About Attending A Wedding Party

Someone asked me, why I didn’t come to someone’s wedding party. And by chance, both of this people came from my past (the one who asked me and the one who had a wed party).

It was so funny when he mentioned about broken heart as a reason I didn’t come to the party.

Dear sweetheart, when I say “past is past” it means I really put the things in my 3rd box. And I am not kind of person who think that marriage is everything even though it is an important thing for me. That’s why I am glad we’re not meant to be *evil laugh*.

I never put my legs in a handcuff because I have things to achieve, dreams to be reached. I need them to run fast and not stuck in a mysterious thing such fate.

So, can I “make people happy when they see me happy and for those who aren’t, I am humbly say sorry”?.

No need to worry bout my success, I am working on it ;). But thanks for your kind attention. And please, live in peace :lol:.

Good Things Come To Those Who (Try and) Wait

As I always do (and I keep trying to do it), for everything that happen to me that are both good and unpleasant, I believe that God want me to learn something instead of grumbling or passing it with nothing.

On previous Saturday, I went to Kwitang with 3 of my friends to look for a boarding house. We left from PLC at 11.30 am and started to walk around Kwitang at 2 pm under drizzle. We kept walking, in and out from one alley and boarding house to another, asking to inhabitant there about boarding house for woman.

Most of the places couldn’t satisfy us. There was a good and clean one but only has a free room, and we need about at least 4 rooms. We came to various type of house. One of them was a mystical house, with old women as the owner, that successful to make me feel like I was entering a different world, and I think if I stayed there every day would become “malam jum’at” day. She has many statuettes inside, old furniture, dark lighting, and I’d like to recommend that place to be a place to take a scene for Indonesian horror movie.

We also visited a mixed boarding house (aka kos campur cuy..), no women exist there but the house keeper, such entered a crocodile cage. Big NO NO for a place to live. I’d rather we walked to find another one and made my calf of leg bigger, than stayed there. So, we took a rest for a while and did our ashar prayer.

It was about 6 pm when we were tired and still hadn’t found a proper place yet, we were near with desperation and decided to go back to PLC because we had to arrive there before 8 pm. In the middle of our way to come back home, Linda, my inmate here, accidentally looked a board with “terima kos wanita” written on it. We knocked on the door, no one came. We tried again, and a house keeper came to us. Finally, we’ve found it, a nice boarding house with nice price and environment^^.

Sometimes it takes long time to meet what we want. But the only thing that we have to believe when we don’t find it, is God always gives what we need. Our life isn’t a fairytale, we won’t get what we want just by praying and soon after we open our eyes everything is served in front of us. Life won’t become interesting if every girl looks like snow white and every man turns as a prince with white horse.

Most of the time when people in trouble or in difficult situation (aka sedang di dalam cobaan), it will be easier for them to remember God than when God gives them tests with wealth and health.

Looking for a proper boarding house is like looking for a partner in life :lol:. Many people are available, but we don’t suddenly choose one just because others have found theirs. We keep waiting, praying, and trying, getting hurt, feeling up and down, until we get the right one which meets our compatibility version. But don’t worry, good things come to those who wait and try. So, while you’re waiting, make your waiting time worth ^^.

Don’t take this post too serious, will ya? 😉

Commitment Costs Things

Sejak awal tes untuk bergabung dengan program BPS, sepertinya kami para peserta telah dipersiapkan secara mental untuk “siap sedia” jika ada pengumuman dan penugasan mendadak. Dari serangkaian tes yang harus dijalani, pengumuman untuk menghadiri tes selanjutnya diberitahukan sehari atau dua hari sebelumnya. Jadi sebagian besar tidak ada persiapan yang mencukupi untuk menghadapi tes-tes tersebut.

Yang lebih ekstrim adalah antara pengumuman penerimaan dan jangka waktu untuk mulai masuk ke tempat pendidikan (Pertamina Learning Center) hanya berjarak 2 hari kerja. Seingetku, aku ditelpon hari kamis sore jam 3, dan hari selasa sudah mulai registrasi dan masuk di PLC. Adalah suatu keajaiban peristiwa resignku kemarin, karena hanya perlu waktu 2 hari dan 1 sore yay \(^0^)/. It was a miracle ;).

I have been here for about 3 months, and I am really glad and feel blissful for taking this chance. I meet many people, learn and get many new things 😀 *koper jadi beranak*. Aku juga belajar packing dan unpacking dengan sigap hohoho, karena beberapa kali harus pindah lokasi -__-.

Berdasarkan pengalaman-pengalaman para senior yang mengisi materi classroom dapat disimpulkan bahwa there’s no certainty here but uncertainty. Kontrak yang berbunyi “bersedia di tempatkan di seluruh Indonesia” yang telah ditandatangani, rupanya bisa kapan saja menagih janji ^^. Ada yang pindah tiga, empat, sampai lima kota penugasan selama masa kerjanya.

Sebenarnya sekarang juga udah mulai muncul berbagai macam pikiran tentang “gimana”; gimana ntar kalo ntar pas udah berkeluarga trus ada penugasan di daerah dan harus stay di sana sampe entah berapa lama, gimana kalo suami kerja di kota yang berbeda, trus sekolah anak dan blablabla lainnya. Kalo masih lajang sih gada tanggungan seperti yang dimiliki yang berkeluarga ^^V.

Sepertinya kemungkinan-kemungkinan seperti itu yang telah dipersiapkan pertamina dari awal kepada (calon) pekerjanya; pengumuman mendadak, skill packing dan unpacking, beradaptasi dan mengendalikan kondisi :lol:. Yah mungkin inilah yang dinamakan commitment, ketika kita dihadapkan pada pilihan akan tanggung jawab yang sama beratnya tapi masih harus bisa memilih secara professional *aku ngetik apaan si daritadi*.

Commitment definitely costs things, bisa berupa jauh dari keluarga, jauh dari kampung halaman, menunda rencana pendidikan, continuous adaptation and learning, membatalkan plan yang udah dibuat sebelumnya, materi apalagi bagi yang udah berkeluarga dan terpisah lokasi (biaya komunikasi dan tiket pesawat :D), LDR kalo pacarnya jauh :lol:, tidak mendapatkan fasilitas seperti yang disediakan Jakarta (kalo ditempatkan di luar kota atau luar Jawa), tiket ke Singapur yang hangus *nangis gulung-gulung*, kebebasan (hanya bisa keluar hari Sabtu setelah ujian dan hari Minggu selama di PLC), dan lain-lain. But, we can make it count ;). Mari berbakti pada negeri *tsaaah*.

But still, I am grateful because sometimes our life is other’s dream. -Safitri-

Random Thoughts III

*Udah mirip trilogi aja, udah sampe jilid III gini :D*

Emosiku terasa begitu labil belakangan. Bukan, bukan karena “tamu” rutin yang selalu datang tiap bulannya. Karena bukan masalah hormonal yang bisa ditolerir itulah makanya aku sibuk bertanya “what happened?”, dan tetap belajar untuk mengendalikan diri agar tidak menyesali perbuatan yang aku lakukan di luar kendaliku karena terbawa emosi sesaat.

Seperti biasa ketika aku sibuk berfikir untuk membenahi diri yang masih saja berantakan, pikiran-pikiran yang random itu akan bermunculan dengan liarnya, berlomba-lomba untuk mendapat perhatian. Ini beberapa di antara mereka:

  1. Anak bukanlah kain kanvas kosong yang bisa digambar bebas oleh orang tuanya, tapi mereka adalah bibit bunga yang tumbuh pada tanah. Indah atau tidak hasil bunga tersebut tergantung pada orang yang merawat, tanah tempat mengakar, iklim yang melingkupinya dsb.
  2. Ada alasan lain untuk seorang perempuan dan laki-laki pergi berdua selain 1) ada “rasa” 2) si pria gay ato si perempuan lesbi. Kali ini aku dengan lapang dada “menjilat ludah sendiri”, pertemanan tanpa embel-embel “rasa” itu ADA.
  3. Terkadang untuk mengatasi ketakutan akan hal-hal yang belum terjadi atau hal yang belum pernah aku alami sebelumnya, aku menggunakan prinsip bungee jumping. Oke memang aku belum pernah mencoba permainan itu, tapi ada banyak hal yang pernah aku lewati yang rasanya mungkin lebih menakutkan, mendebarkan sekaligus menantang daripada sekedar bungee jumping. Intinya sih: “Ya udahlah loncat aja, aku ga akan pernah tau rasanya sebelum aku mengalaminya. Jika aku beruntung, aku akan mendapatkan kesenangan yang luar biasa dan tak terlupakan. Jika hasilnya kurang memuaskan, aku juga masih mendapatkan pengalaman berharga. Kadang hal-hal yang di luar rencana akan lebih memorable“. Hmm kalo dipikir, memuaskan ataupun tidak, kedua-duanya mendatangkan keuntungan buatku :).
  4. Social media dan internet bisa mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat. Aku musti belajar lebih bijak juga dalam menggunakannya ^^.
  5. Aku dulu pernah berfikir kalo aku ga suka sama anak-anak, karena mereka berisik dan merepotkan :D. Hal ini pernah menimbulkan keparnoan: gimana bisa jadi ibu yang baik kalo sama anak-anak aja aku ga bisa “akur” >.< . Tapi memang benar istilah “tak kenal maka tak sayang”. From kids, we can learn many things :).
  6. Segelas cappucino di 7/11, seorang tong sampah teman yang bersedia mendengarkan keluh kesah dan berdiskusi, adalah obat mujarab untuk penyakit “dada sesak” :D.
  7. Rasa peduli itu perlu ditumbuhkan dan dibiasakan. Terkadang memang keberadaannya dikalahkan oleh kata “males ah”.
  8. Berbagi tidak harus dengan materi. Jika kita merasa tidak memiliki sesuatu untuk dibagi, luangkanlah waktu :). Keberadaan kita bisa menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya bagi orang lain.
  9. No matter what they say about you, if you believe you’re walking on the right track, keep moving on.
  10. Jalan yang baik menurut Allah, memang benar-benar baik. Jika memang berbeda dengan keinginan kita, ikhlaslah. Dengan begitu kita baru bisa melihat countless kebaikan di balik rencana Allah itu. Namun jika kita tetap fokus pada hal-hal yang tidak bisa kita miliki setelah kita berusaha keras untuk mendapatkannya, maka selama itu juga kita akan menyiksa diri sendiri.
  11. Mengungkit masa lalu bisa menjadi kesalahan fatal meskipun si pelaku tidak menyadarinya. Cukup untuk diketahui bahwa pihak yang “berdarah-darah” untuk sekedar memperjuangkan sebuah kata: “move on” itu ADA.
  12. Aku khawatir, seandainya nanti penempatan kerjaku dan Jo di luar Jakarta, siapa yang akan membantu Mbak Dwi untuk menjaga anak-anak Taman Ilmu ketika Ozka ga bisa datang?

Demikian random thoughts season III dari aku ^^.

Kembali Ke (Jaman) Sekolah ^^

Minggu kemarin merupakan minggu pertama aku berada di classroom untuk menerima berbagai macam materi. Selama ini aku masih dikarantina di Hotel Patra Jakarta, jadinya kalo ada kelas cukup turun ke lantai dasar (kamarku di lantai 4), trus jalan dikit dan naik tangga 1 tingkat :D, la kelasnya di ruang meetingnya hotel.

View dari kamar di siang hari

Walo begitu, tetep dandan ala anak sekolah yang pake atasan putih, dasi, celana biru gelap, dan tidak lupa membawa tas yang dikasih dari PLC 😀 (yang segede gaban).

Hidup sekarang musti pinter-pinter memanfaatkan waktu untuk istirahat. Kalo tidak ingin begadang di malam menjelang hari H ujian mingguan, musti nyicil belajar tiap malem dan melawan ngantuk yang udah ditahan seharian. Tugas tunggal di sini adalah belajar, cucian udah diurus hotel, makan sehari 3x, dan ada coffee break tiap jam 10 dan jam 15.30. Ga perlu mikirin kamar juga, apalagi kalo pagi-pagi buru-buru dan ga sempet beresin, karena bakal ada yang beresin hehe. Baca selebihnya »

See You on The Next 10 Days

Yap, aku tidak akan eksis di dunia maya selama beberapa hari ke depan karena harus mengikuti acara outbound di Cibodas. Excited tapi takut juga, karena akan menguras fisik padahal sampe sekarang badan masih pegal sekali setelah pindahan kemaren -__-;.

Hari ini setelah penandatanganan kontrak untuk pendidikan, juga di-briefing untuk acara outbound besok sampai tanggal 10 Desember mendatang dan dibagikan tas sekolah navy backpack. Ini garis besar acara outbound-nya:

Hari 1: Latihan fisik dan pelatihan baris berbaris

Hari 2: Latihan fisik dan management team. Ada games yang bakal menentukan ransum yang bakal diperoleh untuk 3 hari ke depan -__-, la kalo kalah gimana >.<

Hari 3: Lintas medan, bakal masak menggunakan ransum yang dimenangkan sebelumnya, obstacle (halang rintang) dan solo camp semoga mahluk dengan opacity rendah tak menunjukkan batang idungnya (eh emang mreka punya?)

Hari 4: Lintas medan, katanya sih jalan seharian dan tidur di tempat di manapun sampainya.

Hari 5: Balik ke basecamp, high rope, jalan di atas tali, flying fox dkk. Can’t wait to play flying fox.

Hari 6: Permainan air, racing dengan kano, flip flop (suruh mbalik perahu karet katanya).

Hari 7: City adventure. Kata instrukturnya si bakal di drop di SPBU selama 24 jam, menginap dan melakukan survey: berapa banyak mobil yang datang dan jenisnya, jam pengisian BBM paling tinggi, rata-rata jumlah mengisi bensin, berapa banyak yang menggunakan PERTAMAX, dsb. Di hari tsb bakal dikasih uang bekal (karena dompet dan hp kami bakal disita) untuk makan seharian sekaligus angkutan untuk pulang ke basecamp (siap-siap buat nyuci mobil ato ngamen deh buat uang tambahan..).

Hari 8: Kerja bakti di SPBU. Aku mbayanginnya kok bakal nyabutin rumput, bersih-bersih, dsb. Pengennya kan ikutan bilang : “Dimulai dari NOL ya Pak” 😆

Hari 9: Balik ke basecamp, api unggun dan penutupan.

Semua barang yang mau dibawa harus cukup di satu tas backpack yang dibagikan tadi. Hosh hosh, itung-itung hiburan gratisan deh, kalo mau maenan beginian yang paketan pasti mahal banget *menghibur diri*. Doakan akuuuu :D.

Miss you all, and see you on the next 10 days. Yang kangen sama aku, ditahan sampe tanggal 10 ya *ditimpuk rame2*. Aku mau packing dulu, karena dimutasi ke Hotel Patra setelah pulang dari outbound. Padahal kemarin sebagian udah di unpacking dan udah pewe *meraung-raung*.

 

Small Things for A Better Living

Belakangan aku memperhatikan kalau semakin hari rasa kepedulian kita terhadap sesama semakin berkurang. Entah ini hanya dari aku saja yang berubah, atau mungkin memang demikian adanya. Hal ini bisa juga dipengaruhi oleh faktor geografis di mana kita tinggal, apakah di kota besar atau di pedesaan dan kota kecil.

Sebagai contohnya aku akan membandingkan Jakarta dan Jogjakarta. Sebagai pelanggan tetap TransJakarta, baik yang berwarna abu-abu maupun orange, aku sering memperhatikan perilaku baik dari penumpang maupun dari pihak TransJakarta. Aku terkagum-kagum sekali ketika menggunakan TransJogja, perbedaannya 180 derajat.

Di TransJakarta, orang akan berlomba-lomba untuk mendapatkan bangku, jarang saling melemparkan senyuman apalagi berinteraksi, yang ada malah memasang tampang garang dan muka ditekuk jika orang lain tidak sengaja menyenggol atau melukai badannya (yang sebenarnya hal ini tidak dapat dielakkan mengingat TransJakarta seringkali padat dan direm mendadak). Petugasnya pun kadang emosi karena penumpangnya kurang tertib, dan aku pernah melihat sendiri si petugas sampai membentak penumpang karena tidak mau menggeser posisi berdirinya. Intinya: TransJakarta kurang ramah.

Sementara TransJogja, setiap akan berhenti di shelter maka petugas akan memberitahukan kepada penumpang dengan kalimat yang dihafal di luar kepala dengan ramah dan lengkap. Kurang lebihnya seperti ini:

Pemberhentian selanjutnya adalah Halte Malioboro 1. Perhatikan barang bawaan Anda, berhati-hatilah melangkah dan kami ucapkan terima kasih.

Kalimat di atas akan semakin panjang jika keadaan bus sedang sesak, karena petugas akan mengingatkan penumpang untuk menjaga barang bawaannya dan berjaga dari pencopet. Para petugas juga dengan ramah akan menjelaskan rute yang ditanyakan penumpang untuk menuju ke suatu tempat.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan kota di mana kita tinggal, tapi pembawaan masing-masing individu yang akan menentukan warna dan suasana dari kota tersebut.

Aku pernah memposting hal sejenis di sini, dan beberapa hari lalu aku teringat pernah membaca (kalau tidak salah) tulisan seorang teman yang ingin melakukan 10 kebaikan kecil setiap harinya *sorry, I’m not good in remembering something*. Great idea indeed ^^. Aku pernah membaca juga, jika kita memiliki niat baik, Allah akan mencatatnya walaupun kita belum merealisasikannya. Wonderful!

Tidak ada sedikitpun niat untuk menggurui di sini, karena aku tau kecepatan mulutku lebih cepat daripada otakku sehingga aku sadar aku banyak melukai perasaan orang lain *jedotin kepala*. Dan siapapun yang membaca postingan ini, yang pernah aku sakiti baik sengaja maupun tidak, aku minta maaf dengan tulus 🙂 *mohon dimaafkan segala kebodohan dan kekhilafanku*.

Hal-hal kecil yang bisa dilakukan for a better living, yang terlihat sepele namun bisa memberikan dampak yang luar biasa adalah:

  1. Tersenyum, mengucapkan: salam, maaf, terima kasih, dan tolong. Aku tau mukaku memang ada garis galaknya, tapi kalau sudah kenal, aku cukup ramah kok ^^.

    damncoolpics.blogspot.com
  2. Mari biasakan untuk membuang sampah pada tempatnya. Jangan hanya sekedar melemparkan keirian atas kebersihan negara lain, mari awali dari diri sendiri ^^. Jika mereka bisa, kenapa kita tidak?
  3. Jika sedang not in a good mood, katakan saja kepada orang di sekitar dengan baik-baik untuk menghindari keluarnya kata-kata yang akan disesali kemudian 🙂 *pengalaman pribadi*.
  4. Minimalisir mengomentari urusan orang lain, apalagi yang menyangkut hal-hal yang sensitif: misal berat badan, status, dan lainnya. Bukankah kita masih banyak urusan yang perlu diselesaikan daripada sekedar menghabiskan waktu untuk mengurusi urusan orang lain? Jika sekiranya hendak melontarkan kalimat yang menyakiti orang lain, tutup mulut dengan telapak tangan, tahan sebentar dan jika sudah “tertelan” lagi baru lepaskan ^^.
  5. Meminimalisir menggunjingkan orang. Konon kabarnya hal-hal seperti ini yang banyak menjerumuskan para wanita ke neraka >_<.
  6. Berbagi dengan sekitar walaupun itu hanya sedikit, misalnya: makanan, uang. Sedekah tak akan membuat kita miskin :).
  7. Belajar berhemat *ini susah sekali*, membedakan antara lapar mata, keperluan dan keinginan. Sifat hemat ini ga bisa muncul secara instan, tapi harus dibiasakan. 
  8. Menghormati orang lain. Secara teori sih seperti membalikkan telapak tangan, tapi jika kita lihat lagi rasanya ini menjadi hal yang mulai dilupakan urgensinya.
  9. Meluangkan waktu untuk membantu orang lain. Ga perlu jauh-jauh, misalnya ada yang butuh “tong sampah” dan orang untuk mendengarkan, luangkan lah waktu sejenak karena it means a lot for them ^^.
  10. Belajar berlapang dada jika mendapatkan kritik *susaaaah ini >_<*.
  11. Membaca doa setiap akan melakukan kegiatan (yang baik) dan mengucap syukur (alhamdulillah) ketika mendapatkan rezeki meskipun sedikit. Hal ini berguna untuk mengingatkan kita akan banyaknya nikmat yang diberikan Allah dan jarang kita syukuri.
  12. Memanfaatkan waktu luang untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat, misal melakukan hobi, istirahat, membaca.
  13. Menjalin hubungan baik dengan tetangga, karena merekalah yang akan menolong kita jika kita mendapat kesulitan dan jauh dari keluarga.

Dan masih banyak lagi. Karena ada hal kecil, maka hal besar itu nyata.

CMIIW.

A better world is possible. And we’ll make it, because we care :).

Resignation

I’m not talking about my job, I want to talk about my experience.

I thought back about my journey in the pass. I believe that everyone has their own tough time, the hard part to deal with. I’m a person who good in giving encouragement for myself, but I also had several hard times when I felt tired about something. When I did much to make things right but everything seemed wrong, when I walked so far and my skin burned by the sun but I felt further away from my direction and met a stalemate, they just led me to  emptiness, despair.

The best thing that I’ve ever done was surrender. God is the best place to ask, to go back, to rely on, everything.

Many times I asked to myself, since I’m not a devout and religious person, the one who cross line often, will God listen to my prayer? Will Him help me and give me way out?

And I realized, I did something wrong.

God is like what we think about Him..

So when I meet tough time, I’ll come to Him and make an honest confession,

God, I know I’m not a devout one. I’m not the one who always think about You. I’m the one who often broke Your rules. But I don’t have better place than You. Here I’m, asking for help, Your affection. I just want to say something, I’m surrendering. Please forgive me for every bad thing I’ve done. There’s nothing I can do here to make things better than surrender to You.

Soon after that I’ll feel better, my burden is reduced.

Sometimes confession about my limitations as a human being, when the reality does not go as planned even though I’ve tried so hard to keep it on the line, gives me the best solution: surrender, resignation.

Jakarta and The Things I Hate About

Things that amaze me when I visited Phuket and could be never happen here were:

  1. People around there used horn rarely. It made the city so peaceful.
  2. They completely applied “queue” term. When I had to use toilet, people who came first stood in a line and not in front of each door in the toilet. If a door opened, then the first person in queue would get her turn.

I can say that people here use horn excessively. Why you don’t try to be patient just for a bit? It drives me crazy and mad every time I hear people pressing their horn repeatedly. It makes me want to hit them with baseball stick >_<.

Hey, smokers, this city isn’t yours! How could you throw your cigarette ash out of your window innocently? Do you ever think about sin that you’ve made for being a selfish person and harm others?

And the last one is thing that happen most of the time when I am in Jakarta. I keep asking myself, why it’s hard to trust people there? and I feel bad about this, honestly. I know it’s not nice, but I can’t restrain my head for thinking something bad could happen if I don’t keep my eyes open (except if I’m in a bus, I sleep often).

Random Thoughts II

I want to write down things that make my brain space is almost full *crossing fingers*, not really full indeed I just want to write something here ^^. Well, when I think about a thing, most of the times I want to post it here because someday I can read it again. But I usually postpone it because of some reasons, and then I’ll lose it.

  1. Last night, I read this blog at a glance from its first post. Undoubted, it evoked memories from their peaceful grave. I realize I’ve passed many hard times, but I don’t see any purpose for holding the past but learning and taking its goodness to brighten my way ahead.
  2. “Time will heal” is not a gibberish. The first thing I have to do when healing is reconciles my brain with my heart. I’ll be in suffer if I can’t make peace between both of them, because many times they’ve found walk in an opposite directions. How could my feet walk properly if they’re heading to different path?
  3. I love myself. No matter what people say, they just able to show us about the flaws, we need to feel comfortable with it. Take good advices from them, but do not ever let anything bad traps you in a big pit of suffering. When they say you look fat, have dark skin, pimpled, say thanks because they pay attention to you ;). We’re not born to meet the satisfaction of others. If we don’t love and cheer ourselves, who else?
  4. Do something good and be your self. If you think you’re not smart, why you don’t start opening book and learning? If you think you’re not attractive, why you don’t try to smile and live your bright side? Sometimes whenever you don’t know, some people out there adore you and you’ve inspired them ^^. Hard to believe, eh? I don’t think so :p
  5. Don’t afraid to fail. If you hold your fear, you’ll never see the beauty of life and have rapturous stories for your children. Color of this world depends on the color you choose.
  6. If you in sorrow and want to cry, and the most fun thing couldn’t be the cure, let it out till your heart feels lighter. God has been being so great, He created tears for reasons. So, nothing wrong if we use it occasionally ;).
  7. If we keep doing not commendable things, it’s not a bad idea if we start remembering that we have an eternal life after this stopover.
  8. When I go back from office to my boarding house in Saturday night, I wonder why some girls doesn’t mind if their boyfriend ask them to talk at the edge of football field. If we don’t respect our self, then others would not.
  9. Sometimes we need to be spontaneous. The silliest thing that I ever did is the most memorable. You wont know the present, until you open the box ^^.

C’est la vie. Live your life with a big heart ^^.

Pictures taken from here.