan destinasi. Karena di Kartu Pos udah ditentukan destinasinya (walau bisa customized), dan saya juga merasa cukup, maka destinasi trip kali ini adalah negara Prancis, Belanda, dan Belgia. Selanjutnya, saya diminta membuat itinerary dan kota-kota yang ingin saya kunjungi serta detil tanggalnya.
  2. Tanggal keberangkatan. Kepastian tanggal ini diperlukan untuk booking tiket, penginapan, dan tiket kereta antar negara oleh Kartu Pos. Saya akan berangkat (Jakarta ke Paris) pada 13 Agustus 2015 dan kembali ke Jakarta pada 24 Agustus 2015 insya Allah.
  3. Ijin cuti ke kantor. Nah ini yang belum diurus. Sebenarnya saya ga enakan juga sama atasan di kantor karena saya akan mengambil cuti 9 hari saat lebaran bulan Juli 2015, dan mau minta cuti 6 hari lagi bulan Agustus 2015. Karena tiket udah di tangan, maka saya akan menghadap pak manager dengan muka memelas ikhtiar agar cuti saya disetujui :p
  4. Mengurus visa Schengen. Saya berencana untuk mengurus visa ini di Kedutaan Belanda karena saya akan berada paling lama selama trip adalah di Belanda. Untuk tata cara dan dokumen yang diperlukan bisa baca di sini. Info dari blog ini, sebaiknya juga membawa surat ijin jalan dari kantor yang menerangkan bahwa kita diijinkan oleh kantor untuk pergi ke negara destinasi dan kembali ke kantor pada waktu yang tertulis di surat tersebut. Hari ini (14 Mei 2015) saya baru mendaftar appointment mengurus visa dan mendapatkan jadwal di tanggal 24 Juni 2015. Padat cyiiin! Nunggu jodoh aja saya sabar, apalagi cuma nunggu beginian #halah.
  5. Membeli travel insurance. Travel insurance ini menjadi salah satu kelengkapan dokumen untuk apply visa Schengen. Setelah bertanya ke Kenny, saya memilih menggunakan Assist Card GSA seharga $55 untuk yang premium. Pembayaran dilakukan melalui credit card dan kita akan diberikan file PDF Assist Card untuk dipasang sebagai luggage tag dan juga ID Card.
  6. Menyiapkan carrier, sepatu dan sandal yang nyaman. Karena judulnya adalah backpacking, maka saya tidak akan menggeret-geret koper cantik untuk trip ini. Saya membeli Gregory J38 pack for Women 36 lt di Senayan Trade Center (depan Senayan City) dan udah diujicobakan untuk trip ke Penang kemarin. Tas ini ada resleting di bagian depannya, yang bisa bikin kita ngambil barang di dalem tas kayak koper gitu. Jadi ga perlu buka dari bagian atas. Soal sandal, saya juga nemu sandal Hi-Tech unyu ini di STC yang enak di kaki tapi ga enak di kantong.

    sandal unyu

    sandal unyu

  7. Menyiapkan pakaian. Karena saya ga tahan dingin, musti mempersiapkan perbekalan untuk menghangatkan diri tapi tidak bikin tas berat, mengingat saya akan pergi sendiri dan harus mengandalkan diri sendiri. Emang iya di sana ada abang-abang porter yang mau dibayar pake rupiah? >.< AC di kamar aja sering mati daripada idupnya, saya musti menyiapkan diri menghadapi udara Belanda yang labil.
  8. Kamera, mp3 player, power bank, segala charger, universal adapter dan tongsis. Untuk kamera, rasanya saya perlu beli satu baterai lagi karena pengalaman di Penang kemarin baterai ga cukup untuk poto-poto seharian *mengingat di sana pasti banyak mas ganteng objek yang pengen dipoto*. Tongsis pinjem ke senior di kantor aja daripada beli *otak irit*. Universal adapter kalau beli di toko di mall harganya selangit, ada yang sampai Rp 500.000. Mending beli online aja, ga sampe Rp 150.000.
  9. Obat-obatan. Ini nih yang sensitif. Pengalaman belakangan beberapa kali alergi mendadak, saya harus memastikan untuk membawa obat alergi ke manapun. Ga banget deh kalo lagi alergi gitu; udah gatel banget eh badan juga bengep sampe ke muka😐. Obat yang musti dibawa minimal sih obat maag, sakit kepala, tolak angin, balsem, counterpain, dan obat alergi.

Berita buruknya: saya masih banyak pe-er untuk keperluan hari H, termasuk ijin ke kantor dan browsing info-info. Semoga apply visa-nya dimudahkan Allah. Berita baiknya: masih ada waktu tiga bulan untuk mempersiapkan diri🙂.

Wish me luck!

Kalau kamu, udah pernah solo traveling ke mana saja?

11 thoughts on “Solo Trip ke Eropa #1

Habis maen komen dong :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s