Monolog

Hanya sekedar monolog,
aku bebas berekspresi, tanpa ekspektasi.
Menyenangkan bukan?
Sembari menunggu hujan reda,
dan dirimu mulai menyusuri jalan pulang.

Aku menunjuk pada bangku itu,
bangku kosong di sampingku.
Duduklah jika kau mau.
Sambil menikmati secangkir teh manis untuk menghangatkan
tubuhmu yang dingin karna hujan.
Mendengarkan Edwin Mccain bersenandung “i could not ask for more”
dan aku akan bercerita padamu.

Ku kisahkan apa yang terselip di benakku.
Bukan barang penting. Tentu saja.
Bukan cerita tentang dunia dan isinya,
apalagi science atau matematika.
Bukan pula artikel dari wikipedia.
Akan sangat membosankan,
tapi bukankah kau tau aku senang bercerita?

Setidaknya ada manis yang tersisa di bibirmu
ketika hujan reda dan kau beranjak dari bangku reot itu.
Walau datangnya bukan dari kisahku,
tapi dari gula di teh manis itu.

4 thoughts on “Monolog

  1. fitri berkata:

    @Mas Atma: hihihi, makasiiii. Iyah, saya tadi uda maen ke sana, bagus ^^

    @Mbak nyun: Iyalahhhhh aku yang bikin *nada ngotot* hehehe. Karna emang lagi ngrasain itu, brasa ngomong ke orangnya ^^

Habis maen komen dong :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s