K-Food Fair 2015, Acara Seru Pecinta K-Culture

Sebagai seorang tante dari satu ponakan, agar ga merasa tua maka saya harus catch up dengan hal-hal yang bersifat kekinian. Nah yang lagi ngehits sekarang kan yang berawalan K, segala yang berkaitan dengan Korean. Saya bukan pecinta K-Culture garis keras sih, jadinya kalau saya ditanyain sesuatu yang berhubungan dengan K-Drama ataupun K-Pop saya hanya punya satu nama. Lee Min Ho. Saya mulai sakau dengan film yang dibintanginya sejak Boys Over Flowers. Dedek-dedek pasti juga udah gede kan ya waktu itu? *insecure sama ktp*.

Pemerintah Korea menangkap peluang dengan makin berkembangnya pecinta K-Drama dan K-Pop dengan memperkenalkan K-Food. Emang demam banget kayaknya warga Indonesia dengan yang berbau Korea ini, sampai-sampai di commuter line saya sering menemui penumpang yang menghabiskan waktu dengan menonton K-Drama walau berdesak-desakan. Oppa-oppa ini emang mengalihkan dunia ckckck. Kalau lagi nonton drama trus nangis-nangis gitu kan bawaannya laper ya, nah biar sekalian menghayati suasana dan budaya Korea, maka bisa juga nih nyobain K-Food nya.

Baca selebihnya »

Celestial Movies, I Love “Little Big Master”!

When you invest in a girl’s education, she feeds herself, her children, her community, and her nation.

Prime Minister Erna Solberg of Norway

Menerima undangan screening film Little Big Master dari Celestial Movies ketika weekend adalah hal yang sangat membahagiakan, namun juga bikin galau. Gimana ga bahagia kalau nonton filmnya di Cinemaxx Mall Plaza Semanggi gratis, malah dapat plus plus goodie bag dan snack. Tapi juga bikin galau banget karena tau film ini bakal menguras air mata saya yang bertampang preman tapi berhati Hello Kitty ini :(.

pop corn and Little Big Master
Biar ada energi buat nangis, makan pop corn dulu

Baca selebihnya »

Jakarta Weekend Gateway: Belajar Sejarah Menteng Bersama Good Guide

Ketika main ke negara lain, saya sangat iri dengan fasilitas pariwisata yang diberikan kepada para turis lokal maupun internasional yang berkunjung. Mulai dari maps tujuan wisata, transportasi umum, dan pilihan tour baik jalan kaki, hop on hop off hingga bersepeda, rasanya dibuat dengan niat.

Sebagai orang yang mencari nafkah di ibukota Indonesia, maka banyak waktu saya habiskan di Jakarta. Namun saya emang ngrasa kurang mengenal kota ini, meskipun ketika membuka pintu balkon yang terlihat adalah TMP Kalibata tapi saya ga tau banyak sejarah kota Jakarta. Sebenernya udah lama saya mencari guide yang bisa memberikan informasi seluk beluk Jakarta, dan baru menemukan Jakarta Good Guide pada bulan September lalu. Gini deh yang namanya jodoh, kadang udah nyari lama baru ketemu *duh baper*.

Baca selebihnya »

Komunikasi ala LDR: Jauh di Mata Dekat di Hati

Menjalani LDR mungkin memang hal yang tidak diimpikan setiap orang, tapi ada kalanya kita harus menghadapi hidup yang tidak menyediakan banyak pilihan. Bagi para pelaku LDR pasti paham betul kondisi jauh dari significant other beserta kendala yang harus dihadapi sebagai konsekuensi jarak hingga perbedaan waktu.

Menurut saya sih jarak, LDR ataupun enggak, komunikasi yang baik adalah hal yang penting dalam menjalin sebuah hubungan. Ga jarang yang deket lebih sering ribut daripada yang jauhan. Ya gimana pinter-pinternya para pelaku dalam menjalin komunikasi aja sih. Nah, sebagai pelaku LDR yang beda negara, lintas benua dan samudra, dengan selisih waktu dua belas jam (waktunya di Jakarta tidur di sana sedang lunch, dan sebaliknya), kami perlu memanfaatkan kemudahan yang diberikan oleh teknologi untuk berkomunikasi yang tentunya dikombinasikan dengan cara-cara konservatif agar tetap bisa mengamalkan “jauh di mata dekat di hati” tanpa harus berat di dompet :p.

Gitu deh 😀

Gambar diambil dari sini
Baca selebihnya »

Solo Trip ke Eropa #6: Belgia, ABG (Antwerp, Bruges, Ghent) yang Misterius dan Menawan

Bulan madu saya dengan Amsterdam berakhir pada tanggal 19 Agustus 2015. Saya harus pindah ke destinasi selanjutnya yakni ke Belgia. Berat banget meninggalkan kota ini, dengan segala kemudahan transportasi, kesejukan udara, dan keindahan kotanya. Karena saya akan menggunakan kereta jam 07.10 dan mengingat para Meneer ini on time, jadi saya setidaknya jam 6 sudah keluar hotel.

Amsterdam Canal
Rumah mungil dari perahu di kanal Amsterdam

Permasalahan selanjutnya adalah pagi-pagi gitu saya harus naik apa ke Amsterdam Centraal? Ketika saya cek di website, tram pertama baru mulai beroperasi jam 7. Sama Sandi sudah disuruh install aplikasi buat pesen taxi sih buat antisipasi kalau perlu. Daripada pusing-pusing, ketika check out saya nanya ke mas-mas resepsionisnya dan mendapatkan kabar gembira bahwa tram pertama yang lewat di tram station depan hotel ada di jam 06.08. Senang bukan kepalang!Baca selebihnya »

Alternatif Mengisi Weekend di Jakarta

Menjalani kodrat sebagai mbak-mbak kantoran, weekend adalah hal yang paling saya tunggu apalagi kalau udah minggu malam. Padahal baru aja kelar weekend-nya, eeeh udah pengen weekend lagi. Kalian gini juga ga sih?

Sebenernya selain mengunjungi mall, masih ada banyak hal yang bisa dikerjakan untuk mengisi weekend di Jakarta. Kadang ketika weekdays belum punya acara untuk mengisi weekend, jadi ga semangat nyelesein kerjaan kecuali diingatkan lagi dengan cicilan yang belum lunas. Nah, saya mau berbagi tentang hal-hal yang bisa dilakukan sebagai alternatif untuk mengisi weekend di Jakarta.

Cooking Class

Pada tanggal 3 Oktober 2015 saya bersama food and travel blogger kondang sekecamatan, Dito, mengikuti acara Cooking Class with Detikfood.com di Hotel Pullman.  Saya excited ketika diajak Dito mengikuti acara ini. Saya sedang senang mengeksplor hal baru biar ga cepet bosen terlebih sejak saya lulus kuliah karena gada kegiatan lagi after office hours dan tidak ada paper yang harus dikerjakan berhari-hari.

Pastry cooking class
Biar dikira niat belajar masak gitu deh :p

Baca selebihnya »

Mau Traveling ke Luar Negeri? Pakai KartuPos Aja!

“Pengen banget traveling, tapi ga ada waktu untuk pesen penginapan dan segala macem tiket nih 😦 ”

Pernah ga sih kalian mengalami hal seperti itu, pengen traveling karena memang udah lama punya cita-cita untuk pergi ke suatu tempat. Atau tiba-tiba kepengen pergi ke mana gitu setelah melihat blog dari travel blogger atau dari akun-akun instagram kampret yang bikin ngiler fenomenal semacam @kartuposinsta @amrazing, sementara kerjaan di kantor lagi banyak dan kalau sampai di rumah rasanya energi udah habis? Boro-boro mau survey tempat penginapan dan mantengin harga tiket, inget mandi malem aja udah sukur.

Saya pernah mengalami hal tersebut. Keinginan untuk traveling jauh dan sendirian udah di ubun-ubun, sementara ga ada waktu untuk mempersiapkan printilannya. Awal tahun 2015, saya iseng buka webnya KartuPos. Mata saya menatap nanar ketika menemukan tulisan Europe on A Budget di list trip yang ditawarkan oleh KartuPos. Saya segera meninggalkan pesan di web tersebut untuk menanyakan teknis gimana kalau saya pergi sendirian dan kalau nambah jumlah hari (karena paketnya sebenarnya untuk dua orang).

Baca selebihnya »

Solo Trip ke Eropa #5: Amsterdam, You Took My Heart Away!

“Travel is finding out more reasons to write. And more reasons to live” – Critical Eleven

Alat Transportasi di Paris

Selama di Paris, alat transportasi yang saya gunakan ada empat; RER yang berhenti di stasiun-stasiun tertentu termasuk dari airport ke tengah kota Paris, kereta Grandes Lignes untuk ke negara lain (saya menggunakan Thalys), metro untuk keliling Paris dengan tarif 1.8€ untuk satu tiket, dan kaki sendiri tentunya dengan risiko betis jadi gedean bak kentongan. Lebih lengkapnya tentang public transportation di Paris bisa dibaca di sini. Aplikasi yang bisa digunakan sebagai panduan adalah Visit Paris by Metro – RATP dan bisa didownload dari Play Store. Sebaiknya download peta rute metro juga untuk backup atau minta print out ke petugas di metro station jaga-jaga kalau baterai hp habis.

Amsterdam, 16 Agustus 2015

Setelah menghabiskan waktu dua hari di Paris (walau masih belum puas keliling-keliling), saya harus berangkat ke Amsterdam pada 16 Agustus 2015. Saya menggunakan kereta Thalys dari Gare du Nord (atau biasa disebut dengan Paris Nord) ke Amsterdam Centraal yang berangkat pada jam 08.25. Dari Generator Hostel (metro station Colonel Fabien) ke Gare du Nord dapat menggunakan metro line 2 dan berhenti di La Chapelle metro station karena tidak bisa langsung turun di Nord. Ada kanal bawah tanah yang menghubungkan La Chapelle dengan Nord, jadi jalan terus aja hingga menemukan petunjuk ke Grandes Lines. Kanalnya emang panjang banget dan berasa bikin gempor karena saya juga harus menggendong carrier.

Line untuk kereta Thalys dan kereta antar negara lainnya berada di atas, sementara metro ada di bawah tanah. Yang perlu diingat kalau traveling ke negara Eropa adalah kedisiplinan mereka dalam waktu. Jika di jadwal dituliskan jam 08.25 maka jangan coba-coba untuk molor walau satu menit jika tidak ingin membeli tiket baru dengan harga 51€. Wifi juga tersedia di dalam kereta dengan biaya tambahan, dan tentunya saya tidak mau membeli paket tersebut. Perjalanan selama 3 jam 17 menit saya pergunakan untuk melihat pemandangan yang dilewati dan tidur pastinya. Sebagai traveller lansia, seperti istilah Ditto, maka saya memerlukan istirahat yang cukup untuk menjaga badan agar tetap fit.

Thalys train in Paris
Kereta antar negara Thalys

Baca selebihnya »

Solo Trip ke Eropa #4: We Never Travel Alone

“I’m in love with cities I’ve never been to and people I’ve never met. The most beautiful parts of life are still unfolding.”

Setelah berbagai persiapan solo trip ke Eropa yang sudah saya tuliskan di postingan sebelumnya, kali ini saya akan berbagi pengalaman selama berada di Eropa karena sudah ditanya-tanyain oleh beberapa teman. Daripada saya harus mengulang-ulang cerita, jadi saya tulis di sini. Tsah, berasa punya pembaca aja :p. Warning: postingan ini bakal panjang, bisa disiapkan camilan dulu kalau emang kekeh mau baca :D.

Saya menggunakan Turkish Air (pp) dengan rute CGK – IST – CDG – IST – CGK. Saya berangkat dari Soekarno Hatta International Airport pada 13 Agustus 2015 jam sembilan malam lebih sedikit karena ada delay sekitar setengah jam. Malam itu Jakarta sedang hujan, padahal sebelumnya tiap hari panas Jakarta bisa dipake buat ngeringin bed cover. Hujan membuat saya makin khawatir karena saya akan melewati penerbangan malam yang berpotensi turbulence, dan yang utamanya adalah hujan bikin galau :(.

boarding pass to paris
Finally, living my dream

Baca selebihnya »