49 Days

Ini adalah 20 episode serial drama korea yang saya lihat weekend kemarin. Sekilas drama ini tidak ada bedanya dengan serial drama korea yang lainnya: stylish, fashionable, nice setting places, nice soundtrack etc. Awalnya saya kecewa sih karena aktornya tidak setampan Lee Min Ho, tapi saya tetap menonton karena penasaran akan ceritanya.

Serial ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Ji Hyun yang memiliki kehidupan 9/10, seems perfect: orang tua yang menyayangi dia, cantik, materi berkecukupan, calon suami yang keren dan mencintainya, she has the dream world. Dia pewaris tunggal perusahaan orang tuanya. Sang calon suami, Kang Min Ho, looks like a hard to find guy dan akan menjadi pimpinan perusahaan orang tua Ji Hyun setelah mereka menikah.

Namun sayang beberapa hari sebelum pernikahannya, Ji Hyun mengalami kecelakaan mobil beruntun akibat ada Song Yi Kyung, seorang perempuan yang ingin bunuh diri dengan menyeberangi jalan dan berusaha menabrakkan dirinya pada truk yang melintas. Song Yi Kyung berhasil diselamatkan oleh dokter yang selama ini memang memberikan perhatian kepadanya, namun sayang ruh Ji Hyun lepas dari jiwanya yang menyebabkan dia berada dalam keadaan koma.

Ji Hyun bertemu scheduler, sosok yang digambarkan sebagai pihak yang memastikan bahwa orang-orang mati pada waktu dan saat yang telah ditentukan oleh schedule takdir. Ji Hyun diberikan waktu 49 hari oleh scheduler untuk mengumpulkan 3 air mata dari orang-orang yang tulus mencintainya, selain mereka yang memiliki ikatan keluarga, untuk bisa hidup kembali. Sementara sang scheduler sendiri meninggal pada usia 23 tahun dan voluntary menjadi scheduler agar bisa mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan urusan dunianya yang belum terselesaikan ketika dia meninggal. Ringkasan cerita bisa dibaca di sini.

Drama ini membuat saya berfikir, what if I were in Ji Hyun’s position.

Saya tidak pernah tahu kapan saya akan mati, saya juga tidak tahu apakah akan ada yang menangisi saya dengan tulus jika saya sedang koma. Respon orang ketika saya mengalami musibah atau mungkin dalam keadaan koma/mati sebenarnya menjadi pembuktian whether I have lived well or not, how deep I left my footprints or how much I was coloring their life.

Saya jadi menyadari kalau saya banyak menyia-nyiakan waktu, menggunakannya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan mengaburkan fokus saya atas apa yang seharusnya saya lakukan di dunia. Saya juga jarang atau kurang show my feeling for my family and people around me about how I love them and thankful for having them in my life. Hal-hal yang terlihat sepele dan feeble (atau istilah kerennya menye-menye) yang biasanya justru menyesakkan ketika saya menyadari bahwa saya belum menyampaikan dan melakukannya, selain ibadah dan bekal untuk hari penghakiman kelak tentunya.

Mungkin dengan membayangkan dengan berada pada akhir batas waktu kita hidup di dunia and we take a look back what we’ve done bisa menjadi cermin tentang what should we do and how to live this life well. Setelah menonton 49 days saya juga jadi lebih berhati-hati menyeberangi jalan dan berharap punya Han Kang.

Have a good life, pals.

Iklan

Umur

Saya hanya ingin menuliskan fenomena yang selama ini saya amati. Ya mungkin things have changed dan hal ini merupakan salah satu respon bagi mereka yang ada di dalamnya *duh kok berat bahasanya*.

Jadi gini, saya merasa kalo saya sedang berada di lingkungan yang mempermasalahkan umur. Menurut saya sih ya (mengingat Indonesia (konon kabarnya) adalah negara demokratis, boleh dong saya punya pendapat), we can’t stop adding ages karena itu merupakan proses alamiah, we are human.

Nah yang membuat saya bingung adalah mengapa umur menjadi masalah ketika orang belum menikah? Mungkin emang culture, I accept it. But when I find younger people make jokes to the older one, yang saya pikirkan adalah belum tentu lo yang lebih muda bisa merasakan dan melewati umur yang sama dengan yang lebih tua :p. You can make jokes about someone’s age, but there’s no guarantee you’ll pass her/him current age. 

Dan yang lebih tua, is it that hard to accept your actual age? Menurut saya yang sebenarnya menjadi masalah adalah your achievement or what you have done not only for your self but also for your surroundings.

I am 26 yo and still being a single. So? 😉

Trouble is… A Gift

Nowadays, blogging time is such a precious time for me. I can’t tell how I miss to make a fiction story, or bring something here out of my brain. I miss to write until late at night, only to satisfy myself. Maybe this is my another random post because I have things on my mind.

I was a pessimist person, first I was in trouble I would cry and complain. I thought much, and I needed someone to be right beside me and said “everything will be okay, no matter what I’ll be here”. I bothered people around me, and I wasn’t a nice person, I wasn’t tough and I didn’t have a strong woman material. Until someday I realized, I couldn’t be the same person. I start doing things that I might not do in the past.

Baca selebihnya »

Bring The Words, Get The Blessing

Ya udahlah pakai bahasa ibu saja menulisnya, walaupun judulnya pakai bahasa mertua *ngarep to the MAX* *namanya juga usaha* :p.

Karena ini masih awal Ramadhan, dan pastinya semangat untuk mengisi Ramadhan dengan hal-hal baik masih hangat seperti baru dikeluarkan dari oven, saya jadi berfikir mengenai beberapa hal yang mungkin sederhana tapi bisa digunakan sebagai sedikit dari sedemikian banyak cara untuk meraih berkah Ramadhan di samping ibadah wajib.

Saya teringat pembicaraan dengan Rizka sebelum dia berangkat umroh beberapa bulan lalu tentang titipan doa saya dan teman-teman. Intinya sih doa akan lebih ijabah kalau kita ikhlas mendoakan orang lain tanpa sepengetahuan mereka. Apapun yang dasarnya ikhlas, pasti jatuhnya akan lebih baik bukan? Nah, tanpa harus diminta kita bisa mulai mendoakan orang-orang di sekitar kita; keluarga, teman, rekan kerja dll. Bisa doa secara spesifik kalau kita tahu apa yang mereka inginkan, atau secara global dengan meminta ke Allah untuk mengabulkan doa mereka.

Kalau ada keinginan-keinginan kita yang diijabah Allah, jangan keburu girang dan besar kepala dulu. Mungkin saja itu bukan hasil dari doa kita, mungkin saja doa kita masih nyangkut dan belum sampai di langit karena perbuatan yang kita kerjakan, tapi keinginan yang jadi nyata tadi adalah hasil dari doa orang lain yang lebih di dengar Allah :). Sebenarnya dengan mendoakan orang lain, kita belajar untuk turut senang dengan kebahagiaan yang mereka miliki, selain berpahala tentunya.

Selain mendoakan orang lain, pasti sudah pada tahu keutamaan menyayangi anak yatim dan bersedekah bukan? Kalau belum, google siap membantu hehe. Nah bagaimana kalau dikombinasikan keduanya? Saya yakin teman-teman pasti banyak yang ingin bersedekah, hanya sering bingung mau disumbangkan ke mana. Di depan kos saya ada Panti Asuhan Nusantara yang mengasuh anak yatim. Bagi yang ingin bersedekah, di website nya tercantum nomor rekening dari panti tsb.

Hal simple lain yang bisa dilakukan adalah stop complaining, errr.. atau kurangilah mengeluh. Saya merasa sangat terganggu apabila mendengar orang mengeluh. Jangankan mengeluh secara terang-terangan, menghela nafas panjang dan menghembuskannya dengan borongan juga menimbulkan efek negatif secara psikologis pada orang di sekitarnya, IMHO. Ketika saya sudah tidak bisa menahan diri ingin mengeluh, sementara saya tidak sedang sendirian, saya kadang meminta maaf dan memberi tahu terlebih dahulu “maaf ya aku mau ngeluh sebentar”. Hal negatif itu cepat menular, jadi lebih baik kita tidak menjadi sumber virusnya.

The beauty of a view depends on the position where we stand.

Di hal-hal yang kurang menyenangkan sekalipun, ketika kita memilih untuk mempercayai there are messages behind them or lesson learned maka yang tadinya musibah malah akan menjadi berkah. Tuhan adalah seperti apa yang dipikirkan hambaNya, jadi berbaiksangkalah pada rencana-rencanaNya :).

Maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan kasihNya kepada kita.

Mungkin badan saya sedang panas sehingga saya menulis postingan spt ini.

Welcoming Ramadhan 1432 H

Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan all, semoga kita bisa memanfaatkan Ramadhan ini semaksimal mungkin. Iya saya tau, udah rada telat sih tapi kan masih awal Ramadhan juga :p *ngeyel*.

Tahun ini adalah Ramadhan pertama saya di Jakarta setelah tiga Ramadhan sebelumnya saya habiskan di Cikarang. Banyak yang berbeda memang: tempat kerja, teman, lingkungan, suasana dsb. Mana yang lebih enak? Semua ada tempatnya masing-masing :). Somehow I wonder, what would happen if I didn’t take the chance to move here. Oh iya, keluarga kami juga kedatangan member baru, kenalkan faeyza keponakan yang paling saya cinta (belum ada tandingannya sih:p).

Pengen nggigit aja kalo liat dia

Ngomong-ngomong soal Ramadhan, tiga hari kemarin saya sholat tarawih di tiga tempat berbeda demi mendapatkan tempat yang GTP (Great Tarawih Place) *maksa*. Pertama, di masjid dekat kos: bacaan sholatnya oke, rakaat oke, cuma sayang banyak anak kecilnya yang bikin berisik. Hari kedua di Istiqlal, dengan pertimbangan selemparan batu dari kantor. Tapi ternyata kondisi aktualnya tidak seperti yang diharapkan. Hari ketiga, saya ke masjid yang agak jauhan. Sayang sekali, di sana lebih mirip SKJ daripada sholat jamaah. Dan hari ini saya kembali ke masjid pertama, subhanallah bacaan imamnya merduuuuu banget sampai berhasil membuat saya berkaca-kaca dan ibu di sebelah saya menangis.

Di sini selama bulan puasa saya bisa pulang mulai jam 15.30, jadi pekerjaan harus diselesaikan sebelumnya biar bisa buka puasa di kos. Macet? Jangan ditanya. Tapi so far sampai di Kuningan sekitar jam 5 sore, not too bad :).

Hal yang bikin puasa tidak terasa ketika di kantor adalah pekerjaan dan rekan kerja yang rada-rada kurang waras kocaknya minta ampun. Yang menyenangkan juga adalah setiap hari mulai jam 11.30 ada tausiah dari ustad yang berbeda-beda dan sholat dzuhur berjamaah. Hari ini yang datang adalah Ust. Ahmad al Habsyi (semoga saya tidak salah menulis namanya).

Tadi ustad bilang, malaikat Jibril berdoa yang diamini oleh orang yang paling dicintai Allah: nabi Muhammad SAW. Salah satu dari ketiga doa malaikat adalah agar Allah melaknat orang-orang yang membiarkan bulan Ramadhan terlewat begitu saja. Bisa dibayangkan ijabahnya doa ini. Semoga saya dan kalian semua tidak termasuk di dalamnya. Semoga hati kita dimudahkan untuk menerima tausiah-tausiah dan tuntunan pada kebaikan, karena di bulan ini Allah sedang mengobral besar-besaran pahalaNya. Semoga kita tidak termasuk orang yang memajukan shaf jamaah tarawih di masjid ketika menjelang lebaran. Semoga kita bersemangat dalam berlomba untuk mendapatkan berkah Ramadhan.

Semoga saya dan Anda bisa menyambut Idul Fitri dengan penuh suka cita atas apa yang kita kerjakan selama Ramadhan :). Amin.

See ya on the next post :*.