Get Lost in A Wedding

Dia terlihat begitu menawan di hari pernikahannya. Dengan mengenakan gaun berwarna coklat keemasan, menyempurnakan tahtanya yang tak terbantahkan di hari itu sebagai sang ratu.

Aku duduk di barisan terdepan untuk menyaksikan wajahnya yang bersemu merah ketika tangan sang pria beruntung berjabatan erat dengan tangan ayahnya, mengucap janji. Jantungku berdegup kencang, lututku terasa lemas.

Gambaran senyum lebarnya ketika dia membuka kado yang aku berikan di kelima ulang tahun terakhirnya, masih terlihat jelas di kepalaku. Aroma rambutnya yang begitu khas dan menenangkan, ketika dia kelelahan menangis dan akhirnya bersandar di bahuku, pun masih bisa aku nikmati hanya dengan memejamkan mata. Lima peti berukuran 2 x 1 meter rasanya tak pernah cukup untuk mengemas kenangan yang kami miliki. Terlalu banyak. Terlalu dalam.

Dulu aku punya hal yang aku perlukan untuk bisa menjadikan takdir berpihak pada kami, kesempatan. Namun aku terlalu takut diikat dan dipasung oleh hal yang bersembunyi di balik kedok komitmen. Dan aku membiarkan 5 tahun berlalu begitu saja tanpa menyisakan jejak perjalanannya, kecuali kenangan.

Setelah kata “sah” terucap, hidupku hanya terisi oleh 1 hal, sesal. Sesal yang tak akan pernah mengubah apapun. Apapun.

And I am lost, because the fight for you is all I’ve ever known.

Picture of Mbak Tiar taken from Tospringe Photography.

Lost in Denial

Her friend : He loves you!
Her : He liked me, or maybe he never.
Her friend : How could? He said it to you.
Her : Maybe he drank or made a joke.
Her friend : Terrific. He drove and drank.
Her : I just don’t want to chase the wind. Hope for nothing.
Her friend : Do you love him?
Her : No.
Her friend : Do you love him?
Her : I did.
Her friend : Do you love him?
Her : I DO! Are you satisfied now? She’s crying and choking.
Her friend : You’re just a coward, you’re scared being hurt. Time goes by young lady, two years.
Her : I have to protect my own heart.
Her friend : That’s why you rejected 4 proposals from great guys ?
Her : It’s because I am still waiting for him.

The Secret Tears

They’re a good friend for more than 8 seasons.
Share their stories, laughs and their love life. But they never get crush each other. Never.

@lia : eh katanya kamu mau nraktir aku sushi?
jazz2001 : ah masa si? :p
@lia : dih, iya. Baru juga minggu kemaren blgnya
jazz2001 : minggu deh kita nyushi kalo gt
@lia : ahay, beneran?
jazz2001 : iya, ga pake kalap pokoknya. Bisa makan mi instan ntar aku akhir bulan
@lia : nggak la, cuma ga makan doang dari pagi :lol:. Biar bisa menampung banyak ahahah
jazz2001 : sama aja -_-
@lia : eh eh πŸ˜‰
jazz2001 : firasat ga enak, pasti ada maunya
@lia : ah, jangan gt dong, aku kan slalu manis :p. Eh kenalin dong sama temenmu
jazz2001 : siapa?
@lia : itu yang tadi fotonya kamu upload di FB, lucu de kayaknya hihi *kedip2*
jazz2001 : dasar ganjen, ga bisa liat yang bening dikit. Ini lo aku, bening bgt, dianggurin aja hahaha
@lia : aish. Siapa namanya?
jazz2001: Albert
@lia : hihi, maooooo..
jazz2001 : aku dapet apa ntar?
@lia : dapet ucapan trima kasih dan kasih sayangku πŸ˜‰
jazz2001 : ah, lips service doang
@lia : ahaha tau aja. Ya, ya, comblangin *kedip2 lagi*
jazz2001 : iya, ntar aku kenalin..
@lia : aaaahhh, you’re the best eveeerrrrr *hugs*

And tears are streaming from his eyes.
He’s feeling hurt in his chest.
But he doesn’t know, what kind of pain indeed.

Warisan Dari Rumah

Dulu waktu masih tinggal serumah dengan orang tua, maksudnya pas masih sekolah dan belum mulai ngekos (note: aku mulai jadi anak kos sejak kelas 1 SMA), ibuku sering ngomel soal hal-hal kecil dan printilan di rumah. Kadang aku berfikir ibu berlebihan, cerewet, dan kurang mengerti anak muda yang pengen santai-santai kalau sedang ada di rumah.

Sebenarnya banyak kemudahan yang ibu berikan buatku yang notabene adalah anak bungsu. Saat SD aku jarang sekali melakukan pekerjaan rumah, karena aku harus berangkat ke sekolah jam 5 pagi dan sering kali sampai rumah jam 3 sore. Hal ini dikarenakan lokasi perumahan tempat bapak bekerja saat itu jauh dari sekolah yang ada di Singkawang.

Aku ingat, pernah suatu ketika ibu memasak opor dan semua orang yang lagi di rumah sedang makan siang dan menonton tv sementara aku masih di dapur. Waktu itu aku ngotot ingin menggoreng telur menggunakan margarin dan dicampur dengan bawang merah. Menurutku merupakan suatu prestasi kalau aku berhasil menggoreng telur seperti yang pernah ibu masak.

Aku kocok telur, bawang merah dan margarin di mangkok, dan memanaskan wajan di kompor. Setelah itu, aku masukkan kocokan telur tadi ke wajan. Dan hasilnya? Bisa ditebak: gosong. Aku protes ke ibu, kenapa kok gosong padahal sudah dikasih margarin. Ternyata margarinnya harus dipanaskan, bukan dikocok bersama telur T_T.

Untuk soal mencuci baju dalam jumlah yang (yaaa bisa dibilang buat anak SD) agak banyak dengan menggunakan tangan, sepertinya pertama kali aku lakukan pada saat kelas 6. Waktu itu sedang ada kerusuhan Sambas pada tahun 1999, sehingga keluargaku dan beberapa tetangga yang saat itu sedang dalam perjalanan pulang dari Pantai Pasir Panjang tidak bisa pulang ke rumah, dan harus menginap di rumah rekan kerja bapak di Singkawang.

Aku disuruh ibu membantu anak tetanggaku (aku lupa namanya, waktu itu si mbak ini udah SMP) yang sedang mencuci baju kami-kami yang numpang menginap. Di saat itu aku baru sadar, I have no idea how to wash clothes by hand. Kebanyakan aku cuma melihat si mbak tadi ngucek dan membantu sedikit-sedikit, karena kalau aku turun tangan sepertinya malah ngerecokin dan bukannya membantu T_T.

Karena merasa ini adalah aib, sebagai seorang anak kelas 6 aku tidak mahir mencuci baju, dari situ aku belajar beberapa hal seperti:

  • kalau mencuci harus dibilas beberapa kali sampai busanya hilang dan bersih
  • tiap pakaian besar dan kecil harus dikucek hingga nodanya hilang

Ibu orang yang rapi dan kadang aku menilainya cenderung perfeksionis untuk beberapa hal. Biasanya kalau hari libur aku akan dibangunkan jam 5 untuk sholat subuh, dan jika beruntung maka aku bisa tidur lagi setelah sholat. Namun keberuntungan itu jarang terjadi :D. Ibu akan mengajakku mulai melakukan pekerjaan rumah, yang diawali dengan ritual menyapu rumah dan halaman.

Ada teori yang harus dipenuhi dalam melakukan pekerjaan rumah ini, jika aku tidak ingin mengulang untuk mengerjakannya lagi. Misalnya:

  • untuk menyapu halaman, maka aku harus mengarahkan sapu lidinya ke satu arah dan mengumpulkan sampahnya di satu tempat biar bekas sapu yang ada di tanah tadi terlihat rapi.
  • kalau menjemur pakaian harus dibalik (supaya warnanya tidak lekas pudar), dihadapkan ke satu arah dan diurutkan sesuai besar-kecil ukuran pakaian itu.
  • setelah mencuci piring, bersihkan tempat cucian piring dan keringkan dengan lap.
  • untuk menata pakaian di dalam lemari, urutkan juga dari yang lebar ke yang kecil, dll.

Dulu aku suka sekali ngomel jika harus menuruti aturan-aturan ini, kadang mikir kalau ibuku itu berlebihan. Tapi ibu selalu bilang, kebiasaan itu ga bisa dibuat dalam sehari apalagi ketiga anaknya adalah perempuan yang sudah seharusnya bisa mengurus rumah dengan baik.

Setelah jauh dari ibu, aku menyadari kalau memang bekal pelajaran serta hukuman untuk mengulang pekerjaan rumah yang pernah aku alami itu berguna sekali. Sekarang aku terbiasa untuk rapi, yah bisa dibilang bisa menata kamar sendiri dan menghandle pekerjaan rumah dengan baik (walau tetep, aku tidak seberapa suka dengan yang namanya mencuci baju >.<).

Efek lain juga ada. Tidak jarang aku yang kecapekan pulang kerja tetap berusaha untuk merapikan kamar terlebih dahulu jika memang sedang berantakan. Jika alam bawah sadarku mulai “merasa gatal” dengan sesuatu yang tidak rapi dan mengganggu mataku, maka aku akan merapikannya juga T_T atau aku akan benar-benar pura-pura tidak melihat (agar tidak tergoda untuk membereskannya).

Kalau melihat video ini, aku jadi bertanya “apakah aku juga menderita OCD gara-gara kebiasaanku ini?”.

Biasanya kalau berangkat ke kantor dan mau menutup pintu, aku akan balik lagi ke dalam kamar untuk merapikan selimut yang masih sedikit berantakan seperti gambar ini.

Menurutku setinggi atau sekeren apapun karir perempuan, dia tetap harus bisa melakukan pekerjaan rumah dengan baik karena dia akan menjadi contoh bagi anak-anaknya.

Women belong in the house… and the Senate.Β  ~Author Unknown

Thank you, Mom ^___^.

Gambar diambil dari sini.

Rumah-Rumah Baru

Dalam dua hari ini bener-bener merasakan suasana yang sangat-sangat berbeda, karena aku pindah tiga “rumah” sekaligus hihi.

Rumah yang pertama adalah kamar kosan.

Mumpung ada kamar depan yang kosong, jadinya aku memutuskan untuk pindah ke atas. Alasan ini mendapat dukungan penuh dari keadaan kantong yang teriak-teriak minta dibudayakan sesuatu yang bernama cost down. Dengan kepindahan ini, aku bisa menghemat dalam jumlah yang lumayan ^^.

Ini penampakan kamar baruku. Lebih rapi setelah meja digeser agar bersanding dengan lemari. Cukuplah untuk meredam hasrat OCD ku yang masih stadium 1 ^^.

Rumah kedua adalah meja kantor.

Bagaimana bisa ga disebut rumah, karena tiap hari (kecuali minggu) aku menghabiskan setidaknya 9 jam di sana. Karena pindah team, jadinya posisi meja juga pindah. Masih selemparan batu kok sama Mbak Tiar, Pak Bos dan Mas Jati. Aku tau mereka pasti merindukanku gyahahah.

Ini kondisi meja baruku, memang tempat yang keren banget untuk bertapa heheh. I love it. Tv nya juga keren dan segede gaban. Tapi malesin kalo buat nonton film yang ada unsur belek-belekan atau horor >.<.

Dan rumah yang ketiga adalah blog. Aku memutuskan untuk mengganti theme-nya biar lebih fresh dan semangat kalo mau nulis.

Sekian laporan mengenai rumah-rumah baruku. Aku sedang ingin menikmati suasana di kamar baru dan membaca buku yang belum kelar.

Have a nice day all. Be happy ^^.

Rumah yang Bertuan

Rumah yang bertuan
membawa perempuan itu membumbung ke ujung pengharapan
Sedikit penerangan yang bersinar dari lampu minyak
menuntunnya masuk ke ruangan sempit dan beriak

Rumah yang bertuan
menjebaknya dalam labirin tak berkesudahan
dengan dinding dingin yang mengelupas

Rumah yang bertuan
berlaku bak bangunan kokoh tak goyah karna jarak,
tak renta digerus usia
Nyatanya hanya gubug sederhana berlantai pasir hisap
menjebak kaki perempuan itu ke lubang tak berdasar
Layak kutub magnet yang berseberangan, diikutinya
tanpa bisa melawan

Rumah yang bertuan menebar bau surga dengan amonia
tak menyediakan tiket pulang, kawan.

Pahitnya Kopi yang Membawaku Pulang

Hanya cerita pendek yang terinspirasi dari sebuah percakapan.

Panasnya jalanan Jakarta siang itu terasa kontras dengan sejuknya udara di dalam salah satu mall yang berada di dekat tempatku menunggu bis Bekasi. Sambil meminum iced coffee yang Β aku beli dari sebuah kedai kopi ternama, aku berdiri di bawah terik matahari dengan balutan asap berbagai kendaraan pribadi sampai metro mini.

Aku menghela nafas. Entah tanda kecewa atas carut marutnya tata ruang ibukota atau karena bis yang tak kunjung datang. Atau mungkin karena keduanya. Bisa jadi.

Di depanku berdiri seorang lelaki paruh baya, kulit hitamnya seakan menandakan bahwa dia berteman baik dengan matahari siang di Jakarta. Di tangannya ada beberapa buku tipis dengan sampul berwarna cerah. Kamus bahasa inggris bergambar rupanya. Aku mengetahuinya setelah mencuri pandang ke arah sampul buku yang dibawa lelaki itu.

β€œhmmmhh, susahnya cari duit jaman sekarang. Cepet kiamat ajalah ya Tuhan kalo kayak gini.. β€œ, keluhnya.

Aku mengrenyitkan dahi seketika, β€œdoa macam apa ituΒ ? β€œ gerutuku dalam hati.

Dia menghitung uang yang diambil dari saku kaosnya yang bergambar salah satu caleg dari partai besar. Sepertinya itulah uang yang diperoleh lelaki itu sejak pagi hingga menjelang sore ini. Dalam hati aku ikut menghitung, karena tidak banyak lembaran lima ribuan yang dia miliki.

Aku tercekat.

Kopi yang daritadi aku bawa dan aku minum, bagaikan obat dehidrasi yang sangat mujarab, seketika berubah menjadi cairan getir dan pahit yang meracuni hatiku bak Klorokuin dan Primakuin untuk penderita malaria. Aku merasa bersalah pada lelaki setengah baya itu. Aku kehilangan nafsu untuk menghabiskan sisa iced coffee ku tadi yang masih setengah gelas.

Betapa tidak, uang yang dia cari dengan susah payah hanya sepertiga dari harga segelas es kopi yang harus aku bayar. Aku merasa berdosa. Merasa dibodohi nafsu sendiri. Andai saja aku lebih bijak, uang yang aku belikan es kopi tadi bisa aku berikan padanya. Mungkin tidak kurang dari 30 bungkus mie instan bisa diberikan pada anak-anaknya untuk makan selama beberapa hari. Atau bisa ditukarkan dengan 8 kg beras kualitas biasa beserta ikan asin. Aku merasa begitu egois.

Bis yang aku tunggu telah datang. Aku segera naik dan memilih bangku yang berada di dekat jendela. AC yang ada di dalam bis memberikan kesejukan setelah setengah jam aku berdiri menunggunya bersama panas matahari Jakarta.

Pikiranku memutar kembali kejadian sekitar dua tahun lalu, sebelum aku mendapatkan pekerjaanku yang sekarang. Di masa aku menjalani hari-hari bersahabat dengan terik matahari Surabaya, sembari membawa beberapa sample produk. Aku pernah bekerja sebagai seorang sales panci.

Berjalan menyusuri trotoar, masuk dari satu perumahan ke perumahan lain dengan harapan ada dua panci atau lebih yang terjual setiap hari. Tidak mudah memang. Tak jarang betisku yang sudah kaku karena berjalan mulai pagi sampai magrib tak menemui hasil yang sepadan, bahkan hanya untuk membeli counterpain pun tak cukup.

Sampai akhirnya aku diberi tahu seorang teman bahwa perusahaan tempatku bekerja sekarang sedang membuka lowongan. Kebetulan aku memenuhi kualifikasi yang diajukan. Setelah menunggu selama tidak kurang dari 2 bulan, akhirnya aku mendapatkan kabar gembira. Aku diterima dan akan pindah ke Bekasi.

Keluargaku juga menyambut gembira. Perjuangan ayahku yang hanya seorang petani, dan ibuku yang berjualan batik keliling membuahkan hasil. Kaki ibu pun harus dikorbankan untuk bisa membantu ayah membiayai sekolah sarjanaku dan dua orang adikku. Tulang kaki kanan ibu meradang karena kelelahan dan kurang kalsium, sehingga sekarang ibu sulit untuk berjalan.

Pada hari kepergianku, aku melihat air mata kedua orang tuaku. Aku mengartikannya sebagai air mata bahagia sekaligus kecemasan. Sebagai anak perempuan tertua dan satu-satunya, aku harus pergi jauh dari mereka dan pindah ke kota yang entah bagaimana lingkungan keagamaan dan sosialnya. Berita di tv tentang pembunuhan, pemerkosaan dan narkoba semakin membuat hati mereka berat untuk mengantarkan kepergianku.

Tak banyak pesan dari mereka. Ayah hanya berbisik β€œjaga iman, nak”, ibu berpesan β€œjangan lupa sholat ya nduk” ketika kami berada di stasiun Gubeng. Sementara kedua adik lelakiku sambil berkaca-kaca, mengingat mereka tak pernah berpisah jauh dariku, berkata β€œkalo lebaran jangan lupa pulang ya mbak”. Harapan yang sederhana, pikirku saat itu.

Aku menegakkan posisi dudukku dan mengambil uang untuk membayar bis. Tak terasa dua tahun sudah aku jauh dari mereka, keluargaku. Pesan-pesan sederhana itu ternyata tak semudah yang aku kira, iman dan sholat.

Entah berapa lama aku meninggalkan sholat dhuha, apalagi tahajjud. Tenagaku sudah hampir habis untuk bekerja yang sering kali baru pulang setelah jam 7 malam, dan rasa kantuk yang tak tertahankan saat membaca buku di kamar. Jangankan tahajjud, isya pun kadang terlewatkan begitu saja karena sering dikalahkan oleh acara tv atau browsing internet.

Istighfarku dalam hati. Pernah aku merasakan kedamaian itu, uang yang tak berjumlah jutaan pun rasanya cukup dan penuh berkah. Saat di mana aku rajin beribadah wajib dan menambahkan 4 rakaat dhuha dan 4 rakaat di sepertiga malam.

Entah apa kesibukanku selama ini, dhuha terlewat begitu saja. Ku cukupkan hanya pada sholat wajib, itupun di akhir waktu sholat dengan dalih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.

Buliran air yang terasa hangat mulai membasahi pipiku. Aku membasuhnya segera dengan tissue karena tak ingin menarik perhatian penumpang lain. Pilu. Ada ketakutan dan kekecewaan pada diri sendiri. Ketakutan akan apa yang bisa menjadi bekalku ketika jasad ini tak lagi bernyawa. Kekecewaan akan waktu yang telah aku sia-siakan begitu saja, uang yang aku belanjakan yang hanya untuk kepuasan diri yang tak ada habisnya.

Tuhan, aku berdosa padaMu, aku mendzolimi hambaMu. Luruskan jalanku sekiranya aku tak lagi lurus, ingatkan aku sekiranya aku sedang lupa, rengkuh aku sekiranya aku berlari terlalu jauh, putarkan kembali gambar wajah ayah ibu dan pesan mereka ketika aku salah arah. Mungkin kejadian kopi dan lelaki paruh baya tadi adalah salah satu caraMu untuk mengingatkanku.

Ku buang gelas plastik kemasan kopi tadi sesampainya aku di rumah. Pahit manis rasa iced coffee begitu cepat hilang dari lidah, bahkan sebelum aku menemukan tempat sampah. Namun tidak demikian halnya dengan getir yang tersisa dan mengendap.

Aku dan Toko Buku

Sejak tiap hari minggu ikut les, aku jadi sering banget ke Gramedia Grand Indonesia. Dan rupanya hal ini bisa membuat kecanduan.

Ya, aku candu membeli buku. Kalopun hari itu aku ga ada rencana mau ngapain setelah les, nonton misalnya, maka aku akan ke toko buku. Belum tau buku yang bakal dibeli? Bukan masalah, ntar pas di sana juga bakal ada yang menarik hatiku.

Seneng? Tentu saja, koleksi buku bertambah dan aku ga ada alasan untuk bilang “duh bosen, enaknya ngapain ya pas di kosan?”. Hari ini tadi juga sama, walaupun buku yang beberapa waktu lalu baru dibeli (atau minggu lalu ya? lupa) belum kelar dibaca, tapi… tadaaaa aku udah beli buku baru hihihi *ketawa girang*. Dan buku yang beruntung untuk aku bawa pulang adalah:

dan

Oke, oke emang aku rada ketinggalan jaman karna baru beli Filosofi Kopi sekarang. Padahal ini buku uda terbit dari jaman bahula. Tadinya pengen nyari novel yang lain, tapi malah nemunya ini. Ya aku bawa pulang saja.

Setelah dilihat-lihat di rak bukuku yang tumpukannya belum seberapa, ternyata aku masih punya banyak pe-er membaca. Inilah buku yang belum kelar dibaca atau bahkan belum dibuka bungkusnya:

  1. Sejarah Tuhan oleh Karen Armstrong
  2. 101 Kesalahan Perempuan yang Menghambat Karier Mereka oleh Lois P. Frankel, Ph.D
  3. Honeymoon with My Brother dan How The World Makes Love oleh Franz Wisner
  4. The Heart Inside The Heart oleh Alexandra Dewi
  5. Blink, Outliers, Tipping Point dan What The Gog Saw oleh Malcolm Gladwell
  6. Mengapa Perempuan Gagal Karena Uang & Bagaimana Mengatasinya? oleh Liz Perle
  7. Breakfast at Tiffany’s oleh Truman Capote
  8. Anne of Green Gables oleh Lucy M. Montgomery

Sepertinya itu aja sih. Aku juga sedang mencari para tersangka yang meminjam buku “Kartini Nggak Sampai Eropa” ku? Mengakulah dan tolong kembalikan hihi..

Happy reading all. Be happy by buying, collecting and reading books ^^.

My Favorite Prayer

The first time I knew this prayer was from one of his blog, but I was failed to find the post. So I used google to find it for me.

This was one of Rasulullah’s prayer. It’s so beautiful and I always say it on my prayer.

Ya Allah,
Dengan ilmuMu atas yang ghaib dan kuasaMu atas seluruh mahluk
Hidupkanlah aku jika dalam pengetahuanMu kehidupan itu lebih baik bagiku
Dan matikanlah aku jika dalam pengetahuanMu kematian itu lebih baik bagiku

Ya Allah,
Aku mohon kepadaMu rasa takut baik pada saat terlihat maupun tersembunyi
Aku mohon kepadaMu kalimat yang benar pada waktu rela maupun marah
Aku mohon kepadaMu sifat hemat pada waktu fakir maupun kaya
Aku mohon kepadaMu nikmat yang tak habis-habis
Aku mohon kepadaMu kesenangan hati yang tak pernah putus
Aku mohon kepadaMu kerelaan setelah ada ketetapan, sejuknya kehidupan setelah mati
Nikmat saat melihatMu dan rasa rindu untuk bertemu denganMu
Tidak dalam kesulitan yang menyengsarakan
Tidak pula dalam fitnah yang menyesatkan

Ya Allah
Hiasilah kami dengan hiasan keimanan
Dan jadikanlah kami sebagai pemberi petunjuk bagi orang-orang yang mendapat petunjuk
Amiin.

(HR. An-Nasa’i, Imam Ahmad, Ibnu Hibban)

So beautiful, right? It can make me feel close to Him and surrender.

Surat Untuk Radit

Review Marmut Merah Jambu.

Dear Raditya Dika,

Aku tidak pernah berharap kalau kamu akan membaca surat ini. Tapi entah dorongan apa yang membuatku bersikeras untuk tetap menuangkan sedikit yang ada di hati.

Ini bukan tahun pertamaku berkenalan denganmu. Masih aku ingat betul ketika aku harus setia menunggumu, bersama seorang temanku, tiba di Perpustakaan Kota Malang beberapa tahun yang lalu. Ya, tentu saja hanya untuk bertemu denganmu, merelakan diri berada satu ruangan dengan para abege labil yang mengelu-elukanmu dan berusaha saling memamerkan paham “aku lebih mengenal Radit dari pada kamu lowh”-nya.

Aku membawa buku pertama dan keduamu, yang telah cacat karna ada tanda tanganmu di halaman depannya, ke tempat di mana aku tinggal sekarang. Mantan pacarku yang memperkenalkanku padamu. Dia sepertinya, saat itu, mengikuti dan menikmati cerita-cerita yang ada di blog lamamu sebelum kamu tenar dan menjadi artis seperti sekarang.

Awalnya, aku melihat cover Kambing Jantan dengan mengerenyitkan dahi “Apa iya buku yang judulnya Kambing Jantan ini bagus dan lucu?” Karena judulnya lebih mirip sama buku panduan untuk beternak dengan cover mukamu yang dipenuhi dengan bulu. Walaupun begitu aku percaya kalau mantanku punya selera yang cukup bagus, jadi aku melihat sebentar bukumu dan aku beli.

Sekali membaca Kambing Jantan, aku tertawa. Walau banyak kesalahan dalam penulisan untuk edisi cetaknya, yang mengusikku selaku penderita OCD ringan untuk menyalahkan sang editor, aku tetap tidak bosan untuk membacanya lagi. Dan lagi. Ketika aku jenuh atau sedih, bukumu bisa menjadi sedikit penawarnya. Hal ini membuat aku ga sabar untuk membaca bukumu yang kedua, Cinta Brontosaurus.

Ketika buku itu sudah aku miliki, aku membacanya dengan seksama. Selalu dipenuhi rasa tidak sabar untuk membuka lembaran berikut dan berikutnya lagi. Aku tertawa, aku bersedih, hanyut dalam alur ceritanya. Setelah sampai pada halaman terakhir, aku akan dengan suka rela membukanya dari awal lagi ketika aku ingin membacanya kembali. Kemudian di buku ketiga dan keempat, aku lupa.

Tapi entah kenapa tidak demikian halnya di buku Marmut Merah Jambu. Apa mungkin selera humorku berkurang? Atau memang humor hanya pemanis di buku yang bertema drama percintaanmu? Aku buka tiap babnya, sesekali aku tertawa namun tidak sekerap sebelumnya. Ada beberapa bab yang aku skip untuk membaca bab lain yang mungkin akan menjawab rasa penasaranku. Tapi aku belum menemukannya.

Dan aku akan mengulangi membacanya dari awal lagi. Mungkin aku yang salah, moodku yang salah, ada yang terlewatkan olehku, atau entah faktor apa yang membuatku masih digantung rasa penasaran yang masih belum terjawab.

I really appreciate your hard work. Menulis buku bukanlah hal yang mudah, semudah kita bersin atau mematikan jam weker dengan setengah sadar di jam 5 pagi. Apalagi 2 tahun waktu yang kamu perlukan untuk menyelesaikan pekerjaanmu kali ini.

Akan lebih mudah bagiku ketika aku hanya membeli bukumu di toko, menyobek plastik dan kemudian membacanya. Ketika aku merasa ada yang tidak pas, aku diam saja dan menggeletakkan buku itu (meskipun aku belum menamatkannya) di tumpukan buku lain yang sudah aku baca. Toh aku tidak ada andil dalam menikmati kesuksesanmu.

Lagi-lagi ini mungkin hanya masalah subjektif dan ekspektasiku semata. Mungkin kurang bijak juga jatuhnya ketika aku membanding-bandingkan Marmut Merah Jambu dengan karya-karyamu sebelumnya. Tiap buku pasti meninggalkan kesan yang berbeda bagi pembacanya.

Maaf jika tidak berkenan. Aku tau, adalah hal yang tidak mengenakkan ketika ada pihak yang memberikan tanggapan kurang baik atas hasil kerja kita.

Pada akhirnya, kerja keras kita memang tidak bisa memuaskan semua pihak. Tapi aku turut senang karna kamu mendapatkan banyak review bagus dari pembaca yang lain mengenai buku Marmut Merah Jambu.

Salam

Fitri