Rumah-Rumah Baru

Dalam dua hari ini bener-bener merasakan suasana yang sangat-sangat berbeda, karena aku pindah tiga “rumah” sekaligus hihi.

Rumah yang pertama adalah kamar kosan.

Mumpung ada kamar depan yang kosong, jadinya aku memutuskan untuk pindah ke atas. Alasan ini mendapat dukungan penuh dari keadaan kantong yang teriak-teriak minta dibudayakan sesuatu yang bernama cost down. Dengan kepindahan ini, aku bisa menghemat dalam jumlah yang lumayan ^^.

Ini penampakan kamar baruku. Lebih rapi setelah meja digeser agar bersanding dengan lemari. Cukuplah untuk meredam hasrat OCD ku yang masih stadium 1 ^^.

Rumah kedua adalah meja kantor.

Bagaimana bisa ga disebut rumah, karena tiap hari (kecuali minggu) aku menghabiskan setidaknya 9 jam di sana. Karena pindah team, jadinya posisi meja juga pindah. Masih selemparan batu kok sama Mbak Tiar, Pak Bos dan Mas Jati. Aku tau mereka pasti merindukanku gyahahah.

Ini kondisi meja baruku, memang tempat yang keren banget untuk bertapa heheh. I love it. Tv nya juga keren dan segede gaban. Tapi malesin kalo buat nonton film yang ada unsur belek-belekan atau horor >.<.

Dan rumah yang ketiga adalah blog. Aku memutuskan untuk mengganti theme-nya biar lebih fresh dan semangat kalo mau nulis.

Sekian laporan mengenai rumah-rumah baruku. Aku sedang ingin menikmati suasana di kamar baru dan membaca buku yang belum kelar.

Have a nice day all. Be happy ^^.

Rumah yang Bertuan

Rumah yang bertuan
membawa perempuan itu membumbung ke ujung pengharapan
Sedikit penerangan yang bersinar dari lampu minyak
menuntunnya masuk ke ruangan sempit dan beriak

Rumah yang bertuan
menjebaknya dalam labirin tak berkesudahan
dengan dinding dingin yang mengelupas

Rumah yang bertuan
berlaku bak bangunan kokoh tak goyah karna jarak,
tak renta digerus usia
Nyatanya hanya gubug sederhana berlantai pasir hisap
menjebak kaki perempuan itu ke lubang tak berdasar
Layak kutub magnet yang berseberangan, diikutinya
tanpa bisa melawan

Rumah yang bertuan menebar bau surga dengan amonia
tak menyediakan tiket pulang, kawan.

Pahitnya Kopi yang Membawaku Pulang

Hanya cerita pendek yang terinspirasi dari sebuah percakapan.

Panasnya jalanan Jakarta siang itu terasa kontras dengan sejuknya udara di dalam salah satu mall yang berada di dekat tempatku menunggu bis Bekasi. Sambil meminum iced coffee yang  aku beli dari sebuah kedai kopi ternama, aku berdiri di bawah terik matahari dengan balutan asap berbagai kendaraan pribadi sampai metro mini.

Aku menghela nafas. Entah tanda kecewa atas carut marutnya tata ruang ibukota atau karena bis yang tak kunjung datang. Atau mungkin karena keduanya. Bisa jadi.

Di depanku berdiri seorang lelaki paruh baya, kulit hitamnya seakan menandakan bahwa dia berteman baik dengan matahari siang di Jakarta. Di tangannya ada beberapa buku tipis dengan sampul berwarna cerah. Kamus bahasa inggris bergambar rupanya. Aku mengetahuinya setelah mencuri pandang ke arah sampul buku yang dibawa lelaki itu.

“hmmmhh, susahnya cari duit jaman sekarang. Cepet kiamat ajalah ya Tuhan kalo kayak gini.. “, keluhnya.

Aku mengrenyitkan dahi seketika, “doa macam apa itu ? “ gerutuku dalam hati.

Dia menghitung uang yang diambil dari saku kaosnya yang bergambar salah satu caleg dari partai besar. Sepertinya itulah uang yang diperoleh lelaki itu sejak pagi hingga menjelang sore ini. Dalam hati aku ikut menghitung, karena tidak banyak lembaran lima ribuan yang dia miliki.

Aku tercekat.

Kopi yang daritadi aku bawa dan aku minum, bagaikan obat dehidrasi yang sangat mujarab, seketika berubah menjadi cairan getir dan pahit yang meracuni hatiku bak Klorokuin dan Primakuin untuk penderita malaria. Aku merasa bersalah pada lelaki setengah baya itu. Aku kehilangan nafsu untuk menghabiskan sisa iced coffee ku tadi yang masih setengah gelas.

Betapa tidak, uang yang dia cari dengan susah payah hanya sepertiga dari harga segelas es kopi yang harus aku bayar. Aku merasa berdosa. Merasa dibodohi nafsu sendiri. Andai saja aku lebih bijak, uang yang aku belikan es kopi tadi bisa aku berikan padanya. Mungkin tidak kurang dari 30 bungkus mie instan bisa diberikan pada anak-anaknya untuk makan selama beberapa hari. Atau bisa ditukarkan dengan 8 kg beras kualitas biasa beserta ikan asin. Aku merasa begitu egois.

Bis yang aku tunggu telah datang. Aku segera naik dan memilih bangku yang berada di dekat jendela. AC yang ada di dalam bis memberikan kesejukan setelah setengah jam aku berdiri menunggunya bersama panas matahari Jakarta.

Pikiranku memutar kembali kejadian sekitar dua tahun lalu, sebelum aku mendapatkan pekerjaanku yang sekarang. Di masa aku menjalani hari-hari bersahabat dengan terik matahari Surabaya, sembari membawa beberapa sample produk. Aku pernah bekerja sebagai seorang sales panci.

Berjalan menyusuri trotoar, masuk dari satu perumahan ke perumahan lain dengan harapan ada dua panci atau lebih yang terjual setiap hari. Tidak mudah memang. Tak jarang betisku yang sudah kaku karena berjalan mulai pagi sampai magrib tak menemui hasil yang sepadan, bahkan hanya untuk membeli counterpain pun tak cukup.

Sampai akhirnya aku diberi tahu seorang teman bahwa perusahaan tempatku bekerja sekarang sedang membuka lowongan. Kebetulan aku memenuhi kualifikasi yang diajukan. Setelah menunggu selama tidak kurang dari 2 bulan, akhirnya aku mendapatkan kabar gembira. Aku diterima dan akan pindah ke Bekasi.

Keluargaku juga menyambut gembira. Perjuangan ayahku yang hanya seorang petani, dan ibuku yang berjualan batik keliling membuahkan hasil. Kaki ibu pun harus dikorbankan untuk bisa membantu ayah membiayai sekolah sarjanaku dan dua orang adikku. Tulang kaki kanan ibu meradang karena kelelahan dan kurang kalsium, sehingga sekarang ibu sulit untuk berjalan.

Pada hari kepergianku, aku melihat air mata kedua orang tuaku. Aku mengartikannya sebagai air mata bahagia sekaligus kecemasan. Sebagai anak perempuan tertua dan satu-satunya, aku harus pergi jauh dari mereka dan pindah ke kota yang entah bagaimana lingkungan keagamaan dan sosialnya. Berita di tv tentang pembunuhan, pemerkosaan dan narkoba semakin membuat hati mereka berat untuk mengantarkan kepergianku.

Tak banyak pesan dari mereka. Ayah hanya berbisik “jaga iman, nak”, ibu berpesan “jangan lupa sholat ya nduk” ketika kami berada di stasiun Gubeng. Sementara kedua adik lelakiku sambil berkaca-kaca, mengingat mereka tak pernah berpisah jauh dariku, berkata “kalo lebaran jangan lupa pulang ya mbak”. Harapan yang sederhana, pikirku saat itu.

Aku menegakkan posisi dudukku dan mengambil uang untuk membayar bis. Tak terasa dua tahun sudah aku jauh dari mereka, keluargaku. Pesan-pesan sederhana itu ternyata tak semudah yang aku kira, iman dan sholat.

Entah berapa lama aku meninggalkan sholat dhuha, apalagi tahajjud. Tenagaku sudah hampir habis untuk bekerja yang sering kali baru pulang setelah jam 7 malam, dan rasa kantuk yang tak tertahankan saat membaca buku di kamar. Jangankan tahajjud, isya pun kadang terlewatkan begitu saja karena sering dikalahkan oleh acara tv atau browsing internet.

Istighfarku dalam hati. Pernah aku merasakan kedamaian itu, uang yang tak berjumlah jutaan pun rasanya cukup dan penuh berkah. Saat di mana aku rajin beribadah wajib dan menambahkan 4 rakaat dhuha dan 4 rakaat di sepertiga malam.

Entah apa kesibukanku selama ini, dhuha terlewat begitu saja. Ku cukupkan hanya pada sholat wajib, itupun di akhir waktu sholat dengan dalih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.

Buliran air yang terasa hangat mulai membasahi pipiku. Aku membasuhnya segera dengan tissue karena tak ingin menarik perhatian penumpang lain. Pilu. Ada ketakutan dan kekecewaan pada diri sendiri. Ketakutan akan apa yang bisa menjadi bekalku ketika jasad ini tak lagi bernyawa. Kekecewaan akan waktu yang telah aku sia-siakan begitu saja, uang yang aku belanjakan yang hanya untuk kepuasan diri yang tak ada habisnya.

Tuhan, aku berdosa padaMu, aku mendzolimi hambaMu. Luruskan jalanku sekiranya aku tak lagi lurus, ingatkan aku sekiranya aku sedang lupa, rengkuh aku sekiranya aku berlari terlalu jauh, putarkan kembali gambar wajah ayah ibu dan pesan mereka ketika aku salah arah. Mungkin kejadian kopi dan lelaki paruh baya tadi adalah salah satu caraMu untuk mengingatkanku.

Ku buang gelas plastik kemasan kopi tadi sesampainya aku di rumah. Pahit manis rasa iced coffee begitu cepat hilang dari lidah, bahkan sebelum aku menemukan tempat sampah. Namun tidak demikian halnya dengan getir yang tersisa dan mengendap.

Aku dan Toko Buku

Sejak tiap hari minggu ikut les, aku jadi sering banget ke Gramedia Grand Indonesia. Dan rupanya hal ini bisa membuat kecanduan.

Ya, aku candu membeli buku. Kalopun hari itu aku ga ada rencana mau ngapain setelah les, nonton misalnya, maka aku akan ke toko buku. Belum tau buku yang bakal dibeli? Bukan masalah, ntar pas di sana juga bakal ada yang menarik hatiku.

Seneng? Tentu saja, koleksi buku bertambah dan aku ga ada alasan untuk bilang “duh bosen, enaknya ngapain ya pas di kosan?”. Hari ini tadi juga sama, walaupun buku yang beberapa waktu lalu baru dibeli (atau minggu lalu ya? lupa) belum kelar dibaca, tapi… tadaaaa aku udah beli buku baru hihihi *ketawa girang*. Dan buku yang beruntung untuk aku bawa pulang adalah:

dan

Oke, oke emang aku rada ketinggalan jaman karna baru beli Filosofi Kopi sekarang. Padahal ini buku uda terbit dari jaman bahula. Tadinya pengen nyari novel yang lain, tapi malah nemunya ini. Ya aku bawa pulang saja.

Setelah dilihat-lihat di rak bukuku yang tumpukannya belum seberapa, ternyata aku masih punya banyak pe-er membaca. Inilah buku yang belum kelar dibaca atau bahkan belum dibuka bungkusnya:

  1. Sejarah Tuhan oleh Karen Armstrong
  2. 101 Kesalahan Perempuan yang Menghambat Karier Mereka oleh Lois P. Frankel, Ph.D
  3. Honeymoon with My Brother dan How The World Makes Love oleh Franz Wisner
  4. The Heart Inside The Heart oleh Alexandra Dewi
  5. Blink, Outliers, Tipping Point dan What The Gog Saw oleh Malcolm Gladwell
  6. Mengapa Perempuan Gagal Karena Uang & Bagaimana Mengatasinya? oleh Liz Perle
  7. Breakfast at Tiffany’s oleh Truman Capote
  8. Anne of Green Gables oleh Lucy M. Montgomery

Sepertinya itu aja sih. Aku juga sedang mencari para tersangka yang meminjam buku “Kartini Nggak Sampai Eropa” ku? Mengakulah dan tolong kembalikan hihi..

Happy reading all. Be happy by buying, collecting and reading books ^^.

My Favorite Prayer

The first time I knew this prayer was from one of his blog, but I was failed to find the post. So I used google to find it for me.

This was one of Rasulullah’s prayer. It’s so beautiful and I always say it on my prayer.

Ya Allah,
Dengan ilmuMu atas yang ghaib dan kuasaMu atas seluruh mahluk
Hidupkanlah aku jika dalam pengetahuanMu kehidupan itu lebih baik bagiku
Dan matikanlah aku jika dalam pengetahuanMu kematian itu lebih baik bagiku

Ya Allah,
Aku mohon kepadaMu rasa takut baik pada saat terlihat maupun tersembunyi
Aku mohon kepadaMu kalimat yang benar pada waktu rela maupun marah
Aku mohon kepadaMu sifat hemat pada waktu fakir maupun kaya
Aku mohon kepadaMu nikmat yang tak habis-habis
Aku mohon kepadaMu kesenangan hati yang tak pernah putus
Aku mohon kepadaMu kerelaan setelah ada ketetapan, sejuknya kehidupan setelah mati
Nikmat saat melihatMu dan rasa rindu untuk bertemu denganMu
Tidak dalam kesulitan yang menyengsarakan
Tidak pula dalam fitnah yang menyesatkan

Ya Allah
Hiasilah kami dengan hiasan keimanan
Dan jadikanlah kami sebagai pemberi petunjuk bagi orang-orang yang mendapat petunjuk
Amiin.

(HR. An-Nasa’i, Imam Ahmad, Ibnu Hibban)

So beautiful, right? It can make me feel close to Him and surrender.

Surat Untuk Radit

Review Marmut Merah Jambu.

Dear Raditya Dika,

Aku tidak pernah berharap kalau kamu akan membaca surat ini. Tapi entah dorongan apa yang membuatku bersikeras untuk tetap menuangkan sedikit yang ada di hati.

Ini bukan tahun pertamaku berkenalan denganmu. Masih aku ingat betul ketika aku harus setia menunggumu, bersama seorang temanku, tiba di Perpustakaan Kota Malang beberapa tahun yang lalu. Ya, tentu saja hanya untuk bertemu denganmu, merelakan diri berada satu ruangan dengan para abege labil yang mengelu-elukanmu dan berusaha saling memamerkan paham “aku lebih mengenal Radit dari pada kamu lowh”-nya.

Aku membawa buku pertama dan keduamu, yang telah cacat karna ada tanda tanganmu di halaman depannya, ke tempat di mana aku tinggal sekarang. Mantan pacarku yang memperkenalkanku padamu. Dia sepertinya, saat itu, mengikuti dan menikmati cerita-cerita yang ada di blog lamamu sebelum kamu tenar dan menjadi artis seperti sekarang.

Awalnya, aku melihat cover Kambing Jantan dengan mengerenyitkan dahi “Apa iya buku yang judulnya Kambing Jantan ini bagus dan lucu?” Karena judulnya lebih mirip sama buku panduan untuk beternak dengan cover mukamu yang dipenuhi dengan bulu. Walaupun begitu aku percaya kalau mantanku punya selera yang cukup bagus, jadi aku melihat sebentar bukumu dan aku beli.

Sekali membaca Kambing Jantan, aku tertawa. Walau banyak kesalahan dalam penulisan untuk edisi cetaknya, yang mengusikku selaku penderita OCD ringan untuk menyalahkan sang editor, aku tetap tidak bosan untuk membacanya lagi. Dan lagi. Ketika aku jenuh atau sedih, bukumu bisa menjadi sedikit penawarnya. Hal ini membuat aku ga sabar untuk membaca bukumu yang kedua, Cinta Brontosaurus.

Ketika buku itu sudah aku miliki, aku membacanya dengan seksama. Selalu dipenuhi rasa tidak sabar untuk membuka lembaran berikut dan berikutnya lagi. Aku tertawa, aku bersedih, hanyut dalam alur ceritanya. Setelah sampai pada halaman terakhir, aku akan dengan suka rela membukanya dari awal lagi ketika aku ingin membacanya kembali. Kemudian di buku ketiga dan keempat, aku lupa.

Tapi entah kenapa tidak demikian halnya di buku Marmut Merah Jambu. Apa mungkin selera humorku berkurang? Atau memang humor hanya pemanis di buku yang bertema drama percintaanmu? Aku buka tiap babnya, sesekali aku tertawa namun tidak sekerap sebelumnya. Ada beberapa bab yang aku skip untuk membaca bab lain yang mungkin akan menjawab rasa penasaranku. Tapi aku belum menemukannya.

Dan aku akan mengulangi membacanya dari awal lagi. Mungkin aku yang salah, moodku yang salah, ada yang terlewatkan olehku, atau entah faktor apa yang membuatku masih digantung rasa penasaran yang masih belum terjawab.

I really appreciate your hard work. Menulis buku bukanlah hal yang mudah, semudah kita bersin atau mematikan jam weker dengan setengah sadar di jam 5 pagi. Apalagi 2 tahun waktu yang kamu perlukan untuk menyelesaikan pekerjaanmu kali ini.

Akan lebih mudah bagiku ketika aku hanya membeli bukumu di toko, menyobek plastik dan kemudian membacanya. Ketika aku merasa ada yang tidak pas, aku diam saja dan menggeletakkan buku itu (meskipun aku belum menamatkannya) di tumpukan buku lain yang sudah aku baca. Toh aku tidak ada andil dalam menikmati kesuksesanmu.

Lagi-lagi ini mungkin hanya masalah subjektif dan ekspektasiku semata. Mungkin kurang bijak juga jatuhnya ketika aku membanding-bandingkan Marmut Merah Jambu dengan karya-karyamu sebelumnya. Tiap buku pasti meninggalkan kesan yang berbeda bagi pembacanya.

Maaf jika tidak berkenan. Aku tau, adalah hal yang tidak mengenakkan ketika ada pihak yang memberikan tanggapan kurang baik atas hasil kerja kita.

Pada akhirnya, kerja keras kita memang tidak bisa memuaskan semua pihak. Tapi aku turut senang karna kamu mendapatkan banyak review bagus dari pembaca yang lain mengenai buku Marmut Merah Jambu.

Salam

Fitri

Aku, Tak Memiliki Alasan

Bumi masih berotasi, mentari mengintip dari balik awan untuk menghangatkan kota yang penuh polusi. Manusia berjejalan menjemput rezeki, atau hanya mengadu nasib dan berjudi untuk mengisi perut hari ini. Ya, hanya hari ini.

Aku berdiam diri, menikmati pikiran yang silih berganti mengisi ruang cerebrum. Lobus frontalis yang ada pada benda seberat dua gram di kepalaku itu berusaha keras untuk berfikir, menyeimbangkan kerja sulkus entralis yang mengirimkan sinyal pada hatiku untuk merasa.

Jarang otakku bisa berdiam diri dan tenang, setenang sikap dudukku di atas bangku lusuh berwarna hitam bis jemputan pagi. Dari balik jendela berdebu, aku menyaksikan jalanan sesak oleh manusia yang berebut eksistensi, berlomba untuk mendapatkan rute tercepat ke destinasi. Apa yang aku, kamu, kita cari sebenarnya?

Di saat seperti ini, duduk diam sendiri, adalah waktu yang paling aku senangi. Waktu yang tepat untuk berfikir atau hanya sekedar melatih otak kanan untuk merangkai kata. Menjadi pujangga sungguh menguras emosi. Sementara aku sadar hidup tak semanis dan seindah bait puisi.

Pernah aku bertanya tentang cita-cita, pada seorang muda dan paruh baya. Kebanyakan dari mereka menjawab hal yang sama, mendapatkan bahagia. Mungkin ini hanya masalah persepsi, tapi menurutku kebahagiaan itu tak perlu dicari karena setiap dari kita sejatinya memiliki. Namun lagi-lagi adalah ekspektasi, yang tak jarang menyamarkan pemahaman bahagia dari makna dasarnya.

Bukankah kebahagiaan ada pada hati yang bersyukur?

Ketika dada terasa pilu, ketika bahu terlau lelah dan tak sanggup memanggul beban baru, ketika kepala yang tak lebih besar dari bongkahan batu terasa penuh, maka apa atau siapa yang patut dipersalahkan? Benda seberat dua gram itulah yang harusnya berada di kursi pesakitan! Mungkin benar adanya pepatah yang mengatakan jika pikiran itu adalah seburuk-buruk tuan dan sebaik-baiknya pelayan.

Sungguh. Tak perlu pergi ke Eropa atau Amerika untuk membuatmu tertawa, tidak juga dengan menenteng tas Prada seharga belasan juta atau parfum sekelas Dolce & Gabbana, apalagi berusaha mengukurnya dengan harta. Jangan berlaku bak mencari gajah hilang yang sejatinya ada di depan mata dengan dalih mencari bahagia. Jangan.

Aku beranjak dari kursi hitam, mengangkat tubuhku keluar dari bis dan menyusuri lorong menuju ruangan kerjaku berada. Sekilas aku pandang papan putih bertempelkan tulisan “Apa yang membuatmu tersenyum hari ini?”. Sederhana, limpahan kasih dari Tuhanku yang tak sedikitpun aku memiliki kuasa untuk menghitung dan menimbangnya. Harga mati yang tidak akan pernah bisa aku wakili dengan untaian kata.

Tuhan, aku tersenyum karena aku bersyukur.

Terlahir sebagai hambaMu merupakan berkah luar biasa, tak perlu aku berjalan tanpa petunjuk dan meraba. Terlebih lagi masih dikaruniai dengan kehadiran ayah bunda. Doa-doa dan sujud mereka mungkin yang menyingkirkan duri dari jalanku, meminta pada Zat Yang Maha untuk menambahkan sehari lagi pada umurku.

Atas iman yang masih Kau percayakan. Atas pekerjaan yang aku miliki, penghasilan yang lebih dari cukup untuk menghidupi diri. Tak perlu aku khawatir akan makan atau tidak sore nanti. Atas nikmat sehat yang Engkau berikan padaku hari ini. Atas panca indera yang sempurna untuk meresapi kebesaranMu.

Betapa senyum itu mampu melegakan hatiku yang sempit, mampu memulangkan pikiranku yang berkelana, mampu menentramkan jiwa saudaraku yang berduka.

Tuhan, sesungguhnya aku tak memiliki alasan untuk bersedih. Tidak sama sekali.

Gembel Time To Phuket (Part 1)

I’d like to say thank you to Air Asia (brasa promosi) for giving low fare ticket, so I can go to Phuket.

Tiket ke Phuket udah dibeli dari jauh-jauh hari, bulan November 2009. Tadinya sih ga kepikiran buat maen ke sana. Tapi entah kerasukan apa, setelah tau Elly, Wawan, Chocky dan Mas Eriek beli tiket, aku langsung beli juga pada hari yang sama ^^ *kerasukan setan CC sepertinya*.

Mau ke sana diribetin dulu dengan masalah cuti di kantor. Entah kenapa, rada susah juga untuk urusan mengajukan cuti selama 2 hari (doang) di sini. Approval cutiku yang pertama di reject, diminta untuk sehari aja cutinya. Akhirnya (ngotot) mengajukan approval lagi, dan pada H-1 baru diapprove sama si manager.

Persiapan ke sana seadanya aja sih, nggak yang ribet juga walau ini pengalaman pertama pergi ke luar negeri *udik abis*. Hal-hal yang termasuk penting untuk dibawa adalah:

  1. Passport, yak harga mati ini mah. Cek masa berlaku passport, ga boleh kurang dari 6 bulan.
  2. Kartu NPWP serta photocopy-annya buat urusan bebas fiskal.
  3. Kemaren juga bawa photocopy-an akta, sebagai tindakan preventif dari seorang yang memiliki nama hanya 1 kata ^^. Tapi ternyata ga dipake kok.
  4. Baju ganti dan kawan-kawannya.
  5. Obat-obatan.
  6. Segala macam cream yang diperluin buat muka dan badan. Tapi bawanya jangan banyak-banyak, karna maksimal hanya 100ml yg bisa dibawa ke kabin.
  7. Kaos kaki juga perlu, karna kita ga tau bakal solat di mana dan dengan gaya seperti apa.
  8. DUIT dan tiket tentunya. Ini penting sekali ^^.

Penerbangan dari Bandara Internasional Seokarno Hatta ke Phuket kurang lebih selama 2.5 jam. Walau bandaranya kecil (waktu sampe di sana cuma ada 1 pesawat doang yang parkir), tapi bersih.

Sampe di sana langsung menuju ke toilet dulu, sebelum ke bagian imigrasi. Udah jauh-jauh ya ke sono, tapi yang aku dan Elly denger pertama kali di toilet cewek adalah

“Wadhem yo banyune ndek kene”

Yang kalau diartikan di bahasa indonesia adalah dingin ya airnya di sini. Misal ada yang ga tau, itu tadi adalah bahasa jawa cuy :lol:. Ini Thailand apa Suriname si? 😀

Di bandara

Untuk menuju ke Phuket Town di 165 Ranong Rd. Maung T. Taladyai Phuket, di mana penginapan kami “Phuket Backpacker” berada, kami memilih untuk menggunakan bis karna lebih murah dibanding kalo naik taksi, yakni @TBH85 ato sekitar Rp 25.500. Perjalanan ke sana kira-kira 45 menit.

The airport bus

Harga penginapannya sendiri adalah THB250, atau sekitar Rp 75.000. Pelayanan dan fasilitasnya memuaskan. Kamar dan kamar mandinya juga bersih. Jadi recommended buat yang nyari penginapan murah dan bersih di Phuket. Sebagian besar si isinya bule ^^.

Phuket Backpacker

Setelah check in, kami jalan ngiterin Phuket Town. Kotanya ga rame. Yang bikin beda dengan Indonesia adalah lalu lintasnya yang teratur, motor itu ada keranjang depannya dan banyak mobil berjajaran di pinggir jalannya, mobilnya keren-keren pula. Walau kotanya kecil, di sana banyak lampu lalu lintasnya.

Tapi ada juga yang serem, masalah tiang dan kabel listrik. Unbelievable, keluar suara-suara aneh dari kabel listrik di sepanjang jalan. Iya, sepanjang jalan! Meteran listrik dan stop kontak (colokan listrik itu apa si namaya?) dengan gampangnya ditemukan di tiang listrik di sana. Ajegile.

Kabel listrik yang serem abis

Mulai dari sore sampe malem, kami mengunjungi kuil (lupa Wat apaan namanya), foto-foto di pinggir jalan, dan setelah nyadar kalo laper kami nyari tempat makan.

Di depan Thaihua Museum
Di depan Thaihua Museum

Yang di atas ini cuma foto di depan museum, museumnya udah tutup karna uda kesorean. Kalo kata Chocky si sebagai tanda kalo kami udah pernah lewat sana heheh.

Elly nampang di depan Wat
Wajah girang bisa maen ke Phuket
At the cross road

Setelah beradu argumen sebentar untuk masalah tempat makan, kami sepakat untuk makan di sebuah tempat yang penampakan dari luarnya cukup meyakinkan dan harga masih bersahabat. Rada susah buat nyari warung yang 90% halal. Tapi bismillah aja, kami mesen makanan yang gada porknya. Nama tempat makannya “Wanchan” di 68 Thalang Road.

Wanchan

Aku pesen spicy sour prawn soup alias tom yam TBH90, orange juice TBH40, dan es kelapa muda TBH40. Tom yamnya enak dan seger banget. Setelah perut kenyang, kami melanjutkan perjalanan dan berhenti di taman kota setelah ngeliat patung naga keemasan dari jauh. Ada sejarah tentang berdirinya taman kota ini yang ditulis di dinding monumennya, tapi aku lupa ^^.

Monumen yang isinya soal sejarah taman kota
The dragon statue

Setelah puas foto-foto, kami sepakat untuk pulang. Nah di jalan aku foto dulu di salah satu mesin ATM nya. Keren warnanya, merah-merah ^^ *oke, udik abis*. Pas ngelewatin pasar deket penginapan, kami juga nyantol dulu buat beli durian dan mangga. Kalo beli mangga di sini bisa minta kupasin dan potongin skalian loh.

Bersanding dengan ATM
Nawar mangga di pasar ^^

Sampai di penginapan udah jam 10 malem. Kami langsung mandi dan istirahat. Niatan untuk maen uno diurungkan karna kaki udah pegel dan perlu energi untuk perjalanan keesokan harinya.

Pengalaman yang aneh pas nginep di sini adalah pas lagi sholat subuh. Solat subuhku dengan gaya yang beda? Ya ga lah. Pas solat dan lagi berdiri di rakaat pertama, tau-tau ada bule cewe dari ruangan sebelah yang badannya gede berhenti di sebelahku. Dia baru bangun dan masih dalam keadaan mabuk, ngeliatin aku solat. Mending kalo ngeliatnya dari jauh, tapi ini nggak. Dia mendekatkan mukanya ke mukaku. Sereeeem >.<, mana masih rakaat pertama pula. Takut aja kalo tiba-tiba dia melakukan hal yang aneh-aneh. Untung aja Elly cepet dateng dan ngomong ke bulenya:

Elly: she’s praying. She’s a moslem.

Bule mabok: Oh that’s beautiful. I am too lazy to wake up in the morning to pray. Blahblahblah.

Aku (dalem hati): bule sinting

Si bule tadi ternyata dari NZ. Dengan masi sempoyongan, dia narikin tas-tasnya yang segede gaban keluar kamar buat diberesin. Katanya hari itu dia mo pulang ke kampungnya setelah 7 bulan keliling-keliling.

Habis kelar beresin barang-barang, kami check out. Yak, cukup sesore semalem aja menginap di Phuket Backpackernya. Tujuan selanjutnya adalah mengunjungi tempat lain di Phuket yang bakalan ditulis di postingan berikutnya ^^.

Have a nice day all. We have to be happy and smile all the time ^^