She is… The Single Woman

Taken from here

She might be the bravest woman I know.

She walks the unaccompanied path. She has her own back. She asks for no favors. Not an ounce of independence does she lack.

She has moments where she feels as though no one sees her. She feels them LOOK at her, but do they really SEE her? She gets catcalls when she walks down the street…yet she goes to bed alone.

She’s not afraid to change her mind…but petrified to change a tire. She makes her own decisions…but can’t make toast without burning it. Her idea of a three course meal is a Lean Cuisine. There are shoes in her cupboard where flour and sugar are supposed to be.

She’s sassy and feisty on the streets…but some nights her tears fall on empty sheets.

She has moments where she KNOWS she’s sexy…and moments where she doubts everything about herself.

She screws up…a lot. She stumbles and she falls. She gets it wrong as often as she gets it right. But she never gives up the fight.

She has bad hair days. She’ll buy a new dress at Target and pray it passes for something a little fancier. Some months she struggles to make her rent and her car payment in the same month. Because she bought too many shoes? Sometimes. But the only pair of designer shoes she has in her collection are a pair of Christian LaCroix that she got half off at a sidewalk sale.

Sometimes her friends let her down. They don’t always say the right things. And the elusive “One That Got Away”? She still can’t cut the strings.

She has moments of panic where she wonders if her Prince Charming got lost somewhere, or decided to settle instead for another less complicated, less stubborn, less independent princess. Sometimes she don’t know where she’s going until she gets there.

She hasn’t got it all figured out…far from it, in fact.

But she loves God and she loves to dance…and she’s her own “Better Half.”

The bravest woman I know?

She is the reason I do what I do.

She is The Single Woman.

She’s me…and she’s you.


Mei 2011 dan Sharing Seputar PDKT di Kantor Baru

So, what happen on May 2011?

Di awal bulan ini ada beberapa kejadian yang pertama kalinya saya alami: pertama kalinya mengetikkan sesuatu di file KKW (semacam mini skripsi untuk syarat kelulusan BPS), pertama kalinya lembur di kantor (dan malam ini adalah malam yang kedua), pertama kalinya ke pasar sebelum berangkat ke kantor, pertama kalinya banyak teman-teman yang menanyakan soal tes masuk saya dulu ke kantor yang sekarang and asked for helps and prayers (of course I do it happily ;)), dan pertama kalinya HARUS mulai rajin menuliskan pengeluaran (karena saya diancam oleh dia, tapi karena menurut saya hal ini memang baik jadi saya ikut saja :p). Mungkin masih ada lagi, tapi saya lupa.

Berbicara mengenai kantor, bulan ini memasuki bulan ketiga dari 8 bulan total masa OJT saya. Rasanya? Sejauh ini I feel excited, apalagi belakangan banyak hal yang bisa saya lakukan. Kalau dipikir-pikir, mungkin di antara teman-teman sekelas, saya adalah orang yang paling sering berkirim-kiriman email dengan mentor (asmen) dan analis di tempat saya OJT.

Kadang saya bercanda dengan menyebutkan diri saya adalah wanita agresif karena sering mengirim email. Tapi agresif demi mendapat ilmu lebih, sah-sah aja kan ya ;). Dan belakangan saya juga sering ditelpon oleh sang konsultan karena ada pekerjaan yang cukup menyita waktu dan konsentrasi yang di assign beliau kepada saya. Oh ya, tim kami hanya beranggotakan seorang asmen, seorang analis, seorang konsultan SAP, dan saya sendiri.

Awalnya saya merasa sungkan dan deg-degan karena tidak terbiasa berkomunikasi menggunakan email untuk masalah pekerjaan, takut mereka merasa terganggu atau takut kecewa karena email saya tidak dibalas. Tapi karena menyadari kesibukan bapak-bapak tsb, dan sang asmen sendiri pernah menyatakan kepada saya jika ada keperluan apapun silakan mengirim email kepada beliau, karena beliau pasti akan membacanya meskipun tidak selalu bisa merespon dengan cepat, akhirnya sekarang saya selalu menyingkirkan rasa sungkan itu setiap kali saya telah kehabisan meteri untuk belajar atau sudah merasa bosan membaca HELP SAPBaca selebihnya »

“Pernikahan Masa Kini dan Melajang Terlalu Lama”

FIMELA LUNCHEON; Pernikahan Masa Kini dan Melajang Terlalu Lama | FIMELA – Indonesian Online Fashion & Lifestyle Magazine.

Padahal mata sudah mengantuk, tetapi internet masih serasa memukau hingga pada akhirnya saya menemukan artikel ini. Saya juga heran sih ya, sini yang belum menikah, tapi kok ya situ yang repot. Mungkin terlalu peduli pada kehidupan kami-kami ini yang masih melajang, padahal kami ini ya menikmati kok. Tapi, makasih lo ya yang sudah pada khawatir :D.

Sepertinya memang sudah menjadi budaya, kutukan, kebiasaan, atau apa ya nama yang pas untuk menyebutnya, jika umur sudah 25++ dan masih terlihat melajang, pasti akan mengalami masa you have to be creative to answer the same question. Jawaban saya cukup variatif sih sampai sekarang, apalagi kalo mood saya sedang bagus. Kalau tidak, hehehe, monggo dicoba, yang keluar asap naga mungkin :lol:.

Biasanya kalau ditanya soal “kapan nyusul”, “kapan nikah” dsb, saya akan menjawab:

  • Doakan deh segera *edisi kalem*.
  • Carikan sekalian mas-mas yang oke deh ya *edisi agresif*.
  • Oh, segera kok. Si mas sedang mengurus visa biar bisa tinggal di Indonesia *edisi doa*.
  • Sebentar lagi, masnya sedang dalam perjalanan kemari *edisi realistis*.
  • Ibu/Bapak punya anak atau keponakan yang keren yang seumuran atau lebih tua dari saya? *edisi usaha*
  • Sayang sekali kita tidak compatible makanya saya memilih untuk mencari pria lain *edisi sadis*.
  • Menunggu masa pendidikan selesai *edisi jawaban ala BPS*.
  • Masnya sedang menyelesaikan kuliah/business trip *edisi doa*.
  • Oooh, tenang, kalau ingat pasti akan saya undang kok 😉 *edisi shut your mouth*.
  • Ah nanti kalau saya menikah kamu bakal minder, karena suami saya lebih keren dari situ/suamimu :p *edisi doa orang teraniaya dan semoga dikabulkan*
  • Ini sedang direncanakan *edisi wedding planner*
  • Kasihan kamu nanti kalau patah hati melihat saya dinikahi pria lain *edisi kepedean*.
Yah begitulah, dan serentetan jawaban kreatif lainnya. Welcome to the club 😉

The beauty of a view depends on the position where we stand.
 

For all single ladies in the world, keep being positive and enjoying your ride..

26

When I was a kid, as I remember, I never celebrated my bday. Most of the time my mom only cooked to make yellow rice (nasi kuning) for whole family (I spent my childhood in Monterado and Singkawang – West Kalimantan). And about the present, I’ve got more than enough, not less than 3 times a year :D. Every four months when I got my report from my school, my parents gave me present because I got the highest score in my class.

Since I live far away from them and have my own salary, I never think about present any more and I think I am too old to ask for a present beside countless prayer from them. So, when someone asked me what are the special things that happened on my bday, I’d like to say I’ve got many prayers, phone calls from family and Mecca, not less than 3 meters paper wrote by my friends from CSS Batch II, I made my plan come true and went to my destination alone. And I think I won’t forget the moments. I also bought myself Sebastian, the gingerbread character in Shrek :D. He’s so cute.

The things that I think are what are my achievements until this day and find ways to reach my dreams. And also at this age, I must get used with question “kapan nyusul?” lol. I am riding my bike. The only thing that I know is I keep paddling it until I reach my destination and I am enjoying this travel ;).

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

What are their prayers and they said about me? Baca selebihnya »

Picture Perfect Memories

He was the handkerchief that swept her tears away. He was the candy who sweetened her gloomy days. He was the umbrella when the sun shined too bright and hurt her. He did everything more than everyone could imagine to make her days seemed right.

She was his everything, a pensive which could be used to tell his secrets, a mom who could cuddle him,
a friend to share weird thought of him, a brother, a sister, a living partner, and many other things.

Theirs was perfect.

But she kept walking away far from the orbit, the place where she should stay. She ran faster than he could do. They were separated by fate, by the path that was chosen before. They had broken hearts that needed a new line to make a start. They promised to meet 2 years later at a shelter in the down town. They needed time to heal the hurt feeling.

Time passed by. “No one came here” the shelter took the stand, broken vow was made there. Her dreams cost separation.

Baca selebihnya »

Kartini, Berdirilah di Kaki Sendiri

Ini adalah pertama kalinya saya merasakan peringatan Hari Kartini yang membekas di hati. Di kantor saya, bisa dibilang, peringatan Hari Kartini dikemas secara apik. Dengan begitu saya merasakan lingkungan yang benar-benar memaknai dan menghargai kehadiran perempuan dalam dunia kerja, meskipun jumlah perempuan yang bekerja di kantor saya ternyata tidak lebih dari 10% saja dari keseluruhan pekerja.

Pada peringatan kali ini temanya adalah Super Women @Work dan ada sesi talk show dengan narasumber para perampuan yang bisa dikatakan memiliki outstanding achievement. Mereka adalah Christine Hakim, Karen Agustiawan, Evita Legowo, Ratih Ibrahim, dan Anny Ratnawati. Melihat prestasi mereka saja saya merinding dan bangga menjadi perempuan Indonesia :).

Kelebihan yang diberikan Tuhan kepada para perempuan, yakni kemampuan multitasking, bisa dimanfaatkan untuk memaksimalkan peran mereka baik sebagai istri dan ibu, maupun sebagai pekerja. Di tengah-tengah kesibukan pekerjaan yang menyita waktu, tenaga dan pikiran, para perempuan masih bisa memberikan perhatian kepada keluarga dan orang-orang yang dikasihinya dengan mengirim sms, BBM, telpon dsb.

Baca selebihnya »

Let It Go

Someone did something to me several days ago. It hurt me as hell, because it is hard to believe that he, person who I can said close to me, could said something bad and tortured me in front of our friends. This was happened because of miscommunication, and let say it was my fault.

Even though I am in a PMS period, I think I won’t do the same (and I hope so). I kept thinking about his words and how big the mistake that I’ve done. Maybe the only acceptable reason for me is everyone has different standard for the size of “small and big”. I could say the miscommunication shouldn’t bring such a disaster, but maybe other would say the opposite.

So, I accepted it and finally he asked for apologize. And I said the same even though my heart still hurt at that time. I felt worry when I want to meet him, because I think I’ll act awkward because for case like this I need recovery time to neutralize my feeling.

But something unpredictable happened, when he came I can be nicer than I thought I could be. I keep asking “hi girl, what happen? I think you will stay away from him to fulfil your recovery time. But you don’t.” And I realized the truth of theory from Ted Mosby that I wrote on my FB wall:

You may think your only choices are to swallow your anger or throw it in someone’s face, but there’s a third option: You can just let it go, and only when you do that it is really gone and you can move forward. -HIMYM-

Maybe one of the cure of hurt heart is let it go.

“Senjata” Ketika Perempuan Bepergian

Sebenarnya ini adalah hal yang umum, tapi mungkin kadang-kadang sebagian dari kita lupa atau tidak mempersiapkan bekal perjalanan dengan detail. Jadi kali ini saya memutuskan untuk menulis sebagian dari pengalaman saya yang tak jarang bepergian sendirian.

Kadang menjadi perempuan itu serba salah; kalau terlalu ramah dengan orang asing nanti bisa saja ditanya-tanyai hal yang bersifat pribadi seperti nomor telpon, dan sebaliknya kalau memasang wajah galak bisa mengundang mulai dari kritikan hingga perlakuan tidak bersahabat. Sepertinya tindakan preventive memang sudah menjadi prioritas dalam bepergian.

Nah, lantas, apa saja yang saya pikir perlu untuk dipersiapkan ketika seorang perempuan melakukan travelling atau perjalanan solo selain barang-barang fardhu ain (seperti uang, handphone, tiket, dompet, dll)?

  1. Hafalkan nomor hp seseorang, lebih baik kalau yang dihafalkan adalah nomor hp seorang pria. Untuk apa? Hal ini untuk mengantisipasi ketika di tengah perjalanan ada yang menanyakan nomor hp kita dan kita tidak bisa mengelak kecuali memberikannya. Lantas kalau dia menelpon untuk mengecek kevalidan nomor tadi? Tenang saja, paling dia cuma missed call saja, kalau tersambung ya ber-acting saja seolah-olah kita sudah menyimpan nomor hpnya, kalau tidak ya bilang saja hp kita sedang low bat. And it works ^^.
  2. Buku atau novel atau apapun itu. Saya pernah menemui stranger yang suka sekali mengajak berbincang. Dan saat itu saya ingin membuat dia menghentikan pertanyaan-pertanyaannya, karena semakin banyak dia bertanya maka semakin saya merasa perlu untuk melindungi diri. Ambil saja novel dan pura-puralah membaca dengan serius, seolah-olah kita telah memasang warning sign Please, don’t disturb!
  3. Mp3 player. Selain untuk kesenangan pribadi, mp3 juga bisa dimanfaatkan menanggulangi stranger yang MTA alias mau-tau-aja. Pasang aja mp3 dan ketika dia berbicara, dan kita bisa berpura-pura tidak mendengar apa yang dia katakan :D.
  4. Parfum, tentu saja digunakan ketika keadaan mendesak. Semprotkan pada mata orang yang sekiranya memiliki niat jahat, dan selanjutnya lari atau berteriaklah minta pertolongan. Alhamdulillah hal ini belum pernah saya alami. Ini hasil dari menonton film kok hehe.
  5. Foto berdua dengan seorang pria. Nah kalau ini adalah saran dari seorang teman dekat. Foto ini secara tidak langsung untuk mewakili “hey you, don’t try to flirt, I have a boyfriend/husband“. Taruh saja foto ini di dompet, dan “secara tidak sengaja” tunjukkan pada stranger. Tapi jika si stranger adalah seorang yang ganteng, bule, muslim, baik, menyenangkan, lebih baik batalkan niat tadi :p My friend said it works too, but I never tried this way because I don’t have the “such a couple” picture in my wallet.
  6. Ada yang ingin menambahkan?
Jangan lupa berdoa dulu sebelum melakukan perjalanan, beritahukan kepada orang terdekat atau keluarga ke mana kita akan pergi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Have a safe trip gals ;).

Commitment With The Kids

I realize that I am not a good teacher.

Hal ini sering mengusik saya belakangan. Ketika anak-anak mulai bosan, atau mulai ramai sendiri di ruangan, then what should I do? Sebenarnya ketika hal seperti ini terjadi, saya, yang juga pernah menjadi pelajar, akan menyimpulkan bahwa every teacher has responsibility in making an exciting class. So it’s not too much when we say that:

‎”You can’t have a great school without great teachers. When you see a great teacher, you are seeing a work of art. You’re seeing a master, and it is as unbelievable as seeing a great athlete, or seeing a great musician.”

Waiting for Superman

When this thing happen, I put the blame on myself. So, I keep thinking how to be a nice companion for them while learning and spending a part of their Sunday in Taman Ilmu.

Lesson learned: keenness isn’t not enough, good methods are needed to make things work.

Saya termasuk orang yang gampang bosan jika suatu materi yang dijelaskan atau cara penyampaiannya gagal membuat saya tertarik. Apakah kebosanan anak-anak ini karma atas apa yang saya lakukan ketika masih sekolah atau kuliah? Berdoa agar bel istirahat atau bel pulang cepat berbunyi padahal masih 2 atau 3 jam di dalam kelas :D. Jadi, saya sadar betul ketika tidak bisa menarik perhatian mereka, berarti what I am doing isn’t enough to make them interested.Baca selebihnya »

Kisah Dari Pedongkelan, Berbagi Dengan Hati: ShoeBoxProject 7

Kemarin, Sabtu 2 April 2011, ShoeBoxProject 7 mengunjungi TK/SD Yayasan Bintang Pancasila di Pedongkelan. Meskipun saya sudah mengenal foundernya, Ozka, sejak beberapa bulan lalu karena kami bersama-sama tergabung dalam Taman Ilmu Setia Budi, kemarin adalah pertama kalinya saya ikut bergabung dalam ShoeBoxProject.

Di sana kegiatan dari ShoeBox Team dan volunteernya dibagi menjadi dua, yakni sebagian mengecat ruangan kelas dan sebagian lagi berinterkasi dengan adik-adik di sana dengan mengajak bermain dan story telling, mengingat tema ShoeBoxProject 7 kali ini adalah “Membudayakan (Lagi) Membaca”. Dari dana para donatur yang terkumpul, ShoeBox melakukan sedikit renovasi pada ruangan kelas, memasang kipas angin, membuatkan perpustakaan kecil dan membeli buku-buku untuk mereka.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Baca selebihnya »