Di Antara Jalanan Jakarta

Judulnya oke banget buat judul film :p. Kali ini saya akan bercerita pengalaman saya selama berada di Jakarta dan menggunakan transportasi umumnya.

Kos saya ada di daerah Karbela, jadi lebih dekat dari halte busway sekitar Kuningan daripada deretan Setia Budi. Kalau hari kerja saya akan naik P20 ke arah Senen, sedangkan kalau liburan akan naik P66 yang ke arah Blok M (keliatan bener mainnya ke mana :p). Nah saya yang sudah terbiasa hunting sendiri awalnya ya cuek saja naik P66 sampai suatu hari ketika saya bertemu dengan oknum anak jalanan yang naik ke kopaja yang saya tumpangi. Mereka berdua, dengan gaya bicara berkecepatan tinggi, kurang lebihnya mengatakan:

bapak-bapak dan ibu-ibu ya, kami di sini mencari sesuap nasi ya bapak ibu ya, kami tidak ingin mencopet maupun menjambret blablabla, sebagai sesama manusia sudah selayaknya kita saling menolong bapak ibu ya blablabla…

Ya intinya seperti itu. Sekali lagi, mereka datang dengan berbicara dalam kecepatan tinggi tanpa berusaha untuk sekedar mengamen atau yang lain. Kemudian mereka menyodorkan tangan ke penumpang. Masalahnya adalah ketika saya tidak ingin memberi uang, maka tangan dia akan semakin di arahkan ke badan saya. Otomatis saya akan berusaha melindungi diri dengan menjauhkan badan saya dari jangkauannya. Tapi namanya kopaja bisa sejauh apa menghindarnya sih? Semakin saya berusaha menjauh, maka tangannya disodorkan semakin mendekat. Hal ini membuat saya merasa diancam. Oke, memang mereka tidak membawa senjata, tapi perilaku seperti ini membuat orang merasa tidak aman. Bukan juga karena saya pelit, should I give them? Baca selebihnya »

Iklan

Friends Are The Siblings God Never Gave Us

Feels like home mungkin deskripsi perasaan saya ketika berada di kantor. Ya bukan berarti bisa tidur-tiduran gulung sana sini juga, cuma betah aja so far. Kurang lebih sudah 7,5 bulan saya OJT di kantor ini, dan 10,5 bulan saya menjalani masa pendidikan dari total 12 bulan (dipotong 1 minggu untuk libur pendidikan).

Awal masa menghadapi OJT saya mengalami keparnoan to the max, membayangkan situasi kerja yang masih absurd dan yang pasti akan berbeda dengan kultur di kantor saya sebelumnya, bagaimana kalau saya tidak bisa mengikuti ritme kerja, susah menyesuaikan diri dsb. Ternyata lagi-lagi God knows us well 🙂 *yaeyalah*. Masa-masa ini saya merasakan:

The future is scary but you can’t just run back to the past because it’s familiar. Yes it’s tempting, but it’s a mistake – HIMYM

God gives me best partners and seniors, ya meskipun saya dibully secara lisan dulu :p. Tidak hanya urusan pekerjaan saja, kami juga berteman dalam hal berburu makanan.

Posisi meja di kantor itu berhadap-hadapan dengan pembatas rendah, ada untung dan ruginya sih. Keuntungannya akan lebih memudahkan untuk berkomunikasi, membajak makanan, pinjam telpon kantor, dan ceng-cengan. Kerugiannya ya bakal eneg ngeliat yang duduk di depan kita :p. Kebetulan satu booth saya itu berisi 4 orang, sisa lajang di dalam tim. Untuk lebih memudahkan, saya perkenalkan ketiga rekan kerja dan teman saya.Baca selebihnya »