anomali coffee

Sebuah Catatan (Penerus Kartini)

Sebuah cerpen untuk perempuan Indonesia yang percaya pada mimpi dan kebaikan hati mereka. Enjoy.

Kopi. Laptop. Hujan.

Entah rasa cinta pada siapa yang bisa mengalahkan kecintaanku pada suasana seperti ini. Seperti dua jemari berbeda yang saling mengisi selanya. Sempurna.

Mungkin hanya seorang pemberani yang mau melakukan apa yang tengah aku lakukan sekarang. Menjejaki masa lalu. Bukan, bukan karena bernostalgia dengan cerita yang pernah aku miliki di tempat ini, tapi mungkin ada kerinduan untuk sekedar duduk dan memandang hiruk pikuk dan lampu jalanan Jakarta dari sudut kafe ini. Menyaksikan gedung mencakar langit yang seakan angkuh berkata “aku mampu menguasai dunia”.

Coffee brule latte dari barista yang berbeda, tak mengurangi esensinya. Masih tetap sama seperti yang aku nikmati bertahun lalu. Tiga? Empat? Atau lima tahun lalu? Entahlah. Aku terlalu sibuk memikirkan hal lain daripada sekedar menghitung bulan dan tahun.

“Mommy, I can’t finish this game..”

Bocah laki-laki dengan mata hijau kecoklatan membuyarkan lamunanku. Dia menyodorkan permainan yang tak bisa diselesaikannya sejak kemarin. Aku belai rambut dan menciumi kepalanya yang bau shampoo aroma anggur.

“Why honey? Should I help you…”

“No mommy, I want to finish it by myself. So you can keep writing”

Ah malaikat kecil ini, selalu membahagiakan hatiku. Mengisi celah-celahnya hingga tak bersisa untuk kesedihan sekecil apapun. Malaikat kecilku, Diego, kembali duduk ke bangku yang ada di depanku dan melanjutkan kesibukan dengan mainannya.

Cintaku pada Diego mungkin sama dengan cintaku kepada kopi, atau lebih malah. Entahlah, hanya saja rasanya tak terukur.Baca selebihnya »

Iklan