Letter For John

Dear John,

I know you’ve been so busy lately. It doesn’t matter for me, because I have whole time to learn how to be patient.

I’ve wrote countless letters, and you replied them. Thank you, because of that I could learn to write down my feeling and make stories that I can tell to my future children.

How are you, John? Are you doing well?

I can’t erase even a glance your smile, at the last time we met. You’re perfect without your trying. You’re my morning coffee, always succeed make the sun shines over my window even though storm makes roots far from their land.

Did you know that you’re my GPS? You showed me the right path when I was lost. And these times, I hope I can be your guide as well, so you don’t get lost until you come home.

You’re my cooking recipe book, make ingredient that I put always feel right and delicious.  You’re a flawless photograph object, I don’t even need to make a minor editing on your pictures.

I hope the breadcrumbs can lead you home or if they are gone, at least there are always stars that can replace them.

With the all warmth that I have,

Your home.

Iklan

Get Lost in A Wedding

Dia terlihat begitu menawan di hari pernikahannya. Dengan mengenakan gaun berwarna coklat keemasan, menyempurnakan tahtanya yang tak terbantahkan di hari itu sebagai sang ratu.

Aku duduk di barisan terdepan untuk menyaksikan wajahnya yang bersemu merah ketika tangan sang pria beruntung berjabatan erat dengan tangan ayahnya, mengucap janji. Jantungku berdegup kencang, lututku terasa lemas.

Gambaran senyum lebarnya ketika dia membuka kado yang aku berikan di kelima ulang tahun terakhirnya, masih terlihat jelas di kepalaku. Aroma rambutnya yang begitu khas dan menenangkan, ketika dia kelelahan menangis dan akhirnya bersandar di bahuku, pun masih bisa aku nikmati hanya dengan memejamkan mata. Lima peti berukuran 2 x 1 meter rasanya tak pernah cukup untuk mengemas kenangan yang kami miliki. Terlalu banyak. Terlalu dalam.

Dulu aku punya hal yang aku perlukan untuk bisa menjadikan takdir berpihak pada kami, kesempatan. Namun aku terlalu takut diikat dan dipasung oleh hal yang bersembunyi di balik kedok komitmen. Dan aku membiarkan 5 tahun berlalu begitu saja tanpa menyisakan jejak perjalanannya, kecuali kenangan.

Setelah kata “sah” terucap, hidupku hanya terisi oleh 1 hal, sesal. Sesal yang tak akan pernah mengubah apapun. Apapun.

And I am lost, because the fight for you is all I’ve ever known.

Picture of Mbak Tiar taken from Tospringe Photography.

Lost in Denial

Her friend : He loves you!
Her : He liked me, or maybe he never.
Her friend : How could? He said it to you.
Her : Maybe he drank or made a joke.
Her friend : Terrific. He drove and drank.
Her : I just don’t want to chase the wind. Hope for nothing.
Her friend : Do you love him?
Her : No.
Her friend : Do you love him?
Her : I did.
Her friend : Do you love him?
Her : I DO! Are you satisfied now? She’s crying and choking.
Her friend : You’re just a coward, you’re scared being hurt. Time goes by young lady, two years.
Her : I have to protect my own heart.
Her friend : That’s why you rejected 4 proposals from great guys ?
Her : It’s because I am still waiting for him.

The Secret Tears

They’re a good friend for more than 8 seasons.
Share their stories, laughs and their love life. But they never get crush each other. Never.

@lia : eh katanya kamu mau nraktir aku sushi?
jazz2001 : ah masa si? :p
@lia : dih, iya. Baru juga minggu kemaren blgnya
jazz2001 : minggu deh kita nyushi kalo gt
@lia : ahay, beneran?
jazz2001 : iya, ga pake kalap pokoknya. Bisa makan mi instan ntar aku akhir bulan
@lia : nggak la, cuma ga makan doang dari pagi :lol:. Biar bisa menampung banyak ahahah
jazz2001 : sama aja -_-
@lia : eh eh 😉
jazz2001 : firasat ga enak, pasti ada maunya
@lia : ah, jangan gt dong, aku kan slalu manis :p. Eh kenalin dong sama temenmu
jazz2001 : siapa?
@lia : itu yang tadi fotonya kamu upload di FB, lucu de kayaknya hihi *kedip2*
jazz2001 : dasar ganjen, ga bisa liat yang bening dikit. Ini lo aku, bening bgt, dianggurin aja hahaha
@lia : aish. Siapa namanya?
jazz2001: Albert
@lia : hihi, maooooo..
jazz2001 : aku dapet apa ntar?
@lia : dapet ucapan trima kasih dan kasih sayangku 😉
jazz2001 : ah, lips service doang
@lia : ahaha tau aja. Ya, ya, comblangin *kedip2 lagi*
jazz2001 : iya, ntar aku kenalin..
@lia : aaaahhh, you’re the best eveeerrrrr *hugs*

And tears are streaming from his eyes.
He’s feeling hurt in his chest.
But he doesn’t know, what kind of pain indeed.

Pahitnya Kopi yang Membawaku Pulang

Hanya cerita pendek yang terinspirasi dari sebuah percakapan.

Panasnya jalanan Jakarta siang itu terasa kontras dengan sejuknya udara di dalam salah satu mall yang berada di dekat tempatku menunggu bis Bekasi. Sambil meminum iced coffee yang  aku beli dari sebuah kedai kopi ternama, aku berdiri di bawah terik matahari dengan balutan asap berbagai kendaraan pribadi sampai metro mini.

Aku menghela nafas. Entah tanda kecewa atas carut marutnya tata ruang ibukota atau karena bis yang tak kunjung datang. Atau mungkin karena keduanya. Bisa jadi.

Di depanku berdiri seorang lelaki paruh baya, kulit hitamnya seakan menandakan bahwa dia berteman baik dengan matahari siang di Jakarta. Di tangannya ada beberapa buku tipis dengan sampul berwarna cerah. Kamus bahasa inggris bergambar rupanya. Aku mengetahuinya setelah mencuri pandang ke arah sampul buku yang dibawa lelaki itu.

“hmmmhh, susahnya cari duit jaman sekarang. Cepet kiamat ajalah ya Tuhan kalo kayak gini.. “, keluhnya.

Aku mengrenyitkan dahi seketika, “doa macam apa itu ? “ gerutuku dalam hati.

Dia menghitung uang yang diambil dari saku kaosnya yang bergambar salah satu caleg dari partai besar. Sepertinya itulah uang yang diperoleh lelaki itu sejak pagi hingga menjelang sore ini. Dalam hati aku ikut menghitung, karena tidak banyak lembaran lima ribuan yang dia miliki.

Aku tercekat.

Kopi yang daritadi aku bawa dan aku minum, bagaikan obat dehidrasi yang sangat mujarab, seketika berubah menjadi cairan getir dan pahit yang meracuni hatiku bak Klorokuin dan Primakuin untuk penderita malaria. Aku merasa bersalah pada lelaki setengah baya itu. Aku kehilangan nafsu untuk menghabiskan sisa iced coffee ku tadi yang masih setengah gelas.

Betapa tidak, uang yang dia cari dengan susah payah hanya sepertiga dari harga segelas es kopi yang harus aku bayar. Aku merasa berdosa. Merasa dibodohi nafsu sendiri. Andai saja aku lebih bijak, uang yang aku belikan es kopi tadi bisa aku berikan padanya. Mungkin tidak kurang dari 30 bungkus mie instan bisa diberikan pada anak-anaknya untuk makan selama beberapa hari. Atau bisa ditukarkan dengan 8 kg beras kualitas biasa beserta ikan asin. Aku merasa begitu egois.

Bis yang aku tunggu telah datang. Aku segera naik dan memilih bangku yang berada di dekat jendela. AC yang ada di dalam bis memberikan kesejukan setelah setengah jam aku berdiri menunggunya bersama panas matahari Jakarta.

Pikiranku memutar kembali kejadian sekitar dua tahun lalu, sebelum aku mendapatkan pekerjaanku yang sekarang. Di masa aku menjalani hari-hari bersahabat dengan terik matahari Surabaya, sembari membawa beberapa sample produk. Aku pernah bekerja sebagai seorang sales panci.

Berjalan menyusuri trotoar, masuk dari satu perumahan ke perumahan lain dengan harapan ada dua panci atau lebih yang terjual setiap hari. Tidak mudah memang. Tak jarang betisku yang sudah kaku karena berjalan mulai pagi sampai magrib tak menemui hasil yang sepadan, bahkan hanya untuk membeli counterpain pun tak cukup.

Sampai akhirnya aku diberi tahu seorang teman bahwa perusahaan tempatku bekerja sekarang sedang membuka lowongan. Kebetulan aku memenuhi kualifikasi yang diajukan. Setelah menunggu selama tidak kurang dari 2 bulan, akhirnya aku mendapatkan kabar gembira. Aku diterima dan akan pindah ke Bekasi.

Keluargaku juga menyambut gembira. Perjuangan ayahku yang hanya seorang petani, dan ibuku yang berjualan batik keliling membuahkan hasil. Kaki ibu pun harus dikorbankan untuk bisa membantu ayah membiayai sekolah sarjanaku dan dua orang adikku. Tulang kaki kanan ibu meradang karena kelelahan dan kurang kalsium, sehingga sekarang ibu sulit untuk berjalan.

Pada hari kepergianku, aku melihat air mata kedua orang tuaku. Aku mengartikannya sebagai air mata bahagia sekaligus kecemasan. Sebagai anak perempuan tertua dan satu-satunya, aku harus pergi jauh dari mereka dan pindah ke kota yang entah bagaimana lingkungan keagamaan dan sosialnya. Berita di tv tentang pembunuhan, pemerkosaan dan narkoba semakin membuat hati mereka berat untuk mengantarkan kepergianku.

Tak banyak pesan dari mereka. Ayah hanya berbisik “jaga iman, nak”, ibu berpesan “jangan lupa sholat ya nduk” ketika kami berada di stasiun Gubeng. Sementara kedua adik lelakiku sambil berkaca-kaca, mengingat mereka tak pernah berpisah jauh dariku, berkata “kalo lebaran jangan lupa pulang ya mbak”. Harapan yang sederhana, pikirku saat itu.

Aku menegakkan posisi dudukku dan mengambil uang untuk membayar bis. Tak terasa dua tahun sudah aku jauh dari mereka, keluargaku. Pesan-pesan sederhana itu ternyata tak semudah yang aku kira, iman dan sholat.

Entah berapa lama aku meninggalkan sholat dhuha, apalagi tahajjud. Tenagaku sudah hampir habis untuk bekerja yang sering kali baru pulang setelah jam 7 malam, dan rasa kantuk yang tak tertahankan saat membaca buku di kamar. Jangankan tahajjud, isya pun kadang terlewatkan begitu saja karena sering dikalahkan oleh acara tv atau browsing internet.

Istighfarku dalam hati. Pernah aku merasakan kedamaian itu, uang yang tak berjumlah jutaan pun rasanya cukup dan penuh berkah. Saat di mana aku rajin beribadah wajib dan menambahkan 4 rakaat dhuha dan 4 rakaat di sepertiga malam.

Entah apa kesibukanku selama ini, dhuha terlewat begitu saja. Ku cukupkan hanya pada sholat wajib, itupun di akhir waktu sholat dengan dalih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.

Buliran air yang terasa hangat mulai membasahi pipiku. Aku membasuhnya segera dengan tissue karena tak ingin menarik perhatian penumpang lain. Pilu. Ada ketakutan dan kekecewaan pada diri sendiri. Ketakutan akan apa yang bisa menjadi bekalku ketika jasad ini tak lagi bernyawa. Kekecewaan akan waktu yang telah aku sia-siakan begitu saja, uang yang aku belanjakan yang hanya untuk kepuasan diri yang tak ada habisnya.

Tuhan, aku berdosa padaMu, aku mendzolimi hambaMu. Luruskan jalanku sekiranya aku tak lagi lurus, ingatkan aku sekiranya aku sedang lupa, rengkuh aku sekiranya aku berlari terlalu jauh, putarkan kembali gambar wajah ayah ibu dan pesan mereka ketika aku salah arah. Mungkin kejadian kopi dan lelaki paruh baya tadi adalah salah satu caraMu untuk mengingatkanku.

Ku buang gelas plastik kemasan kopi tadi sesampainya aku di rumah. Pahit manis rasa iced coffee begitu cepat hilang dari lidah, bahkan sebelum aku menemukan tempat sampah. Namun tidak demikian halnya dengan getir yang tersisa dan mengendap.