Pria-Pria Yang Akan Aku Jauhi

Maaf bukan bermaksud menyindir ato melecehkan, tapi aku memang orang yang perlu memastikan kenyamananku dalam berhubungan dengan orang lain. Jika aku merasa nyaman dengan seseorang, maka aku akan tetap berhubungan baik dengan orang itu. Begitu juga sebaliknya, secara otomatis aku langsung menarik diri dan akan seminim mungkin berinteraksi dengannya.

Aku memang suka mengamati orang lain dan reaksiku ketika berinteraksi. Aku adalah manusia ekstrovert yang ga jarang cepat akrab dengan orang yang sama sekali belum aku kenal sebelumnya.

Aku punya beberapa orang teman, mereka adalah orang yang sama sekali belum pernah aku temui, namun kedekatan kami seperti orang yang saling mengenal dekat sebelumnya. Mungkin lebih akrab dari orang-orang yang bisa aku temui setiap hari. Aku begitu karna aku merasa nyaman. That’s all.

Ada beberapa sifat, terutama dari pria, yang bisa bikin aku ilfeel dan merasa malas untuk berinteraksi dengannya. Dan hal ini tidak berkaitan sama sekali dengan racism.

  1. Suka bertanya.

    Yap, ini amat sangat bikin gerah yang luar biasa sekali. Aku ga suka aja kalo ada pria yang suka menanyakan hal-hal sepele terlebih lagi yang dikarenakan dia malas untuk mencari tau atau membaca buku petunjuk.

    I mean, kalo kamu masih ada di depan monitor dengan koneksi internet yang bagus, gampang aja kan untuk mendapatkan jawaban dari ketidaktauan itu. Bacalah dulu, coba cari tau dulu, kalo udah mentok baru tanya.

    Di mataku, pria itu harus smart, harus ada effort nya untuk mendapatkan sesuatu. Karna ketika dari hal-hal kecil aja dia ga bisa menghandle dengan baik, gimana ntar kalo udah jadi kepala rumah tangga? Masa ntar kalo anaknya tanya “ayah, siapa yang menemukan teori gravitasi?” dan si ayah cuma bisa menjawab “nanti ayah tanyakan pada ibumu”. Grrrrr….

    Lagian, bukankah pria akan merasa rendah diri dan ga suka kalo pasangannya ternyata “lebih” dari dia? Baca selebihnya »

Kriteria Buku Yang Akan Aku Lirik

Honestly aku bukan penggila buku, tapi aku senang untuk membeli buku. Tiap kali ke Gramedia, rasanya ga bisa menahan diri untuk membawa satu, dua, ato beberapa buku dari sana dan memindahkannya ke rak yang ada di kamarku.

Bahkan kemarin lusa pun, sepulang dari acara dinner bersama teman sekantor di PIM, aku mampir ke Gramedia. Warning yang uda disetting sebelumnya “Jangan membeli buku dulu sampe yang di rumah kelar dibuka bungkusnya dan dibaca semua!” menguap begitu aja. Dan aku menggesek kartu debit untuk biaya pindahan dua buah buku dari sana ke kamarku. Great -_-.

Aku termasuk pemilih soal buku yang mau aku beli. Mungkin bakal ada yang bilang bahwa don’t judge a book by its cover, but i can’t ^^, sorry.

Hal-hal berikut ini yang biasanya menjadi pertimbanganku dalam memilih buku yang akan aku beli:

  1. Judul.
    Ya, judul buku harus menarik keingintahuanku untuk lebih menyelami lembaran-lembaran yang tertulis di dalam buku itu. Judul yang menarik ini bisa menghentikan pandangan mataku dalam menyortir deretan buku yang terpampang di rak-rak toko buku. Kalo ga menarik, lewat.
  2. Cover.
    Yap, desain cover juga mempengaruhi penilaianku. Karna desain ini kadang juga sebagai interpretasi karya yang ada di baliknya, lembaran-lembaran yang menanti untuk dibaca, dan juga orang-orang yang terlibat dalam proses kreatif pembuatan buku itu. Dari cover (skali lagi ini menurutku), aku bisa membayangkan apakah mreka profesional, kreatif, niat dalam menerbitkan buku tsb atau sebaliknya, menerbitkan buku cuma untuk mengumpulkan koin-koin dan memanfaatkan genre yang lagi ngetop saat itu.
  3. Penulis.
    Ada beberapa karya penulis yang memang aku patok “I must have their books”. Karna menurutku, mau ga mau nama penulis ini juga menjadi jaminan mutu dari karya-karya yang mereka buat. Baca selebihnya »