Ketika Kamu Bertanya

Akan datang masanya, ketika kamu bertanya kepadaku,

Apa yang kamu lakukan saat menungguku pulang?

dan akan ku kisahkan padamu, senin sampai jumatku, sabtu dan mingguku
dengan secangkir teh hangat yang senada dengan warna langit sore itu.

Ku ceritakan tentang anak-anak yang berlarian
minta perhatian
atau anak-anak yang kami racuni dengan cita-cita
atau tentang pelukan yang hanya bisa aku sampaikan pada mereka.

Tak akan pernah habis perjalanan yang ku kisahkan,
karena setiap babnya ada tokoh yang berbeda, harapan yang tak sama,
ada doa tentang aku, kamu, keluarga, dan masa depan kita yang ada di pancaran mata mereka.Baca selebihnya »

You’re The Risk That I Was Glad To Take

Tepat 5 tahun yang lalu, aku memutuskan untuk pergi ke negaramu. Entah firasat apa yang merasukiku, sehingga aku tanpa basa basi langsung membeli tiket murah sebuah maskapai penerbangan satu hari sebelum keberangkatanku.

Hanya sebuah tas ransel saja berisi pakaian secukupnya, mukena, sikat gigi, sabun cair, odol, peralatan make up ala kadarnya, sebuah buku dan kamera saku yang mendampingi. Aku pamit pada ibu yang terus saja meyakinkanku untuk tidak pergi sendiri. Ku cium tangannya, “si bontot udah gede, bunda. Mau nyari mantu buat bunda” jawabku asal. Aku tertawa melihat raut wajah ibu yang penuh rasa khawatir dan mencium pipinya.

Ku nyalakan iPod dan memutar lagu-lagu yang aku siapkan sebagai soundtrack perjalanan. Tujuannya? Agar ketika suatu saat aku mendengar lagu yang sama, aku bisa menyusupkan kembail cerita itu pada pikiranku.

If I could fall into the sky
Do you think time would pass me by
‘Cause you know I’d walk a thousand miles
If I could just see you
Tonight

Thousands Miles membawaku terbang meninggalkan bandara Soekarno Hatta. Dua setengah jam kemudian, kakiku pertama kalinya berpijak di Changi International Airport. Perjalanan yang tak pernah ku kira sebagai garis start takdir kita.

Aku begitu menikmati perjalanan solo yang tak pernah ingkar memfasilitasiku dengan porsi jumbo waktu untuk melihat, merasa dan berfikir. Ada sebuah paket kedamaian, yang sering ku rindukan di weekdays yang selalu berkejaran dengan deadline. Tak ada yang kurang ketika perjalanan ditemani dengan iPod, kamera saku dan buku Paulo Coelho. Tapi, akan lebih lengkap jika ada jari-jari lain yang menyusup memenuhi sela jariku.Baca selebihnya »

Be Careful With Your Words, God Hears.

Warning: tulisan yang lumayan panjang, dan (mungkin) membosankan ;).

Saya memandang langit Jakarta dari lantai tiga gedung menjulang yang tampak kokoh dengan logo tiga warnanya yang membuat orang mengenal gedung ini dengan mudah. Saya begitu menikmati posisi duduk ini, 3 minggu. Bersebelahan dengan kaca, membuat saya bisa melihat satu sisi Jakarta dengan leluasa. Mendung, terik, hujan, deretan mobil yang di parkir, Istiqlal dengan menara yang menjulang bersanding mesra dengan Katedral. Mereka berjarak, namun dekat.

Tiap kali menjadi penumpang TransJakarta yang menuju ke Harmoni, ada satu titik di mana pemandangan yang terlihat di depan saya hanya ada 3 bangunan menjulang: gedung yang sekarang saya tempati, gedung Kwarnas dan Monas. Teringat pula ketika saya harus merasakan berdiri berdesakan menjadi penumpang TransJakarta menuju Ratu Plaza, yang kontras dengan bis jemputan yang setia menjemput di hari kerja: leluasa, tak perlu berdiri ataupun membayar.

8 bulan lalu, saya mengantar dua orang teman untuk membeli tiket kereta mudik lebaran. Lalu kami berjalan menuju halte TransJakarta Gambir 2 untuk menuju Kuningan. Kami menengadahkan kepala memandang gedung perkantoran menjulang di sekitar sana. Entah siapa yang menyeletuk “kantor impian”, sambil terkekeh geli dan memandang gedung di mana saya berada sekarang. Dan ketika itu saya hanya menimpali “iyah, kapan bisa ngantor di situ ya?” dengan asal.

Entah apa yang mendorong saya, ketika saya sedang di rawat inap karena gejala tipes, untuk memasukkan lamaran online ke perusahaan ini. Iseng? Penasaran? Mungkin lebih ke keingintahuan tentang seberapa besar kompetensi yang saya miliki, karena sebelumnya saya pernah mencoba mengikuti tes di sebuah departemen dan saya dilepeh begitu saja. Mungkin Tuhan takut saya akan korupsi di sana. Mungkin.

Saya ingat betul, tes pertama adalah awal Ramadhan. Berat sekali rasanya setelah sahur harus berangkat ke Jakarta di pagi buta. Ketika itu saya berkata “Ya Allah, bolehkah jika saya memilih untuk puas dengan berada di sini saja?”. Namun teman-teman sekos saya tidak merestuinya, dan berangkatlah saya.

Tes pertama saya lalui tanpa persiapan apa-apa. Ngeprint CV pun saya lakukan sebelum berangkat dan atas kebaikan hati Mbak ini saya bertamu ke rumahnya jam 5 pagi. “Kan memang ingin mengetahui kemampuan saja”, alasan saya tidak belajar apapun waktu itu. Hasil tes ternyata diumumkan pada hari yang sama. Deg-degan? Iya. Karena walaupun nothing to loose, ini adalah kompetisi. Saya, bagaimanapun juga, enggan untuk kalah jika memang saya bisa mendapatkan yang baik. Saya lolos. Dan saya bingung, harus berkelit apa kepada atasan saya, 2 hari ijin kerja? Yang benar saja!Baca selebihnya »

Little Miss Perfect

Info: Di postingan-postingan sebelumnya, kata ganti yang saya digunakan adalah “aku” dan (mungkin) mulai sekarang saya akan menggunakan “saya” #pentingbanget :lol:.

Tumben malam ini saya melakukan blogwalking ke beberapa blog yang sudah lama tidak saya kunjungi. Dan akhirnya terdampar di sini. Daripada cuma terdampar saja dan tidak membawa oleh-oleh pulang, akhirnya saya memutuskan untuk iseng-iseng mencoba mengisi kuisnya. Dan ini dia oleh-olehnya ^^

Toh hanya kuis bukan?

Tapi ada hal yang membuat jawaban kuis ini mengingatkan saya pada apa yang pernah terjadi. Seseorang pernah mengatakan bahwa dia tidak bisa berjalan bersama dengan saya karena (menurutnya) saya selalu ingin benar, sementara dia adalah orang yang memiliki kehidupan yang penuh dengan trial dan error.

Apakah patokan atas kesimpulan tersebut? Entahlah, perbincangan kami sepertinya :).

Saya bukan orang yang selalu mematokkan bahwa kehidupan saya harus berjalan dengan mulus, bukan. Saya tau bahwa “everything doesn’t end up the way we want it to”. Manusia bisa merencanakan, Tuhan yang berkuasa untuk menentukan hasilnya karena Dia akan memberi apa yang kita butuhkan, meskipun kadang yang diberikan adalah kebalikan dari apa yang kita inginkan.

Saya prefer untuk memiliki rencana atas apa yang akan saya lakukan, cita-cita, mimpi agar saya tidak kehilangan arah. Tapi pada prakteknya ada banyak hal yang sering saya lakukan dengan spontan. Dan menurut saya, gabungan antara keduanya membuat kehidupan saya lebih dinamis dan berwarna.

Tapi …. toh itu sudah berlalu.

Maybe ;).

Komplemen

Kemarin aku membicarakan sedikit soal lajang dan karir bersama teman. Temanku ini dikasih wejangan sama seniornya untuk segera mencari pasangan *emang puntung rokok di jalan, bisa dicari -___-*. Kata si senior ada teori yang berhembus bahwa “semakin tinggi karir si perempuan maka akan semakin tinggi pula kriterianya dalam memilih pasangan”. Meskipun teori ini jika sekiranya memang eksis, ga adil kalo digeneralisasi ke semua perempuan :).

Dan pagi ini aku mendengar percakapan antara 2 orang perempuan, yang 1 lajang satunya sudah menikah *sambil pura-pura konsen ke laptop, aku ikut menyimak karena sepertinya menarik :D*

Si lajang: mbak, kamu kok kurusan?

Mbak menikah: ah masa si? Aku 2 malam ga makan. Kesian banget ga sih?

Si lajang: lah kenapa coba ga makan? Diet?

Mbak menikah: nggak. Tragis ga sih, 2 hari kemaren suamiku ngurusin catering dan sibuk banget sama cateringnya. Trus gada makanan pas aku pulang. Kesian ya? Hahahah. Dia nanyain “mau dimasakin apa nggak?” Aku bilang “nggak usah deh”

Si lajang: Kok kebalik sih mbak, harusnya kan kamu yang ngurusin makan suami?

Mbak menikah: Aku kan ga bisa masak. Eh tapi jangan salah, yang ke bengkel tuh aku. Kamu tanya semua urusan mobil, aku TAU.

*mereka tertawa* *Aku ikutan deh senyum2*

Nice, indeed :).

Complement:

  • (n) Something added to complete or make perfect
  • (n) Either of two parts that mutually complete each other

Priceless

What makes a person keep writing? The existence of the readers :).

Even though I am not a good writer, at least I have a passion to keep writing about things that are playing around and spinning in my mind.

Honestly, I am touched when people say “keep writing”. It means a lot for me, because even though this is a personal blog, I still have a kind of hope that my writing can give something; something to be read, something to be learned, something to criticize or anything.

I know by writing your opinion, your creation in public, will invite people to give comments. It can make you fly high or drop you from the roof of a high building. It depends on us how to direct those comments; in a good way by keep writing and make better job, or otherwise stop writing at all.

I’d like to say thank you for everyone who give their appreciation for this blog. You’re such the fresh air, make me want to breath more and more. You guys really make my day :).

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

And for my lovely friends who always be patient to discuss and talk about many things with me, I am glad there’s us ^^.

Merci beaucoup.

 

Mbook beneran God created pain along with its cures, tau aja orang lagi gloomy :D.

Di Bawah Hujan Jakarta

Ini adalah tulisan yang mau aku kirim ke Proyek Hujan. Masih males mau ngedit ^^V. Ah, hujan memang inspirasi. Enjoy ;).

Sajak Hujan

Aku tengah berkisah
tentang hujan dan tanah basah
tempatku menari dan menikmati
tetes yang tak kunjung henti
sementara,
ku biarkan dirimu
menikmati tarian hujan
yang tak berima atau berpola
dari balik jendela kaca.

Dingin?
tak mengapa bagiku
karna,
sinar mentari yang aku punya
telah ku selipkan pada jalanmu
agar kau tak kelu
saat menanti pancaroba.

Dan dalam sunyi malam-malammu
ku bisikkan satu dua lagu
yang jauh dari merdu
hingga pendarmu
perlahan sirna.

Jika hujan telah reda
berganti pelangi dan cuaca
akan ku ambil jejakku
pada hatimu,
menaruhnya di lemari
yang kuncinya
ku kuburkan di tanah tak tergali.

Karna,
mungkin berkat doaku
hujan desember atau februari
berganti pelangi.

Masih ingatkah 495 hari yang lalu pernah ku kirimkan Sajak Hujan padamu? Bukan karena ditulis dengan tinta atau kertas berlapis emas yang membuatnya istimewa. Namun karena kamu, ya kamu. Mungkin memang kamu adalah inspirasi, yang bisa menyelipkan seulas senyuman di pagi hari, yang membuat orang rela pergi ke puncak gunung tertinggi, ke tengah lautan hingga menepi, ataupun bersemedi.  Bukankah setiap orang selalu merindukanmu, wahai inspirasi?

God created pain along with its cures, begitu kata temanku. Atas luka yang pernah mewarnai masa lalu, aku kira kamu adalah obatnya, antibiotik yang bisa membuat penyakit malas menjamahiku, atau seperti obat cacing yang dengan gagah beraninya akan membunuh cacing yang berniat melukaiku. Aku mengundangmu di saat yang tepat. Oh koreksi, kamu datang di saat yang tepat.

Pernah kita susuri jalanan tol kota dengan diiringi lagu Please Don’t Stop The Rain. Suara merdu James Morrison menjadi soundtrack perjalanan kita malam itu. Masih ingatkah? Atau terlalu banyak  hal lain yang lebih layak untuk mendapatkan porsi pantas di kepalamu? Dan, hujan deras di luar kaca mobil apa kabarnya? Ah… tampaknya mreka hanya cameo belaka. Lampu-lampu jalanan yang memantulkan sinarnya semakin mempercantik wajahmu. Bak seorang artis, kamu sungguh menguasai panggung pikiran dan perasaanku.Baca selebihnya »

Kamu

Ini adalah hasil berestafet di minggu pagi bersama Agnes, enjoy ;).

Hanya perlu 43 hari untukku kecanduan merasa rindu padamu, dari hari pertama kedatanganmu bertamu pada hari-hariku. Bukan cuma sulit untuk tidak kugubris, rasa rindu itu melekat seperti bayangan yang memeluk erat. Halusinasi kebodohan dikarenakan oleh “jatuh hati” mulai melanda, aku sering melihat orang yang mirip kamu, dan semua hal yang aku sentuh secara kebetulan berhubungan denganmu, makanan favoritemu, buku favoritemu, warna favoritemu, mutlak sudah aku terjerat…pada kamu; pria pendiam pemilik senyuman rupawan.

Berlebihankah jika aku mentahtakanmu as my living caffeine? Well aku bukan pecandu kopi, but yess aku mencandu dirimu. Serupa mereka semua pecinta kopi yang merasa harinya tidak lengkap tanpa kehadiran kopi kesayangan berikut caffeine di dalamnya. Hari mereka sempurna saat sudah menyesap secangkir kopi nikmat dan hariku sempurna saat kamu menyapa.

Kamu adalah coklat yang bisa mengembalikan moodku yang rusak ke garis edarnya semula. Bagaimana bisa kamu melakukannya dengan nyaris sempurna, padahal kita hanya bertatap mata tiga kali jika aku tidak salah menghitungnya? Bagaimana bisa kamu membuat kurva bibirku membentuk senyuman dari balik layar laptopku padahal kita berjarak dan jarang bertemu?

Aku berusaha mencari tahu “apa”, “kenapa” dan berujung pada pertanyaan “lalu bagaimana”. Jujur aku menikmatinya. Setelah sekian lama tidak menikmati sensasi seperti ini dan bahkan sudah mengubur jauh – jauh harapan untuk menikmatinya lagi malah dirimu datang, sepaket dengan tatapan ramah dan pribadi yang menyenangkan. Lagi – lagi aku tersenyum.

Masih ingatkah kamu ketika kita menghabiskan malam melewati jalanan kota? Kamu layaknya bintang yang bersinar paling terang pada malam itu, bahkan cahaya dari lampu jalan terasa seperti pelengkap sinar auramu yang memang sudah terlalu terang di mataku. Aku hanya bisa tersenyum setuju. Aku ingin waktu berhenti saat itu. Hanya kamu, aku, dan jalanan itu.

Jika cinta memang tidak pernah mengetuk pada pintu yang salah, bolehkah aku berharap bahwa kali ini pintu itu akan terbuka? Aku berharap kali ini ketukan di pintu hatiku adalah cinta yang sebenarnya.

Sesungguhnya aku hampir lupa apakah kamu mengetuk dulu atau malah kamu masuk begitu saja tanpa permisi? Rasanya semua tidak terasa penting lagi, kehadiranmu tak pernah kusesali.


Mirror

What is the importance of a mirror? So I can see myself clearer.

Finally, after had a hard time lately, I decided to make peace with myself. I spent my time and my energy to do some exercises in my office’s exercise center. I keep thinking.

I saw bad things that I have in people, and those things make me scare to realize that I am an awful person, a bad friend, person who hurt others intentionally or not, and humbly I’d like to say sorry for my absence. Really sorry for things that I’ve done and maybe put scars in your feeling. I am human, but I want to learn.

If people did things that hurt us deep down inside, by purposes or not, like what I said on my previous post “ambil manfaatnya, ambil manfaatnya, ambil manfaatnya”, take the lessons. From them we know that we shouldn’t do the same to others, don’t bite people who bite us because if we do it, apple to apple, we don’t have any differences with them.Baca selebihnya »

About Attending A Wedding Party

Someone asked me, why I didn’t come to someone’s wedding party. And by chance, both of this people came from my past (the one who asked me and the one who had a wed party).

It was so funny when he mentioned about broken heart as a reason I didn’t come to the party.

Dear sweetheart, when I say “past is past” it means I really put the things in my 3rd box. And I am not kind of person who think that marriage is everything even though it is an important thing for me. That’s why I am glad we’re not meant to be *evil laugh*.

I never put my legs in a handcuff because I have things to achieve, dreams to be reached. I need them to run fast and not stuck in a mysterious thing such fate.

So, can I “make people happy when they see me happy and for those who aren’t, I am humbly say sorry”?.

No need to worry bout my success, I am working on it ;). But thanks for your kind attention. And please, live in peace :lol:.