Jangan Nonton Negeri van Oranje!

Jadi siapa yang belum menonton film Negeri van Oranje?

Film dengan durasi 100 menit ini merupakan adaptasi novel best seller dengan judul yang sama karya Wahyudiningrat, Adept Lenggana, Nisa Riyado dan Rizki Pandu Permana. Mengisahkan tentang lima pelajar Indonesia yang sedang melanjutkan studi di Belanda, dengan bumbu persahabatan dan kisah cinta tentunya. Dua kombinasi yang cukup kompleks. Siapa sih yang suka bersaing dalam hal percintaan dengan sahabat sendiri? Lagi pula makan yang paling ga enak kan “makan teman”.

Saya memang belum membaca novel Negeri van Oranje, sehingga saya tidak berangkat nonton film dengan ekspektasi. Negeri van Oranje mendapatkan skor 7.8/10 dari IMDB dan 3.77/5 dari Goodreads. Lantas kenapa saya bilang jangan nonton film ini? Berikut beberapa alasannya.

negeri-van-oranje
Sumber: Google

Baca selebihnya »

Reunian ala Lajang: Ngadem di Puncak

A strong friendship doesn’t need daily conversation, doesn’t always need togetherness, as long as the relationship lives in the heart true friends will never part.

Lelah dengan hiruk pikuk kota Jakarta, saya dan tujuh teman perempuan lainnya memutuskan untuk reunian di Puncak ketika weekend. Tidak semua berasal dari Jakarta, tapi juga Bandung dan Jogjakarta. Siapa bilang jadi lajang tidak sibuk? Justru kami selalu sibuk mencari kesibukan :D.

Pada awalnya kami ingin mencoba caravan Taman Safari, tapi ternyata di tanggal yang kami inginkan sudah full booked. Melalui booking.com, kami direkomendasikan satu family room dan satu cottage di Buena Vista Boutique Hotel – Puncak dengan harga total Rp 1.350.000,-, yang masing-masing diisi empat orang.

Baca selebihnya »

Berasyik Masyuk Bersama Cumilebay: Sehari Menikmati Pepes Walahar, Stone Garden, dan Sate Maranggi

Jika ada waktu untuk libur sehari, apa yang ingin kamu lakukan?

Sebagai pelaku LDR* lintas negara lintas benua, mengisi waktu dengan hal yang menarik adalah sebuah kebutuhan. Jaman sekarang, ketika teman seumuran sudah pada menikah dan berkeluarga, maka yang bisa diajak kelayapan adalah mereka yang menjadi bujang lokal (para pelaku LDR lainnya) dan juga mereka yang masih single.

Salah satu kenikmatan menjalani LDR adalah kebebasan dalam mengisi waktu luang dan berteman. Setelah diwisuda pada tahun 2014 lalu dan masih mengurungkan niat andil dalam meramaikan persaingan kuota penerima beasiswa luar negeri, saya menjadi orang yang semakin tertarik untuk membaca buku dan bersosialisasi menjalin relasi (baca: kelayapan).

Libur Pilkada serentak pada 9 Desember 2015 lalu menjadi oase penghilang dahaga bagi kami para abdi korporasi yang haus akan liburan. Beruntung saya berteman dengan orang-orang yang juga suka jalan dan jajan. Kali ini saya pergi dengan empat blogger lainnya yakni Mas Cumi, Chocky, Wahyu, dan Dita. Belum kenal mereka? Ah, klik aja link nya :D.

Yakin hanya berlima saja, terus supirnya siapa? Ya Mas Cumi! Kapan lagi bisa disupirin sama blogger kondang *ditoyor Mas Cum*.Baca selebihnya »

Wisata Mata, Hati, dan Perut di Pusat Jakarta? Bisa!

Menjelang tahun ke enam bekerja di sekitar ring satu Jakarta, saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat akan menjadi turis lokal di kawasan ini. Setiap saya berbalik badan di meja kerja, Monas sudah di depan mata. Namun demikian baru tahun ini saya tahu makna di balik arsitektur Monas.

City Center merupakan salah satu destinasi yang ditawarkan oleh Jakarta Good Guide (JGG). Ini adalah kali ketiga saya menghabiskan weekend bersama JGG. Tur kali ini diikuti oleh peserta dari Indonesia, Singapura, Maroko, dan Prancis sehingga bahasa yang digunakan selama tur adalah bahasa inggris.

Seperti sebelumnya, tur dimulai jam 9 pagi tapi kali ini saya telat karena bermacet-macetan dulu sama abang [gojek]. Bagaimana mungkin perekonomian Indonesia mengalami pelemahan jika warga negaranya saja rajin bekerja seperti ini? Sabtu pagi saja macet! Mungkin sudah saatnya warga Jakarta mempertimbangkan nyicil helikopter.Baca selebihnya »

Oase di Padang Pasar: Belajar di Post Santa

Menemukan tempat menghabiskan weekend selain di mall adalah hal yang sangat membahagiakan bagi saya. Tak hanya aman untuk kesehatan dompet, juga baik untuk kesehatan hati. Di mall keseringan melihat pasangan gandengan tangan, bikin hati perih.

Post Santa adalah oase bagi [kami] para pecinta buku. Berada di lantai dua Pasar Santa, Post Santa tersembunyi namun mencolok di kerumunan kios-kios lainnya. Warna kuning dan hitam dengan tulisan “books, gatherings, and all things creative” membuat kios ini berbeda.

Post Santa Pasar Santa
Peserta berusaha mencerna ilmu baru dari Mas Fahri 😀

Gambar diambil dari Pindai.

Baca selebihnya »

Mau Diantar Siapa? Pilihan Transportasi Wanita Lajang Ibukota

Selain pertanyaan kapan menikah, ada juga pertanyaan yang mengganggu bagi para lajang. “Dianter/Dijemput siapa?” Pertanyaan ini menimbulkan rasa kurang nyaman karena jawaban dari pertanyaan tersebut dapat mengindikasikan beberapa hal: status pernikahan, kemapanan ekonomi, tingkat pengiritan, hingga harga diri.

Beruntung teknologi telah mengubah cara manusia berkomunikasi, termasuk juga dalam menyelesaikan permasalahan hidup seperti di atas. Jika diberikan pertanyaan tersebut, kini saya bisa segera memberikan jawaban bagi sang penanya semudah 1 2 3 karena semakin banyak pilihan transportasi di Jakarta.

Bagi para wanita lajang ibukota, sudah bukan saatnya Anda merasa khawatir atau galau jika hendak bepergian. Berikut alat transportasi umum [yang beberapa di antaranya dapat diprivatisasi aka tidak perlu berdesakan dengan penumpang lain] yang dapat digunakan. Disclaimer: tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman pribadi.

Baca selebihnya »

Mengobati Racun Tomcat

Sebagai seorang lajang yang hidup sendirian di rantau, hanya ada dua kesempatan yang mendatangkan kesedihan bagi saya. Pertama, ketika tiba saatnya membayar tagihan. Kedua, ketika sakit. Belakangan saya merasa renta karena kondisi badan yang kurang fit. Salah satu kejadian yang kurang mengenakkan adalah terkena racun Tomcat.

Serangga ini pernah ngehits beberapa tahun lalu. Jika mencari melalui Google, akan ditemukan gambar-gambar korban Tomcat yang lumayan menyeramkan. Paederus fuscipes diberi nama gaul Tomcat karena bentuknya yang menyerupai pesawat tempur AS.

Paederus fuscipes
Si Paederus Fuscipes aka Tomcat, nama bagus tapi nyusahin (sumber: Google)

Baca selebihnya »