TUHAN SEMBILAN SENTI

Baru kali ini posting atas titipan seorang teman. Ya, teman sekantor yang agak kampring aka kampungan aka gaptek. Masa hari gini masih aja ga punya blog ahahaha. So, kalo dia mau ngirim info ke temen-temen kantor ya via email kantor 😀 . Bikin spam aja ahahahah. Ndak ding, berguna kok infonya, bukan hoax *pernyataan under pressure hehehehe*.  Check it out! Untuk diresapi bersama..

TUHAN SEMBILAN SENTI

By Taufik Ismail
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,

di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,

di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan
hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling
menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.

Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok
di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.

Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di
dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,

di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,

pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulu tangkis,
turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki
sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-‘ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,

di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im sangat ramah bagi orang
perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning
dan mempersiapkan sejumlah fatwa.

Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.

Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.

Diantara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya, putih warnanya,
kemana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.

Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan
yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.

Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.

15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi
dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi
itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.

Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120
orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa dinegara kita,
jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud
untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat

Masih ingin merokok? You’re a killer, dude..

Hujan

Kenapa ya kalau lagi hujan tu kadang-kadang suasana hati jadi melow-melow gitu? Apa pengaruh dari film-film? Biasanya kalo pas hujan tu aktornya duduk sendirian di pinggir jendela, lagi bersedih-sedih ria sama nangis 😀

Hujan tu gampang banget bikin orang merasa kesepian. Mungkin ya karena setiap orang mencari tempat yang hangat bagi dirinya sendiri, misalnya aja di kamar. Padahal biasanya kalo lagi ga hujan, penghuni kosku pada ngumpul di ruang tamu buat nonton tv bareng.

Oh iya, 2 hari yang lalu di pemukiman perkampungan dekat kosku banjir lo. Ga seberapa parah sepertinya. Tapi temenku bilang sampe ada perahu SAR lewat di depan kosnya 😀 , eh dia malah girang gitu teriak-teriak hehehehe . Kalo kompleks kosku sendiri cuma sempet ada genangan semata kaki di jalan depan kos pas tengah malem hujan ga berenti-berenti. Tapi paginya udah pada surut. Lagi pula kosku juga cukup tinggi dari jalan, jadi semoga aman-aman aja 🙂 .

Hujan jangan bikin banjir. Kasian orang-orang yang kebanjiran. Rumahnya rusak, mereka jadi sakit, ga bisa sekolah dan nyari rejeki juga. Trus mereka mau makan apa hari ini?

Persamaan

Aku senang bekerja di tempat kerjaku sekarang.  Ya ya, untuk seorang fresh graduated S1 dengan IQ terbatas seperti aku, aku dibayar dengan sangat memuaskan 🙂 . Rekan kerja juga menyenangkan, karena rata-rata bisa dibilang kita seumuran jadi bisa bercanda dan hang out bareng.

Awalnya aku kaget, waktu antri makan siang di hari pertama aku bekerja: karyawan biasa hingga yang jabatannya paling tinggi sekalipun makan di tempat yang sama, mengantri untuk menu makanan yang sama, dan dengan seragam yang sama pula. Sepertinya pemandangan yang langka untuk dijumpai di sebuah perusahaan atau tempat kerja manapun: persamaan ^^. Jadi kalau ada “yang tidak beres” dengan menu yang disediakan kantin, maka semua juga akan merasakan akibatnya mhehehehe..

Mungkin hal-hal kecil seperti ini yang bisa dipelajari dan diterapkan di Indonesia, persamaan. Tidak perlu berlebihan memperlakukan orang yang lebih tinggi jabatannya, lebih banyak kekayaannya dengan perlakuan yang lebih istimewa dibandingkan dengan orang yang biasa-biasa. Yang diperlukan hanyalah sikap hormat dan bukan menjilat. Karena disadari atau tidak, budaya jilat menjilat yang menjadikan negara kita memiliki budaya yang menyimpang: KKN yang kental.

Tak Ingin Jadi Robot

Sebelum terjun bebas ke pekerjaan yang aku jalani sekarang, aku ditraining dulu oleh orang-orang yang tergabung di MI (Management Innovation). Ada 1 hal yang disampaikan oleh salah satu orang MI saat mengisi materi training di sebuah penghujung sore yang aku ingat terus sampai sekarang:

“janganlah kalian menjadi budak manufaktur. Tetaplah menjadi manusia..”

Yap, kurang lebih seperti itu.

Awalnya aku merasa itu bukanlah hal penting untuk diingat, apalagi diresapi maknanya. Belakangan aku tau bahwa itu bukanlah sekedar pesan biasa, namun pesan yang akan bisa membuatku tetap menjadi manusia, selayaknya.

Mungkin sudah jadi sebuah kelumrahan bagi sebagian besar penduduk metropolitan untuk mengabdikan dirinya pada pekerjaan dan mencapai materi sebanyak-banyaknya, dengan bekerja mulai pagi hingga malam, saat matahari belum terbit hingga matahari terbenam. Aku pun ikut larut dalam fenomena ini. Mulai dari Senin hingga Sabtu melakukan hal yang serupa: bangun pagi, ke kantor (pabrik lebih tepatnya), setelah malam tiba baru pulang dan beristirahat.

Dengan segala rutinitas itu, membuatku jarang melihat dunia luar. Tiap hari aku hanya menenggelamkan diri di balik layar monitor, televisi dan beberapa set DVD player untuk menyelesaikan pekerjaan.  Dan hari minggu aku habiskan dengan tiduran di kamar untuk membayar semua kelelahan atau pergi ke mall untuk berbelanja.

Namun, minggu pagi ini berbeda. Aku pergi untuk membeli sarapan dan harus berjalan di perkampungan penduduk di sekitar tempat kosku. Walau baru jam 8 pagi, panas matahari terasa menyiksa kulit. Aku melewati pasar yang berbau “khas”, melewati jalan kecil berbatu yang aspalnya pun terlihat rapuh, melihat para pekerja keras dengan raut muka letih dan penuh pengharapan untuk mendapat rezeki hari ini.

Aku membeli lontong sayur. Lontong sayur biasa, dipenjual biasa, dengan gerobak biasa. Namun entah mengapa saat menulis ini membuatku jadi merasa tak biasa. 3000 rupiah, semangkok lontong sayur. 3000 rupiah yang dicari dengan susah payah, mendorong gerobak dari ujung jalan hingga menemui ujung yang lainnya.

Jika dibandingkan dengan kelelahanku saat duduk bekerja, rasanya aku hanya seorang amatiran dalam memaknai apa arti “perjuangan hidup dan kerja keras”. Apalagi jika mengingat keluhan-keluhan yang sempat aku keluarkan karena masalah yang ada di kantor atau sekedar lelah dan mengantuk, padahal aku dibayar dengan pantas dan pasti tiap bulannya, aku merasa malu.

Betapa aku kurang rasa syukur padaNya, apalagi menyadari bahwa apa yang aku punya dan dititipkanNya padaku belum sempat dinikmati juga oleh mereka yang sarat akan derita di sebuah tempat lain.Apalagi setelah aku membaca blog ini dan ini.

Yah, aku ingin menjadi manusia, bukan robot, bukan budak manufaktur. Aku ingin melihat dunia, dunia yang sebenarnya. Aku ingin membuat satu, dua orang bisa tersenyum dan bahagia akan kehadiranku. Aku ingin.. Hanya keinginan sederhana.

I hope..