Doa

Ketika saya kuliah di Malang dan blog walking di blog milik teman yang kuliah di Bandung, saya menemukan doa ini. Katanya sih munajat Rasul, tapi wallahualam. Karena isinya yang bagus banget menurut saya, mencakup semua kebutuhan yang saya perlukan, maka saya senang sekali berdoa kepada Allah dengan doa ini.

Ya Allah, dengan ilmu-Mu yang ghaib dan kuasa-Mu atas seluruh makhluk, hidupkanlah aku jika dalam pengetahuan-Mu kehidupan itu lebih baik bagiku dan matikanlah aku jika dalam pengetahuan-Mu kematian itu lebih baik bagiku.

Ya Allah, aku memohon rasa takut kepada-Mu pada saat tersembunyi ataupun terlihat,
aku memohon kepada-Mu kalimat yang benar pada saat rela ataupun marah,
aku memohon kepada-Mu sifat hemat pada saat fakir maupun kaya,
aku memohon kepada-Mu nikmat yang tak habis-habis,
aku memohon kepada-Mu kesenangan hati yang tak pernah putus,
aku memohon kepada-Mu kerelaan setelah adanya ketetapan,
aku memohon kepada-Mu sejuknya kehidupan setelah kematian,
dan aku memohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu dan rasa rindu untuk bertemu dengan-Mu,
tidak dalam kesulitan yang menyengsarakan dan tidak pula dalah fitnah yang menyesatkan.

Ya Allah, hiasilah hati ini dengan hiasaan keimanan, dan berilah hamba petunjuk untuk menuju jalan-Mu yang lurus dan Engkau jadikan kami pemberi petunjuk bagi mereka yang mendapatkan petunjuk.

27 Things To Do Before You Settle Down

Berawal dari mention temen di FB. Saya dikasih link video dengan judul “27 Things To Do Before You Settle Down”, yang membuat saya berfikir untuk mereview apa saja yang sudah dan yang belum saya lakukan dari 27 point di video tersebut.

  1. Travel with BFFs. Done dan masih akan berlanjut juga sih, kalau kami menemukan jadwal yang tepat. Travel has no expired date.
  2. Learn to cook. Err, kalau masak tumis dan tom yum pake bumbu instan keitung ga sih?
  3. Be financially independent. Alhamdulillah, thanks to the state-owned company yang sudah mentransfer ke rekening saya tiap bulannya.
  4. Face one of your biggest fear. Sudah pernah naik wahana Kora-Kora dan Hysteria di Dufan. And once is enough 😀
  5. Live alone. Ini sedang dijalani juga.
  6. Accomplish a goal. Tahun 2014 kemarin kelar juga S2 di HI UI yang kayak pain in the ass. It was an unforgettable experience.
  7. Find your drink of choice. Hot vanilla latte, please!
  8. Make the first move. Checked.
  9. Challenge yourself. I will.
  10. Take a road trip. Berniat untuk ikutan road trip ke Bromo, tapi belum dijadwalkan. Pe-er nih.
  11. Try a nice restaurant by yourself. Ini sudah beberapa kali, dasar doyan makan 😀
  12. Live somewhere else. Checked, tapi pengen juga merasakan stay di negara lain yang lamaan.
  13. Learn to drive manual. Belum ada rencana sama sekali untuk belajar nyupir 😐
  14. Find a new show and watch it all in one weekend. Wohooo, SCANDALS of course. And SUITS!
  15. Get fit. Nah, sudah lama bolos lari dan sedang mau daftar muaythai. Semoga klub yang di Tebet masih mau menerimaku 😀
  16. Build something with your hand. Membangun masa depan? #eh
  17. Stay up until the sunrise. Sudah pernah.
  18. See your favorite artist live. MLTR sudah, dan next Boyzone. Abang-abang Coldplay sih ga mau ke Jakarta 😐
  19. Make a list of book to read and then read them all. Kalau ini ga pake list sih, karena buku yang belum kelar dibaca sudah ada rak dan susunannya sendiri di kamar. Still in progress.
  20. Learn to fight. Ini digabung sama no 15.
  21. Volunteer. Checked. But I think I want more! Dari ShoeBox Project ini saya kenal dengan @ubermoon dan @denald :*
  22. Try a new hobby. I think I will learn bit how to make a good photo shoot with my mirror-less camera.
  23. Apply for your dream job. Hmm, give me additional time for this *grin*
  24. Keep a journal. Of course. That’s why I have De Journal.
  25. Have a long conversation with a stranger. Ini kemarin waktu naik pesawat pulang ke Jakarta dari Penang, me and my friend had long conversation with mas-mas yang duduk di sebelah kami. Good thing indeed.
  26. Do something crazy and spontaneous. Jaman-jaman masih muda sudah sering sih do spontaneous things, sekarang juga masih 😀
  27. Get to know yourself. Ini sudah, masih, dan akan terus berlanjut.

Huff akhirnya selesai juga. Semoga yang belum, dapat segera diwujudkan :).

Mewujudkan Rencana Lama: Ke Penang, Aku Pergi

Sudah lama saya berangan-angan untuk pergi ke Penang dan rencana itu baru bisa di wujudkan di awal Mei 2015 ini. Sebenernya saya berencana ke Penang dengan seorang teman kantor, sayangnya jadwal kami tidak pernah match. Tahun lalu saya sibuk dengan kuliah, giliran tahun ini teman saya yang sibuk kuliah sementara saya sudah lulus. Akhirnya saya merencanakan ke Penang sendiri.

Tanggal keberangkatan sudah dipas-pasin dengan tanggal ultah, karena saya males banget ultah pas weekday dan harus ngantor. Males basa-basi dan salamannya itu loh kalo sampe ada yang inget, jadi sebisanya tiap ultah saya nggak ngantor :D. Ijin cuti sudah keluar, flight dan penginapan sudah dipesan, tinggal nunggu hari keberangkatan saja eh seminggu sebelumnya kok ya pake acara paspor hilang. Pusing pala Berbie! Setelah mencari di apartemen dan di kantor tidak kunjung ketemu, saya memutuskan untuk membuat paspor baru dan reschedule jadwal penerbangan dan penginapan.

Paspor

Baca selebihnya »

Krisis

Duile judulnya udah kayak tahun 98-an :p

Bulan April lalu di tahun ini adalah bulan keramat. Beberapa hari menjelang ultah, saya mengalami krisis dengan gejala over thinking, galau, mengingat lagi apa yang sudah saya lakukan selama ini hingga apa yang masih belum dicapai di umur segini. Alhasil beberapa malam saya susah tidur.

Bersyukur punya temen sejenis mbak-mbak gampangan aka gampang dihubungin kapan aja *digaplok*. Merasa kehilangan arah dan tak tau harus ke mana, saya akhirnya tengah malem curhat ke temen saya ini dengan menanyakan satu hal prinsipiil *iya piil, sesuai kbbi*Baca selebihnya »

Krasan di Rumah

Jadi ceritanya beberapa waktu belakangan, kalau ga salah sejak menjelang tahun baru 2015, saya jadi krasan aka betah banget di rumah. Padahal tadinya saya termasuk MMK (Mbak Mbak Kantoran) yang memiliki euforia tinggi ketika menyambut weekend. Mungkin sebagai efek saking butuhnya hiburan kali ya :p.

Menyadari akan tingginya biaya gaul kalau keseringan hang out di Jakarta dan sekitarnya, saya merasa perlu untuk melakukan reformasi definisi “spending weekend wisely and happily”. Kebetulan waktu itu novel Twivortiare 2 baru beredar di pasaran, sementara saya juga belum baca Twivortiare 1-nya. Alhasil selama 4 hari libur natal 2014 saya ngendon di rumah buat baca novel sampe kelar. Karena kalau udah baca gitu bikin males keluar, saya juga perlu menyiapkan bahan makanan untuk dimasak biar maag-nya ga kambuh lagi. Berangkat dari situ, saya jadi intens lagi baca buku-buku yang sudah saya beli namun belum sempat dibaca di tahun lalu. Bahkan ada buku yang masih dalam plastik. Baca selebihnya »

Tinggal di Apartment

Ya ampun udah tahun 2015 aja ya! Belakangan waktu berjalan begitu cepat, rasanya baru aja kemarin hari Senin eh besoknya udah pake batik lagi yang artinya hari Jumat bagi para MMK aka Mbak Mbak dan Mas Mas Kantoran. Entah efek dari kesibukan yang ga ada habisnya atau memang bumi pun ikutan tren lari yang lagi booming belakangan.

Keinginan sih ada tiap bulan punya cerita buat diposting di sini, tapi kadang kemalasan kenyataan berkata lain. Ya sudah lah ya 😀

Kali ini saya ingin berbagi cerita tentang kehidupan di apartment. Sejak bulan Juli 2014, saya memutuskan untuk pindah ke apartment (baca ceritanya di sini) karena udah menyelesaikan kuliah S2 di UI Depok dan tinggal nunggu wisuda di akhir Agustus 2014. Pada awalnya saya tidak pernah terpikir untuk tinggal di apartment karena kayaknya kok serem tinggal di rumah susun, dan lagi pula di Kalibata keliatan padat pake banget.Baca selebihnya »

About Finding A [Perfect] Bag

Beberapa waktu belakangan ketika ada keperluan untuk pergi ke mall, saya akan menyempatkan diri masuk ke outlet yang menjual tas perempuan. Saya bukan tipe orang yang suka mengoleksi barang perempuan, misalnya punya beberapa tas atau berlemari sepatu. Satu tas untuk satu keperluan cukup buat saya; satu tas ransel, satu tas selempang, dan satu buat kondangan. Antara irit, pelit, ga modis emang beda tipis Jendral! 😀Baca selebihnya »

Mencoreti Impian Tahun 2014

Bulan Juni tahun 2014 ini sungguh bulan yang luar biasa buat saya, terutama dalam 2 minggu terakhir. Banyak hal-hal penting dan menarik yang terjadi, hal yang selama ini saya tunggu dan dambakan. Setelah bisa short escape ke Samosir, sementara badan belum selesai lelahnya, saya kembali ke Jakarta. Selain ditunggu oleh list pekerjaan, list impian saya di tahun ini juga menanti untuk dicoret. Yay! ^^

Sebenarnya saya lelah secara fisik dan mental, saat ini saja saya sedang flu yang sepertinya sebagai akibat kurang istirahat dan kurang makan. Hari minggu saya sampai di kosan, kembali dari Medan, pada jam 23.00 WIB. Besoknya sudah bekerja lagi dan harus pulang malam karena ke kampus dulu untuk menyerahkan tesis kepada dosen penguji ahli, serta ke toko kue untuk menyiapkan konsumsi bagi para dosen yang hadir di sidang tesis saya pada hari Selasa. Dengan badan yang lelah sangat, file presentasi pun saya buat pada hari Selasa jam 01.30 WIB. Deadliner sejati 😐

Pas mau sidang rasanya hati dan pikiran ga karuan. Tapi alhamdulillah dinyatakan lulus walaupun harus dengan revisi :D. Akhirnya ujung dari perjuangan selama dua tahun terlihat sudah. Dua tahun yang luar biasa karena saya harus banyak menolak ajakan teman-teman untuk ngumpul bareng dan traveling :(. Berat banget melihat yang lain upload foto liburan sementara saya di warung kopi mengerjakan tugas kuliah. Selalu ada harga yang dibayar untuk setiap cita-cita! 🙂

Wajah bahagia setelah sidang
Wajah bahagia setelah sidang

Baca selebihnya »

Menyapa Allah

Sebuah refleksi.

Jadi ceritanya pagi menjelang siang tadi saya pergi ke Elite Club di komplek Epicentrum Kuningan. Bukan untuk fitness tentunya (karena ga mampu bayar), tapi untuk mengambil race pack Samsung S Run Series. Setelah selesai, saya memikirkan cara untuk menuju ke Anomali Coffee di Setia Budi One. Karena jarak antara Epicentrum dengan SB1 ini cuma selemparan batu, saya jadi dilema: kalau mau naik TJ malah kelamaan nunggunya, sementara kalo naik taksi takut ditoyor supirnya karena argo belum naik dari Rp 6.000,- udah sampe. Maka saya sebagai seorang fun runner memutuskan untuk jalan kaki (ya iyalah, masa lari :p).

Jakarta saat itu sedang panas terik, dan di sisi jalan Rasuna Said minim banget pepohonan. Dalam hati saya berkata “coba ya ademan dikit. Ya Allah, ademin sebentar dong langitnya”. Baru juga selesai “mbatin”, eh beneran dong langit di atas saya berjalan ditutupin awan dan jadi ga panas. Trus saya mikir, “kamu loh punya Tuhan, ya minta aja”. Kemudian saya berdoa, lebih tepatnya kayak monolog. Dan yang terjadi adalah sepanjang jalan saya menuju ke SB1 jadi teduh :”).

Saya jadi mikir, tiap hari sholat dan berdoa tapi sering kali saya tidak berkomunikasi akrab dengan Allah. Kadang merasa Allah terlalu tinggi dan sibuk untuk mengabulkan doa saya yang remeh temeh. Bukan karena Allah tidak mampu, tapi lebih ke “siapa sih saya?”. Saya terlalu gengsi untuk menyapaNya.

Sebenernya juga ga perlu ada keajaiban-keajaiban dulu lantas kita baru merasa dekat dengan Allah. Seharusnya mensyukuri diri yang masih diberi umur dan kesehatan saja sudah bisa menjadi “bahan obrolan” kepada Allah. Merasakan kehadiranNya. Karena Allah lebih dekat dari urat nadi kita sendiri.

bced48afdb19ae4a8b09983f12b6c60f