Wisata Mata, Hati, dan Perut di Pusat Jakarta? Bisa!

Menjelang tahun ke enam bekerja di sekitar ring satu Jakarta, saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat akan menjadi turis lokal di kawasan ini. Setiap saya berbalik badan di meja kerja, Monas sudah di depan mata. Namun demikian baru tahun ini saya tahu makna di balik arsitektur Monas.

City Center merupakan salah satu destinasi yang ditawarkan oleh Jakarta Good Guide (JGG). Ini adalah kali ketiga saya menghabiskan weekend bersama JGG. Tur kali ini diikuti oleh peserta dari Indonesia, Singapura, Maroko, dan Prancis sehingga bahasa yang digunakan selama tur adalah bahasa inggris.

Seperti sebelumnya, tur dimulai jam 9 pagi tapi kali ini saya telat karena bermacet-macetan dulu sama abang [gojek]. Bagaimana mungkin perekonomian Indonesia mengalami pelemahan jika warga negaranya saja rajin bekerja seperti ini? Sabtu pagi saja macet! Mungkin sudah saatnya warga Jakarta mempertimbangkan nyicil helikopter.

Destinasi tur City Center adalah Museum Nasional, Mahkamah Konstitusi, Monumen Nasional, Istana Kepresidenan, Masjid Istiqlal, dan Gereja Katedral. Saya melewatkan penjelasan Farid di Museum Nasional dan Mahkamah Konstitusi, dan baru bisa bergabung dengan rombongan ketika di Monumen Nasional. Ya sudah lah ya, manusia boleh berencana tapi takdir kadang berinisiatif.

Monumen Nasional

Monas mulai dibangun pada 17 Agustus 1961 dengan arsitek Frederich Silaban dan R.M. Soedarsono. Penentuan desain dari Monas pada awalnya dibuat sayembara, namun Presiden Soekarno kurang menyukai rancangan Silaban yang menjadi pemenang lomba desain saat itu. Sang Presiden menginginkan agar desain berbentuk lingga dan yoni, yang melambangkan konsep pasangan universal abadi, kemakmuran, kesuburan, dan keseimbangan. Lingga merepresentasikan laki-laki, sementara Yoni adalah perempuannya. Seperti yang dikatakan Farid, kita bisa menyaksikan “sexual intercourse” di tengah kota Jakarta.

Monumen Nasional

Si Om terpesona pada sejarah Monas

Pada puncak Monas terdapat lidah api yang menggambarkan semangat menggelora. Puncak ini dilapisi emas seberat 50 kilo gram. Seharusnya masyarakat Jakarta tidak perlu takut jika tidak gajian, apalagi kelaparan.

Istana Kepresidenan (Presidential Palace)

Di Jakarta terdapat dua istana: Istana Merdeka dan Istana Negara. Keduanya berada dalam kompleks yang sama, namun menghadap arah yang berbeda. Istana Merdeka digunakan oleh Presiden untuk menerima tamu dan merayakan hari kemerdekaan Indonesia. Sementara Istana Negara digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan.

Istana Merdeka

Istana Merdeka

Istana dengan ciri khas bangunan neoclassical yang memiliki enam pilar di bagian depannya, dibangun pada 1873 dan selesai di 1879 oleh Belanda. Jika dibanding dengan Grand Palace di Bangkok ataupun National Palace di Kuala Lumpur, maka ukuran Istana Merdeka jauh lebih kecil.  Sebelumnya Belanda sudah membangun istana di Bogor yang lebih besar karena mereka lebih suka tinggal di Bogor. Hal ini juga berlaku di jaman pemerintahan Presiden Joko Widodo. Bogor memang lebih adem daripada Jakarta.

Istana Merdeka pernah menjadi tempat terbuka untuk umum, bagi yang ingin mengikuti tur keliling istana selama weekend, ketika masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Jalan kaki di kawasan ini ketika weekend ternyata adem banget, karena banyak pohon besar dan masih minim kendaraan yang berlalu lalang memenuhi udara Jakarta dengan CO2. Kami melanjutkan perjalanan ke Mahkamah Agung dan Es Ragusa.

Sekitar Medan Merdeka

Ademnya Medan Merdeka kalau lagi ga ada demo

Tahun 1929 jalan veteran adalah tempat yang populer bagi kalangan kelas menengah untuk hang out. Salah satu toko yang ada di jalan ini adalah es krim Ragusa. Setelah terjadi krisis 1997, beberapa outlet Ragusa ditutup dan menyisakan satu yang ada di Jalan Veteran. Sejarah singkat tentang toko ini dapat dibaca di Wikipedia😀. Saya memesan es Nougat  dengan harga Rp 15.000,-. Duh enaknya makan es krim di tengah panas Jakarta. Kalau hati lagi panas, bisa diademin di sini juga.

Es Ragusa

Es Nougat dan Chocolate Ragusa

Masjid Istiqlal

Masjid ini merupakan masjid terbesar di Asia Tenggara, dan diberi nama Istiqlal (dari bahasa Arab yang berarti kemerderkaan) untuk memperingati kemerdekaan Indonesia. Masjid ini dirancang oleh arsitek yang berasal dari Sumatra Utara yakni Frederich Silaban.

Sebagai penganut agama Kristen yang hendak membangun masjid, tentu ada kegalauan di hati Silaban saat itu. Kabarnya beliau berdoa terus menerus yang kurang lebihnya adalah jika Tuhan memang merestui upayanya untuk membangun masjid Istiqlal maka mohon diberikan kemudahan baginya. Sebaliknya, jika Tuhan tidak menyukai apa yang dilakukan Silaban, berikanlah sakit dan kesulitan selama melakukan pekerjaan tersebut. Ternyata hingga masjid selesai dibangun, Silaban baik-baik saja.

Kubah Istiqlal

Kubah di dalam Masjid Istiqlal

Pembangunan Masjid Istiqlal memakan waktu 17 tahun. Istiqlal memiliki tujuh pintu masuk yang diberi nama dari Asmaul Husna. Kubah yang menutupi bangunan utama berdiameter 45 meter yang melambangkan tahun 1945, dan dihiasi dengan kaligrafi Ayat Kursi.

Jika memang berniat untuk mengunjungi Istiqlal, sebaiknya sudah menyiapkan diri dengan menggunakan pakaian panjang. Namun demikian, para tamu yang memakai pakaian pendek akan dipinjami piyama oleh pengurus masjid.

Gereja Katedral

Gereja Katedral merupakan gereja Katolik pertama di Jakarta. Ketika Batavia di bawah kekuasaan kolonial Belanda, Katolik tidak diperkenankan. Kondisi tersebut berubah setelah Belanda dikalahkan oleh Prancis dan berada di bawah kuasa Napoleon Bonaparte.

Bangunan yang saat ini kita saksikan merupakan hasil renovasi beberapa kali. Gereja ini pertama kali dibangun pada 1826. Pada 1890 ketika terjadi gempa bumi, beberapa bagian dari gereja ini runtuh. Renovasi selesai dilakukan pda 1901.

Gereja Katedral

Gereja Katedral

Katedral memiliki tiga menara yakni The Fort of David, The Ivory Tower, dan The Angelus Dei Tower. Bangunan ini mengingatkan saya dengan bangunan yang saya temui ketika melakukan solo trip di Eropa Barat terutama di Belanda dan Belgia.

 

City Center Tour with Jakarta Good Guide

Wefie guide dan peserta walking tour

Gambar diambil dari sini.

Meskipun tur kami bersama JGG berakhir di Katedral, namun para peserta dari Indonesia, Maroko, dan Prancis melanjutkan perjalanan ke warung padang yang ngehits seantero Medan Merdeka yakni Rumah Makan Beringin. Pada awalnya si om-om dari Prancis dan Maroko ini khawatir mereka akan sakit perut jika makan masakan padang yang bersantan dan pedas, namun setelah kami sampai di sana sepertinya mereka malah lahap. Info terbaru, mereka mendatangi lagi rumah makan ini dengan mengajak kolega-kolega senegaranya. Sudah saatnya Beringin ekspansi lintas benua dan samudra🙂.

28 thoughts on “Wisata Mata, Hati, dan Perut di Pusat Jakarta? Bisa!

  1. denaldd berkata:

    Fit, untung pas jadi guide suami tahun kemaren sudah baca2 dikit sejarah monas ini. Jadi ga blank haha. Kan malu ya 6 tahun di Jakarta ngapain aja aku sampai ga paham ceritanya. Btw, nanya ga Fit boleh masuk Katedral atau ga? Maksudnya Katedral boleh dikunjungi turis ga? Ada jam2nya atau gimana? Temenku bilang boleh, tapi aku penasaran aja emang beneran boleh atau dianya yang maksa haha. Pengen kesana. Aku lagi gandrung mengunjungi Katedral. Setelah terkagum Katedral yang di Köln Jerman. Itu bangunan menimbulkan decak kagum. Pagi2 baca restoran padang, jadi kangen ikan bakar restoran padang haha

    • Safitri Sudarno berkata:

      Ini kok kayaknya kita sejenis hahaha. Dulu karena waktu habis buat kuliah, tahun2 awal di Jakarta juga aku gtau mana-mana deh (padahal sekarang ya ga jauh beda). Belakangan aja kebutuhan untuk kelayapan semakin meningkat. Boleh banget kok masuk ke Katedral jika gada misa. Aku juga masuk ke sana, buat menikmati keindahan arsitekturnya dari dalam. Kebetulan waktu itu ada yang lagi menikah😀

  2. puputs berkata:

    yes… dan tau gak.. sedikit banget yg percaya kalau monas dibuat merujuk pada simbol sex… monas sebagai cowok, dan gedung MPR sebagai cewek,

    mereka berhubungan dan menghasilkan anak.. yaitu undang undang..

    kalau gw cerita ini ke orang, mereka selalu menyangkal, gak terima kecabulan jakarta

    • Safitri Sudarno berkata:

      Untuk hal ini kamu dan adekmu emang sepaham, Kak😀. Sebelum ikutan walking tour ini, aku udah baca dari internet dan awalnya juga kaget. Tapi pas diliat2 lagi emang bener sih. Presiden terdahulu kan suka sama simbol-simbol. Mungkin orang-orang masih ngrasa kurang nyaman sebagai warga negara Indonesia yang menjunjung asas kesopanan untuk mengakui kebenaran tersebut di depan publik.

      Anyway, kamu kalo topiknya macam ini aja baru panjang komennya *kemudian ditoyor* :p

  3. Gara berkata:

    Kalau seandainya tidak setuju dengan desain pemenang, ya ngapain ngadain sayembara yes? *kemudian digugat pakai UU ITE*. Dan saya belum tahu di mana itu RM Beringin, nanti mau coba ah makan di sana, sehits apaan sih (ow ow patut dipertanyakan sebagai sesama pekerja di Ring 1).
    Nama-nama menaranya Katedral itu keren-keren ya… jadi berwibawa gitu menaranya kalau punya nama :hehe.
    Lingga yoni di Hindu masih banyak :hehe. Ada di Museum Nasional, bentuk lingganya lebih eksplisit lagi, yang di Candi Sukuh dan Cetho juga :hehe. Penyatuan dan kenikmatan yang dihasilkan karenanya memang sudah jadi topik dan nilai banget dari zaman dulu :hehe (berusaha supaya tidak terbaca terlalu vulgar :hehe).

    Maap, komennya kepanjangan :)).

    • Safitri Sudarno berkata:

      Hahah kan untuk memancing ide, toh pada akhirnya yang menang juga yang menjadi arsiteknya walau dengan modifikasi desain Monas. RM Beringin mungkin ngehits di kalangan pekerja Pe******a atau yang habis solat di Istiqlal hahaha

      Duh, rasanya aku perlu maen ke Museum Nasional deh untuk menyaksikan kebenaran yang dituliskan Gara *halasan*. Kamu jago banget mengeksplisitkan sesuatu deh Gar, salut =))

Habis maen komen dong :D

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s