Solo Trip ke Eropa #4: We Never Travel Alone

“I’m in love with cities I’ve never been to and people I’ve never met. The most beautiful parts of life are still unfolding.”

Setelah berbagai persiapan solo trip ke Eropa yang sudah saya tuliskan di postingan sebelumnya, kali ini saya akan berbagi pengalaman selama berada di Eropa karena sudah ditanya-tanyain oleh beberapa teman. Daripada saya harus mengulang-ulang cerita, jadi saya tulis di sini. Tsah, berasa punya pembaca aja :p. Warning: postingan ini bakal panjang, bisa disiapkan camilan dulu kalau emang kekeh mau baca😀.

Saya menggunakan Turkish Air (pp) dengan rute CGK – IST – CDG – IST – CGK. Saya berangkat dari Soekarno Hatta International Airport pada 13 Agustus 2015 jam sembilan malam lebih sedikit karena ada delay sekitar setengah jam. Malam itu Jakarta sedang hujan, padahal sebelumnya tiap hari panas Jakarta bisa dipake buat ngeringin bed cover. Hujan membuat saya makin khawatir karena saya akan melewati penerbangan malam yang berpotensi turbulence, dan yang utamanya adalah hujan bikin galau😦.

boarding pass to paris

Finally, living my dream

Ketika menunggu boarding, saya sudah nggak sabar untuk masuk ke pesawat. Bukan, bukan karena curious apa bakalan duduk di sebelah mas bule ganteng ala lagu Just A Kiss-nya Lady Antebellum yang traveling dapat bonus jodoh, tapi lebih karena ngantuk berat kurang tidur. Udah ketebak dong ya ketika udah nemu seat di pesawat sesuai boarding pass apa yang saya lakukan? Yak, benar. Tidur! Saya langsung tidur dan menggunakan head set buat dengerin lagu. Beberapa saat kemudian, saya terbangun dan ngeliat orang-orang di sekitar lagi pada dinner sementara saya belum dapet makan. Ya udah, saya langsung minta makan ke pramugarinya.

Lama penerbangan Jakarta – Istanbul adalah sekitar 12,5 jam di mana 11 jamnya saya habiskan untuk tidur dan mempersiapkan mental untuk memulai solo traveling ini. Beberapa saat sebelum landing, saya baru ngobrol dengan mbak-mbak yang duduk di sebelah saya. Dari ceritanya saya tau kalau si Mbak berasal dari Jogja dan travelingnya kali ini semi solo trip, dia akan berpisah dengan rombongannya setelah beberapa hari di Eropa karena dia mau melakukan perjalanan rohani ke Roma sebelum menikah di bulan Oktober 2015 ini. Yang saya sesalkan, saya ga sempat meminta contact si Mbak. Dari si Mbak saya juga tau ternyata pas dinner dibagikan si Mbak berusaha membangunkan saya dan gagal! Yak ampun, jadi saya tadi tidur apa pingsan hah? P.S: Mbak, kalau kamu baca ini, aku mau dateng ke kawinanmuuuuu!

in Istanbul Airport

Si Mbak yang kenal di pesawat

Transit di Istanbul selama dua jam, saya sholat subuh di masjid airport dan ketemu rombongan ibu-ibu dari Indonesia. Setelah tau kalau saya traveling sendiri, si Ibu bilang “wah berani ya kamu, kalau saya udah plonga plongo”😀. Saya cuma senyum-senyum flattered aja, walau padahal di dalam hati deg-degan juga pergi sendirian. Karena gada free airport wifi di Istanbul, saya ke Starbucks beli vanilla latte dan yang utama sih dapetin akses wifi buat ngobrol sama Sandi biar ga ketiduran nungguin flight ke Charles de Gaulle (CDG) airport. Di sini saya pertama kali merasakan scanning boarding pass ke mesin kayak yang dipakai buat menggesek credit/debit card waktu kita belanja buat dapetin wifi access code. Yay, experience level up! *norak emang*

Hari Pertama di Paris, 14 Agustus 2015

Perjalanan dari Istanbul ke Paris (CDG) memakan waktu sekitar 3,5 jam. Jangan ditanya gimana rasanya pantat dan punggung saya ketika menjalani flight panjang tersebut. Yallah, pegelnya😦. Tapi rasa pegel itu masih kalah dengan excitement yang saya rasakan untuk ketemu mas-mas bule ganteng mendapatkan pengalaman dan menikmati solo trip. Ketika tiba di CDG, saya senyum-senyum girang. Keinginan saya selama bertahun-tahun terwujud juga!

Di CDG saya membeli kartu telpon Orange di Relay seharga 40€ yang ternyata tidak bisa saya gunakan karena harus registrasi dengan mengirimkan copy passport dan lain lain. Tadinya saya bermaksud mengganti kartu telpon biar bisa mengakses maps dan meminimalkan nyasar, tapi apa daya kenyataan berkata lain. 40€ terbuang sia-sia. Kadang pengalaman emang mahal harganya, Jendral!

Dari CDG ke kota Paris (Gare du Nord) saya menggunakan kereta yakni RER jalur B. Petunjuk yang ada di airport sangat informatif, tinggal ikuti saja papan yang ada tulisan “RER” nya. Petunjuk lengkapnya bisa dibaca di sini dan di sini, tiket RER nya saya beli di loket sebesar 10€ walau sebenarnya juga bisa melalui mesin sih.

Saya menginap di Generator Hostel yang berada di 11 Place du Colonel Fabien. Karena di link booking hostel ada petunjuk untuk ke sana dari Gare du Nord dengan jalan kaki sekitar 15 menit (tanpa nyasar) maka saya mempelajari maps itu saja. Ini pelajaran kedua yang saya dapatkan di Paris setelah Orange card tadi. Dengan membawa carrier seberat sekitar 9 Kg dan nyasar sedikit di Paris bukanlah hal yang menyenangkan. Encok bang! Seharusnya saya bisa menggunakan metro dan bisa berhenti di metro station Colonel du Fabien yang persis berada di depan hostel. Tapi ya sudahlah, itung-itung sekalian menikmati Paris dan bakar lemak.

Paris metro stataion

Paris metro station

Karena sampai di Paris masih siang, setelah check in dan menaruh barang di female dorm yang berisi delapan orang, saya langsung jalan kaki dan meminta maps dari petugas lobi hostel. Ini adalah bentuk ikhtiar walaupun saya ga bisa baca maps. Sebenarnya sih bisa, cuma karena malas dan jarang diberi eksposure terkait penggunaan maps sementara kalau di Jakarta bisa mengandalkan Google Maps, maka kemampuan saya membaca maps kurang oke saat itu. Lagi pula menurut saya sebenarnya nyasar itu kan hanya sampai di tempat tujuan dengan waktu yang lebih lama saja :p.

Saya memang tidak mengejar spot dan frankly pergi trip ini tanpa itinerary karena tujuan utama ke Eropa Barat ini adalah untuk self reflection. Tapi Kenny dari KartuPos emang baik banget (bukan compliment berbayar). He did something beyond my expectation, saya dikirimin itinerary tempat dan kegiatan untuk dilakukan di Paris. Agenda saya di hari pertama ini hanya city sight seeing dan nyicil nyoretin list dari Kenny, foto-foto, menikmati Paris yang berbeda jauh dari Jakarta dan dipenuhi bule *yaiyalah*.

Siang itu sebenarnya ada satu tempat yang ingin saya tuju, yakni Office du Tourisme de Paris untuk mengambil Paris Museum Pass 2 days yang ada di 25 rue des Pyramides. Yaelah boro-boro ke tempat antah berantah yang nyempil, ke Eiffel Tower yang segitu tingginya aja saya nyasar. Akhirnya saya menunda dan mengambil Museum Pass-nya keesokan hari. Di tengah perjalanan saya melihat banyak orang yang masuk ke dalam kawasan gedung yang pelatarannya luas banget. Karena curious, saya ikutin aja mereka. Setelah sampai di dalamnya, saya bengong dan takjub ternyata di dalam area itu ada Musée du Louvre sodara-sodara! Pengen nabokin diri sendiri karena masih belum percaya kalau saya sudah berada di Paris dan solo traveling! Aaaaaaak!

Nah karena Museum Pass belum di tangan, saya hanya melihat-lihat Louvre sebentar dan melanjutkan perjalanan ke Eiffel Tower yang udah di depan mata. Belum keluar dari area Louvre, Paris hujan deras dan berita buruknya saya lupa tidak membawa payung yang ada di carrier yang saya tinggal di hostel😐. Setelah hujan reda, di bawah gerimis saya melanjutkan perjalanan ke Eiffel Tower buat menuntaskan hasrat sight seeing.

eiffel tower

Eiffel, I’m cold yet in love

Eiffel checked. Pe-er selanjutnya adalah menemukan jalan pulang yang paling cepat karena hari sudah semakin malam dan Paris masih hujan. Kebayang ga di kota seindah itu, dingin-dingin dan kehujanan, kaki pegel, dan sendirian ga tau jalan pulang? Sediiiiiih dan periiiiih kakaaaak T_T. Pengen nyewa ojek gendong atau naik ojek, tapi kan gada di sana. Tadinya saya pikir bisa menggunakan RER yang ada di sebelah Eiffel, tapi ternyata sedang ditutup untuk perbaikan sehingga saya harus tetap berjalan kaki dan mengingat-ingat jalan yang saya lewati sebelumnya. Jarak dari Eiffel ke Generator Hostel sebenarnya tidak terlalu jauh yakni 7 km.

Sepanjang perjalanan yang penuh perjuangan menuju hostel, saya tetap menikmati Paris dan melihat berbagai macam bangunan dan nama-nama jalan yang dulu hanya bisa saya lihat melalui buku les bahasa prancis saja. Avenue des Champs-Élysées yang dipenuhi dengan tempat makan dan tempat perbelanjaan bagi turis, Arc de Triomphe de l’Étoile yang berdiri dengan gagah perkasa, Grand dan Petit Palais yang anggun mempesona, dan semua keindahan yang ditawarkan Paris yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Singkatnya, hingga jam 9 malam saya masih berada di sekitar Gare du Nord dan nyasar ke slum area di sana yang dipenuhi dengan orang-orang yang keleleran bau alkohol dan sepertinya homeless. Walau udah deg-degan banget hampir frustasi karena suasana yang creepy dan badan udah cape buat nyari jalan pulang, saya tetap berusaha memasang muka tenang karena kabarnya di Paris banyak copet. Kalau sampai keliatan bingung, bisa-bisa menjadi objek kejahatan. Akhirnya saya memutuskan bertanya kepada mbak-mbak yang nampak baik dan educated well. Belum ketemu juga, saya masuk ke toko kelontong membeli air minum buat modal nanya arah ke hostel.

Jam 9.30 malam saya sampai juga di hostel dengan sepatu dan pakaian yang basah langsung ganti baju, selimutan, dan curhat ke Sandi karena gada mas bule yang bisa pukpukin. Walau secara fisik pergi sendiri tapi saya tetap berkomunikasi dengan Sandi yang lagi di US. Thanks to technology banget deh :*. Yang bikin meleleh adalah ketika saya udah teler dan ketiduran di hostel waktu kami sedang video call, dia berusaha mencari dan memesankan saya makanan halal via online buat dikirim ke hostel. Baeknyaaaa :p

Hari Kedua di Paris, 15 Agustus 2015

Setelah drama hari pertama, hari kedua saya sudah punya tujuan sejak pagi hari yakni ikut Fat Tire Tour untuk berkeliling Paris dengan bersepeda selama tiga jam bersama rombongan dan tour guide yang menceritakan sejarah Paris dan Prancis. Untuk tour ini saya membayar 32€ dan memang recommended banget karena bisa melihat sisi lain dari Paris termasuk spot melihat keindahan Eiffel. Ga rugi! Pemesanan tiketnya dilakukan online dan dibayar menggunakan credit card. Tour dimulai jam 11 a.m.

fat tire bike tour office Paris

Kantor Fat Tire Bike Tour

Di tour ini saya jadi kenalan dengan mbak-mbak dari Filipina yang berkerja di Dubai sebagai manager, Tata. Pada orang-orang tertentu, saya memang gampang akrab banget. Jadilah kami cerita-cerita dan jalan bareng sepanjang tour dan setelahnya. Saat itu kami juga kaget setelah tau ternyata kami tinggal di hostel yang sama! Jodoh banget ga sih? Di tour ini saya juga mengenal pasangan suami istri dari Australia. Istrinya baru pensiun beberapa bulan sebelum kami bertemu, sementara suaminya dulu lama tinggal di Yogyakarta. Romantis banget ngeliat mereka yang sudah berumur tapi masih traveling bareng *memandang iri*.

fat tire bike tour Paris

Cara fun menikmati Paris

Bersama Tata saya mengambil Paris Museum Pass dan tawaf di Louvre. Tips: biar ga kelamaan ngantri, masuk Louvre lewat pintu sisi kanan Porte des Lions. Saya dan Tata masuk ke Louvre effortless tanpa antrian sama sekali. Setelah nengokin si chubby Monalisa, kami berniat untuk masuk ke Musee Rodin di dekat metro Invalides. Tapi sayang, ketika kami sampai di sana museum udah mau tutup dan kami ga dibolehin masuk. Di hari kedua ini saya udah fasih menggunakan metro karena dikasih metro route map sama petugas, tapi tetep aja lorong metronya panjang banget bikin kaki gempor juga. Gempor dan bahagia😀.

Musée du Louvre

Musée du Louvre

We never travel alone. Pertama, saya ketemu si Mbak yang di pesawat dan brasa langsung akrab dan pengen ketemu lagi. Kedua, saya ketemu Tata and I’d love to see her again. Ketiga, orang-orang yang kita cintai entah di manapun mereka berada pasti selalu mengharapkan dan mendoakan kita agar pulang dengan selamat.

Why bother to take solo trip? We never travel alone.

16 thoughts on “Solo Trip ke Eropa #4: We Never Travel Alone

  1. pipit berkata:

    Serunya Mbak travellingnya. Saya plannya november nti ke parisnya *smoga visax lolos*, dan lg cari2 penginapan yg murah aman n klo bs dgn view rooftop yg bs liat eiffel krn ak m solo trip first time ke paris. Coba generator hostel tdk trsedia utk tgl yg ak pilih. Mohon sarannya dong Mbak. *salam kenal yah🙂 *

Habis maen komen dong :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s