You’re The Risk That I Was Glad To Take

Tepat 5 tahun yang lalu, aku memutuskan untuk pergi ke negaramu. Entah firasat apa yang merasukiku, sehingga aku tanpa basa basi langsung membeli tiket murah sebuah maskapai penerbangan satu hari sebelum keberangkatanku.

Hanya sebuah tas ransel saja berisi pakaian secukupnya, mukena, sikat gigi, sabun cair, odol, peralatan make up ala kadarnya, sebuah buku dan kamera saku yang mendampingi. Aku pamit pada ibu yang terus saja meyakinkanku untuk tidak pergi sendiri. Ku cium tangannya, “si bontot udah gede, bunda. Mau nyari mantu buat bunda” jawabku asal. Aku tertawa melihat raut wajah ibu yang penuh rasa khawatir dan mencium pipinya.

Ku nyalakan iPod dan memutar lagu-lagu yang aku siapkan sebagai soundtrack perjalanan. Tujuannya? Agar ketika suatu saat aku mendengar lagu yang sama, aku bisa menyusupkan kembail cerita itu pada pikiranku.

If I could fall into the sky
Do you think time would pass me by
‘Cause you know I’d walk a thousand miles
If I could just see you
Tonight

Thousands Miles membawaku terbang meninggalkan bandara Soekarno Hatta. Dua setengah jam kemudian, kakiku pertama kalinya berpijak di Changi International Airport. Perjalanan yang tak pernah ku kira sebagai garis start takdir kita.

Aku begitu menikmati perjalanan solo yang tak pernah ingkar memfasilitasiku dengan porsi jumbo waktu untuk melihat, merasa dan berfikir. Ada sebuah paket kedamaian, yang sering ku rindukan di weekdays yang selalu berkejaran dengan deadline. Tak ada yang kurang ketika perjalanan ditemani dengan iPod, kamera saku dan buku Paulo Coelho. Tapi, akan lebih lengkap jika ada jari-jari lain yang menyusup memenuhi sela jariku.Baca selebihnya »

Iklan