Jika

Ya Rabb, jika kehidupan ini adalah luasnya samudra
janganlah Kau menaruhku pada rakit tua
yang tak memiliki daya untuk
bertahan di tengah gelombangnya
yang tak berlayar besar untuk menahan
angin yang tiada bisa tertebak arah datangnya.

Ya Rabb, jika kehidupan ini adalah luasnya samudra
jangan biarkan aku melewati
tiap riak, tenang, dan badai
tanpa ada rasa bijak atasnya.

Ya Rabb, jika kehidupan ini adalah luasnya samudra
dan bekal yang tersisa hanya usia
pasca tahunan aku mengayuh
aku bertahan
aku melihat belai dan murka dunia
jangan biarkan jangkarku
mengakar pada tanah yang salah.

Ya Rabb, jika kehidupan ini adalah luasnya samudra
berilah aku selalu keyakinan
tujuanku berlabuh, ridhaMu
dermagaku adalah pintu cinta dan maafMu
jauh dari digdaya kesemuan dunia.

Iklan

Resignation

I’m not talking about my job, I want to talk about my experience.

I thought back about my journey in the pass. I believe that everyone has their own tough time, the hard part to deal with. I’m a person who good in giving encouragement for myself, but I also had several hard times when I felt tired about something. When I did much to make things right but everything seemed wrong, when I walked so far and my skin burned by the sun but I felt further away from my direction and met a stalemate, they just led me to  emptiness, despair.

The best thing that I’ve ever done was surrender. God is the best place to ask, to go back, to rely on, everything.

Many times I asked to myself, since I’m not a devout and religious person, the one who cross line often, will God listen to my prayer? Will Him help me and give me way out?

And I realized, I did something wrong.

God is like what we think about Him..

So when I meet tough time, I’ll come to Him and make an honest confession,

God, I know I’m not a devout one. I’m not the one who always think about You. I’m the one who often broke Your rules. But I don’t have better place than You. Here I’m, asking for help, Your affection. I just want to say something, I’m surrendering. Please forgive me for every bad thing I’ve done. There’s nothing I can do here to make things better than surrender to You.

Soon after that I’ll feel better, my burden is reduced.

Sometimes confession about my limitations as a human being, when the reality does not go as planned even though I’ve tried so hard to keep it on the line, gives me the best solution: surrender, resignation.

Pahitnya Kopi yang Membawaku Pulang

Hanya cerita pendek yang terinspirasi dari sebuah percakapan.

Panasnya jalanan Jakarta siang itu terasa kontras dengan sejuknya udara di dalam salah satu mall yang berada di dekat tempatku menunggu bis Bekasi. Sambil meminum iced coffee yang  aku beli dari sebuah kedai kopi ternama, aku berdiri di bawah terik matahari dengan balutan asap berbagai kendaraan pribadi sampai metro mini.

Aku menghela nafas. Entah tanda kecewa atas carut marutnya tata ruang ibukota atau karena bis yang tak kunjung datang. Atau mungkin karena keduanya. Bisa jadi.

Di depanku berdiri seorang lelaki paruh baya, kulit hitamnya seakan menandakan bahwa dia berteman baik dengan matahari siang di Jakarta. Di tangannya ada beberapa buku tipis dengan sampul berwarna cerah. Kamus bahasa inggris bergambar rupanya. Aku mengetahuinya setelah mencuri pandang ke arah sampul buku yang dibawa lelaki itu.

“hmmmhh, susahnya cari duit jaman sekarang. Cepet kiamat ajalah ya Tuhan kalo kayak gini.. “, keluhnya.

Aku mengrenyitkan dahi seketika, “doa macam apa itu ? “ gerutuku dalam hati.

Dia menghitung uang yang diambil dari saku kaosnya yang bergambar salah satu caleg dari partai besar. Sepertinya itulah uang yang diperoleh lelaki itu sejak pagi hingga menjelang sore ini. Dalam hati aku ikut menghitung, karena tidak banyak lembaran lima ribuan yang dia miliki.

Aku tercekat.

Kopi yang daritadi aku bawa dan aku minum, bagaikan obat dehidrasi yang sangat mujarab, seketika berubah menjadi cairan getir dan pahit yang meracuni hatiku bak Klorokuin dan Primakuin untuk penderita malaria. Aku merasa bersalah pada lelaki setengah baya itu. Aku kehilangan nafsu untuk menghabiskan sisa iced coffee ku tadi yang masih setengah gelas.

Betapa tidak, uang yang dia cari dengan susah payah hanya sepertiga dari harga segelas es kopi yang harus aku bayar. Aku merasa berdosa. Merasa dibodohi nafsu sendiri. Andai saja aku lebih bijak, uang yang aku belikan es kopi tadi bisa aku berikan padanya. Mungkin tidak kurang dari 30 bungkus mie instan bisa diberikan pada anak-anaknya untuk makan selama beberapa hari. Atau bisa ditukarkan dengan 8 kg beras kualitas biasa beserta ikan asin. Aku merasa begitu egois.

Bis yang aku tunggu telah datang. Aku segera naik dan memilih bangku yang berada di dekat jendela. AC yang ada di dalam bis memberikan kesejukan setelah setengah jam aku berdiri menunggunya bersama panas matahari Jakarta.

Pikiranku memutar kembali kejadian sekitar dua tahun lalu, sebelum aku mendapatkan pekerjaanku yang sekarang. Di masa aku menjalani hari-hari bersahabat dengan terik matahari Surabaya, sembari membawa beberapa sample produk. Aku pernah bekerja sebagai seorang sales panci.

Berjalan menyusuri trotoar, masuk dari satu perumahan ke perumahan lain dengan harapan ada dua panci atau lebih yang terjual setiap hari. Tidak mudah memang. Tak jarang betisku yang sudah kaku karena berjalan mulai pagi sampai magrib tak menemui hasil yang sepadan, bahkan hanya untuk membeli counterpain pun tak cukup.

Sampai akhirnya aku diberi tahu seorang teman bahwa perusahaan tempatku bekerja sekarang sedang membuka lowongan. Kebetulan aku memenuhi kualifikasi yang diajukan. Setelah menunggu selama tidak kurang dari 2 bulan, akhirnya aku mendapatkan kabar gembira. Aku diterima dan akan pindah ke Bekasi.

Keluargaku juga menyambut gembira. Perjuangan ayahku yang hanya seorang petani, dan ibuku yang berjualan batik keliling membuahkan hasil. Kaki ibu pun harus dikorbankan untuk bisa membantu ayah membiayai sekolah sarjanaku dan dua orang adikku. Tulang kaki kanan ibu meradang karena kelelahan dan kurang kalsium, sehingga sekarang ibu sulit untuk berjalan.

Pada hari kepergianku, aku melihat air mata kedua orang tuaku. Aku mengartikannya sebagai air mata bahagia sekaligus kecemasan. Sebagai anak perempuan tertua dan satu-satunya, aku harus pergi jauh dari mereka dan pindah ke kota yang entah bagaimana lingkungan keagamaan dan sosialnya. Berita di tv tentang pembunuhan, pemerkosaan dan narkoba semakin membuat hati mereka berat untuk mengantarkan kepergianku.

Tak banyak pesan dari mereka. Ayah hanya berbisik “jaga iman, nak”, ibu berpesan “jangan lupa sholat ya nduk” ketika kami berada di stasiun Gubeng. Sementara kedua adik lelakiku sambil berkaca-kaca, mengingat mereka tak pernah berpisah jauh dariku, berkata “kalo lebaran jangan lupa pulang ya mbak”. Harapan yang sederhana, pikirku saat itu.

Aku menegakkan posisi dudukku dan mengambil uang untuk membayar bis. Tak terasa dua tahun sudah aku jauh dari mereka, keluargaku. Pesan-pesan sederhana itu ternyata tak semudah yang aku kira, iman dan sholat.

Entah berapa lama aku meninggalkan sholat dhuha, apalagi tahajjud. Tenagaku sudah hampir habis untuk bekerja yang sering kali baru pulang setelah jam 7 malam, dan rasa kantuk yang tak tertahankan saat membaca buku di kamar. Jangankan tahajjud, isya pun kadang terlewatkan begitu saja karena sering dikalahkan oleh acara tv atau browsing internet.

Istighfarku dalam hati. Pernah aku merasakan kedamaian itu, uang yang tak berjumlah jutaan pun rasanya cukup dan penuh berkah. Saat di mana aku rajin beribadah wajib dan menambahkan 4 rakaat dhuha dan 4 rakaat di sepertiga malam.

Entah apa kesibukanku selama ini, dhuha terlewat begitu saja. Ku cukupkan hanya pada sholat wajib, itupun di akhir waktu sholat dengan dalih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.

Buliran air yang terasa hangat mulai membasahi pipiku. Aku membasuhnya segera dengan tissue karena tak ingin menarik perhatian penumpang lain. Pilu. Ada ketakutan dan kekecewaan pada diri sendiri. Ketakutan akan apa yang bisa menjadi bekalku ketika jasad ini tak lagi bernyawa. Kekecewaan akan waktu yang telah aku sia-siakan begitu saja, uang yang aku belanjakan yang hanya untuk kepuasan diri yang tak ada habisnya.

Tuhan, aku berdosa padaMu, aku mendzolimi hambaMu. Luruskan jalanku sekiranya aku tak lagi lurus, ingatkan aku sekiranya aku sedang lupa, rengkuh aku sekiranya aku berlari terlalu jauh, putarkan kembali gambar wajah ayah ibu dan pesan mereka ketika aku salah arah. Mungkin kejadian kopi dan lelaki paruh baya tadi adalah salah satu caraMu untuk mengingatkanku.

Ku buang gelas plastik kemasan kopi tadi sesampainya aku di rumah. Pahit manis rasa iced coffee begitu cepat hilang dari lidah, bahkan sebelum aku menemukan tempat sampah. Namun tidak demikian halnya dengan getir yang tersisa dan mengendap.

My Favorite Prayer

The first time I knew this prayer was from one of his blog, but I was failed to find the post. So I used google to find it for me.

This was one of Rasulullah’s prayer. It’s so beautiful and I always say it on my prayer.

Ya Allah,
Dengan ilmuMu atas yang ghaib dan kuasaMu atas seluruh mahluk
Hidupkanlah aku jika dalam pengetahuanMu kehidupan itu lebih baik bagiku
Dan matikanlah aku jika dalam pengetahuanMu kematian itu lebih baik bagiku

Ya Allah,
Aku mohon kepadaMu rasa takut baik pada saat terlihat maupun tersembunyi
Aku mohon kepadaMu kalimat yang benar pada waktu rela maupun marah
Aku mohon kepadaMu sifat hemat pada waktu fakir maupun kaya
Aku mohon kepadaMu nikmat yang tak habis-habis
Aku mohon kepadaMu kesenangan hati yang tak pernah putus
Aku mohon kepadaMu kerelaan setelah ada ketetapan, sejuknya kehidupan setelah mati
Nikmat saat melihatMu dan rasa rindu untuk bertemu denganMu
Tidak dalam kesulitan yang menyengsarakan
Tidak pula dalam fitnah yang menyesatkan

Ya Allah
Hiasilah kami dengan hiasan keimanan
Dan jadikanlah kami sebagai pemberi petunjuk bagi orang-orang yang mendapat petunjuk
Amiin.

(HR. An-Nasa’i, Imam Ahmad, Ibnu Hibban)

So beautiful, right? It can make me feel close to Him and surrender.

Aku, Tak Memiliki Alasan

Bumi masih berotasi, mentari mengintip dari balik awan untuk menghangatkan kota yang penuh polusi. Manusia berjejalan menjemput rezeki, atau hanya mengadu nasib dan berjudi untuk mengisi perut hari ini. Ya, hanya hari ini.

Aku berdiam diri, menikmati pikiran yang silih berganti mengisi ruang cerebrum. Lobus frontalis yang ada pada benda seberat dua gram di kepalaku itu berusaha keras untuk berfikir, menyeimbangkan kerja sulkus entralis yang mengirimkan sinyal pada hatiku untuk merasa.

Jarang otakku bisa berdiam diri dan tenang, setenang sikap dudukku di atas bangku lusuh berwarna hitam bis jemputan pagi. Dari balik jendela berdebu, aku menyaksikan jalanan sesak oleh manusia yang berebut eksistensi, berlomba untuk mendapatkan rute tercepat ke destinasi. Apa yang aku, kamu, kita cari sebenarnya?

Di saat seperti ini, duduk diam sendiri, adalah waktu yang paling aku senangi. Waktu yang tepat untuk berfikir atau hanya sekedar melatih otak kanan untuk merangkai kata. Menjadi pujangga sungguh menguras emosi. Sementara aku sadar hidup tak semanis dan seindah bait puisi.

Pernah aku bertanya tentang cita-cita, pada seorang muda dan paruh baya. Kebanyakan dari mereka menjawab hal yang sama, mendapatkan bahagia. Mungkin ini hanya masalah persepsi, tapi menurutku kebahagiaan itu tak perlu dicari karena setiap dari kita sejatinya memiliki. Namun lagi-lagi adalah ekspektasi, yang tak jarang menyamarkan pemahaman bahagia dari makna dasarnya.

Bukankah kebahagiaan ada pada hati yang bersyukur?

Ketika dada terasa pilu, ketika bahu terlau lelah dan tak sanggup memanggul beban baru, ketika kepala yang tak lebih besar dari bongkahan batu terasa penuh, maka apa atau siapa yang patut dipersalahkan? Benda seberat dua gram itulah yang harusnya berada di kursi pesakitan! Mungkin benar adanya pepatah yang mengatakan jika pikiran itu adalah seburuk-buruk tuan dan sebaik-baiknya pelayan.

Sungguh. Tak perlu pergi ke Eropa atau Amerika untuk membuatmu tertawa, tidak juga dengan menenteng tas Prada seharga belasan juta atau parfum sekelas Dolce & Gabbana, apalagi berusaha mengukurnya dengan harta. Jangan berlaku bak mencari gajah hilang yang sejatinya ada di depan mata dengan dalih mencari bahagia. Jangan.

Aku beranjak dari kursi hitam, mengangkat tubuhku keluar dari bis dan menyusuri lorong menuju ruangan kerjaku berada. Sekilas aku pandang papan putih bertempelkan tulisan “Apa yang membuatmu tersenyum hari ini?”. Sederhana, limpahan kasih dari Tuhanku yang tak sedikitpun aku memiliki kuasa untuk menghitung dan menimbangnya. Harga mati yang tidak akan pernah bisa aku wakili dengan untaian kata.

Tuhan, aku tersenyum karena aku bersyukur.

Terlahir sebagai hambaMu merupakan berkah luar biasa, tak perlu aku berjalan tanpa petunjuk dan meraba. Terlebih lagi masih dikaruniai dengan kehadiran ayah bunda. Doa-doa dan sujud mereka mungkin yang menyingkirkan duri dari jalanku, meminta pada Zat Yang Maha untuk menambahkan sehari lagi pada umurku.

Atas iman yang masih Kau percayakan. Atas pekerjaan yang aku miliki, penghasilan yang lebih dari cukup untuk menghidupi diri. Tak perlu aku khawatir akan makan atau tidak sore nanti. Atas nikmat sehat yang Engkau berikan padaku hari ini. Atas panca indera yang sempurna untuk meresapi kebesaranMu.

Betapa senyum itu mampu melegakan hatiku yang sempit, mampu memulangkan pikiranku yang berkelana, mampu menentramkan jiwa saudaraku yang berduka.

Tuhan, sesungguhnya aku tak memiliki alasan untuk bersedih. Tidak sama sekali.

Muhasabah

God always has a way to make people turn to Him

I am not a devout man.

Tentu saja. Tulisan kali ini tidak ada maksud lain selain untuk refleksi diri. Untuk diriku sendiri. Jadi jika sekiranya ada kata-kata yang kurang berkenan, maka itu adalah sebuah ketidaksengajaan dan aku dengan rendah hati meminta maaf.

Iman.

Secara harfiah dapat diartikan sebagai rasa percaya akan sesuatu. Ya, aku mengimani kalau Allah itu ada, dan Allah satu-satunya Tuhanku. Namun apa yang belakangan aku lakukan sebagai konsekuensi keimananku? Nyaris tidak ada kecuali solat 5 waktu dengan dalih kebiasaan. Kadang waktu sholatpun, pikiran ke mana-mana.

Aku tau, kualitas keimanan seseorang itu ada pasang surutnya. Tapi belakangan kenapa kok surut saja yang aku rasakan. Mungkin beberapa waktu lalu sempet naik, dan itu karna ada maunya.

Ya, aku meyakini kalau Allah selalu punya cara untuk membuat hambaNya, yang entah kadang atau sering melupakanNya, memalingkan hati mereka kembali kepadaNya melalui berbagai macam cara. Dan aku tidak ingin mengingatNya setelah aku mendapatkan musibah atau kesusahan, seperti yang selama ini aku lakukan.

Lantas, apa gerangan yang membuatku kembali memikirkan cara untuk membuat hatiku mengingat dan merindukanNya ? Menahan nafsu makan, awalnya.

Aku berfikir, satu-satunya caraku untuk menahan nafsu makanku yang kadang terasa teramat liar untuk dikendalikan adalah hanya dengan puasa. Dan aku berfikir lagi, “Allah lo Maha Tau, kamu ga malu ta mau puasa cuman gara-gara biar kurusan dikit? Kok niatmu itu gada ibadahnya sama sekali”. Plaaaak, bagus! Aku merasa malu. Emang tidak ada yang bisa aku sembunyikan dariNya, aku mungkin lupa itu.

Mulailah aku browsing, jenis-jenis puasa sunnah apa yang bisa aku lakukan. Karena kalau aku lagi puasa, ada rasa yang gimana gitu karena tidak memikirkan makanan melulu. Jadi pikiran bisa dipakai untuk memikirkan hal lain yang tentunya lebih berguna. Kalau mau tau jenis puasa sunnah, bisa dibaca di sini. Oke, satu masalah sudah ada solusinya.

Dari situs yang aku baca, ada link ke situs lain yang bertema agama juga. “Klik ah, kok sepertinya udah lama ga dapet siraman rohani”. Iseng, aku berkunjung ke muslimah.or.id. Lah halaman awal kok udah disuguhin dengan artikel berjudul Membaca Kalamullah dengan Benar Nan Indah (1) dengan tulisan segede gaban dan warna mencolok mata *istighfar*. Aku lupa kapan terakhir aku ngaji. Astaghfirullah ya Rabb. Boro-boro ngaji, kadang subuhan aja bangunnya telat.

I know myself, but He knows me well.


Dari kemaren uda sering membahas beberapa hal sama si Pinkih, mulai dari masalah geje, rencana dan target 5 tahun ke depan, masalah feminism, khayalan urusan menghandle rumah tangga nantinya sampe masalah ngaji. Ah thanks Pink, for our silly conversations :D. Pas ngoperasi bareng ngobrol lagi, aku curhat masalah ibadahku yang payah. Belakangan rasanya males banget kalau mau mampir ke mushola pas jam 10. Akhirnya kelar jajan aku mampir, and I cried. I don’t know why. I just feel shy, and miss Him maybe.

Aku bandel, dan bakalan susah untuk memberitahuku sampai pada akhirnya aku meyakinkan diri sendiri kalau aku memang perlu untuk melakukan apa yang diberitahu oleh orang tsb. Buktinya, tetangga boothku yang nyaris tiap hari nyetel nasyid atau streaming tauziah aja ga ngefek untuk menggerakkanku melakukan hal yang sama. “Berasa lagi ramadhan” *maap Bar :D*.

Dan siraman rohani berlanjut, pada sahabatku yang lagi di Bali lewat ym.

(10:38:07) loe2k_maez  ting tung
(10:36:43) safitri haloooo
(10:38:18) loe2k_maez  apa kbarnya adik iparnya uda? 😆
(10:36:44) safitri >:D<
(10:36:46) safitri hahahaah
(10:36:55) safitri lagi nulis soal refleksi diri
(10:37:04) safitri belakangan kok ibadahku ga bagus gini
(10:37:12) loe2k_maez  owh
(10:37:14) loe2k_maez  muhasabah
(10:37:15) safitri di blog
(10:37:15) safitri 😀
(10:37:27) safitri muhasabah artinya refleksi diri ya?
(10:37:30) loe2k_maez  merasa jauh dari God y
(10:37:34) loe2k_maez  yups
(10:37:37) safitri iyah
(10:37:44) safitri ini tadi dhuhaan
(10:37:46) safitri nangis aku
(10:37:47) safitri 😦
(10:38:22) loe2k_maez  emmm…. nangis krena mengingat Allah
(10:38:26) loe2k_maez  bagus klo begitu ^^
(10:38:33) loe2k_maez  kmren2 aq juga begitu
(10:38:36) loe2k_maez  hihi
(10:38:57) safitri hihihi
(10:39:00) safitri kok ya bisa barengan
(10:39:01) safitri >:D<
(10:40:50) loe2k_maez  iya kmren2 lagi melow hihhi
(10:41:03) loe2k_maez  udah terlalau being self center mpe jauh ma God juga
(10:43:16) loe2k_maez ini
(10:41:12) loe2k_maez  lucu y gambarnya
(10:41:31) safitri iyaaah
(10:41:32) safitri hihihi
(10:44:36) loe2k_maez  ini lagi
(10:42:28) loe2k_maez  tpi bahasanya malay ahaahha
(10:42:37) safitri 😆
(10:42:42) safitri yg ptg bukan alay
(10:50:24) loe2k_maez  hahaha ni pasti lagi sibuk nulis y…
(10:50:29) safitri hahahha
(10:50:31) safitri iyah
(10:50:36) loe2k_maez  kmren sempet bahas2 ma elly tntg artikel ini
(10:50:37) safitri biar ga penuh2 kepalaku
(10:50:44) safitri oh aku juga baca
(10:50:48) safitri liat dari link ym mu
(10:50:49) safitri 😀
(10:50:52) loe2k_maez  sebenarnya tugas qt di dunia cuman 2
(10:51:20) loe2k_maez  semuanya jadi so complicated whe we getting older krena qt melupakan 2 tugas utama qt
(10:51:55) safitri terusin kakluk, aku perlu siraman rohani
(10:51:58) loe2k_mez  saatnya menata hati,,, merefleksikan diri lagi
(10:52:01) safitri sampe banjir kalo perlu
(10:52:04) loe2k_maez  ahhahah
(10:52:11) safitri bandelnyaaaa ku ini
(10:52:16) loe2k_maez  sampe banjir katanya
(10:52:18) safitri tp aku bersyukur aku single
(10:52:19) loe2k_maez  sama aja vit
(10:52:26) safitri jadi xxxxxx //disensor demi meminimalisir ketersinggungan pihak lain
(10:52:27) safitri 😆
(10:52:30) safitri thanks God
(10:52:38) safitri You knows me well
(10:52:43) loe2k_maez  ketika hati sudah digantungkan hnya pada masalah dunia,, maka mata hati qt makin lama makin tertutup
(10:53:18) loe2k_maez  pdahal klo niat di tata
(10:53:29) loe2k_maez  maka segala sesuatu yg qt lakukan jadi ibadah
(10:53:59) safitri oh Ya Allah
(10:54:01) safitri *istighfar
(10:54:02) loe2k_maez  jadi yg pertama harus qt lakukan adalah memperbaiki niat….
(10:54:07) safitri uda lama ga denger beginian
(10:54:29) loe2k_maez  hihi aq jadi malu
(10:54:43) safitri 😦
(10:54:45) safitri lanjutiiiin
(10:55:25) safitri nah itu dia
(10:55:33) safitri ibadahku berantakan
(10:55:44) safitri uda terlalu fokus ma urusan dunia
(10:56:05) safitri ini tadi mikir “apa si yang bisa nahan nafsu ngemilku biar badan yg membengkak ini kurusan”
(10:56:08) safitri jawabannya puasa
(10:56:12) safitri nah lanjut mikir lagi
(10:56:21) safitri “kok ga malu si puasa cuma karna niat diet”
(10:56:25) safitri *plaaaaakkk
(10:56:29) safitri ditampar diri sendiri
(10:56:31) safitri 😆
(10:58:09) loe2k_maez  hahahha tpi memperbaiki niat mngkin juga gak bisa frontal
(10:58:27) loe2k_maez  ikhlas itu harus dilatih
(10:58:34) loe2k_maez  bukan instan jadi
(10:58:39) loe2k_maez  *ngomong gampang y
(10:58:40) loe2k_maez  😀
(11:02:04) loe2k_maez  klo melakukan sesuatu nunggu ikhlas secara penuh juga gak bakal dilaku2in
(11:02:06) safitri hhihi
(11:02:14) safitri ga semua orang bisa mikir kek gini kakluk
(11:02:14) loe2k_maez  ingt gak ada crta guyonan kyak gini
(11:02:22) safitri kita patut bersyukur dikasi pikiran kek gn
(11:02:42) loe2k_maez  jadi jika diibaratkan klo hasil ibadah itu dpt selembar kain
(11:02:54) loe2k_maez  iya smoga masih dibimbingNya
(11:03:00) safitri trus2
(11:03:23) loe2k_maez  ada 3 oran ini:a,b,c
(11:03:53) loe2k_maez  si A : beribadah dg sungguh n ikhlas krena tingkat keimanan yg memang udah mantab
(11:04:14) loe2k_maez  si B : y daripada gak ibadah,, gak ikhlas2 dikit boleh lah
(11:04:29) loe2k_maez  si C : ngapain ibadah klo gak ikhlas,, nunggu ikhlas dulu lha
(11:04:44) loe2k_maez  in d end : waktu ajal menjemput n tidak tahu kpan itu
(11:05:03) loe2k_maez  di hari pembalasan ntar si A baklan dpt kain utuh, bagus
(11:05:16) loe2k_maez  si B : dapt kain tpi sobek2 gak karuan
(11:05:23) loe2k_maez  si C : gak dpt apa2
(11:05:39) loe2k_maez  padahal di hari pembalasan ada yg namanya syafa’at dari baginda nabi
(11:05:58) loe2k_maez  mka beruntunglah si B kain sobek2nya dpt ditolong oleh syafa’at nabi
(11:06:25) loe2k_maez  sedangkan si C hanya melongo krena dia tidak punya apa2 yg harus ditambal oleh syafa’at
(11:06:29) loe2k_maez  hiihi
(11:06:37) loe2k_maez  dulu pernah dapt cerita kyak gitu
(11:07:12) loe2k_maez  buat motivasi beribadah pas waktu kecil,, yg masih suka minta reward 😀
(11:07:25) safitri 😀
(11:07:28) safitri baguuus critanya
(11:07:33) safitri nah itulah dia
(11:07:46) safitri aku percaya Allah selalu berusaha memalingkan kita kepadaNya
(11:07:57) safitri cuma kita sadar apa ngga, mau memanfaatkan ato engga
(11:08:00) safitri itu yg jadi kuncinya
(11:08:12) safitri malu sebenernya dateng pas butuh doang
(11:08:19) safitri karna aku juga ga suka kalo digituin
(11:08:20) safitri 😀
(11:08:50) loe2k_maez  iy ya.. apalagi pas adzan berkumandang,, Beliau harus menanti qt untuk dtang
(11:09:11) safitri aku sering nunggu mpe akhir2 kadang
(11:09:14) loe2k_maez  padahal Beliau bos qt kok y Beliau y nunggu
(11:09:14) safitri karna kecapekan

Makasi Kakluk *peluk-peluk*.

Ya, aku tau aku belakangan terlalu disibukkan dengan urusan dunia untuk mengejar ini mengejar itu. Khayalan soal 5 tahun mendatang aku punya, tapi ketika aku harus dipanggilNya sebelum itu rasanya aku ga punya bekal.

Astaghfirullahaladzim Ya Rabb.

Ah bapak, ibu, anakmu merindukanmu..

God Rescues Me..

Mau disadari atau tidak, Allah selalu memberikan keajaiban-keajaiban padaku. Dari small things sampe yang besar. Dan aku bersyukur atas semuanya (dan semoga ga lupa untuk slalu bersyukur).

Mulai dari waktu aku mudik lebaran kemarin.

  1. God saved me in the airport shuttle bus. Waktu itu busnya penuh banget. Dan hanya tersisa 1 seat. Sebenernya ada orang yang lebih dulu dateng dari aku, tapi dia keluar lagi dari busnya karna ngeliat busnya sesek. Trus aku masuk dan celingukan, emang penuh kayaknya. Dan aku tanyakan pada supirnya, masi ada seat apa ga. Kata supirnya coba liat di belakang. Ternyata bener, masi ada 1. Dan penumpang setelah aku? Mereka berdiri ato duduk di tangga.
  2. Pesawatnya pas udah sampe Malang (aku turun di Malang), harus muter2 di atas agak lama dulu dan sempet ga stabil karna banyak awan. Rasanya udah pasrah aja, kalo emang takdir mengatakan pesawatnya harus jatuh. But God saved me. Pesawatnya landing dengan selamat.
  3. Karna rumah orang tuaku di Kediri, jadinya harus naik bus lagi atau naik travel biar bisa sampe rumah. Waktu itu aku putuskan untuk ngebus, karna kalo naek travel bakal kemaleman sampe rumah. Akirnya aku buru-buru ke terminal dan ternyata yang aku naiki adalah bus terakir yang berangkat ke Kediri untuk sore itu. God saved me again. Alhamdulillah.

Itu untuk hal-hal yang bisa dilihat mata. Dan masih ada lagi.

Ketika aku ngrasa sesek karna masalah relationshipku, God gives me some help. Make me realize that He’s the best place to rely on.

  1. I have nice people around. Mulai dari temen kantor, temen kuliah dan keluarga. They make me feel better. Thanks anyway.
  2. Hari pertama masuk kerja, leaderku membagi pengalamannya dalam urusan hati dan jodoh. Ringkasannya:  beliau menjalin hubungan (pacaran) selama 8 tahun. Awalnya sang kekasih belum memakai jilbab, sampai pada akhirnya memakai cadar dan agamanya makin kuat. Mungkin ini juga karna doa beliau yang meminta pada Allah agar sang kekasih tadi dijadikan lebih baik. Karna tidak berjumpa selama 1-2 minggu dan permasalahan lain (termasuk takdir), sang kekasih dilamar pria lain. Dan bukan sang kekasih tadi yang kini menjadi istrinya. Aku jadi berfikir, walo nyesek, rasanya 3,5 tahun belum apa-apa dibanding 8 tahun.
  3. Masa up and down masi ada hingga tadi malam. I did a lot of mistakes to him. And make me feel guitly somehow. Rasa sakit ketika mengetahui semua rencana, harapan dan janji menguap gitu aja di depan mata. Rasa sakit mengingat telah kehilangan orang yang disayangi datang lagi. Dan hari ini lagi-lagi God rescues me, lewat Tifa yang mempostkan quotes dari film He’s just not into you:

    Girls are taught a lot of stuff growing up.
    If a guy punches you he likes you.
    Never try to trim your own bangs and someday you will meet a wonderful guy and get your very own happy ending.

    Every movie we see, Every story we’re told implores us to wait for it, the third act twist, the unexpected declaration of love, the exception to the rule.

    But sometimes we’re so focused on finding our happy ending we don’t learn how to read the signs.
    How to tell from the ones who want us and the ones who don’t, the ones who will stay and the ones who will leave.

    And maybe a happy ending doesn’t include a guy, maybe… it’s you, on your own, picking up the pieces and starting over, freeing yourself up for something better in the future.

    Maybe the happy ending is… just… moving on.
    Or maybe the happy ending is this, knowing after all the unreturned phone calls, broken-hearts, through the blunders and misread signals, through all the pain and embarrassment you never gave up hope.

    (He’s just not into you – quote – movie)

    Dan aku menyadari, di pintuMu aku bersimpuh dan tersungkur. Lagi.

Mukena

Aku suka heran, heran banget malah. Soal mukena.

Biasanya orang selalu berlomba-lomba untuk membeli pakaian mahal, parfum, perhiasan emas, kosmetik, dan sebangsanya, hanya untuk mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari orang lain. Biar dianggap modis, cantik, gaya, gaul, keren, dan entah apa lainnya.

Ratusan ribu dihabiskan untuk membeli sebuah atasan baru yang lagi tren. Untuk bawahannya, dihabiskannyalah lagi ratusan ribu yang lainnya. Setiap hendak pergi ke mall atau main dengan temannya, dikenakanlah pakaian-pakaian beserta perlengkapan mahal itu. Disertai dengan parfum supaya komplit. Masih kurang, diumbarlah ratusan ribu lagi untuk mentraktir teman-temannya, agar eksistensinya kian tak terbantahkan.

Lalu, datanglah saat untuk menunaikan solat fardhu.

Bergantilah dia dengan baju tidur yang lusuh, butut dan berlubang. Bau keringat yang menyeruak dari ketiak pun tak dihiraukan. Hanya sekedar berwudhu dan mengenakan mukena dianggap telah pantas untuk menghadap Sang Pencipta dan Pemilik.

Diambillah mukena bau yang lama tidak dicuci. Berjamur dibagian kepala dan dagu karena tak sempat menjemurnya selepas sholat. Mukena yang telah dikenakan 2 tahun dan kendur di bagian karet pinggangnya, jadi perlu peniti atau ditali dulu sebelum dipakai agar tidak melorot di tengah-tengah rakaat.

Aku, bukanlah orang yang alim dan santun pada Tuhanku. Bukan orang yang mematuhi segala perintahNya. Aku tau itu. Dan dengan ini aku juga tidak berniat menghakimi atau menceramahi siapapun. Tapi hanya untuk bercermin dan menasehati diri sendiri.

Tidakkah hal yang aku ceritakan di atas adalah salah? Mengapa kita selalu berlomba untuk mendapatkan nilai plus di mata mahlukNya, dan tidak berlomba untuk tampil cantik, harum dan rupawan dihadapanNya? Pantaskah mukena berjamur itu dikenakan untuk meminta keselamatan dunia akhirat? Pantaskah mukena bau itu digunakan untuk memohon agar kita diberi rezeki berlimpah yang bisa digunakan untuk membeli baju baru (lagi)? Pantaskah kita pergi ke FO kenamaan untuk sebuah kaos ketat mengumbar aurat yang menghabiskan dua ratus ribu, dan pergi ke pasar becek untuk mendapatkan mukena dengan harga termurah?

Ya Allah, bimbinglah hatiku dan saudaraku untuk selalu mengingat dan menyembahMu dengan segala yang terbaik dari apa yang kami miliki. Hingga kami menjadi mahluk mulia dalam pandanganMu. Amiin.

Wahai saudaraku, periksa lagi sarung dan mukenamu. Adakah yang perlu diperbaiki di situ? 🙂

Sang Wajah Teduh

Sang wajah teduh.

Aku menemuinya di lantai atas Blok M Plaza, di tempat yang kurang layak untuk dijadikan tempat beribadah pada sebuah pusat perbelanjaan. Ya, aku menemui pemilik wajah teduh di tengah hiruk-pikuk ibukota.

Bukan di tempat mahal, dan bahkan mungkin terlupakan oleh orang yang sibuk berbelanja dan bekerja. Musholla.

Sang wajah teduh.

Bukan pengunjung yang sedang menunaikan kewajibannya di tempat itu. Beliau adalah penjaga lusinan pasang sandal kayu yang tak baru. Yang layu karena disiram air oleh ribuan kaki yang singgah.

Ku titipkan sepasang sandalku padanya. Beliau tersenyum santun dan ramah.

Ku berikan secarik kertas bertuliskan angka “55” dengan selembar uang seribu. Beliau memberikan sandalku dengan hati-hati, sandal bututku yang dijaganya penuh amanah. Sambil tetap menebarkan senyum ikhlasnya, seikhlas angin yang menyejukkan Jakarta siang itu.

Berat hati beranjak. Tapi aku harus pulang. Banyak yang ingin ku tanyakan padanya. Mendengarnya bercerita tentang kisah-kisahnya, tak akan aku bosan bertanya.

Aku pergi. Dari balik kacamata, ku berusaha memandang wajahnya lagi. Wajah yang, ahhh aku gagal menggambarkannya. Yang luar biasa. Sungguh.

Beliau menata uang ribuan tadi, dengan penuh syukur dan senyum yang tak lekang oleh materi.

Aku iri.