Kisah Dari Pedongkelan, Berbagi Dengan Hati: ShoeBoxProject 7

Kemarin, Sabtu 2 April 2011, ShoeBoxProject 7 mengunjungi TK/SD Yayasan Bintang Pancasila di Pedongkelan. Meskipun saya sudah mengenal foundernya, Ozka, sejak beberapa bulan lalu karena kami bersama-sama tergabung dalam Taman Ilmu Setia Budi, kemarin adalah pertama kalinya saya ikut bergabung dalam ShoeBoxProject.

Di sana kegiatan dari ShoeBox Team dan volunteernya dibagi menjadi dua, yakni sebagian mengecat ruangan kelas dan sebagian lagi berinterkasi dengan adik-adik di sana dengan mengajak bermain dan story telling, mengingat tema ShoeBoxProject 7 kali ini adalah “Membudayakan (Lagi) Membaca”. Dari dana para donatur yang terkumpul, ShoeBox melakukan sedikit renovasi pada ruangan kelas, memasang kipas angin, membuatkan perpustakaan kecil dan membeli buku-buku untuk mereka.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Baca selebihnya »

Be Careful With Your Words, God Hears.

Warning: tulisan yang lumayan panjang, dan (mungkin) membosankan ;).

Saya memandang langit Jakarta dari lantai tiga gedung menjulang yang tampak kokoh dengan logo tiga warnanya yang membuat orang mengenal gedung ini dengan mudah. Saya begitu menikmati posisi duduk ini, 3 minggu. Bersebelahan dengan kaca, membuat saya bisa melihat satu sisi Jakarta dengan leluasa. Mendung, terik, hujan, deretan mobil yang di parkir, Istiqlal dengan menara yang menjulang bersanding mesra dengan Katedral. Mereka berjarak, namun dekat.

Tiap kali menjadi penumpang TransJakarta yang menuju ke Harmoni, ada satu titik di mana pemandangan yang terlihat di depan saya hanya ada 3 bangunan menjulang: gedung yang sekarang saya tempati, gedung Kwarnas dan Monas. Teringat pula ketika saya harus merasakan berdiri berdesakan menjadi penumpang TransJakarta menuju Ratu Plaza, yang kontras dengan bis jemputan yang setia menjemput di hari kerja: leluasa, tak perlu berdiri ataupun membayar.

8 bulan lalu, saya mengantar dua orang teman untuk membeli tiket kereta mudik lebaran. Lalu kami berjalan menuju halte TransJakarta Gambir 2 untuk menuju Kuningan. Kami menengadahkan kepala memandang gedung perkantoran menjulang di sekitar sana. Entah siapa yang menyeletuk “kantor impian”, sambil terkekeh geli dan memandang gedung di mana saya berada sekarang. Dan ketika itu saya hanya menimpali “iyah, kapan bisa ngantor di situ ya?” dengan asal.

Entah apa yang mendorong saya, ketika saya sedang di rawat inap karena gejala tipes, untuk memasukkan lamaran online ke perusahaan ini. Iseng? Penasaran? Mungkin lebih ke keingintahuan tentang seberapa besar kompetensi yang saya miliki, karena sebelumnya saya pernah mencoba mengikuti tes di sebuah departemen dan saya dilepeh begitu saja. Mungkin Tuhan takut saya akan korupsi di sana. Mungkin.

Saya ingat betul, tes pertama adalah awal Ramadhan. Berat sekali rasanya setelah sahur harus berangkat ke Jakarta di pagi buta. Ketika itu saya berkata “Ya Allah, bolehkah jika saya memilih untuk puas dengan berada di sini saja?”. Namun teman-teman sekos saya tidak merestuinya, dan berangkatlah saya.

Tes pertama saya lalui tanpa persiapan apa-apa. Ngeprint CV pun saya lakukan sebelum berangkat dan atas kebaikan hati Mbak ini saya bertamu ke rumahnya jam 5 pagi. “Kan memang ingin mengetahui kemampuan saja”, alasan saya tidak belajar apapun waktu itu. Hasil tes ternyata diumumkan pada hari yang sama. Deg-degan? Iya. Karena walaupun nothing to loose, ini adalah kompetisi. Saya, bagaimanapun juga, enggan untuk kalah jika memang saya bisa mendapatkan yang baik. Saya lolos. Dan saya bingung, harus berkelit apa kepada atasan saya, 2 hari ijin kerja? Yang benar saja!Baca selebihnya »

Little Miss Perfect

Info: Di postingan-postingan sebelumnya, kata ganti yang saya digunakan adalah “aku” dan (mungkin) mulai sekarang saya akan menggunakan “saya” #pentingbanget :lol:.

Tumben malam ini saya melakukan blogwalking ke beberapa blog yang sudah lama tidak saya kunjungi. Dan akhirnya terdampar di sini. Daripada cuma terdampar saja dan tidak membawa oleh-oleh pulang, akhirnya saya memutuskan untuk iseng-iseng mencoba mengisi kuisnya. Dan ini dia oleh-olehnya ^^

Toh hanya kuis bukan?

Tapi ada hal yang membuat jawaban kuis ini mengingatkan saya pada apa yang pernah terjadi. Seseorang pernah mengatakan bahwa dia tidak bisa berjalan bersama dengan saya karena (menurutnya) saya selalu ingin benar, sementara dia adalah orang yang memiliki kehidupan yang penuh dengan trial dan error.

Apakah patokan atas kesimpulan tersebut? Entahlah, perbincangan kami sepertinya :).

Saya bukan orang yang selalu mematokkan bahwa kehidupan saya harus berjalan dengan mulus, bukan. Saya tau bahwa “everything doesn’t end up the way we want it to”. Manusia bisa merencanakan, Tuhan yang berkuasa untuk menentukan hasilnya karena Dia akan memberi apa yang kita butuhkan, meskipun kadang yang diberikan adalah kebalikan dari apa yang kita inginkan.

Saya prefer untuk memiliki rencana atas apa yang akan saya lakukan, cita-cita, mimpi agar saya tidak kehilangan arah. Tapi pada prakteknya ada banyak hal yang sering saya lakukan dengan spontan. Dan menurut saya, gabungan antara keduanya membuat kehidupan saya lebih dinamis dan berwarna.

Tapi …. toh itu sudah berlalu.

Maybe ;).

Mirror

What is the importance of a mirror? So I can see myself clearer.

Finally, after had a hard time lately, I decided to make peace with myself. I spent my time and my energy to do some exercises in my office’s exercise center. I keep thinking.

I saw bad things that I have in people, and those things make me scare to realize that I am an awful person, a bad friend, person who hurt others intentionally or not, and humbly I’d like to say sorry for my absence. Really sorry for things that I’ve done and maybe put scars in your feeling. I am human, but I want to learn.

If people did things that hurt us deep down inside, by purposes or not, like what I said on my previous post “ambil manfaatnya, ambil manfaatnya, ambil manfaatnya”, take the lessons. From them we know that we shouldn’t do the same to others, don’t bite people who bite us because if we do it, apple to apple, we don’t have any differences with them.Baca selebihnya »

About Attending A Wedding Party

Someone asked me, why I didn’t come to someone’s wedding party. And by chance, both of this people came from my past (the one who asked me and the one who had a wed party).

It was so funny when he mentioned about broken heart as a reason I didn’t come to the party.

Dear sweetheart, when I say “past is past” it means I really put the things in my 3rd box. And I am not kind of person who think that marriage is everything even though it is an important thing for me. That’s why I am glad we’re not meant to be *evil laugh*.

I never put my legs in a handcuff because I have things to achieve, dreams to be reached. I need them to run fast and not stuck in a mysterious thing such fate.

So, can I “make people happy when they see me happy and for those who aren’t, I am humbly say sorry”?.

No need to worry bout my success, I am working on it ;). But thanks for your kind attention. And please, live in peace :lol:.

I Love “The First”

Biasanya yang paling bikin deg-degan adalah menghadapi “the first”, hal yang pertama kali dialami. Sebenernya mungkin hanya dikarenakan belum ada pengalaman sebelumnya, makanya sensasinya jadi rada lebay :D.

Aku sempet parno juga waktu menjelang hari pertama OJT. Di tempatin di mana, bosnya siapa, ntar bisa apa nggak, seniornya gimana, dsb. Tapi apapun yang bakal aku hadapi, pastilah yang baik menurut Allah. Jika ada keraguan atasnya, maka sama halnya aku meragukan kapabilitas Allah, tentunya setelah berusaha dan berdoa dulu :).

Hari ini adalah hari kedua di kantor. Hari pertama kemaren berjalan cukup baik. Namanya juga anak baru, musti agresif untuk belajar. Rajin-rajin menghadap pembimbing, asmen, ato senior dan bertanya. Rajin-rajin baca juga *ini sering bikin ngantuk -___-*. Baca selebihnya »

People Of The Box

In our life, we meet many people and we lost count on it. I’d like to classify people who came and come into my life to several boxes, they are:

  1. Opened box: for those people who want to or will come and are coming into my life. We can say they are new people and I am in a process to know them better and try to figure out things that can be learned from them.
  2. Box that can be opened and closed. This is a special box, because this is for those people who can touch my heart and left their footsteps. So when I am missing them, I can open the box even though we don’t talk for months or years because there are things that bind us called memory.
  3. Closed box. It’s clear that this box is special for them from my past and it will be better if I never take a peep into it, or for them who came slightly and left nothing.

Today is my first day in my new boarding house. After unpacking my stuff and went shopping to buy batik clothes and some-new-anak-kosan-stuff till my calf bunned 😆 (iyah ini vocab buatan sendiri, baca: berkonde). I went back to my room, turned on my laptop and playing some songs.

When you’re alone in your room, it will be easier to open the second type of boxes above more over if the songs that are played are songs that remind you of them. Suddenly, I miss many people from my present-perfect-continuous period. Baca selebihnya »

I Got You

I dedicate this post for the person who being kind lately, be a nice companion to share some of my day stories, my idea, my silliness, etc. I am glad you’ve made a lot of improvement, you’re a good learner, and you’ve changed much.

So tell me, do I have reason for not talking to you?;) Being your inspiration is an honor. “You have to take risks. We will only understand the miracle of life fully when we allow the unexpected to happen.” – By Paulo Coelho.

A place to crash, I got you
No need to ask, I got you
Just get on the phone, I got you
Come and pick you up if I have to

What’s weird about it is we’re right at the end
I’m mad about it, just figured it out in my head
I’m proud to say I got you

Go ahead and say goodbye, I’ll be alright
Go ahead and make me cry, I’ll be alright
And when you need a place to run to
For better, for worse I got you, I got you

Ain’t falling apart or bitter
Let’s be bigger than that and remember
The cooling outdoor when you’re all alone
Won’t survive it, no drama, no need for a show
Just wanna say I got you

‘Cause this is love and life
And nothing we can both control
And if it don’t feel right
You’re not losing me by letting me know

A place to crash, I got you
No need to ask, I got you

 

Keep walking, running and standing still to reach our dreams. Can’t wait to see what will happen to us in the next 5 years ^^.

Random Thoughts III

*Udah mirip trilogi aja, udah sampe jilid III gini :D*

Emosiku terasa begitu labil belakangan. Bukan, bukan karena “tamu” rutin yang selalu datang tiap bulannya. Karena bukan masalah hormonal yang bisa ditolerir itulah makanya aku sibuk bertanya “what happened?”, dan tetap belajar untuk mengendalikan diri agar tidak menyesali perbuatan yang aku lakukan di luar kendaliku karena terbawa emosi sesaat.

Seperti biasa ketika aku sibuk berfikir untuk membenahi diri yang masih saja berantakan, pikiran-pikiran yang random itu akan bermunculan dengan liarnya, berlomba-lomba untuk mendapat perhatian. Ini beberapa di antara mereka:

  1. Anak bukanlah kain kanvas kosong yang bisa digambar bebas oleh orang tuanya, tapi mereka adalah bibit bunga yang tumbuh pada tanah. Indah atau tidak hasil bunga tersebut tergantung pada orang yang merawat, tanah tempat mengakar, iklim yang melingkupinya dsb.
  2. Ada alasan lain untuk seorang perempuan dan laki-laki pergi berdua selain 1) ada “rasa” 2) si pria gay ato si perempuan lesbi. Kali ini aku dengan lapang dada “menjilat ludah sendiri”, pertemanan tanpa embel-embel “rasa” itu ADA.
  3. Terkadang untuk mengatasi ketakutan akan hal-hal yang belum terjadi atau hal yang belum pernah aku alami sebelumnya, aku menggunakan prinsip bungee jumping. Oke memang aku belum pernah mencoba permainan itu, tapi ada banyak hal yang pernah aku lewati yang rasanya mungkin lebih menakutkan, mendebarkan sekaligus menantang daripada sekedar bungee jumping. Intinya sih: “Ya udahlah loncat aja, aku ga akan pernah tau rasanya sebelum aku mengalaminya. Jika aku beruntung, aku akan mendapatkan kesenangan yang luar biasa dan tak terlupakan. Jika hasilnya kurang memuaskan, aku juga masih mendapatkan pengalaman berharga. Kadang hal-hal yang di luar rencana akan lebih memorable“. Hmm kalo dipikir, memuaskan ataupun tidak, kedua-duanya mendatangkan keuntungan buatku :).
  4. Social media dan internet bisa mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat. Aku musti belajar lebih bijak juga dalam menggunakannya ^^.
  5. Aku dulu pernah berfikir kalo aku ga suka sama anak-anak, karena mereka berisik dan merepotkan :D. Hal ini pernah menimbulkan keparnoan: gimana bisa jadi ibu yang baik kalo sama anak-anak aja aku ga bisa “akur” >.< . Tapi memang benar istilah “tak kenal maka tak sayang”. From kids, we can learn many things :).
  6. Segelas cappucino di 7/11, seorang tong sampah teman yang bersedia mendengarkan keluh kesah dan berdiskusi, adalah obat mujarab untuk penyakit “dada sesak” :D.
  7. Rasa peduli itu perlu ditumbuhkan dan dibiasakan. Terkadang memang keberadaannya dikalahkan oleh kata “males ah”.
  8. Berbagi tidak harus dengan materi. Jika kita merasa tidak memiliki sesuatu untuk dibagi, luangkanlah waktu :). Keberadaan kita bisa menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya bagi orang lain.
  9. No matter what they say about you, if you believe you’re walking on the right track, keep moving on.
  10. Jalan yang baik menurut Allah, memang benar-benar baik. Jika memang berbeda dengan keinginan kita, ikhlaslah. Dengan begitu kita baru bisa melihat countless kebaikan di balik rencana Allah itu. Namun jika kita tetap fokus pada hal-hal yang tidak bisa kita miliki setelah kita berusaha keras untuk mendapatkannya, maka selama itu juga kita akan menyiksa diri sendiri.
  11. Mengungkit masa lalu bisa menjadi kesalahan fatal meskipun si pelaku tidak menyadarinya. Cukup untuk diketahui bahwa pihak yang “berdarah-darah” untuk sekedar memperjuangkan sebuah kata: “move on” itu ADA.
  12. Aku khawatir, seandainya nanti penempatan kerjaku dan Jo di luar Jakarta, siapa yang akan membantu Mbak Dwi untuk menjaga anak-anak Taman Ilmu ketika Ozka ga bisa datang?

Demikian random thoughts season III dari aku ^^.

One Day Before I Die

Beberapa hari yang lalu, ketika aku ketiduran setelah nyicil belajar untuk ujian sabtu, suddenly I dreamt. In the same room, I was alone, dan cuaca di luar terlihat cerah karena sinar matahari masuk melalui kerai yang dipasang di pintu dan jendela kamar ini.

Dan aku mendengar entah bisikan entah sesuatu seperti keyakinan yang keluar dari dalam hatiku, seseorang berkata bahwa aku akan mati keesokan harinya. Hal yang aku  lakukan saat itu hanyalah berdiri terdiam, menyesal, sadar.

Aku diam karna aku tau waktuku tidak banyak, sementara masih banyak hal yang ingin, belum aku lakukan, belum aku selesaikan. Aku menyesal karena telah membuang banyak waktu untuk melakukan hal yang tidak jelas gunanya, hal yang bisa jadi mendatangkan banyak mudharat ketimbang manfaat, lidah yang lalai dari menjaga, hati yang kerap ingkar, pikiran yang sering melintas dari koridornya. Aku sering menyelingkuhi Tuhanku, memangkas habis waktu keberduaan kami. Lalu pintu mana yang harus aku ketuk? Kasih siapa yang harus aku rengkuh?

Dan aku sadar, dunia hanyalah warung kopi semata.