Get Lost in A Wedding

Dia terlihat begitu menawan di hari pernikahannya. Dengan mengenakan gaun berwarna coklat keemasan, menyempurnakan tahtanya yang tak terbantahkan di hari itu sebagai sang ratu.

Aku duduk di barisan terdepan untuk menyaksikan wajahnya yang bersemu merah ketika tangan sang pria beruntung berjabatan erat dengan tangan ayahnya, mengucap janji. Jantungku berdegup kencang, lututku terasa lemas.

Gambaran senyum lebarnya ketika dia membuka kado yang aku berikan di kelima ulang tahun terakhirnya, masih terlihat jelas di kepalaku. Aroma rambutnya yang begitu khas dan menenangkan, ketika dia kelelahan menangis dan akhirnya bersandar di bahuku, pun masih bisa aku nikmati hanya dengan memejamkan mata. Lima peti berukuran 2 x 1 meter rasanya tak pernah cukup untuk mengemas kenangan yang kami miliki. Terlalu banyak. Terlalu dalam.

Dulu aku punya hal yang aku perlukan untuk bisa menjadikan takdir berpihak pada kami, kesempatan. Namun aku terlalu takut diikat dan dipasung oleh hal yang bersembunyi di balik kedok komitmen. Dan aku membiarkan 5 tahun berlalu begitu saja tanpa menyisakan jejak perjalanannya, kecuali kenangan.

Setelah kata “sah” terucap, hidupku hanya terisi oleh 1 hal, sesal. Sesal yang tak akan pernah mengubah apapun. Apapun.

And I am lost, because the fight for you is all I’ve ever known.

Picture of Mbak Tiar taken from Tospringe Photography.

Iklan

Lost in Denial

Her friend : He loves you!
Her : He liked me, or maybe he never.
Her friend : How could? He said it to you.
Her : Maybe he drank or made a joke.
Her friend : Terrific. He drove and drank.
Her : I just don’t want to chase the wind. Hope for nothing.
Her friend : Do you love him?
Her : No.
Her friend : Do you love him?
Her : I did.
Her friend : Do you love him?
Her : I DO! Are you satisfied now? She’s crying and choking.
Her friend : You’re just a coward, you’re scared being hurt. Time goes by young lady, two years.
Her : I have to protect my own heart.
Her friend : That’s why you rejected 4 proposals from great guys ?
Her : It’s because I am still waiting for him.

The Secret Tears

They’re a good friend for more than 8 seasons.
Share their stories, laughs and their love life. But they never get crush each other. Never.

@lia : eh katanya kamu mau nraktir aku sushi?
jazz2001 : ah masa si? :p
@lia : dih, iya. Baru juga minggu kemaren blgnya
jazz2001 : minggu deh kita nyushi kalo gt
@lia : ahay, beneran?
jazz2001 : iya, ga pake kalap pokoknya. Bisa makan mi instan ntar aku akhir bulan
@lia : nggak la, cuma ga makan doang dari pagi :lol:. Biar bisa menampung banyak ahahah
jazz2001 : sama aja -_-
@lia : eh eh 😉
jazz2001 : firasat ga enak, pasti ada maunya
@lia : ah, jangan gt dong, aku kan slalu manis :p. Eh kenalin dong sama temenmu
jazz2001 : siapa?
@lia : itu yang tadi fotonya kamu upload di FB, lucu de kayaknya hihi *kedip2*
jazz2001 : dasar ganjen, ga bisa liat yang bening dikit. Ini lo aku, bening bgt, dianggurin aja hahaha
@lia : aish. Siapa namanya?
jazz2001: Albert
@lia : hihi, maooooo..
jazz2001 : aku dapet apa ntar?
@lia : dapet ucapan trima kasih dan kasih sayangku 😉
jazz2001 : ah, lips service doang
@lia : ahaha tau aja. Ya, ya, comblangin *kedip2 lagi*
jazz2001 : iya, ntar aku kenalin..
@lia : aaaahhh, you’re the best eveeerrrrr *hugs*

And tears are streaming from his eyes.
He’s feeling hurt in his chest.
But he doesn’t know, what kind of pain indeed.

Warisan Dari Rumah

Dulu waktu masih tinggal serumah dengan orang tua, maksudnya pas masih sekolah dan belum mulai ngekos (note: aku mulai jadi anak kos sejak kelas 1 SMA), ibuku sering ngomel soal hal-hal kecil dan printilan di rumah. Kadang aku berfikir ibu berlebihan, cerewet, dan kurang mengerti anak muda yang pengen santai-santai kalau sedang ada di rumah.

Sebenarnya banyak kemudahan yang ibu berikan buatku yang notabene adalah anak bungsu. Saat SD aku jarang sekali melakukan pekerjaan rumah, karena aku harus berangkat ke sekolah jam 5 pagi dan sering kali sampai rumah jam 3 sore. Hal ini dikarenakan lokasi perumahan tempat bapak bekerja saat itu jauh dari sekolah yang ada di Singkawang.

Aku ingat, pernah suatu ketika ibu memasak opor dan semua orang yang lagi di rumah sedang makan siang dan menonton tv sementara aku masih di dapur. Waktu itu aku ngotot ingin menggoreng telur menggunakan margarin dan dicampur dengan bawang merah. Menurutku merupakan suatu prestasi kalau aku berhasil menggoreng telur seperti yang pernah ibu masak.

Aku kocok telur, bawang merah dan margarin di mangkok, dan memanaskan wajan di kompor. Setelah itu, aku masukkan kocokan telur tadi ke wajan. Dan hasilnya? Bisa ditebak: gosong. Aku protes ke ibu, kenapa kok gosong padahal sudah dikasih margarin. Ternyata margarinnya harus dipanaskan, bukan dikocok bersama telur T_T.

Untuk soal mencuci baju dalam jumlah yang (yaaa bisa dibilang buat anak SD) agak banyak dengan menggunakan tangan, sepertinya pertama kali aku lakukan pada saat kelas 6. Waktu itu sedang ada kerusuhan Sambas pada tahun 1999, sehingga keluargaku dan beberapa tetangga yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari Pantai Pasir Panjang tidak bisa pulang ke rumah, dan harus menginap di rumah rekan kerja bapak di Singkawang.

Aku disuruh ibu membantu anak tetanggaku (aku lupa namanya, waktu itu si mbak ini udah SMP) yang sedang mencuci baju kami-kami yang numpang menginap. Di saat itu aku baru sadar, I have no idea how to wash clothes by hand. Kebanyakan aku cuma melihat si mbak tadi ngucek dan membantu sedikit-sedikit, karena kalau aku turun tangan sepertinya malah ngerecokin dan bukannya membantu T_T.

Karena merasa ini adalah aib, sebagai seorang anak kelas 6 aku tidak mahir mencuci baju, dari situ aku belajar beberapa hal seperti:

  • kalau mencuci harus dibilas beberapa kali sampai busanya hilang dan bersih
  • tiap pakaian besar dan kecil harus dikucek hingga nodanya hilang

Ibu orang yang rapi dan kadang aku menilainya cenderung perfeksionis untuk beberapa hal. Biasanya kalau hari libur aku akan dibangunkan jam 5 untuk sholat subuh, dan jika beruntung maka aku bisa tidur lagi setelah sholat. Namun keberuntungan itu jarang terjadi :D. Ibu akan mengajakku mulai melakukan pekerjaan rumah, yang diawali dengan ritual menyapu rumah dan halaman.

Ada teori yang harus dipenuhi dalam melakukan pekerjaan rumah ini, jika aku tidak ingin mengulang untuk mengerjakannya lagi. Misalnya:

  • untuk menyapu halaman, maka aku harus mengarahkan sapu lidinya ke satu arah dan mengumpulkan sampahnya di satu tempat biar bekas sapu yang ada di tanah tadi terlihat rapi.
  • kalau menjemur pakaian harus dibalik (supaya warnanya tidak lekas pudar), dihadapkan ke satu arah dan diurutkan sesuai besar-kecil ukuran pakaian itu.
  • setelah mencuci piring, bersihkan tempat cucian piring dan keringkan dengan lap.
  • untuk menata pakaian di dalam lemari, urutkan juga dari yang lebar ke yang kecil, dll.

Dulu aku suka sekali ngomel jika harus menuruti aturan-aturan ini, kadang mikir kalau ibuku itu berlebihan. Tapi ibu selalu bilang, kebiasaan itu ga bisa dibuat dalam sehari apalagi ketiga anaknya adalah perempuan yang sudah seharusnya bisa mengurus rumah dengan baik.

Setelah jauh dari ibu, aku menyadari kalau memang bekal pelajaran serta hukuman untuk mengulang pekerjaan rumah yang pernah aku alami itu berguna sekali. Sekarang aku terbiasa untuk rapi, yah bisa dibilang bisa menata kamar sendiri dan menghandle pekerjaan rumah dengan baik (walau tetep, aku tidak seberapa suka dengan yang namanya mencuci baju >.<).

Efek lain juga ada. Tidak jarang aku yang kecapekan pulang kerja tetap berusaha untuk merapikan kamar terlebih dahulu jika memang sedang berantakan. Jika alam bawah sadarku mulai “merasa gatal” dengan sesuatu yang tidak rapi dan mengganggu mataku, maka aku akan merapikannya juga T_T atau aku akan benar-benar pura-pura tidak melihat (agar tidak tergoda untuk membereskannya).

Kalau melihat video ini, aku jadi bertanya “apakah aku juga menderita OCD gara-gara kebiasaanku ini?”.

Biasanya kalau berangkat ke kantor dan mau menutup pintu, aku akan balik lagi ke dalam kamar untuk merapikan selimut yang masih sedikit berantakan seperti gambar ini.

Menurutku setinggi atau sekeren apapun karir perempuan, dia tetap harus bisa melakukan pekerjaan rumah dengan baik karena dia akan menjadi contoh bagi anak-anaknya.

Women belong in the house… and the Senate.  ~Author Unknown

Thank you, Mom ^___^.

Gambar diambil dari sini.